Sabtu, 15 November 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,


                Hari ini saya ingin berceloteh tentang hal yang sangat sensitive hari-hari ini: Harga minyak atau masalah pemotongan subsidi. Dan sebelum Anda saya ajak menyelami alam pikiran saya yang (kata orang-orang) heartless—maksudnya suka kelihatan tidak pakai perasaan, hanya sekedar benar salah—mari kita lihat sharing seorang pendukung/kader PKS di media social berikut:




Yep, di sana ada satu logika yang keren: Harga minyak dunia turun, kok harga minyak malah dinaikkan? Wah, logis sekali bukan? Pasti ada yang salah ini! Tapi, benarkah sesederhana itu? ;)

                Entahlah, mungkin memang benar sesederhana itu. Mungkin memang benar bahwa celoteh saya kali ini melantur dan tak memiliki data yang konkrit, sekedar angan dari mahasiswa belum lulus yang sedang lelah otaknya. Entahlah, mungkin memang sederhana saja. Namun jika Anda berkenan, mari kita sedikit berpikir lebih “aneh”.

Harga Minyak Dunia Memang Turun, Namun…

                Ya, harga minyak dunia memang turun. Namun apakah factor yang mempengaruhi harga minyak dunia hanya itu saja? Sayangnya (setahu saya) tidak Bung, ada beberapa hal lain yang perlu dipertimbangkan. Tapi sayangnya lagi, saya tidak—belum bisa—mengajak Anda berhitung secara detail karena saya bukan anak Teknik Perminyakan. Dan data yang saya pakai hanya asal comot dari internet haha.

                Jadi, apa sajakah itu?

1.       Kurs Rupiah

Sudah tahu kan bro berapa kurs rupiah sekarang? Yah, sekitar 12 ribuan lah. Nih datanya:


Lalu, mari kita cek kurs rupiah empat tahun lalu:





Yuk, dipikir dikit aja. Jika rupiah semakin mencupu, tidakkah logis jika harga minyak jika dari dollar dikonversi ke rupiah akan jadi lebih mahal? Karena BANGSATNYA(!), mau tidak mau, sekarang perdagangan dunia masih menggunakan dolar sebagai alat perdagangannya.

Oh ya, kenapa saya begitu antipasti pada dolar atau uang kertas? Sila baca tulisan berikut deh :)
Perangkat ZINA: SISTEM KEUANGAN DUNIA


Setelah dapat disimpulkan bahwa Perang Dunia II akan dimenangkan oleh Sekutu, pada tanggal 1-22 Juli 1944 saat Perang Dunia II masih berkecamuk, diadakanlah Konferensi Bretton Woods yang dihadiri oleh Amerika dan sekutunya untuk mengatur Sistem Keuangan Dunia pasca perang, dengan ditandatanganinya perjanjian dengan nama Bretton Woods Agreement.

Atas dasar perjanjian tersebut didirikanlah organisasi untuk mengatur Sistem Keuangan Dunia yaitu IMF (International Monetary Fund) dan IBRD (International Bank for Reconstruction and Development) yang saat ini merupakan bagian dari Bank Dunia (World Bank), mulai beroperasi tahun 1945 dan menetapkan mata uang US sebagai mata uang dunia, sehingga perdagangan komoditi dunia dinyatakan dalam mata uang tersebut.

Ditetapkan bahwa nilai tukar mata uang US Dollar adalah tetap (flat currency) dengan nilai 1 (satu) ounce troy emas sama dengan 35 US Dollar (gold standard). Dan dinyatakan bahwa uang US Dollar dapat ditukarkan kembali ke dalam emas (convertibility). Amerika berjanji untuk TIDAK mencetak mata uang US Dollar tanpa backup emas.

Atas dasar perjanjian tersebut maka setiap negara mulai menyetorkan emasnya kepada Amerika untuk ditukar dengan mata uang US Dollar. Hal tersebut dilakukan setiap negara untuk mengakomodasi transaksi perdagangan dunia. Artinya mulai saat itu pula setiap negara menggunakan mata uang US Dollar sebagai cadangan devisa negaranya.

Menjelang tahun 1970, ketika terjadi Perang Vietnam (1955-1975), seluruh dunia secara jelas melihat bahwa Amerika telah membiayai pengeluaran untuk perang tersebut dengan mencetak mata uang US Dollar tanpa backup emas yang mereka miliki. Sehingga jumlah mata uang US Dollar yang beredar jauh lebih banyak dari pada stok backup emasnya. Begitu pula dengan Federal Reserve yang selalu menolak setiap peninjauan dan audit terhadap pencetakan mata uang tersebut.

Menanggapi situasi tersebut, setiap negara meresponnya dengan menyetorkan kembali mata uang US Dollar yang mereka miliki kepada Amerika untuk ditukar kembali dengan backup emasnya. Puncaknya pada tahun 1971 Prancis menukarkan 1,5 Milyar US Dollar dan meminta kembali emas yang pernah diserahkan kepada Amerika dengan jumlah 1500 ton, menyulut negara-negara lain melakukan hal yang sama sehingga menyebabkan nilai tukar mata uang US Dollar terhadap seluruh komoditi dunia pada saat itu melemah drastis.

Pada tanggal 15 Agustus 1971, dimana kondisi ekonomi Amerika pada saat itu sedang menuju kondisi bencana, Presiden Amerika Nixon mengeluarkan kebijakan bahwa Amerika menolak setiap penukaran kembali US Dollar ke dalam emas. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan istilah “Nixon Shock”. Berikut pernyataannya:

Nixon: I have directed the Secretary of the Treasury to take the action necessary to defend the dollar against the speculators. I have directed Secretary Connally to suspend temporarily the convertibility of the dollar into gold, or other reserve assets, except in amounts and conditions determined to be in the interests of monetary stability and in the best interest of the united states.
(Nixon: Saya telah memerintahkan Menteri Keuangan untuk mengambil langkah yang diperlukan untuk mempertahankan US Dollar terhadap para spekulan. Saya telah memerintahkan Menteri Connally untuk menangguhkan sementara penukaran US Dollar ke dalam emas, atau asset keuangan lainnya, kecuali dalam jumlah dan kondisi yang ditetapkan untuk kepentingan stabilitas moneter dan kepentingan terbaik bagi Amerika).

Pernyataan “temporarily suspension” (penangguhan sementara untuk penukaran mata uang US Dollar ke dalam emas) Nixon saat itu ternyata bermakna “permanent suspension” (penangguhan permanen bahkan hingga saat ini). Perancis adalah satu-satunya negara yang berhasil menukarkan kembali uang US Dollar ke dalam emas.

Pada Tahun 1973, untuk menopang nilai tukar mata uang US Dollar yang mengalami devaluasi besar-besaran setelah diberlakukannya kebijakan untuk menunda convertibility US Dollar ke dalam emas, Presiden Amerika Nixon meminta Raja Arab Saudi Raja Faisal untuk melakukan transaksi perdagangan minyaknya hanya dalam mata uang US Dollar. Sebagai imbal balik, Amerika akan menyuplai senjata dan menjamin keamanan ladang minyaknya (pernyataan tersebut dapat dimaknai bahwa Amerika menjamin legitimasi kekuasaan keluarga Saud dari setiap rongrongan terhadap kekuasaannya). Hal yang sama pun ditawarkan Amerika kepada negara-negara utama penghasil minyak lainnya. Hingga pada tahun 1975, setiap negara anggota OPEC menyetujui untuk menjual minyak buminya hanya dalam mata uang US Dollar, tidak lagi dalam emas.

Dapat dibayangkan bahwa negara-anggota OPEC yang dituntut untuk memproduksi minyak bumi dengan jumlah produksi sesuai kuota, kemudian mengirim barang yang nyata secara fisik tersebut, untuk kemudian cuma dibayar dengan kertas yang tidak memiliki nilai nyata sedikitpun (dari sinilah kemudian muncul istilah Petrodollar), menjadikan Amerika sebagai negara super-super kaya.
Tapi kondisi tersebut hanyalah semu, karena kemakmuran yang dinikmati Amerika bukan dari hasil kerja keras untuk menghasilkan suatu produk yang nyata secara fisik maupun nilainya, karena sejatinya uang US Dollar yang dicetaknya tersebut bersifat utang.

Dan konteks utang itu akan mulai berdampak ketika negara-negara di dunia tidak mau lagi menggunakan mata uang tersebut dalam setiap transaksi perdagangannya. Dalam bahasa ekonomi adalah ketika negara-negara di dunia sudah tidak mau lagi menanggung beban inflasi dari mata uang US Dollar tersebut. Atau dalam bahasa umum adalah ketika negara-negara di dunia menginginkan kesetaraan dan keadilan.

Dampaknya akan bersifat global, menjadikan mata uang US Dolar tidak berharga sedikitpun. Menyebabkan krisis ekonomi yang hebat bagi Amerika dan berdampak serius terhadap negara-negara sekutunya terutama Inggris.

Tentunya Amerika tidak menginginkan hal itu terjadi. Sehingga tidak ada jalan lain bagi Amerika kecuali mendisiplinkan sekutunya dan tidak segan-segan menurunkan tangan besi kepada negara-negara yang membangkang atau menolak menggunakan US Dollar sebagai mata uang dunia terutama dalam transaksi perdagangan minyak dunia, dengan cara apapun, hingga negara tersebut kembali menggunakan mata uang US Dollar sebagai mata uang dalam transaksi perdagangannya.

http://jakartagreater.com/akibat-zina/

Bersambung ke Part 2

0 komentar:

Posting Komentar