Minggu, 05 Juni 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


Waktu terus berjalan

            Cerita hari ini masihlah berkisar mengenai kenangan dan masa depan, karena entah kenapa saya masih terganggu dengan urusan yang satu ini. Bukan, hal ini tidak ada kaitan dengan urusan cinta-cintaan atau hal menye lainnya, karena jujur saya tidak pernah menempatkan hal semacam itu dalam prioritas hidup ini. Yah, menyedihkan memang kehidupan masa sekolah dan kuliah saya yang kalau dituduh sebagai jomblo akut. Entah karena tidak laku atau karena tidak peduli.

            Nah, jadi kenangan macam apa yang ingin saya ceritakan ini? Masa depan seperti apa yang menjadi kekhawatiran?

            Baiklah, saya akan bercerita. Pagi ini, H-1 ramadhan (dan masih akan sahur sendirian—selamat pada Mas Imron AE 09 yang sudah punya teman sahur) saya berjalan-jalan. Kata orang berjalan-jalan dapat menjernihkan pikiran, bahasa kerennya saya sedang melakukan “Root Cause Analysis” atas gangguan ini. Kenapa saya tak bisa move on dari masa lalu? Dan kenapa tidak bisa men-syukuri masa kini? Dan mengapa pula saya khawatir akan masa depan?

            Saya pun mulai mengurutkan persoalan yang menurut sebagian orang ecek-ecek ini. Dan saya mendapatkan beberapa penyebab potensial atas hal ini. Beberapa merupakan hasil kontempelasi tidak penting berupa berjalan ke tengah sawah, beberapa merupakan obrolan dengan banyak orang. Dan saya harap, hal ini dapat membantu pembaca mengenai kekosongan hati, kekhawatiran diri, saat melihat masa lalu dan masa depan.

Sabtu, 23 April 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , , , , ,


Setelah saya bercerita mengenai kondisi awal saya masuk Kampus Gajah Yang Duduk (Di Atas Buku), kini saya akan merangkum perjalanan hidup saya di kampus tersebut.

TPB
            Di ITB, pada zaman saya ada suatu tahap yang disebut Tahap Paling Bahagia, eh maksudnya Tahap Persiapan Bersama. Di sini mereka yang mengaku sedang bahagia karena sudah bisa terjerumus ke ITB akan mulai disadarkan,”Kuliah di ITB tak seperti di FTV!”

Sabtu, 09 April 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


            Pernahkah Anda merasa bahwa hidup berjalan begitu cepat? Kalau saya, jujur ada saat-saat di mana waktu terasa berjalan dengan sangat cepat. Bahkan begitu sering saya pikir. Yaitu, ketika week end.
            Namun, selain itu ada waktu pula ketika saya akan berujar,”Subhanallah! Ternyata saya sudah sedemikian tua ya!” Seolah tak percaya bahwa anak-anak kelahiran 1990an awal (saya 1993 lho Bro) sekarang sudah kepala 2, bahkan yang kelahiran 1990 sudah ada yang setengah abad lebih. Yaitu ketika saya kemarin ke Bandung dan membersihkan kamar kost-an saya.
Duh, kok seperti tidak terasa ya?  

Minggu, 21 Februari 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


            Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan versiku yang tak pernah orang lain lakukan. Dengan cara yang bahkan tak pernah kita pikirkan. Dengan segala keterbatasan yang akan menguatkan.

            Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Bahkan meski semuanya masih tampak kelabu di ujung sana. Bahkan meski seperti tak ada harapan lagi yang tersisa. Bahkan meski ketika kita seolah berjalan sendirian melawan kerasnya dunia.

            Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Sesederhana kata yang selalu kuucapkan ketika mengingatmu. Sesederhana kata yang menari-nari di garis waktu. Sesederhana kata itu. Rindu.

Jumat, 29 Januari 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , ,


Tentu Anda ingat bukan mengenai tulisan nyinyir yang menyindir seseorang yang dengan gigih menawar dagangan di pasar? Yang dengan sikap sok tahu dan sok sosialis itu menghakimi bahwa menawar di pasar adalah sifat para kapitalis. Jika belum, maka silahkan baca di sini.
Sudah dibaca kan? Lihatlah, apa orang itu kurang kerjaan bahkan sampai harus mengomentari kami yang lagi berdagang? Yang beli bukan bukan kalian, yang jual bukan kalian, bahkan kalian mungkin tidak melihat ketika SAYA menawar, kok Anda yang repot? Kalau kata Alm. Gus Dur,”Gitu aja kok repot?”
Berikut adalah alasan mengapa kalian tak perlu mengomentari kami, bahkan saya akan sadarkan kalian bahwa kalian itu salah!
1. Kalau kalian tak pandai menawar, jangan iri
            Kalian tahu apa itu lobbying? Oh, tidak tahu? Lobbying adalah kemampuan kita untuk melobi orang, memengaruhinya. Hal itu akan sangat berguna, apalagi jika Anda hidup di dunia yang kompetitif seperti sekarang.

Sabtu, 23 Januari 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


            Beberapa hari belakangan ramai kembali mengenai LGBT. Entahlah, menurut hasil penerawangan saya hal tersebut disebutkan adanya poster dari suatu lembaga yang memfasilitasi curhatan kalangan LGBT. Dan bertambah ramai ketika mencatumkan (mencatut?) suatu  perguruan tinggi top di negeri ini.
            Hal tersebut menjadi semakin ramai ketika humas kemahasiswaan perguruan tinggi tersebut menolak keterkaitan dengan lembaga tersebut. Dalam bahasa mereka, mereka tidak dimintai izin dan tidak bertanggung jawab atas apa yang dilakukan lembaga tersebut. Bahkan dikatakan tidak berhak menggunakan logo perguruan tinggi tersebut. Terimakasih kepada aplikasi yang bernama “L*ne” yang telah membuat segala hal semakin mudah. Bahkan press release pun semakin mudah dan murah. Oh ya, bagi yang masih bingung sebenarnya saya sedang membahas apa, silahkan bertanya kepada makhluk halus bernama Go*gle.
Source: http://overpassesforamerica.com/?p=21833

Sabtu, 26 Desember 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , ,


            Bismillah,
            Hari ini saya ingin berbagi mengenai khutbah jum’at kemarin. Temanya adalah “Pendidikan Anak Menurut Islam”. Namun dalam penceritaan ini, sebenarnya khutbah tersebut “hanya” menginspirasi saya, sedangkan pengembangannya tetap menurut sudut pandang saya. Jadi jika ada kebenaran maka pasti ada andil dari khutbah tersebut, sedangkan jika ada kesalahan dalam pengembangan itu murni kesalahan saya.
            Khatib memulai dengan bercerita bahwa anak merupakan cobaan, perhiasan dunia, penyejuk namun suatu saat dapat menjadi musuh (pembahasan mengenai ‘Kedudukan Anak Dalam Al Qur’an tidak saya bahas dulu). Lalu beliau mulai menceritakan betapa banyak orang yang salah kaprah dalam mendidik anak. Entah karena terlalu sayang atau terlalu keras.
            Sebagai contoh yang paling mudah (ini penulis alami sendiri), ketika pulang sekolah maka akan selalu ditanya
1. “Sudah makan belum?”
2. “Jajan apa aja tadi? Nggak jajan sembarangan kan?”
3. “Gimana ulangannya matematikanya? Bisa? Perlu les matematika tidak?”
4.  “Ada yang nakal tidak di sekolah?”