Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 April 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , , , , ,


Setelah saya bercerita mengenai kondisi awal saya masuk Kampus Gajah Yang Duduk (Di Atas Buku), kini saya akan merangkum perjalanan hidup saya di kampus tersebut.

TPB
            Di ITB, pada zaman saya ada suatu tahap yang disebut Tahap Paling Bahagia, eh maksudnya Tahap Persiapan Bersama. Di sini mereka yang mengaku sedang bahagia karena sudah bisa terjerumus ke ITB akan mulai disadarkan,”Kuliah di ITB tak seperti di FTV!”

Jumat, 29 Januari 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , ,


Tentu Anda ingat bukan mengenai tulisan nyinyir yang menyindir seseorang yang dengan gigih menawar dagangan di pasar? Yang dengan sikap sok tahu dan sok sosialis itu menghakimi bahwa menawar di pasar adalah sifat para kapitalis. Jika belum, maka silahkan baca di sini.
Sudah dibaca kan? Lihatlah, apa orang itu kurang kerjaan bahkan sampai harus mengomentari kami yang lagi berdagang? Yang beli bukan bukan kalian, yang jual bukan kalian, bahkan kalian mungkin tidak melihat ketika SAYA menawar, kok Anda yang repot? Kalau kata Alm. Gus Dur,”Gitu aja kok repot?”
Berikut adalah alasan mengapa kalian tak perlu mengomentari kami, bahkan saya akan sadarkan kalian bahwa kalian itu salah!
1. Kalau kalian tak pandai menawar, jangan iri
            Kalian tahu apa itu lobbying? Oh, tidak tahu? Lobbying adalah kemampuan kita untuk melobi orang, memengaruhinya. Hal itu akan sangat berguna, apalagi jika Anda hidup di dunia yang kompetitif seperti sekarang.

Sabtu, 11 Juli 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,


sumber: http://chuisme.blogspot.com/2012/04/tips-meminjam-barang.html

       Pinjam meminjam adalah hal yang wajar di dunia ini. Mulai dari pinjam alat tulis sampai “meminjamkan” rakyat. Yang pertama adalah khas anak sekolah, yang kedua adalah mengenai para ”penguasa dunia yang menguasai suplai uang” (siapa mereka? Bukan tempatnya di blog ini untuk membahas mereka). Pinjam meminjam telah sedemikian mengakar dalam kehidupan bermasyarakat, hingga dapat digunakan sebagai parameter hubungan di antara dua pihak. (Bahkan kata para Bankir, hutang adalah tanda kemajuan suatu bangsa—dan itu kata-kata yang pup banteng sekali)

Misalnya nih:

”Bro, bolpenmu lagi dipakai nggak?”
”Nggak, kenapa cuy?”
”Ehm, sori ya ngrepotin. Aku pinjem bentar boleh? Tiba-tiba bolpenku gak ada nih hehe.”
”Oh iya, santai aja kali. Nih, tapi 2 jam lagi aku kelas, udah bisa balik?”
”Oke, siap. Makasih yo!”

Nah, kalau diperhatikan mereka itu hanya sekedar teman :)

Senin, 01 Juni 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,

FYI, jaman saya, kami boleh memilih
6 jurusan di 2 Universitas
(@3 jurusan)




                Tulisan ini saya dedikasikan untuk diri saya sendiri, kepada kawan-kawanku yang sebentar lagi akan menuju dunia real di luar kampus, juga pada adik-adikku yang baru akan kuliah maupun yang telah “terjebak” di kampus (Gajah) ini. Akan terdiri dari beberapa bahasan yang masing berjudul  “Jalan Saya Menuju Kampus Gajah Duduk”, “Pengalaman-Pengalaman Awal di Tanah Rantau Pertama”, “Kuliah, Steady”, dan “Renungan Sekarang”.

                Dan inilah cerita pertama saya;

                Waktu kecil, setiap dari kita tentu memiliki cita-cita, kan? Ada yang ingin jadi dokter, presiden, menteri (gak tahu menteri apa), bahkan sampai ingin jadi artis yang kerjaannya nyanyi sambil joget-joget tak jelas di TV. Nah, saya pun dulu memiliki cita-cita yang tak kalah absurdnya; Ultraman, Power Ranger, Pemilik Digimon, dan semakin besar mengerucut jadi lebih jelas: Tentara dan Insinyur. Entahlah, sepertinya semakin besar kita semakin sering membuat revisi dan kompromi ya :)

Sabtu, 31 Januari 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , ,




               
Saat saya dapat kesempatan ‘jalan-jalan’ ke PT Timah di Bangka sana, saya mendapat satu pelajaran menarik. Pelajaran yang saya dapat dari salah satu karyawan yang menemani saya keliling Bucket Wheel Dredge untuk mempelajari alat pertambangan lepas pantai tersebut. Jadi, di sela-sela alat pencucian di perut kapal itulah beliau banyak bercerita, dan inilah cerita beliau.

Manfaat Visi

                Seringkali kita bingung ketika ditanya,”Hidupmu maunya seperti apa?” Mungkin akan ada jawaban begini,”Ah, gue mah mengalir aja. Seperti air, woleeeees…” Lalu beliau, Pak Gandhy, menceritakan tentang contoh yang paling mudah dipahami para jomblo seperti saya ini, kriteria istri.

Sabtu, 03 Januari 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,



            Menikahlah wahai engkau yang masih berkutat dengan rumitnya pendidikan. Yang bahkan untuk sekedar mengatur waktu kapan belajar, bermain, dan membantu orang tua belum bisa. Apalagi ikut serta menyukseskan dakwah. Karena percayalah, bertambahnya satu tanggung jawab tidak akan terlalu berpengaruh signifikan pada ritme hidupmu yang sudah menantang tersebut. Atau siapa tahu, dengan bertambahnya satu urusan besar maka hidup akan makin tertata. Tidakkah engkau tertantang untuk mencobanya, kawan?

            Jangan takut menikah meski engkau belum berpenghasilan. Yang bahkan sekedar untuk uang jajan dan jalan-jalan masih mengharap belas kasih ayah tercinta. Yang bahkan sekedar makan saja masih harus ‘disuapi’ mama. Tak apa kawan, itu bukanlah halangan. Karena yang penting kan dalam menikah itu ada cinta dan sayang. Biarkan kesulitan yang akan datang membuat kau dan istrimu lebih dewasa.

Sabtu, 15 November 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,


                Hari ini saya ingin berceloteh tentang hal yang sangat sensitive hari-hari ini: Harga minyak atau masalah pemotongan subsidi. Dan sebelum Anda saya ajak menyelami alam pikiran saya yang (kata orang-orang) heartless—maksudnya suka kelihatan tidak pakai perasaan, hanya sekedar benar salah—mari kita lihat sharing seorang pendukung/kader PKS di media social berikut:



Minggu, 10 Agustus 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


                Setelah menulis sesuatu yang saya pikir cukup bermanfaat, hari ini saya ingin menulis sesuatu yang sangat mungkin akan mengundang cerca. Sebuah tulisan yang termotivasi oleh “pertengkaran” saya pada orang-orang yang terlalu bahagia karena sudah berpasangan dan mereka yang terlalu mengemis pasangan. Selain itu juga dikatalis oleh tayangan ‘Golden Ways: Jones atau Marnes? (Jomblo Ngenes atau Married Ngenes?)’.

                Jadi akhir-akhir ini, karena hidup di rumah orang tua praktis kesibukan saya pun mau tidak mau turun. Bahkan untuk urusan makan yang dulu perlu usaha kini tinggal ke dapur dan membuka tudung saji. Menurunnya kesibukan biasanya akan berbanding lurus pada dua hal: jika bukan panjang angan-angan maka kemampuan mengurusi orang lain. Nah, karena yang pertama saya sudah tahu obatnya, jadilah saya kena yang kedua. Dulu-dulu juga sudah sering mengurusi sih, hanya sekarang bertambah lebih suram. Bahkan sudah sampai pada tataran sarkasme. Yap, apalagi jika bukan urusan orang-orang “pemuja” pernikahan (tuh kan, sinisme-nya mulai lagi -_-).

                Nah, mau dimulai darimana ya?

Sabtu, 05 Juli 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,
                Pertama-tama, setelah memuji Allah dan kemudian bershalawat pada Rasul-Nya saya ingin meminta maaf kepada Anda—siapapun Anda—yang bertanya di sini. Maaf, karena saya menjawabnya di blog alih-alih menjawab singkat dengan “iya dan si fulanah” atau “tidak dan buat apa”. Karena jawaban yang akan saya berikan ini teramat panjang, bahkan lebih panjang dari yang saya antisipasi sebelumnya. (Selain itu karena jawaban di sini bisa di-edit sih :p)


:v


                Pertanyaan semacam ini tidak hanya sekali ditanyakan kepada saya. Entah itu seorang kawan, saudara, sahabat, atau sekedar kenalan yang bertanya untuk melanjutkan obrolan iseng. Sungguh, saya tidak terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan semacam ini. Bahkan saya senang, karena merasa diperhatikan.

                Baiklah, mari kita lihat bagaimana (bukan apa) jawaban saya sebenarnya…

                Bismillah…

                Saya akan memulai jawaban saya dengan suatu cerita.

Selasa, 01 Juli 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,
                Sudah posting dua tulisan yan cukup serius, kini saya mau bercerita saja tentang hal-hal yang terkesan merupakan kekonyolan namun semoga ada hikmahnya. Cerita akan saya susun secara kronologis dari yang paling terakhir saya alami.

1.       Sahur? (30-6-2014)

Besok adalah hari pertama puasa. Wah, euphoria-nya maaaaan. Dan jadilah hari itu tidur lebih awal agar dapat bangun sahur. Tentu, bangunnya masih dibangunkan oleh sahabat tercinta: ALARM. Yang tak pernah lelah membangunkan saya meski cerewetnya minta ampun. Aku sayaaaaang alarm :v Ini sekaligus bukti atas sindiran di sini.

Kamis, 05 Juni 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


                Tadinya mau bikin tulisan tentang kekonyolan-kekonyolan yang saya alami akhir-akhir ini. Tapi ada beberapa kejadian yang membuat saya kekurangan motivasi untuk menyelesaikannya. Eh, malah terbuka inspirasi untuk menulis hal-hal berikut. Haha, semoga ini cukup menghibur.

                Bagi yang sering menghabiskan waktunya di jalanan—baik dengan jalan kaki, naik motor, mobil, atau angkot—pasti ada waktu-waktu di mana rasanya demikian jengkel dengan kejadian yang ada. Dan mari saya bagi beberapa kejadian yang membuat saya seringkali geleng-geleng kepala, istighfar, dan kadang sambil mengelus dada berkata,”All iz well, all iz well…”

1.       Parkir Sembarangan
Sepertinya saya kenal daerah mana ini. Yang sering shalat di Masjid Salman mungkin tahu?



Pernah suatu kali saya sedang dalam kondisi lelah, super lapar, dan buru-buru karena baru selesai praktikum atau kuliah—saya lupa—dan terpaksa melewati salah satu jalan yang ada di daerah kosan saya. Jalan itu sempit, yang bahkan jika dua mobil dari arah berlawanan simpangan maka mereka perlu hati-hati agar kaca spion tidak saling “menyapa”. Dan siang itu, di sanalah saya dengan bungkusan lauk di setang motor kiri, terjebak kemacetan akibat ada mobil-mobil yang parkir di pinggir jalan. Perut keroncongan, tugas numpuk, ujian besoknya belum belajar.

Tidak cukup sampai di situ, karena ternyata hujan turun dengan lebat pun. Di tas juga sedang membawa laptop. Maka apa lagi yang bisa saya lakuan selain memasang rain coat di tas dan berucap all iz well, all iz well...?

Meski tidak membantu juga, karena sampai rumah saya perlu push up beberapa kali demi meredam kejengkelan yang ada (sepertinya perlu pasang sand sack di kamar nih). Dan berakhir dengan update status di FB—dengan semangat untuk memberi saran, bukan alay lho :

“Sebelumnya saya mohon maaf jika lancang sebagai pendatang. Tapi saya mohon untuk kawan-kawan yang memiliki mobil dan kebetulan sering parkir di jalan ****** untuk sesekali memikirkan mahasiswa yang hanya bisa bermotor seperti saya. Yang terjebak ketika hujan turun dengan lebat pun.”

Agak lupa redaksinya sih, tapi ya kira-kira begitu lah :p

Bahkan yang menyebalkan, seringkali mobil—juga sepeda motor—parkir di jalur khusus sepeda. Ini orang kayaknya pengen ya kalau jalan tol buat parkir sepeda? -_- (Teringat waktu dulu masih jadi biker hehe)

Sabtu, 31 Mei 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


                Jeruk adalah mahasiswa baru di suatu perguruan tinggi yang dianggap cukup bagus di Bandung: ITB. Sejak dahulu dia hanya bisa bermimpi untuk bisa berjalan tanpa arah sepanjang Indonesia Tenggelam  dengan maksud cuci mata melihat para mahasiswi fakultas sekitar sambil menikmati indahnya Gunung Tangkuban Parahu. Melepas penat di selasar Masjid Salman sambil terkantuk-kantuk. Atau sekedar mengagumi kata-kata dosen di kelas yang unik dan artistic. Semua yang dulu hanya impian, kini benar-benar terjadi. Benar-benar dialami.

                Hingga tidak heran jika saat pulang kampung ia begitu berbangga dengan kampusnya. Seluruh atribut yang menampakkan ke-ITB-an ia pakai. Jeruk mencemooh teman-temannya yang memang tidak memilih ITB. Ia berkata bahwa teman-temannya salah pilihan. Ia menganggap bahwa ITB adalah perguruan tinggi terbaik di Indonesia, bahkan dunia. Baginya, ITB adalah segalanya.

                Hingga suatu ketika ada seseorang yang menunjukkan apa itu MIT, Harvard University, dan lainnya. Berdasarkan fakta bahwa perguruan tinggi tersebut memang menempati urutan tinggi di ranking internasional. Namun dia tetap keukeuh bahwa yang lain tetap jelek. Dia sudah buta bahwa di atas langit selalu ada langit.
Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


Alkisah di sebuah kampung antah berantah, air sangat sulit ditemukan. Kampung sulit air itu kebanyakan penduduknya orng baik, tetapi dikuasai oleh para pemabuk yang suka minum khamr. Mereka mendatangkan berpeti-peti khamr dari negeri yang jauh untuk memenuhi rasa haus sekaligus hobi mabuknya.


                Orang-orang baik berusaha tetap minum air. Mereka menggali sumur-sumur yang dalam namun tetap gagal memperoleh air. Mereka hanya bertahan hidup dengan menamung embun di dedaunan atau menampung air hujan yang sangat jarang turun. Tentu sangat minim, air yang mereka dapatkan hanya sekedar untuk bertahan hidup.

                Para pemabuk yang berkuasa di kampung itu mengatur adat di sana dengan aturan mereka. Mirip Gengis Khan yang harus kesurupan dan setengah sadar sebelum menulis undang-undang. Para pemabuk harus pesta anggur beramai-ramai sampai teler sebelum menyusun aturan kampung.

                Ritual teler bersama itu disakralkan. Saking sucinya ritual itu sampai-sampai mereka mengutip ujar-ujar latin: In Vino Veritas, artinya “dalam (mabuk) anggur terdapat kebenaran.” Beberapa pemabuk sejati bahkan membuat pepatah baru yang lebih gila, vox madidus vox dei—suara pemabuk suara Tuhan.

Sabtu, 10 Mei 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , ,

                Hari ini saya mengingat lagi sesuatu yang luar biasa, yang dulu sempat ingin saya tulis namun tidak terlaksana karena rasa malas menjadi musuh yang utama. Sebuah pelajaran yang universal, yang saya dapat dari salah satu pelatih saya: Kang Sunan Respati Dananjaya. Untuk pecandu—perhatikan tidak saya gunakan kata pecinta karena saking cintanya hehe, maaf Kang :P—beladiri daerah Bandung tentunya nama beliau sudah tidak asing lagi.

                Oke, jadi apa pelajarannya?


                Tentu buat mereka yang belum lupa-lupa amat dengan matematika dasar akan masih ingat grafik berikut:




Kamis, 17 April 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


                Tadi siang kampus saya ramai. Bukan, bukan karena ada walimahan atau traktiran massal. Namun lebih disebabkan oleh kedatangan seorang gubernur negeri ini yang akhirnya menjadi polemik di antara aktivis kemahasiswaan ITB.

                Entahlah, maafkan saya jika saya tidak pada kapasitas yang sesuai dalam membedah permasalahan ini.  Anggap saja ini sekedar celoteh dari seorang mahasiswa yang jengah ketika melihat tempatnya menuntut ilmu dipolitisasi, dan kemudian dimaki-maki oleh orang di luar sana. Yang mengatakan kami hanya pintar di IQ dan cethek di EQ—padahal konsep IQ, SQ, dan EQ sendiri saya juga tak terlalu paham.  Seorang mahasiswa yang sedari siang tadi mendengar komentar-komentar yang pro dan kontra dengan aksi Bang Jefrry dkk. Dan saat itu terjadi, saya hanya bisa diam. Dan kinilah saya ingin membicarakannya…

Dua Sudut Pandang

                Terdapat dua pendapat mengenai bapak yang satu ini—dan murni pandangan teman-teman saya warga kampus. Seperti biasa, agar bisa menjadi seorang yang adil kita perlu melihat dengan berdiri pada sepatu yang sama dengan kedua pihak. Yah, meski saya bingung bagaimana caranya berdiri pada sepatu yang sedang dipakai orang (abaikan).

                Yang pro mengatakan,”Apa salahnya? Beliau kan hanya ingin memberikan kuliah umum? Datang juga tidak memakai atribut partai kan?”

Minggu, 30 Maret 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,



1.     Di Warteg :
Joni             : “Ada ayam, Mbak?”
Mbaknya    : “Ada, Mas... Mau pesen berapa?”
Joni             : “Usir, Mbak! Saya mau makan nih!”

2.     Di Kelas :
Bu Guru     : “Joni, mulai kapan terjadinya perang dunia?”
Joni             : “Seingat saya, bu... Mulai dari halaman 31 
                       sampai 34!” #:-s #disambit penggaris#

3.     Di kamar :  
Ibu              : “Lagi apa, Jon?”
Joni             : “Nulis surat buat Cila, Bu...”
Ibu              : “Lho kamu kan belum bisa nulis ?”
Joni             : “Gak papa, bu... Cila juga gak bisa baca kok !”
                    #:hammer:

Jumat, 21 Maret 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,


                Waktu saya masih SD, SMP, dan SMA buku tulis yang saya gunukan belumlah berbentuk binder. Namun buku tulis biasa dengan merk yang sudah sangat familiar di bumi nusantara ini: S*nar D*nia. Nah, sekarang jika Anda tak keberatan silahkan ambil buku tersebut, pegang dengan erat, dan mulai bersiap akan tulisan saya hari ini.

                Hal pertama yang perlu Anda adalah membukanya, dan melihat kalimat-kalimat bijak yang ada di bawahnya. Pada salah satu halaman (halaman kedua biasanya) akan tertulis:


sumber: http://triwahyudi.com/wp-content/uploads/experience-is-the-best-teacher-183x300.jpg




Betul kan? Betul, karena tidak pernah memberikan PR katanya.


Sabtu, 15 Maret 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,



Cewek lebih suka dikasih bunga yang kayak apa ya? :v
sumber: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBUXCT3DYI4NooC6ZNdwxqyej1YITrqNAueU7DCm7nlOouT2gpwZStD6fGeQgAU_uPL5RmZFTAJ1MvgiWJbw7yZ6FiXjLNYSM7xuN8HLdo0CtokrB8dHQXBsrTGo6M25MexjUMmLKTWf4/s1600/13409794791476625410.jpg




Jeruk     : Bro, kenapa sih ada riba/bunga/interest?

Apel       : Ya karena ada inflasi. Sehingga untuk menarik orang agar mau menabung ya perlu interest.  Sebab kalau kamu menyimpan uangmu sedang nilai uang terus turun gara-gara inflasi ya kamu merasa rugi dong. Mana mau kamu nyimpen duitmu. Dan mana mau pula orang(baca: bank) minjemin duit ke kamu buat beli motor itu.

Jumat, 07 Maret 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , , , ,


Bismillah…
               
Setelah halaqah ke-5 yang gagal hadir karena—ah sudahlah, tidak perlu dibahas. Kini, saya “haturkan” catatan halaqah ke-6 saya. Meskipun suram juga, karena baru bisa diketik sekarang.

Materi pada halaqah kali ini saya kira masih terkait dengan ilmu—hakikat ilmu. Dan pertemuan pun dibuka oleh ustadz dengan tanya jawab antara Syaikh Utsaimin dengan seseorang.

Q: “Bagaimanakah dengan keadaan seseorang yang menyadari bahwa ada penyakit ilmu (maksudnya lupa) dalam dirinya? Perkara apa saja yang dapat memberikan kita pertolongan untuk kuat dalam menghapal?”
A: “Di antara metode yang paling baik untuk membantu memiliki dan menjaa ilmu yang di dada adalah hendaklah manusia mengupayakan hidayah dengan ilmunya. Jika seorang yang alim mengamalkannnya maka Allah akan menambahkan baginya ilmu dan memberikan padanya ketaqwaan(lihat QS. Muhammad 47: 17 dan QS. Al-Baqarah 2: 282).

      [OOT, tentang hapal menghapal dan ingat mengingat saya jadi teringat sebuah kisah. Kisah ini terjadi pada seorang syaikh yang ditanya tentang sebuah persoalan. Seorang pemuda yang ingin bertaubat menemui Syaikh ‘Arifi. Pemuda itu taubat dari melakukan hubungan di luar mahram sebelum ada ikatan pernikahan, alias pacaran.

Kamis, 20 Februari 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,



Sekarang saya ingin bercerita, dan ceritanya tidak serius kok. Cenderung lucu malahan.

Kisah bermula ketika tadi pagi, ketika kuliah SKE (Sistem Konversi Energi) di mana dosen pada tema kali ini—Motor Bakar (Internal Combustion Engine)—adalah Dr. Ir. Arief Hariyanto. Kerennya beliau ini, setiap kuliah pasti diselingi cerita-cerita yang menginspirasi dan menjauhkan kantuk dari mahasiswa cupu macam saya ini. Di mana tidak ngantuknya cuma pas tidak harus mendengarkan hahaha.

                “Di bayangan semua orang, teknik mesin itu ya otomotif. Anda akan kesulitan untuk menghindar dari “tuduhan” masyarakat itu. Terlalu melelahkan. Anda tidak bisa menjelaskan tentang mechanical engineering yang sebenarnya, bahwa ia merupakan ilmu tentang gerak dan gaya. Sudah, terima saja tuduhan itu. Jadi jangan kaget kalau nanti mobil orang mogok, yang ditanya pertama itu Anda. Meski ada orang yang hobi otomotif tapi kalu jurusan ekonomi ya tetep Anda yang ditanya. Percaya sama saya.”