Tampilkan postingan dengan label Today's Quote. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Today's Quote. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Maret 2018

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,
                Cikarang hari ini masih seperti biasanya, panas agak kering berangin, serupa dengan tempat saya menghabiskan 15 tahun hidup saya—Semarang. Namun malam ini agak mendingan, karena musim pancaroba masih sanggup menjadikan uap air yang seadanya ini berkondensasi (Halah, ngomong aja gerimis sok-sok an puitis ya). Hingga gerah sedikit terobati oleh hembusan angin dingin yang sepoi-sepoi. Tetapi tetap, tak bisa menggantikan nyamannya Bandung yang mengisi 4 tahun hidup saya, cieeeeh.

                Lama tidak menulis, sepertinya saya perlu merenggangkan jari-jemari dan otak untuk merangkai sebuah cerita. Ditambah lagi ada permintaan dari wanita yang paling saya cintai setelah ibu saya. Katanya, sebelum menggenapi tulang rusuk saya dia sudah suka membaca dongengan di blog ini. Meski isinya campur aduk dari urusan test pack sampai demokrasi, dari tugas Teknik Mesin sampai cerita cebok pakai uang kertas hahaha. Nah sekarang, “Kok sepi?” begitu katanya. Ya terang saja sepi, dulu jaman kuliah itu lowong banget waktunya. Lha sekarang kan sudah mencari nafkah, ya makin lowong waktunya #eh. Cuma makin malas saja hahahaha.

Minggu, 18 Desember 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


            Dalam setiap persahabatan, akan ada hal-hal menarik karena merupakan pengalaman yang pertama. Dan salah satu hal yang paling menarik pada persahabatan di antara para pria adalah ketika salah satu dari mereka ada yang memiliki keberanian untuk “merelakan kebebasannya” demi menggapai sesuatu yang hebat; menikah…

            Well, di sini saya akan mengabadikan momen tersebut. Momen ketika salah satu dari “Seven Dwarfs” Djawa alias Ojo Dumeh  melenggang ke keputusan besar tersebut.

Tegangnya sudah mulai

Sabtu, 01 Oktober 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , ,


                Beberapa hari belakangan ini sedang sangat ramai mengenai Mukidi. Mulai dari grup WA, Line, hingga sebaran di Facebook. Well, saya memang cukup aktif di medsos sih hehe. Dan sampai sekarang saya masih belum paham (si)apa dan bagaimana sebenarnya Mukidi itu. Apalagi soal Mukidi yang gemar menuduh seseorang masuk organisasi terlarang. Ah, entahlah, mungkin dia sedang mabuk amplop.

Kodok Mukidi


                Justru kali ini saya ingin berbagi pemikiran saya mengenai kodok. Yap, kodok rebus. Lebih tepatnya, mengenai cara merebus kodok.

Merebus Kodok

Minggu, 05 Juni 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,


Baca Part 1 di sini.

          Kekhawatiran-kekhawatiran ini sungguh membuat malas bangun di pagi hari. Karena bagi saya, seringkali semua hal tersebut hilang lalu muncul kembali. Dan saat paling pasti bahwa ia akan hilang hanyalah di saat tidur.

            Itulah masalahnya. Sekarang, mari berbicang mengenai kemungkinan penyebab dan solusinya.

1. Kurang Bersyukur

            Ya, di dalam kitab suci telah diterangkan mengenai rumus bahwa jika kita bersyukur maka akan ditambahkan nikmat kita. Setidaknya, nikmat itu dapat berupa ketenangan. Urusan konkritnya begini. Alih-alih kita menyesali masa kini yang tak seindah masa lalu, mengapa kita tidak mengubah paradigma kita?

Indah bukan? ;)
            Alih-alih berpikir tentang indahnya kenangan dan ingin kembali, mengapa tidak bersyukur bahwa dalam posisi sebagai hamba yang penuh dosa ini Tuhan masih Berkenan Memberikan kita sepotong kehidupan yang indah?

            Alih-alih berpikir bahwa masa dewasa sungguh menakutkan, mengapa kita tidak bersyukur bahwa telah diberikan kesempatan untuk menjadi lebih dewasa setiap harinya? Dihadapkan pada tantangan yang akan menandakan kita naik kelas?

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


Waktu terus berjalan

            Cerita hari ini masihlah berkisar mengenai kenangan dan masa depan, karena entah kenapa saya masih terganggu dengan urusan yang satu ini. Bukan, hal ini tidak ada kaitan dengan urusan cinta-cintaan atau hal menye lainnya, karena jujur saya tidak pernah menempatkan hal semacam itu dalam prioritas hidup ini. Yah, menyedihkan memang kehidupan masa sekolah dan kuliah saya yang kalau dituduh sebagai jomblo akut. Entah karena tidak laku atau karena tidak peduli.

            Nah, jadi kenangan macam apa yang ingin saya ceritakan ini? Masa depan seperti apa yang menjadi kekhawatiran?

            Baiklah, saya akan bercerita. Pagi ini, H-1 ramadhan (dan masih akan sahur sendirian—selamat pada Mas Imron AE 09 yang sudah punya teman sahur) saya berjalan-jalan. Kata orang berjalan-jalan dapat menjernihkan pikiran, bahasa kerennya saya sedang melakukan “Root Cause Analysis” atas gangguan ini. Kenapa saya tak bisa move on dari masa lalu? Dan kenapa tidak bisa men-syukuri masa kini? Dan mengapa pula saya khawatir akan masa depan?

            Saya pun mulai mengurutkan persoalan yang menurut sebagian orang ecek-ecek ini. Dan saya mendapatkan beberapa penyebab potensial atas hal ini. Beberapa merupakan hasil kontempelasi tidak penting berupa berjalan ke tengah sawah, beberapa merupakan obrolan dengan banyak orang. Dan saya harap, hal ini dapat membantu pembaca mengenai kekosongan hati, kekhawatiran diri, saat melihat masa lalu dan masa depan.

Sabtu, 23 April 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , , , , ,


Setelah saya bercerita mengenai kondisi awal saya masuk Kampus Gajah Yang Duduk (Di Atas Buku), kini saya akan merangkum perjalanan hidup saya di kampus tersebut.

TPB
            Di ITB, pada zaman saya ada suatu tahap yang disebut Tahap Paling Bahagia, eh maksudnya Tahap Persiapan Bersama. Di sini mereka yang mengaku sedang bahagia karena sudah bisa terjerumus ke ITB akan mulai disadarkan,”Kuliah di ITB tak seperti di FTV!”

Sabtu, 09 April 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


            Pernahkah Anda merasa bahwa hidup berjalan begitu cepat? Kalau saya, jujur ada saat-saat di mana waktu terasa berjalan dengan sangat cepat. Bahkan begitu sering saya pikir. Yaitu, ketika week end.
            Namun, selain itu ada waktu pula ketika saya akan berujar,”Subhanallah! Ternyata saya sudah sedemikian tua ya!” Seolah tak percaya bahwa anak-anak kelahiran 1990an awal (saya 1993 lho Bro) sekarang sudah kepala 2, bahkan yang kelahiran 1990 sudah ada yang setengah abad lebih. Yaitu ketika saya kemarin ke Bandung dan membersihkan kamar kost-an saya.
Duh, kok seperti tidak terasa ya?  

Minggu, 21 Februari 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


            Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan versiku yang tak pernah orang lain lakukan. Dengan cara yang bahkan tak pernah kita pikirkan. Dengan segala keterbatasan yang akan menguatkan.

            Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Bahkan meski semuanya masih tampak kelabu di ujung sana. Bahkan meski seperti tak ada harapan lagi yang tersisa. Bahkan meski ketika kita seolah berjalan sendirian melawan kerasnya dunia.

            Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Sesederhana kata yang selalu kuucapkan ketika mengingatmu. Sesederhana kata yang menari-nari di garis waktu. Sesederhana kata itu. Rindu.

Jumat, 29 Januari 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , ,


Tentu Anda ingat bukan mengenai tulisan nyinyir yang menyindir seseorang yang dengan gigih menawar dagangan di pasar? Yang dengan sikap sok tahu dan sok sosialis itu menghakimi bahwa menawar di pasar adalah sifat para kapitalis. Jika belum, maka silahkan baca di sini.
Sudah dibaca kan? Lihatlah, apa orang itu kurang kerjaan bahkan sampai harus mengomentari kami yang lagi berdagang? Yang beli bukan bukan kalian, yang jual bukan kalian, bahkan kalian mungkin tidak melihat ketika SAYA menawar, kok Anda yang repot? Kalau kata Alm. Gus Dur,”Gitu aja kok repot?”
Berikut adalah alasan mengapa kalian tak perlu mengomentari kami, bahkan saya akan sadarkan kalian bahwa kalian itu salah!
1. Kalau kalian tak pandai menawar, jangan iri
            Kalian tahu apa itu lobbying? Oh, tidak tahu? Lobbying adalah kemampuan kita untuk melobi orang, memengaruhinya. Hal itu akan sangat berguna, apalagi jika Anda hidup di dunia yang kompetitif seperti sekarang.

Sabtu, 17 Oktober 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,



 
Suatu pagi, Jeruk hendak berjalan-jalan. Namun dilihatnya cuaca muram dan terkesan agak mendung. Oleh karenanya Jeruk pun kembali masuk ke rumah dan meneruskan kegiatan kesukaannya: TIDUR.

Sekira jam sepuluh, Jeruk mulai lapar. Berjalanlah ia ke dapur dan bermaksud membuat sandwich telur (laper kakaaaaa!). Dia pun kembali uring-uringan, demi melihat roti yang belum dibakarnya telah menjadi gosong. Lalu dibukanya magic com, eh nasinya pun juga termasak menjadi gosong. Payah semuanya, payah! Maka jadilah hari tersebut ia sangat murung. Ia pun kembali ke kamarnya, untuk melakukan kegiatan yang menjadi hobinya: bersantai…

Senin, 05 Oktober 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,



            Beberapa waktu yang lalu saya pernah melakukan wawancara kerja dengan suatu lembaga bimbingan belajar. Yah, itung-itung buat mengisi waktu luang dan menyambung hidup dari hari ke hari. Pada wawancara tersebut, ada satu hal yang tiba-tiba tercetus. Karena suasananya santai, saya pun bisa seenaknya menjawab hehe.

Q         : Ceritakan secara singkat tentang diri Anda.

H         : Saya adalah orang yang pragmatis.

            Tentu Bapak tersebut sangat terkejut. Dalam pikiran beliau (saya tebak), orang yang pragmatis adalah orang yang culas. Orang yang hanya memikirkan untung rugi saja. Menilai segala hal hanya dengan ukuran apa untungnya bagi saya, apa ruginya bagi saya.

Kamis, 20 Agustus 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


            Hari ini saya akan bercerita mengenai apa yang saya dapat berdasarkan ingatan saya yang lemah dan catatan yang payah—semoga Allah Menambah kebaikan ingatan dan catatan saya. Yaitu mengenai hikmah Surah Asy-Syura ayat 13, terjemahannya kurang lebih begini:


“Dia (Allah) telah Mensyariatkan kepadamu agama yang telah Diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami Wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami Wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan ‘Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah Memilih orang yang Dia Kehendaki kepada agama tauhid dan Memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS 42: 13).


Minggu, 21 Juni 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,


                Saya bukanlah aktivis dakwah, setidaknya itu yang saya rasakan. Karena, kok sepertinya ada yang mendikotomikan antara seorang “aktivis” dan “pasivis” (atau pasiva? Seperti istilah dalam akuntansi?). Namun, meski begitu saya sering mendengar perkataan tentang dakwah ini, karena saya telah diberi nikmat untuk dapat bergaul dengan para aktivis dakwah. Dan hari ini saya akan membagikan beberapa ingatan saya mengenai dakwah itu sendiri.

Prolog
                Dakwah secara bahasa dapat diartikan sebagai seruan, ajakan, atau panggilan sebagaimana terdapat pada Surah Al-Fushilat (ayat 33-34). Sedangkan menurut para ahli, contohnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (Mazhab Hanabilah);

Senin, 01 Juni 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,

Suasana pendaftaran ulang di Sasana Budaya Ganesha



                Setelah tulisan sebelumnya tentang “Jalan Saya Menuju Kampus Gajah Duduk”, maka inilah cerita saya tentang “Pengalaman Awal di Tanah Rantau Pertama” (Peringatan, cerita ini panjang sekali);

                Saat itu, akhirnya tiba di masa yang bernama daftar ulang. Sengaja waktunya disamakan dengan waktu SNMPTN Tulis. Tujuannya biar tidak ada orang yang iseng-iseng mencoba jatah kursi orang lain. Saya pikir, ini bijaksana. Dan saya pun tidak setolol itu untuk melepas jatah kursi saya di FTMD. Dan, masalah muncul karena saya tak punya satu pun saudara di Bandung. Sehingga, setelah bergerilya ke sana kemari, saya dapat tumpangan di rumah dinas bapaknya Faris—dia anak SBM. Kebaikan anak ini pada saya tidak akan sanggup saya balas sampai kapan pun, FYI.
Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,

FYI, jaman saya, kami boleh memilih
6 jurusan di 2 Universitas
(@3 jurusan)




                Tulisan ini saya dedikasikan untuk diri saya sendiri, kepada kawan-kawanku yang sebentar lagi akan menuju dunia real di luar kampus, juga pada adik-adikku yang baru akan kuliah maupun yang telah “terjebak” di kampus (Gajah) ini. Akan terdiri dari beberapa bahasan yang masing berjudul  “Jalan Saya Menuju Kampus Gajah Duduk”, “Pengalaman-Pengalaman Awal di Tanah Rantau Pertama”, “Kuliah, Steady”, dan “Renungan Sekarang”.

                Dan inilah cerita pertama saya;

                Waktu kecil, setiap dari kita tentu memiliki cita-cita, kan? Ada yang ingin jadi dokter, presiden, menteri (gak tahu menteri apa), bahkan sampai ingin jadi artis yang kerjaannya nyanyi sambil joget-joget tak jelas di TV. Nah, saya pun dulu memiliki cita-cita yang tak kalah absurdnya; Ultraman, Power Ranger, Pemilik Digimon, dan semakin besar mengerucut jadi lebih jelas: Tentara dan Insinyur. Entahlah, sepertinya semakin besar kita semakin sering membuat revisi dan kompromi ya :)

Senin, 04 Mei 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


                Sudah sebulan lebih saya tidak menulis sesuatu selain sajak. Maaf, rasanya sedang mencapai titik jenuh untuk mengelola blog ini. ya, bahkan sudah ada pikiran untuk rehat setidaknya satu tahun. Namun, rencana ini beruntung ‘digagalkan’ oleh pengalaman kemarin: Tiktok Gunung Guntur. Here the story…

Pendakian ini, boleh dibilang adalah pendakian pertama saya dalam 4 bulan terakhir. Terhitung sejak perjumpaan saya dengan Matahari Pagi di Puncak Rinjani. Dan bahkan keputusan saya ikut adalah H-1, tanpa persiapan sebetulnya (jangan ditiru) serta sekedar pelarian dari TA (maaf ya Pak Dosbing hahaha). Dan Gunung Guntur ini memberikan saya pelajaran berharga.

                Cerita bermula dengan berkumpulnya 8 Swasta (Mahasiswa Tingkat Akhir) Teknik Mesin ITB berdasarkan janji yang dituliskan di Grup Line Laskar Pendaki HMM: Candra (Laptop), Tian, Nain, Madun, Ali, Jeki, dan Robi. Keren sekali, delapan lelaki yang bertekad untuk mendaki. Dan ada 2 orang (yang ngakunya) baru mendaki sekali ini: Tian dan Candra. Setelah saling tunggu dan ribet debat apakah pakai jeans atau training, maka berangkatlah kami. 8 orang pria di dalam satu mobil Honda CR-V milik Tian. Formasi 2-4-2, dan entah bagaimana safety factornya hahaha.

Minggu, 22 Maret 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,





               
Hari-hari ini saya sedang menekuni buku Pidi Baiq yang berjudul “at-twitter”, kumpulan tweet-nya yang sarat pemikiran dan kritik sosial mendalam dengan tagline: Google menjawab semuanya, Pidi Baiq menjawab semaunya. Dan saya tertarik dengan kalimat pembuka di setiap babnya yang begini: “Bandung di rumahku terbuat dari Bob Dylan. Dari buku Television’s Culture of Stupidity. Dan dari monyet yang tadi kulihat di cermin. Hmm.”

                Maka dari itu saya pun ingin membuat yang versi saya:

“Bandungku hari ini dibuat dari pagi yang dingin dan sejuk, beserta ritual paginya. Beserta kepuasan yang tercipta bersamaan ritual pagi yang terlaksana: seratus kali push up dan kawan-kawannya. Juga sarapan yang damai sambil membaca koran yang berisi berita tentang depresiasi rupiah yang katanya justru menarik investor.”

Minggu, 15 Maret 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,
sumber: https://nafay.files.wordpress.com/2012/04/1306653387-jpg.png




                Dulu saya pernah mendengar cerita tentang telur, kopi, dan wortel. Tepatnya dari Bundel Soal Gamais (BSG), yang mana Anda sulit diakui sebagai anak ITB yang merasakan serunya TPB jika tidak mengetahui buku kumpulan soal tersebut. Setelah googling, saya pun mendapatkan kisahnya. Baik, ini saya salinkan:

“Seorang anak perempuan mengeluh pada sang ayah tentang kehidupannya yang sangat berat. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan dan bermaksud untuk menyerah. Ia merasa capai untuk terus berjuang dan berjuang. Bila satu persoalan telah teratasi, maka persoalan yang lain muncul.

Lalu, ayahnya yang seorang koki membawanya ke dapur. Ia mengisi tiga panci dengan air kemudian menaruh ketiganya di atas api. Segera air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama dimasukkannya beberapa wortel Ke dalam panci kedua dimasukkannya beberapa butir telur. Dan, pada panci terakhir dimasukkannya biji- biji kopi. Lalu dibiarkannya ketiga panci itu beberapa saat tanpa berkata sepatah kata. Sang anak perempuan mengatupkan mulutnya dan menunggu dengan tidak sabar. Ia keheranan melihat apa yang dikerjakan ayahnya. Setelah sekitar dua puluh menit, ayahnya mematikan kompor. Diambilnya wortel-wortel dan diletakkannya dalam mangkok. Diambilnya pula telur-telur dan ditaruhnya di dalam mangkok. Kemudian dituangkannya juga kopi ke dalam cangkir. Segera sesudah itu ia berbalik kepada putrinya, dan bertanya:

Rabu, 04 Maret 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


Hahaha, jangan ditiru! :v



Hari ini saya ingin berbagi suatu pesan yang menohok hati dari Kaprodi saya yang keren. Beliau mengomentari para mahasiswa yang TA tapi nggak berasa TA-nya. So, check it out!

Sabtu, 31 Januari 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , ,




               
Saat saya dapat kesempatan ‘jalan-jalan’ ke PT Timah di Bangka sana, saya mendapat satu pelajaran menarik. Pelajaran yang saya dapat dari salah satu karyawan yang menemani saya keliling Bucket Wheel Dredge untuk mempelajari alat pertambangan lepas pantai tersebut. Jadi, di sela-sela alat pencucian di perut kapal itulah beliau banyak bercerita, dan inilah cerita beliau.

Manfaat Visi

                Seringkali kita bingung ketika ditanya,”Hidupmu maunya seperti apa?” Mungkin akan ada jawaban begini,”Ah, gue mah mengalir aja. Seperti air, woleeeees…” Lalu beliau, Pak Gandhy, menceritakan tentang contoh yang paling mudah dipahami para jomblo seperti saya ini, kriteria istri.