Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 April 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , , , , ,


Setelah saya bercerita mengenai kondisi awal saya masuk Kampus Gajah Yang Duduk (Di Atas Buku), kini saya akan merangkum perjalanan hidup saya di kampus tersebut.

TPB
            Di ITB, pada zaman saya ada suatu tahap yang disebut Tahap Paling Bahagia, eh maksudnya Tahap Persiapan Bersama. Di sini mereka yang mengaku sedang bahagia karena sudah bisa terjerumus ke ITB akan mulai disadarkan,”Kuliah di ITB tak seperti di FTV!”

Kamis, 19 Maret 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under :




            Banyak orang yang mempertanyakan tentang kematian. Mulai urusan remeh macam apakah Romeo dan Juliet akan menjadi sepasang kekasih setelah mati hingga yang berat seperti benarkah ada kehidupan setelah mati. Ada pula yang takut mati, atau bahkan yang ingin segera mati. Yang lebih mengenaskan, adalah mereka yang mati sebelum mati. Mereka, yang membunuh mimpi dan ambisinya.

            Aku pun sama dengan kalian. Sama bingungnya. Apakah mati itu menyeramkan, atau mati sekedar jalan menuju tempat yang lain? Persis seperti jika aku ingin bertemu dengan gadis pujaanku, aku harus melewati depan rumah gadis yang memujaku? Hahaha, lupakanlah urusan cinta segitiga ini.

Senin, 14 Juli 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under :


               

                Entah sudah berapa kilometer kaki saya harus melangkah lagi. Menembus pusaran-pusaran pasir yang diterbangkan angin gurun, dengan dahaga yang tak terkira. Apalagi untuk kerongkongan manusia khatulistiwa seperti saya ini. Sejauh mata memandang hanya beberapa desa hancur yang saya lihat. Teronggok pula sisa-sisa kendaraan yang hangus terbakar, selongsong peluru yang menyaingi jumlah kerikil, atau beberapa binatang liar yang khas ditemui di daerah tak berpenghuni. Kota hantu ini, menurut kawan baru saya belum lama terbentuk.

“Desa ini hancur ketika tentara pemerintah berusaha merebutnya dari kami, saudaraku. Alih-alih menyerbu dengan pasukan darat, mereka lebih suka melemparkan roket-roketnya. Dan malam itu, kau bisa makan kambing panggang bahkan tanpa menyembelihnya hahaha,” kata kawan baru saya dengan begitu entengnya. Tidak pahamkah dia jika candaannya membuat saya harus menahan diri untuk tidak muntah?

Sabtu, 09 Maret 2013

Posted by Heri I. Wibowo | File under :

                Aku terhenyak  dengan keringat yang membasahi seluruh tubuh ini. Tersandar pada tembok yang berdebu, dengan sisinya yang terasa kasar. Namun kekasarannya yang menggores punggung ini tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan apa yang ada dalam kecamuk pikiranku.

                Kini  aku ambruk, terduduk sambil memegangi benda seberat empat setengah kilogram yang ada di tanganku. Ia begitu sulit kupegang karena telapak tanganku licin oleh keringat-yang semakin deras. Ah, kerongkongan ini begitu kering dan dadaku sungguh sesak. Terasa bagaikan hati menyesak ke tenggorokan. Sekali lagi, aku cemas. Aku takut. Aku …

Kamis, 13 Desember 2012

Posted by Heri I. Wibowo | File under :


                Seteguk teh manis hangat ini sungguh nikmat sekali. Demikian nikmat, hingga seolah beban sol-soal ujian super yang tadi kukerjakan dengan memeras otak ini terasa menguap. Bersama dengan hangat yang melewati rongga dadaku. Sekejab, muncul penasaranku. Jikalau seteguk teh manis saja begitu enak, bagaimana pula kenikmatan surga nanti? Sekaligus malu, jika kualitas seseorang di hadapan Rabb-nya adalah dari seberapa berat ujian yang dialami, maka di mana pula derajatku di hadapan-Nya?

Jumat, 21 September 2012

Posted by Heri I. Wibowo | File under :
                Kota ini adalah sebuah kota yang kecil yang masih kental dengan suaana gotong royong. Penduduknya saling mengenal satu sama lain, minimal dalam lingkup satu RW.
               
                Di sana tinggal dua gadis kecil yang saling bersahabat meski nasib mereka menurut orang-orang sangat bertolak belakang. Yang pertama adalah Syifa, umurnya 8 tahun. Seperti namanya, dia bagaikan penyembuh hati bagi orang tuanya yang telah merindukan kelahiran seorang anak sejak lama. Orang tua Syifa yang bernama Pak Ahmad adalah seorang sangat berkecukupan di derah itu karena beliau adalah seorang pemilik sebuah toko kelontong dengan 15 karyawan yang buka hampir 20 jam. Sedang ibunya merupakan seorang ibu rrumah tangga yang shalihah.