
Assalamu’alaikum.
Ini
adalah tulisan saya sejak, yah, mungkin setahun yang lalu. Tulisan kali ini
mungkin akan terasa sedikit serius, tidak seperti biasanya yang penuh candaan.
Dan saya akan memulai kisah ini dengan cerita seorang pria paripurna. Manusia paling
baik yang pernah menginjakkan kaki di dunia ini. Seorang ayah yang tanpa cela:
Kanjeng Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi
wassalam.
Ibrahim, putra beliau, saat itu berusia antara 16-18
bulan. Apabila beliau selesai menerima para utusan, mengurus masalah-masalah
kaum Muslimin, menunaikan kewajiban kepada Allah serta hak kewajiban seluruh
keluarganya, beliau selalu melihat Ibrahim dan mengawasi pertumbuhannya.
Namun,
masa hidup Ibrahim tak berlangsung lama. Hingga pada saat Ibrahim mendekati
ajal, Nabi yang sudah tua harus dipapah oleh Abdurrahman bin Auf menuju rumah
putranya terbaring.
Dari
rumah duka, jenazah dibawa ke liang lahat dengan memakai ranjang kecil. Nabi
meratakan tanah yang mengubur anaknya itu dengan tangannya sendiri. Nabi
kemudian menitikkan air mata sambil meletakkan sebuah tanda di atas makam. “Tanda
ini sebenarnya tidak membawa dampak baik atau buruk. Tapi ia akan menyejukkan
dan menyenangkan hati orang yang masih hidup.”
Bersamaan
dengan kematian Ibrahim, kebetulan terjadi pula gerhana matahari. Kaum Muslimin
menganggap peristiwa itu suatu mukjizat. Mereka menganggap gerhana matahari
terjadi karena kematian Ibrahim. Hal ini terdengar oleh Nabi.
Kemudian
beliau menemui kaum Muslimin dan menegaskan terjadinya gerhana matahari bukan
karena kematian Ibrahim.
Nafa dan
Farah
Tentu kawan-kawan semua sudah familiar dengan kisah
di atas. Saya pun demikian. Hanya saja, saat itu perasaan saya tidak seperti
sekarang. Saat saya sudah merasakan kehilangan dua orang putri kembar saya.
Hari
itu, 25 Agustus 2019, tidak pernah saya merasakan kehilangan sebesar itu.
Terakhir kali saya merasakan kehilangan sangat mendalam adalah pada Tahun 2011
ketika seorang syaikh yang sangat saya cintai meninggalkan dunia ini. Hari itu,
saya merasakan kesedihan mendalam yang bahkan saking sedihnya, saya sudah tidak
bisa merasa sedih lagi. Apakah kalian pernah merasakan hal yang sama? Saat
sedemikian sedihnya, sedemikian kehilangan, hingga sempat berpikir, ”Oh, ini
beneran terjadi ya?”
Kedua
putri kembar saya, yang di nisan mereka kini terukir nama “Nafa” dan “Farah”,
memang sempat menemani kami di dunia. Namun, seperti sabda Kanjeng Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam saat memeluk
putranya untuk terakhir kali, ”Ibrahim,
kami tak dapat menolongmu dari kehendak Allah." Allah ternyata Lebih
Mencintai mereka sehingga amanah itu kembali kepada Sang Pemilik. Sekejap saja
mereka membersamai kami di dunia fana ini. Semoga saat nanti kami mati, kami
bisa membersamai mereka selamanya.
Malam
itu juga, mereka kami kuburkan. Saya tidak sekuat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam yang mampu
memangku bahkan mengantar ke liang lahat sendiri. Saya saat itu sudah
sedemikian kebas, hingga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Urusan jinayah
saya percayakan kepada keluarga istri, saya hanya ikut menyolatkan dan
mengantar ke kubur. Bahkan sekedar meletakkan mereka untuk terakhir kali ke
liang lahat, saya pun tidak bisa. Tidak sadar lagi tepatnya. Saya bagaikan
komputer yang sedang dalam proses instal ulang. Kosong. Hanya mengikut saja.
Kekuatan
Rasulullah
Saya
pun bisa membayangkan kesedihan Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wassalam. Dan saya juga bisa membayangkan betapa kuatnya beliau.
Yaitu saat beliau masih sadar akan tanggung jawabnya sebagai pembawa risalah
tauhid.
"Matahari dan bulan adalah tanda kebesaran Allah,
yang tidak ada hubungannya dengan kematian atau hidup seseorang. Kalau kalian
melihat hal itu, maka berlindunglah kepada Allah dengan dzikir dan doa,"
sabda beliau kala itu.
Lihatlah teman-teman, betapa agungnya kalimat ini.
Jika kalimat ini diucapkan saat yang meninggal seorang raja atau presiden, maka
itu tidak lebih dari kalimat dakwah yang datar. Namun jika kalimat ini
diucapkan waktu ‘kematian atau hidup seseorang’ itu adalah anak kalian sendiri,
demi Allah, ini hampir tidak masuk akal. Saya, jangankan memikirkan kondisi
umat, pada saat itu sekedar memikirkan kondisi saya pun sudah tidak jelas lagi.
Bahkan urusan istri yang masih harus dirawat pasca kelahiran prematur itu pun,
saya sudah tidak dapat berpikir lagi. Teringat, iya. Namun setelah ini harus
apa, saya tidak tahu. Hal ini berlangsung hingga hari berganti.
Yang Paling
Dibutuhkan
Yang namanya kabar duka,
maka akan datang ucapan belasungkawa. Dan memang benar, saat kondisi seperti
ini, adalah hal yang paling menjengkelkan untuk mendengar ucapan belasungkawa
yang diiringi nasehat bahwa saya harus ini dan itu. Saat dalam kesedihan yang
membuat hati kebas, ternyata yang paling berharga adalah kehadiran. Kehadiran dalam
diam, tanpa banyak tanya, tanpa banyak nasehat. Namun ada satu kalimat yang
lebih terasa menyejukkan daripada, “Kamu yang sabar ya.”
"Her, awakmu sing kuat!” sambil merengkuh pundak
saya.
Para Suami
Bajingan
Dari begitu banyak belasungkawa dan nasehat, justru
ada satu yang begitu terngiang bahkan sampai sekarang.
"Her,
kamu jangan nyalahin intan”, kalimat nasehat itu meluncur via WA.
Saat saya membaca pesan itu, saya
tersentak tak percaya. Nasehat macam apa ini?! Macam mana pula saya akan
menyalahkan istri yang telah dan sedang bertaruh nyawa untuk anak-anak saya?
Tetapi, sekarang saya ingat.
Memang pada kenyataannya ada suami yang menyalahkan istri saat kehilangan
anaknya. Padahal hal ini tidak ada kesalahan istri sama sekali, bahkan mereka
telah berusaha mati-matian (dan ini seringkali dalam artinya yang paling
harafiah) demi anaknya. Tanpa memikirkan keselamatan dirinya. Dan saat saya
teringat akan hal ini, maka yang terpikir hanyalah,
“Mereka adalah para suami bajingan!”
Rasa Cinta
Pun Berubah
Sampai sekarang memang belum ada
yang bertanya sih. Tapi jika ada yang bertanya,”Bagaimana sekarang cintamu pada
Intan? Apakah berubah?”
Tentu saja berubah bung! Cinta
saya padanya sudah tidak seperti saat sebelum takdir tersebut mengantarkan
kedua putri kembar saya ke jannah.
Saya sudah tidak bisa mencintai Intan sebesar cinta saya yang dulu.
Karena
saya mencintainya tiga kali lipat lebih besar lagi. Saya titipkan cinta saya
untuk Nafa dan Farah kepada seorang wanita yang telah melahirkan mereka. Yang
telah membuat saya menjadi ayah. Menyempurnakan harga diri saya sebagai seorang laki-laki:
Bekerja, Menikah, dan Menjadi Ayah.
Keep spirit.. and continue
BalasHapuskelinci99
BalasHapusTogel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
yukk daftar di www.kelinci99.casino
Istri adalah wanita terbaik setelah ibu kandung kita. Itu juga yang saya alami selama ini.
BalasHapusBANDAR SBOBET Merupakan Tempat Buat DAFTAR SBOBET Yang Terpercaya Di seluruh Indonesia. Menyediakan Banyak Permainan :
BalasHapusSitus Bola Jalan
Parlay Bola Jalan
Situs Parlay 2 Tim
Judi Bola Resmi
Agen Bola SBOBET
Japanese Girl
BalasHapus