Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 April 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , , , , ,


Setelah saya bercerita mengenai kondisi awal saya masuk Kampus Gajah Yang Duduk (Di Atas Buku), kini saya akan merangkum perjalanan hidup saya di kampus tersebut.

TPB
            Di ITB, pada zaman saya ada suatu tahap yang disebut Tahap Paling Bahagia, eh maksudnya Tahap Persiapan Bersama. Di sini mereka yang mengaku sedang bahagia karena sudah bisa terjerumus ke ITB akan mulai disadarkan,”Kuliah di ITB tak seperti di FTV!”

Minggu, 21 Februari 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


            Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan versiku yang tak pernah orang lain lakukan. Dengan cara yang bahkan tak pernah kita pikirkan. Dengan segala keterbatasan yang akan menguatkan.

            Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Bahkan meski semuanya masih tampak kelabu di ujung sana. Bahkan meski seperti tak ada harapan lagi yang tersisa. Bahkan meski ketika kita seolah berjalan sendirian melawan kerasnya dunia.

            Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Sesederhana kata yang selalu kuucapkan ketika mengingatmu. Sesederhana kata yang menari-nari di garis waktu. Sesederhana kata itu. Rindu.

Rabu, 15 Juli 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under :

Hari ini hari yang sama, sayang
Debu, panas, dan beberapa suara yang familiar
Meski kau lihat wajah yang berbeda
Sejatinya cerita ini tetap sama


Hari ini masih sama, sayang
Ketika jalanan di sana tak lebih dari lorong kosong
Dan bangunan lebih mirip tempat petak umpet
Tanpa bekas meski sekedar kotoran unta

Jumat, 08 Mei 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,



            Aku melihat banyak benda itu, terserak di sepanjang perjalanan kita. Namun kau mengacuhkannya. Kau tak ambil sedikit pandang pun padanya. Lalu kuambil satu, dan kutunjukkan padamu. Entah kenapa, aku melihat binar di mata coklat beningmu yang aneh itu. Selaksa aku melihat pagi yang kurindukan setiap harinya, namun seringkali kandas karena kalah dengan godaan kasur setelah beribadah. Aku, selalu menemukan ganti pagi di matamu.

Jumat, 10 April 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


Mungkin aku tak semenawan Kamal
Yang kemarin menang kompetisi adu keren di foto jonas
Dengan gayanya yang selalu matching dan stylish
Dan akan mampu membuat setiap wanita meliriknya
Untuk bergumam,”Hmm, boleh juga ya…”

Mungkin pula aku tak seromantis Tobibi
Yang begitu lembut dan mengayomi
Hingga mampu membuat setiap wanita di dekatnya merasa nyaman
Tanpa harus ada gejolak yang tak mengenakkan

Minggu, 05 April 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under :


                Malam ini indah, Ibu. Ya, namun aku ingin bertanya,”Sudahkah Ibu makan malam ini?” Aku tahu Ibu, kita tidak pernah kekurangan makanan. Aku tahu Ibu, Bapak telah berusaha eras utuk mencukupi kebutuhan dasar kita. Hingga aku tak pernah kekurangan sejak kecil. Tetapi, aku tahu sejak dulu kau selalu saja bergelut dengan pekerjaan. Entah itu memasak, menyapu, melayani pembeli di warung kecil depan rumah kita, mendengarkan ceritaku, cerita Bapak, dan cerita si menyebalkan Finna. Kau tak pernah istirahat Ibu. Kecuali saat kami semua telah terlelap. Maka, seperti biasanya kau tanyakan setelah salam saat di telepon, aku hanya ingin berbasa-basi,”Sudahkah Ibu makan malam ini?”

Senin, 16 Februari 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


                Aku ingin bercerita tentang pagi kepadamu. Suatu cerita yang tak kusangka akan ada, namun ternyata memang tercipta begitu saja. Aku bahkan tak pernah memikirkan apalagi berharap, bahwa pagi ada di sana. Di ujung perjalanan hari, seperti menanti untuk disapa. Atau sebenarnya ia senantiasa ada di permulaan kala?


                Pagi, mungkin tidaklah semengagumkan bulan. Ia begitu sederhana, pun jika kau pikir dia dekat dengan sahaja. Baginya tak ada yang berbeda, apakah akan ada yang memuji atau menghina. Pagi menyadari, orang-orang berhak menilai sekehendak hatinya. Yang terpenting, pagi akan selalu ada bagi yang mencarinya.


Senin, 02 Februari 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


                Dalam ucapan ikrar perjalanan, aku tahu apa itu rencana. Bahwa rencana haruslah cukup matang agar tak timbul kekacauan. Namun ia juga tak boleh hebat dan detil sangat supaya tak berubah jadi beban. Rencana tetaplah sebuah rencana. Tinggal langkah kita yang akan menentukan, menjadi kenyataan atau sekedar wacana. Inilah yang membedakan apakah ia sebuah cita-cita, atau hanya mimpi belaka.

                Dalam setiap usaha mewujudkan cita, aku mengerti tentang kolaborasi doa serta usaha. Bahwa setiap hal akan bertambah manis, bukan apakah kita mencapainya atau tidak. Namun tentang usaha dan doa tak henti yang dilakukan. Tentang betapa dedikasi mampu melebihi batas asa, dan doa adalah sebuah penjaga. Akan hati yang saling bertaut, dalam sebuah ikrar perjalanan menemukan diri. Meski itu berarti mengurangi waktu peja mata, meski itu artinya berpuasa lagi. Bahwa menemukan diri bisa jadi merupakan pertanyaan tersulit dalam hidup ini.

Senin, 04 Agustus 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


                Beberapa malam yang lalu saya menjanjikan adik  saya sesuatu agar  dia mau mengerjakan PR-nya: cerita horror nanti malam. Dan karena saya habis baca-baca jangan suka bohong sama anak kecil—adik saya udah gede sih—akhirnya malam harinya saat Bapak dan Ibu sudah sare saya tepati janji itu. Di ruang tamu, gelap, dan bercerita sambil memandangi jalanan depan rumah. Adik saya di lantai dengan guling dan selimut, saya mlungker di atas kursi. Lalu, perasaan itu muncul…

                Perasaan bahwa saya nyaman di kondisi ini. Saya tak ingin menjadi lebih tua lagi. Saya ingin selalu di usia 21 tahun dan adik saya 11 tahun, di mana permasalahan-permasalahan yang ada begitu sederhana. Lebih tepatnya, saya takut tentang harus menjaga adik saya nantinya. Kalau masih kecil—kurang dari 11 tahun misal—kan urusannya tinggal masalah jangan beli es di pinggir jalan.

                Namun lalu saya berpikir, benarkah perubahan demikian menakutkan?

Masa Lalu, Sekilas Tentangnya

                Pernahkah kita mencoba untuk sedikit mengulik masa lalu kita? Buat saya sendiri, terkadang ada saat-saat di mana mencoba menengok ke belakang. Melihat bagaimana saya saat itu, dan tindakan-tindakan apa yang saya lakukan ketika menghadapi suatu masalah. Lalu terpikir, seandainya saya yang sekarang kembali ke masa lalu apakah saya akan melakukan hal yang sama?

Kamis, 24 Juli 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under :


Sebuah tujuan memang benar dapat dicapai dengan berbagai jalan. Tapi yakinkah bahwa jalan yang ditempuh akan mengantarkan?

Kemudian ditempuhlah beberapa jalan yang ada perbedaan. Tidakkah ada kewajiban untuk saling menasehati dalam kerangka bangunan seiman?

Dan saat menempuh suatu jalan dan mungkin berbeda dalam arahan. Tidakkah seharusnya tetap bersepakat pada satu keinginan dan tujuan?

Mungkin bahwa pilihan berbeda jalan karena beda dalam memaknai kemenangan. Tak mengapa, namun apakah itu harus memutus persaudaraan?

Selasa, 22 Juli 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under :

Apakah makna selalu dapat terlukiskan dalam kata?

Ketika bahkan pemahaman tak dimiliki yang merasa

Lalu semua sekedar bisik dalam heningnya kala

Dan kita pun membisu pada saat berjumpa

Maka aku pun bertanya, mengapa?

Sabtu, 31 Mei 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


                Dalam hiruk pikuk perjalanan, tak ada yang lebih membantu dibanding seorang kawan. Setidaknya untuk tidur bergantian, agar selalu terjaga barang bawaan. Ah, entahlah apa yang sebenarnya kini kutuliskan. Mungkin sekedar sebuah catatan, dalam perjalanan menuju perantauan. Dari tanah yang sudah sejak lama kuinginkan, merekam jejak kaki yang kutorehkan.  Dari sebuah provinsi yang juga kerajaan. Karena meski Semarang dan Yogyakarta tidaklah berjauhan, namun kesempatan belum dihadirkan.

                Mata pun seakan sulit terpejam. Ketika jendela menampilkan lukisan alam. Bahkan kehidupan orang-orang yang seolah bergumam. Namun hei! Lihatlah kawanku yang kini telah memejam.

                Kembali saja kuliskan kata-kata, untuk sebuah cerita. Cerita kesenangan hati akan nikmat yang tiada tara. Kesehatan dan kebebasan yang membuat merasa sungguh merdeka.

Rabu, 19 Maret 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , , ,




Wahai si ahli ibadah dua tanah suci Makah dan Madinah

Andai engkau melihat kami

Niscaya engaku menyadari

Bahwa ibadahmu hanya main-main tiada arti

Di pipimu butir tangis air mata membasahi

Sementara leher kami dilumuri dengan darah suci

Kudamu letih dalam kebatilan

Jumat, 07 Maret 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , , , ,


Bismillah…
               
Setelah halaqah ke-5 yang gagal hadir karena—ah sudahlah, tidak perlu dibahas. Kini, saya “haturkan” catatan halaqah ke-6 saya. Meskipun suram juga, karena baru bisa diketik sekarang.

Materi pada halaqah kali ini saya kira masih terkait dengan ilmu—hakikat ilmu. Dan pertemuan pun dibuka oleh ustadz dengan tanya jawab antara Syaikh Utsaimin dengan seseorang.

Q: “Bagaimanakah dengan keadaan seseorang yang menyadari bahwa ada penyakit ilmu (maksudnya lupa) dalam dirinya? Perkara apa saja yang dapat memberikan kita pertolongan untuk kuat dalam menghapal?”
A: “Di antara metode yang paling baik untuk membantu memiliki dan menjaa ilmu yang di dada adalah hendaklah manusia mengupayakan hidayah dengan ilmunya. Jika seorang yang alim mengamalkannnya maka Allah akan menambahkan baginya ilmu dan memberikan padanya ketaqwaan(lihat QS. Muhammad 47: 17 dan QS. Al-Baqarah 2: 282).

      [OOT, tentang hapal menghapal dan ingat mengingat saya jadi teringat sebuah kisah. Kisah ini terjadi pada seorang syaikh yang ditanya tentang sebuah persoalan. Seorang pemuda yang ingin bertaubat menemui Syaikh ‘Arifi. Pemuda itu taubat dari melakukan hubungan di luar mahram sebelum ada ikatan pernikahan, alias pacaran.

Sabtu, 18 Januari 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


               
Iron Ore Pellet(Bijih Besi)
                
Jadikan diri kita seperti bijih besi yang kini kau genggam erat. Yang begitu kuat, juga begitu bermanfaat. Bijih besi yang baik dimurnikan dengan menghilangkan kadar-kadar mineral yang tak diinginkan hingga mencapai kemurnian 94% dengan cara yang tepat. Dan akibat hal inilah, sampai sekarang kita masih mengimpor bijih besi karena teknologi untuk itu belum didapat. Lalu warna ungu yang ada di lapisan luar adalah oksida yang terjadi pada bijih besi yang mungkin senada dengan karat. Namun bagian dalam tetap tak tersentuh kemurniannya dengan warna yang keperakan jika dilihat dengan cermat.               

                Sebagaimana kita jika ingin menjadi seperti bijih besi. Beratnya kehidupan boleh jadi  merubah sedikit bagian luar penampilan diri. Namun bagian terdalam diri kita ini, tak pantas jika ia ikut serta menjadi sesuatu yang selalu berubah mengikuti jalannya hari. Dan sebagaimana pula bijih besi, kita pun harus siap untuk “dibakar” dalam tungku bertemperatur 16500 C agar menjadi logam yang sesuai kebutuhan yang diingini. Tak lupa tambahan paduan dengan resep-resep yang telah teruji. Sehingga tak seharusnya kita selalu mengeluh jika harus “dibakar” panasnya tungku kehidupan dan ditambahkan hal-hal sesuai resep Ilahi, demi menjadikan kita lebih bermanfaat di dunia ini. Selama itu bukan panasnya tungku neraka nanti.

Batubara
                Begitu pun kita jika ingin laksana batubara. Meski dari luar dia tak lain dari arang semata, namun pengalaman mengalami tekanan jutaan tahun menjadikannya memiliki kandungan kalori yang lebih dari yang pertama. Sehingga tak pernah kita dapati PLTU memakai arang biasa, kecuali untuk panggangan  sate yang kita punya. Pembakaran merupakan proses yang harus dialami batubara, yang lama kelamaan akan menghabiskan dirinya. Namun kita jangan lupa, dia tetaplah abadi selamanya. Karena energy selalu abadi seperti kata salah satu hukum fisika.

                Begitu pula diri kita jika ingin meneladani. Sejumput hikmah darinya yang sedang kupikirkan malam ini. Beratnya tekanan yang kita lalui, selayaknya menjadikan berbeda dengan orang kebanyakan karena kita mempunyai kualitas lebih tinggi. Bukan maksud diri membuat sombong hati, tetapi lebih pada instropeksi. Dan mungkin suatu saat nanti, kita habis dan bahkan mati dalam perjuangan ini. Namun selalu percayai, jika semua sesuai yang diniati yaitu ridho Ilahi, maka tak perlu takut semua hanya sia-sia di kemudian hari.

Rabu, 01 Januari 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under :

malam ini,
saat dikau menatap bulan,
yakinlah kita melihat bulan yg sama,
mensyukuri banyak hal,
berterima-kasih atas segalanya,
terutama atas kesempatan untuk saling mengenal,
esok-pagi, semoga semuanya dimudahkan..

malam ini,
saat dikau menatap bulan,
yakinlah kita menatap bulan yang satu,
percaya atas kekuatan janji-janji masa depan,
keindahan hidup sederhana, berbagi dan bekerjakeras,
mencintai sekitar dengan tulus dan apa-adanya..

malam ini,
saat dikau menatap bulan,
yakinlah kita menatap bulan yang itu,
semoga Yang Maha Memiliki langit memberikan kesempatan,
suatu saat nanti, dengan segenap pemahaman baik
menjaga kehormatan perasaan
kita menatap bulan,
dari satu bingkai jendela

Oleh Darwis Tere Liye
Sumber

Senin, 23 September 2013

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,
Aku dedikasikan untuk tuan putriku tercinta...

Kau tak pernah mengeluh ketika engkau tahu kita tak akan memiliki apa-apa. Puas hatimu hanya memiliki sedikit dari apa-apa yang kau butuhkan. Sementara, orang lain mungkin akan pergi meninggalkanku ataupun mengeluh, tapi kau tak pernah sekalipun merasa resah.

Kau benar-benar mengerti, apa yang telah Rabb kita tuliskan hari ini adalah apa-apa yang akan menjadi santapan pengisi perut kita. Aku tidak pernah mengeluhkan makanan apapun yang ada di hadapanku. Karena ku tahu, kedua tanganmu yang menyiapkan dan membawakannya padaku.

Di kala ku tak memiliki apa-apa, yang kupunyai adalah engkau...

Senin, 24 September 2012

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,

                Pernahkah kau mengurai apa itu kehilangan? Sebuah roman kesedihan dalam bidang tanah kehidupan. Keniscayaan yang memang telah begitu adanya semenjak Tuhan Menciptakan alam semesta dalam enam masa.Yang karenanya orang-orang meringkuk, menangis, dan menjerit. Seolah menggugat Dia yang tak seharusnya kita pertanyakan.

Rabu, 19 September 2012

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,
Jika kamu memberinya rumah, maka ia akan memberimu kehangatan dalam rumahmu.

Jika kamu memberinya beras, ia akan mengembalikan nasi untukmu.

Jika kamu memberinya CINTA, ia akan memberimu pengabdian seumur hidupnya.

Tapi jika kau memberinya PENGKHIANATAN, ia akan memberimu doa dalam air mata kepedihannya, dan itu berarti siapkan dirimu untuk be
rjuta KEMALANGAN!"

Jika kamu berdoa dan kamu yakin bahwa dialah tulang rusukmu, maka terimalah dia bukan sebagai wanita yang sempurna, melainkan sebagai wanita yang terbaik.

Yang terbaik dari ALLAH bukanlah dia yang tidak pernah berbuat salah, tapi dia yang selalu berkata maaf untuk setiap kesalahannya dan ia yang punya sejuta maaf untuk kesalahanmu.

Ia yang menerima masa lalu mu dan yang siap merancangkan masa depannya bersamamu.

Ia yang selalu cemas dan hilang akal ketika kamu tak memberinya kabar.

Ia yang bisa memberimu dampak positif dalam hidupmu. Ia yang mengingatkanmu akan ALLAH.

Ia yang mengajakmu bersyukur saat kegagalan menghampiri hidupmu.

Ia yang tidak pernah lupa menyebutmu dalam doanya
Subhanallah...
#Copas dari sini

Minggu, 12 Agustus 2012

Posted by Heri I. Wibowo | File under :

Peradaban datang dan pergi
Menjalani yang kita sebut hari
Terus dan silih berganti
Akankah aku mengerti?

                Peperangan dan perdamaian
                Saling bertukar peran
                Seolah ingin mengajarkan
                Tidakkah aku mengambil pelajaran?

Berjalan
Dan terus saja berjalan
Tertatih pada tapak kehidupan
Sendirian
Sebagaimana saat kita dilahirkan
Begitu pula ketika diakhir perjalanan

                Roda zaman masih berputar
                Lalu semua hanya berkisar
                Tentang awal, perjalanan, kemudian akhir

Namun pernahkah aku sadari
Tentang ia yang sering tak diingati
Juga terkadang tak siap untuk dihadapi
Mati…