Tampilkan postingan dengan label Sarkasme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sarkasme. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Oktober 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , ,


                Beberapa hari belakangan ini sedang sangat ramai mengenai Mukidi. Mulai dari grup WA, Line, hingga sebaran di Facebook. Well, saya memang cukup aktif di medsos sih hehe. Dan sampai sekarang saya masih belum paham (si)apa dan bagaimana sebenarnya Mukidi itu. Apalagi soal Mukidi yang gemar menuduh seseorang masuk organisasi terlarang. Ah, entahlah, mungkin dia sedang mabuk amplop.

Kodok Mukidi


                Justru kali ini saya ingin berbagi pemikiran saya mengenai kodok. Yap, kodok rebus. Lebih tepatnya, mengenai cara merebus kodok.

Merebus Kodok

Jumat, 29 Januari 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , ,


Tentu Anda ingat bukan mengenai tulisan nyinyir yang menyindir seseorang yang dengan gigih menawar dagangan di pasar? Yang dengan sikap sok tahu dan sok sosialis itu menghakimi bahwa menawar di pasar adalah sifat para kapitalis. Jika belum, maka silahkan baca di sini.
Sudah dibaca kan? Lihatlah, apa orang itu kurang kerjaan bahkan sampai harus mengomentari kami yang lagi berdagang? Yang beli bukan bukan kalian, yang jual bukan kalian, bahkan kalian mungkin tidak melihat ketika SAYA menawar, kok Anda yang repot? Kalau kata Alm. Gus Dur,”Gitu aja kok repot?”
Berikut adalah alasan mengapa kalian tak perlu mengomentari kami, bahkan saya akan sadarkan kalian bahwa kalian itu salah!
1. Kalau kalian tak pandai menawar, jangan iri
            Kalian tahu apa itu lobbying? Oh, tidak tahu? Lobbying adalah kemampuan kita untuk melobi orang, memengaruhinya. Hal itu akan sangat berguna, apalagi jika Anda hidup di dunia yang kompetitif seperti sekarang.

Sabtu, 23 Januari 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


            Beberapa hari belakangan ramai kembali mengenai LGBT. Entahlah, menurut hasil penerawangan saya hal tersebut disebutkan adanya poster dari suatu lembaga yang memfasilitasi curhatan kalangan LGBT. Dan bertambah ramai ketika mencatumkan (mencatut?) suatu  perguruan tinggi top di negeri ini.
            Hal tersebut menjadi semakin ramai ketika humas kemahasiswaan perguruan tinggi tersebut menolak keterkaitan dengan lembaga tersebut. Dalam bahasa mereka, mereka tidak dimintai izin dan tidak bertanggung jawab atas apa yang dilakukan lembaga tersebut. Bahkan dikatakan tidak berhak menggunakan logo perguruan tinggi tersebut. Terimakasih kepada aplikasi yang bernama “L*ne” yang telah membuat segala hal semakin mudah. Bahkan press release pun semakin mudah dan murah. Oh ya, bagi yang masih bingung sebenarnya saya sedang membahas apa, silahkan bertanya kepada makhluk halus bernama Go*gle.
Source: http://overpassesforamerica.com/?p=21833

Sabtu, 26 Desember 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , ,


            Bismillah,
            Hari ini saya ingin berbagi mengenai khutbah jum’at kemarin. Temanya adalah “Pendidikan Anak Menurut Islam”. Namun dalam penceritaan ini, sebenarnya khutbah tersebut “hanya” menginspirasi saya, sedangkan pengembangannya tetap menurut sudut pandang saya. Jadi jika ada kebenaran maka pasti ada andil dari khutbah tersebut, sedangkan jika ada kesalahan dalam pengembangan itu murni kesalahan saya.
            Khatib memulai dengan bercerita bahwa anak merupakan cobaan, perhiasan dunia, penyejuk namun suatu saat dapat menjadi musuh (pembahasan mengenai ‘Kedudukan Anak Dalam Al Qur’an tidak saya bahas dulu). Lalu beliau mulai menceritakan betapa banyak orang yang salah kaprah dalam mendidik anak. Entah karena terlalu sayang atau terlalu keras.
            Sebagai contoh yang paling mudah (ini penulis alami sendiri), ketika pulang sekolah maka akan selalu ditanya
1. “Sudah makan belum?”
2. “Jajan apa aja tadi? Nggak jajan sembarangan kan?”
3. “Gimana ulangannya matematikanya? Bisa? Perlu les matematika tidak?”
4.  “Ada yang nakal tidak di sekolah?”

Jumat, 02 Oktober 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


Pada saat HUT TNI ke-69, saya ‘menghujat’ anggota (hewan eh) dewan yang banyak cakap dengan berkata bahwa perhelatan pameran senjata di Markas Koarmatim sebagai pemborosan. Bahwa katanya tidak pas dengan momen bayangan harga BBM yang akan naik. Entahlah, apa yang sebenarnya ada di pikiran mereka. Kalau bagi saya, saat itu adalah waktu yang tepat untuk menggaungkan hal berikut; 

"Ini lho kekuatan militer kami. Terbesar semenjak tahun 60an. Setelah puasa akibat beli rongsokan dari Barat dan akhirnya kena embargo itu, akhirnya TNI kembali berotot. Negara-negara tetangga yangg usil macam “kanguru” atau “si upil” jangan ganggu kami, atau pulau kecil kami ratakan dengan R-Han dan D*rwin di serbu Marinir!"

Jumat, 17 Juli 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,


Tadinya saya ingin berbagi cerita tentang saya yang masih mengetik TA padahal malam takbiran dan kisah lebaran saya di tanah rantau. Bagaimana kadang keisengan itu harus dibayar dengan kesepian #ceileeeeh. Yah, sepertinya cerita tentang ini harus menunggu beberapa waktu lagi. Sekarang, saya akan bercerita tentang debat saya.

Ya, bukannya makan-makan sampai puas (tadi udah makan-makan sih, tapi belum puas haha), saya justru meladeni debat orang di line tentang Idul Fitri di Tolitoli. Debat pun melebar hingga ke urusan toleransi. Kasusnya diawali dengan saya yang membagikan maklumat ini:





Nah, ini awal komen lawan debat saya:



Dan ini seluruh transkrip debatnya:
H= Heri
A= dia

A    : Wkwkwkwkwkw yang kayak gini diumbar umbar. giliran agama situ yang bakar dan hancurin gereja gimana tuh? yang sampe bikin rusuh ke gereja. kalian bangun masjid dimana mana. berisik kalo adzan toa nya bareng bareng. Ini kita pun masih pemberitahuan doang. kalian tanpa pemberitahuan langsung asal hancurin aja. mikir please...

A    : mikir please siapa yang ga toleransi sekarang. Banyak gereja yang kasih spanduk kok kalo lagi lebaran, buat ngucapin selamat hari lebaran. kalian masjid masjid pernah ngga ngasih spanduk ucapan natal? hahh.. plis lah kita kurang toleransi apa. Padahal agama kalian ngajarin buat ngehormatin agama lain. Tapi kalian kayak gitu.

Sabtu, 11 Juli 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,


sumber: http://chuisme.blogspot.com/2012/04/tips-meminjam-barang.html

       Pinjam meminjam adalah hal yang wajar di dunia ini. Mulai dari pinjam alat tulis sampai “meminjamkan” rakyat. Yang pertama adalah khas anak sekolah, yang kedua adalah mengenai para ”penguasa dunia yang menguasai suplai uang” (siapa mereka? Bukan tempatnya di blog ini untuk membahas mereka). Pinjam meminjam telah sedemikian mengakar dalam kehidupan bermasyarakat, hingga dapat digunakan sebagai parameter hubungan di antara dua pihak. (Bahkan kata para Bankir, hutang adalah tanda kemajuan suatu bangsa—dan itu kata-kata yang pup banteng sekali)

Misalnya nih:

”Bro, bolpenmu lagi dipakai nggak?”
”Nggak, kenapa cuy?”
”Ehm, sori ya ngrepotin. Aku pinjem bentar boleh? Tiba-tiba bolpenku gak ada nih hehe.”
”Oh iya, santai aja kali. Nih, tapi 2 jam lagi aku kelas, udah bisa balik?”
”Oke, siap. Makasih yo!”

Nah, kalau diperhatikan mereka itu hanya sekedar teman :)

Kamis, 28 Mei 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,

Sebuah ucapan dari para orang-orang tak beradab :v




                Kemarin, kata Facebook saya ulang tahun. Sebenarnya saya sudah tahu sih bahwa dulu saya dilahirkan pada hari Kamis, 27 Mei 1993 silam. Weton saya (katanya) Kamis Legi—pantesan saya manis hehehe. Kenapa kata Facebook? Karena kebanyakan orang-orang tahu ultah orang lain itu dari facebook hehehe.

                Tapi mari kita menyimpang sedikit. Mari kita bahas tentang kata “Ulang Tahun” dulu. Apakah kawan-kawan melihat keanehan di sana? Tidak? Ya? Oke, yang bilang ‘ya’, saya tanya lagi,”Apa anehnya?” Yap, betul.

                Dari namanya saja Ulang Tahun, harusnya sampai nilai-Aspek-Lingkungan-saya-dari-C-jadi-A-tanpa-mengulang hal tersebut tak akan terjadi. Kecuali Anda adalah Gandalf yang mengalami 3 zaman di Bumi Tengah. Dari Zaman Pendaratan Isildur sampai Penobatan Aragorn.  Mana mungkin saya yang lahir pada Tahun 1993 akan mengalami tahun 1993 lagi? Aneh.

Sabtu, 07 Maret 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,

             

                Tak terasa blog ini telah mencapai hampir 3 tahun dalam keberjalanannya. Tak terasa pula telah ada 25 follower, dengan 80an hits setiap hari. Lumayan, 975 follower lagi dan saya mulai bisa memasang iklan. Ya sudahlah, itu tujuan komersilnya.

                Nah, untuk sampai ke sana, hari ini saya membagikan sesuatu yang mungkin agak cukup berisi sedikit. Apa yang ingin saya bagi?

                Dalam hidup ini, masalah terbesar yang dialami manusia biasanya bermula dari komunikasi. Katanya sih begitu. Mulai urusan saling diam antara kawan hingga sebesar Perang Troya seringkali diawali oleh kesalahpahaman. Bahkan seringkali perang dalam Islam itu adanya kesalahpahaman. Para penyembah berhala salah paham tentang keinginan Tuhan Ingin disembah, Islam datang ingin memberikan informasi bagaimana Tuhan Ingin disembah. Tapi sebelum para da’i itu memperoleh kesempatan, mereka berpikir pasukan Islam hanya ingin merebut harta benda saja. Mereka mengira sedang berbuat kebaikan dengan memerangi Islam, padahal mereka sedang melakukan kesesatan yang nyata.

Rabu, 18 Februari 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


                Hari ini saya belajar satu hal yang saya rasa cukup besar. Tentang arti menghakimi, pun dengan kata instropeksi.

                Ceritanya, tadi pagi saya mendapat ‘tugas’ dari para ‘serigala’ (Dun, ganti nama grup line kita lah, alay banget kau -____-“) untuk beli tiket bus di Terminal Cicaheum. Kami selama liburan panjang ini berencana sowan ke rumah Kak Madun, ke sebuah negara yang bernama Kebumen *peace coy, guyon :v

Kenapa saya sendiri yang beli dan saya mau? (Oke, berkisah OOT sedikit). Karena Madun dan Ucup sedang ada kuliah Studium Generale, si Faiz sedang simulasi upper frame di laptopnya, si Anu (Arif Nugroho) sedang ada WAR DotA—ini DotA secara harfiah, bukan do TA alias mengerjakan Tugas Akhir—sedang saya yang biasanya harus bimbingan dan dibantai tiap Rabu pagi agak bebas. Ya, dosen pembimbing tercinta sedang umroh. Mungkin sedang mendoakan kelancaran TA saya di depan Ka’bah :)

Kamis, 29 Januari 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,



Sejak saya kecil, saya memahami sesuatu yang sangat aneh menurut saya sekarang. Entah bagaimana, dalam pikiran saya terpatri suatu dikotomi antara menjadi seorang yang hebat secara fisik dengan menjadi cemerlsng secara intelektual. Bahwa keduanya adalah hal yang berbeda, bahkan bertentangan. Dalam pikiran saya, orang yang pintar itu haruslah berkacamata, kurus kering atau justru kegemukan, tidak bisa olahraga, lemah, dan gampang sakit karena terlalu banyak belajar sehingga lupa “menyayangi” tubuh. Dan orang yang hebat fisiknya itu cenderung tidak sanggup untuk mengerti isi bacaan, apalagi menghapal.

Selasa, 20 Januari 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,


                Banyak hal di dunia yang semakin aneh akhir-akhir ini. Mungkin karena kiamat semakin dekat, mungkin juga karena efek dari hukum entropi selalu bertambah seiring dengan bertambahnya waktu. Namun, kalau saya pikir hal ini bisa saja karena orang-orang jaman sekarang terlalu banyak mengonsumsi MSG, dan bahkan mungkin orang-orang  aneh tersebut menjadikan MSG sebagai cemilan.

                Hmm, pasti pembaca bingung mengapa saya memulai tulisan kali ini dengan sebuah sarkasme. Saya memulai dengan sarkasme, karena ada orang-orang di luar sana yang memang menjadi target yang pas akan hal ini—saya pikir. Salah satunya, orang yang menggunakan logika aneh yang BELUM saya pahami. Seperti yang langsung menyalahkan harga tiket murah sebagai penyebab kecelakaan pesawat. Atau yang lebih ‘keren’, ini: http://m.kompasiana.com/post/read/595715/3/telanjang-memang-bagian-dari-adat-istiadat-indonesia.html    

Sabtu, 03 Januari 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,



            Menikahlah wahai engkau yang masih berkutat dengan rumitnya pendidikan. Yang bahkan untuk sekedar mengatur waktu kapan belajar, bermain, dan membantu orang tua belum bisa. Apalagi ikut serta menyukseskan dakwah. Karena percayalah, bertambahnya satu tanggung jawab tidak akan terlalu berpengaruh signifikan pada ritme hidupmu yang sudah menantang tersebut. Atau siapa tahu, dengan bertambahnya satu urusan besar maka hidup akan makin tertata. Tidakkah engkau tertantang untuk mencobanya, kawan?

            Jangan takut menikah meski engkau belum berpenghasilan. Yang bahkan sekedar untuk uang jajan dan jalan-jalan masih mengharap belas kasih ayah tercinta. Yang bahkan sekedar makan saja masih harus ‘disuapi’ mama. Tak apa kawan, itu bukanlah halangan. Karena yang penting kan dalam menikah itu ada cinta dan sayang. Biarkan kesulitan yang akan datang membuat kau dan istrimu lebih dewasa.

Sabtu, 15 November 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,
Sebelumnya, baca Part 1 dulu biar nyambung cuy hehehe...




1.       Konsumsi dan Produksi Minyak Nasional
Baik, berikut adalah data konsumsi minyak nasional:


Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,


                Hari ini saya ingin berceloteh tentang hal yang sangat sensitive hari-hari ini: Harga minyak atau masalah pemotongan subsidi. Dan sebelum Anda saya ajak menyelami alam pikiran saya yang (kata orang-orang) heartless—maksudnya suka kelihatan tidak pakai perasaan, hanya sekedar benar salah—mari kita lihat sharing seorang pendukung/kader PKS di media social berikut:



Minggu, 02 November 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,
Mengapa umat Islam tidak bisa hidup di bawah Hukum Syariah di negeri kita sendiri?

Selalu, kita lelah mendengar argumen yang sama mengenai "umat Islam memiliki hak untuk hidup menurut Islam". Di negara-negara Muslim (bukan Islam), Muslim diberitahu bahwa kita tidak bisa menerapkan dan hidup dengan hukum Syariah, karena di sana ada (minoritas non-Muslim) dan kalangan Sekuler yang tidak ingin hidup di bawah hukum Syariah. Ketika dikatakan kepada mereka bahwa Syariah hanya untuk umat Islam, mereka akan menjawab "adalah tidak adil jika memiliki hukum yang berbeda dengan orang-orang, dan tidak setiap 'Muslim' inginkan Syariah."
 
Jika kalangan Sekuler ini hidup di abad ke-7 di Madinah, maka mereka mengatakan pada Nabi Muhammad (SAW​​): "Anda harus menghapus ketentuan dalam Konstitusi (sahifa) Madinah yang berbunyi, 'jika ada yang bersengketa, (maka hendaklah) merujuk kepada Allah dan Rasul-Nya' karena di Madinah juga terdapat minoritas Yahudi yang tidak mengakui Anda sebagai Rasul Allah, dan tidak mengakui Anda telah menerima wahyu." Mereka mungkin akan mendirikan gerakan Pemberontakan dan mengundang Abdallah ibn Ubay untuk memimpinnya.

Selasa, 14 Oktober 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,


                Sepuluh hari telah terlewat dari hari besar juga hari agak besar itu, dan saya malah baru menuliskannya saat ini: 15 Oktober 2014. Ya, hari besar berupa Idul Adha dan hari agak besar yaitu HUT ke-69 hulubalang negeri ini—TNI—yang jatuh pada waktu yang bersamaan, tanggal 5 Oktober. Dan hari ini saya akan membicarakan yang kedua, karena yang pertama saya merasa kurang berkompeten. FYI juga, karena waktu yang bersamaan itu pula maka parade militer digeser menjadi tanggal 7 Oktober.

                Ya, tujuh hari yang lalu itulah digelar parade militer terbesar dalam sejarah TNI. Dan itu, hebatnya terjadi pada saat kita tidak sedang dalam masa perang. Berbeda dengan saat tahun 60-an, di mana kekuatan TNI yang sangat diperhitungkan, bahkan merupakan angkatan udara terbesar di belahan bumi selatan dan prestasinya atas kepemilikan kapal penjelajah KRI Irian, karena saat itu TNI sedang masa perang dengan Belanda untuk merebut Irian Barat. Untuk melihat betapa besarnya kekuatan TNI, Anda semua dapat merujuk pada videonya di Youtube.

Jumat, 10 Oktober 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,
 Lalu Kenapa Harus Sekarang?

                Jawabnya simple sebenarnya. Karena kita tak tahu kapan akan mati. Sudah, sesimpel itu.

                Ah, baiklah. Akan saya bahas sedikit lebih panjang jika demikian.

Pertama

                Pertama, karena terkadang ada beberapa hobi yang akan lebih mudah untuk terealisasi ketika Anda belum berkeluarga. Saya ada beberapa contoh kasus. Sepupu saya ada yang memiliki hobi berburu. Jadi saat malam di akhir pekan, setelah seharian bekerja layaknya kuda di bidang pemasaran, yang bersangkutan langsung mencangklong senapan anginnya dan dengan ditemani sebungkus rokok, senter, kupluk, dan segerombolan kawan-kawannya dia menembus hutan di pinggiran kota. Sekedar menembak satu dua tupai, namun lebih sering pulang dengan sekedar tawa puas. Sayangnya, di antara kawan-kawannya, dia salah satu dari sedikit orang yang sudah tidak jomblo. Sehingga, seringkali rasa puas dan senang saat pulang segera luruh ketika melihat wajah cemberut istrinya. Ya, istrinya tak suka dia berburu. (Man, padahal berburu burung dan tupai. Bukan berburu istri kedua hahaha)
Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


                Beberapa saat yang lalu saya ditanya begini,”Ngapain sih sampai segitunya cuma mau ke ******i? (Menyebut nama salah satu gunung di Indonesia, nama gunung saya samarkan aja deh biar ceritanya nanti jadi kejutan hehe) Toh nanti kalo sudah kerja juga puncaknya enggak pindah kan?” Ya, beliau yang bertanya ini sedang mengkritisi keputusan saya yang “katanya” berlebihan dalam berikhtiar untuk mencapai sesuatu yang bernama SEKEDAR hobi ini—atau lebih tepatnya hobi baru saya ini. Bahwa saya dikatakan sedang tak logis, kenapa untuk urusan tak penting seperti ini saya harus berjuang mati-matian (kata beliau sih, saya santai aja padahal) dari urusan finansial, fisik, taktik, dan perencanaan. Apa tidak ada yang lebih penting?

                Baik, untuk pertanyaan terakhir saya bisa jawab langsung,”Yang lebih penting banyak kok, tapi ini layak diperjuangkan.”

Kamis, 04 September 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,
"Eh Pak, uang jajan adek kurang nih. Gimana kalo tv yang ada di ruang keluarga itu DIJUAL aja?

Eh2, laptop bapak kayaknya di rumah juga cuma nganggur, dipakainya di kantor doang, JUAL aja yah?

 

Eh iya Bu, kan panci presto yang ada di dapur itu juga jarang dipake, JUAL juga aja ya?

 

Eh kakak kakak, sepeda motornya ngabisin bensin tuh, JUAL aja ya?"