Minggu, 22 Februari 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,





               
Cerita kali ini akan menjadi catatan perjalanan saya bersama kawan-kawan dalam rangka silaturahim ke rumah Madun. Dan inilah cerita tersebut.

Anu (Hampir) Ketinggalan

                Ini kasus terbodoh dari penyair (ter)aneh. Bayangkan, sudah dibuat teklap untuk kumpul di base camp pukul 4 sore demi mengejar angkot ke Terminal Cicaheum, si Anu malah dengan santainya (dalam Bahasa Jawa Sukoharjo) bersabda,”Aku nanti berangkat sendiri. Kita ketemu di sana, nanggung nih war Dot-A nya!”   

Rabu, 18 Februari 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


                Hari ini saya belajar satu hal yang saya rasa cukup besar. Tentang arti menghakimi, pun dengan kata instropeksi.

                Ceritanya, tadi pagi saya mendapat ‘tugas’ dari para ‘serigala’ (Dun, ganti nama grup line kita lah, alay banget kau -____-“) untuk beli tiket bus di Terminal Cicaheum. Kami selama liburan panjang ini berencana sowan ke rumah Kak Madun, ke sebuah negara yang bernama Kebumen *peace coy, guyon :v

Kenapa saya sendiri yang beli dan saya mau? (Oke, berkisah OOT sedikit). Karena Madun dan Ucup sedang ada kuliah Studium Generale, si Faiz sedang simulasi upper frame di laptopnya, si Anu (Arif Nugroho) sedang ada WAR DotA—ini DotA secara harfiah, bukan do TA alias mengerjakan Tugas Akhir—sedang saya yang biasanya harus bimbingan dan dibantai tiap Rabu pagi agak bebas. Ya, dosen pembimbing tercinta sedang umroh. Mungkin sedang mendoakan kelancaran TA saya di depan Ka’bah :)

Senin, 16 Februari 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


Kejadian Suriah dan Yaman membuktikan bahwa kekuatan dakwah tauhid dan sunnah tidak akan efektif hingga dipayungi kekuatan.

Goresan sunnah penuh dengan perintah untuk mempersiapkan kekuatan dari memanah, berkuda, hingga idad fisik karena itu adalah fitrah perjuangan.

Itulah yang menjadikan sahabat setelah sempurna pengajaran sunnah kepada jiwa mereka, maka Allah mendidik mereka dengan memerintahkan jihad.
Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


                Aku ingin bercerita tentang pagi kepadamu. Suatu cerita yang tak kusangka akan ada, namun ternyata memang tercipta begitu saja. Aku bahkan tak pernah memikirkan apalagi berharap, bahwa pagi ada di sana. Di ujung perjalanan hari, seperti menanti untuk disapa. Atau sebenarnya ia senantiasa ada di permulaan kala?


                Pagi, mungkin tidaklah semengagumkan bulan. Ia begitu sederhana, pun jika kau pikir dia dekat dengan sahaja. Baginya tak ada yang berbeda, apakah akan ada yang memuji atau menghina. Pagi menyadari, orang-orang berhak menilai sekehendak hatinya. Yang terpenting, pagi akan selalu ada bagi yang mencarinya.


Senin, 02 Februari 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


                Dalam ucapan ikrar perjalanan, aku tahu apa itu rencana. Bahwa rencana haruslah cukup matang agar tak timbul kekacauan. Namun ia juga tak boleh hebat dan detil sangat supaya tak berubah jadi beban. Rencana tetaplah sebuah rencana. Tinggal langkah kita yang akan menentukan, menjadi kenyataan atau sekedar wacana. Inilah yang membedakan apakah ia sebuah cita-cita, atau hanya mimpi belaka.

                Dalam setiap usaha mewujudkan cita, aku mengerti tentang kolaborasi doa serta usaha. Bahwa setiap hal akan bertambah manis, bukan apakah kita mencapainya atau tidak. Namun tentang usaha dan doa tak henti yang dilakukan. Tentang betapa dedikasi mampu melebihi batas asa, dan doa adalah sebuah penjaga. Akan hati yang saling bertaut, dalam sebuah ikrar perjalanan menemukan diri. Meski itu berarti mengurangi waktu peja mata, meski itu artinya berpuasa lagi. Bahwa menemukan diri bisa jadi merupakan pertanyaan tersulit dalam hidup ini.

Sabtu, 31 Januari 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , ,




               
Saat saya dapat kesempatan ‘jalan-jalan’ ke PT Timah di Bangka sana, saya mendapat satu pelajaran menarik. Pelajaran yang saya dapat dari salah satu karyawan yang menemani saya keliling Bucket Wheel Dredge untuk mempelajari alat pertambangan lepas pantai tersebut. Jadi, di sela-sela alat pencucian di perut kapal itulah beliau banyak bercerita, dan inilah cerita beliau.

Manfaat Visi

                Seringkali kita bingung ketika ditanya,”Hidupmu maunya seperti apa?” Mungkin akan ada jawaban begini,”Ah, gue mah mengalir aja. Seperti air, woleeeees…” Lalu beliau, Pak Gandhy, menceritakan tentang contoh yang paling mudah dipahami para jomblo seperti saya ini, kriteria istri.

Kamis, 29 Januari 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,



Sejak saya kecil, saya memahami sesuatu yang sangat aneh menurut saya sekarang. Entah bagaimana, dalam pikiran saya terpatri suatu dikotomi antara menjadi seorang yang hebat secara fisik dengan menjadi cemerlsng secara intelektual. Bahwa keduanya adalah hal yang berbeda, bahkan bertentangan. Dalam pikiran saya, orang yang pintar itu haruslah berkacamata, kurus kering atau justru kegemukan, tidak bisa olahraga, lemah, dan gampang sakit karena terlalu banyak belajar sehingga lupa “menyayangi” tubuh. Dan orang yang hebat fisiknya itu cenderung tidak sanggup untuk mengerti isi bacaan, apalagi menghapal.