Minggu, 27 Mei 2012

Posted by Heri I. Wibowo | File under :


                Malam tadi aku terbangun. Terbangun, kemudian linglung kenapa harus bangun. Rencana liat HP buat ngecek jam berapa, eh malah liat ada sms. Dengan kesadaran yang belum terkumpul seutuhnya, kubuka saja. Dan tertulis kata-kata berikut:
 
“Happy birthday yaw...
be a tough man and have a blessed long life... Wish you all the best, happiness and the glory.. Protected by Allah, and loved by people around more and more whole time... Aamiin...”(Dari seseorang yang telah kuanggap kakak sendiri).
         
             Sebentar, dalam kesadaran penuh aku tahu Bahasa Inggris itu bahasa asing. Dan kini dalam kesadaran yang tidak penuh, aku selain tahu bahasa asing juga merasa agak susah untuk mengartikannya. Maklum, sudah lama tidak baca novel bahasa ini(gaya pooool). Kemudian, sedikit demi sedikit kupahami bahwa itu adalah ucapan Selamat Ulang Tahun.

                Wow, aku ulang tahun ya? Baru ngeh aku hahaha. Berarti, jika aku mengikut sistem penanggalan Gregorian(kalo pake penanggalan Hijriah berarti apa hayo??? Hehehe), aku telah berusia 19 tahun lebih 147 menit saat membuka sms ini. Aku pun terbangun, dan merenung. Namun, merenung dalam mata masih lengket tentu bukan ide yang baik maka kuputuskan untuk sekedar mencuci muka. 

                Setelah wajah ini segar, aku kembali terbaring di atas kasur kapukku. Namun, entah kenapa renungan ini membuatku gelisah. Gelisah atas apa yang sebenarnya harus aku renungkan, juga gelisah bagaimana aku bertanggung jawab atas renunganku. Dalam keadaan begini, tak ada yang seru selain kembali ke kamar mandi, lalu…(silakan tebak).

                Bukan kok, bukan nongkrong. Lagian nongkrong di kamar mandi dalam cuaca Bandung yang malam tadi sedang dingin-dinginnya tentu tak baik. Sebagaimana yang aku ketahui, sholat adalah obat yang terbaik untuk saat-saat  seperti ini. Segera saja kuambil air wudhu, masuk kamar lagi ,dan menghadapkan wajahku pada Dzat Yang Maha Suci untuk sekedar curhat. Dua rakaat kok kurang ya, tambahi dua lagi deh.
               
              Selesainya tahajud, ku hisab diri ini. Merenung, bermuhasabah. Karena aku ingat ‘Umar bin Khattab pernah berkata, “hisablah dirimu sebelum dihisab, dan timbanglah sebelum ia ditimbang, bila itu lebih mudah bagi kalian di hari hisab kelak untuk menghisab dirimu di hari ini, dan berhiaslah kalian untuk pertemuan akbar, pada saat amalan dipamerkan dan tidak sedikitpun yang dapat tersembunyi dari kalian.” 

              Dan yang pertama kutanyakan pada diriku, apa prestasiku selama 19 tahun hidupku. Sungguh aku tersentak ketika merenung tentang hal tersebut, karena yang terlintas pertama di otakku adalah Usamah bin Zaid. Panglima perang termuda dalam sejarah Islam, yang mengalahkan pasukan Rum pada usia tidak lebih dari 20 tahun, bahkan beberapa riwayat mengatakan usianya baru 18 tahun.

                Semakin jauh aku merenung, bertambah dua tokoh lagi dalam pikiranku. Yaitu Sultan Muhammad Al-Fatih(penakluk konstantinopel pada usia 21 tahun) dan Imam Syafi’i(yang karena kecerdasannya diperbolehkan memberi fatwa pada usianya yang ke-15). Lalu, kulihat diriku. 

                Sampai sekarang, aku bukan apa-apa jika dibandingkan 3 tokoh tersebut. Misal, Imam Syafi’i yang telah hapal Al-Qur’an saat belum genap 10 tahun, sedang sampai sekarang pun belum genap seratus ayat suci yang kuhapal. Ah, memang aku harus lebih banyak berusaha dan belajar. Apalagi jika dibandingkan Rasulullah, sungguh tidak ada apa-apanya aku. Namun aku tetap optimis, karena Allah akan Melihat bagaimana prosesku dalam meneladani mereka. Karena hidup adalah proses, sedang tujuan ada di akhirat.

                Pertanyaan kedua, siapkah aku mati sekarang? Bagaimana jika jatah hidupku ternyata tepat pada usia 19? Aku tidak terlalu kaget ketika mendapati dengan hitungan sederhana, ternyata timbanganku berat ke sebelah kiri. Tetapi sesegera mungkin aku mengingat bahwa Allah Maha Penyayang, tak ada yang akan menghalangi kehendak-Nya jika Ia memang Berkehendak. Dan yang kuharap Ia Ridho akan diriku. Aku tidak mau bersyair aku tak takut neraka, atau tak ingin masuk surga. Tentu, jika aku mati aku ingin nantinya ditempatkan di surga bersama orang-orang yang kucintai.

                Pada titik ini aku kembali malu, betapa aku belum siap mati(meski aku pun tidak takut mati). Bagaimana dengan para mujahidin yang mempertaruhkan nyawanya di medan pertempuran? Setiap saat mereka bagai bercengkrama dengan maut, namun hanya senyum yang tersungging di wajah mereka. Begitu damai, begitu indah. Dan aku lebih malu lagi, ketika ilmuku tidak menjadi perisai hatiku. Hingga aku sempat mengharap mendapat ucapan dari seseorang yang tidak sepantasnya demikian aku harapkan. 

                Dua pertanyaan tersebut, begitu menyelimuti kalbuku malam tadi. Hingga setelah aku merasa cukup, aku pun terbaring lagi untuk melanjutkan tidurku sampai shubuh membangunkanku.

NB: Kuucapkan terimakasih pada teman-temanku yang telah mendoakanku lewat sms, langsung, telpon, maupun FB. Sehingga aku tidak merasa sendiri dalam mengarungi sisa usiaku yang semakin berkurang ini. Bahkan ada yang sampai nulis di tumblr-nya hehehe. Nih link tumblr-nya :).

2 komentar: