Kamis, 24 Juli 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under :


Sebuah tujuan memang benar dapat dicapai dengan berbagai jalan. Tapi yakinkah bahwa jalan yang ditempuh akan mengantarkan?

Kemudian ditempuhlah beberapa jalan yang ada perbedaan. Tidakkah ada kewajiban untuk saling menasehati dalam kerangka bangunan seiman?

Dan saat menempuh suatu jalan dan mungkin berbeda dalam arahan. Tidakkah seharusnya tetap bersepakat pada satu keinginan dan tujuan?

Mungkin bahwa pilihan berbeda jalan karena beda dalam memaknai kemenangan. Tak mengapa, namun apakah itu harus memutus persaudaraan?

Sabtu, 19 Juli 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


                Berawal dari film kopian berkualitas (sangat) buruk yang berjudul “300: Rise of An Empire” maka jadilah saya bergerilya mencari kopian yang berkualitas mantap. Tanya-tanya kawan yang ada di Semarang, dan ternyata kawan saya yang biasa saya panggil Abang pun menyanggupi untuk berbagi. Dan jadilah saya pada hari Minggu kemarin menikmati suasana Kota Semarang (yang panas) dari dalam jendela Bus Rapid Transit—yaah, macam Busway-nya kota ini. Cukup tiga ribu lima ratus perak dari ujung barat hingga ujung timur kota. Tak hanya itu, ternyata saya juga berhasil membawa pulang serial “Avatar, The Legend of Korra: Spirit”, juga novel "Ayahku (Bukan) Pembohong".

                Sekalian sudah keluar rumah Abang pun mengajak saya ke rumah kawan yang biasa kami panggil Pang (PanglimaCT sih). Dengan tiga orang pemuda berkumpul saat liburan maka muncul pula ide keren: cari tempat jalan-jalan yang unik di sekitar Semarang. Melalui Google, didapat beberapa alternative. Mulai dari sekedar nama jalan di dekat pusat kota hingga sebuah air terjun yang belum pernah terdengar oleh telinga kami: Curug Lawe dan Curug Benowo.

                Tertarik dengan nama curug yang mirip salah satu nama teman kami di kelas Olimpiade dulu, tanpa babibu kami pun mulai mencari jalan ke sana. Dan tahukah Anda, menurut link di sini yang di dapat hanyalah sebuah koordinat. Ketika dimasukkan ke Gmaps yang tertunjuk adalah suatu kata yang begitu spektakuler: Unnamed Road!

Jumat, 18 Juli 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


               
Pendahuluan

Kali ini saya ingin berbagi sesuatu. Sebuah cerita yang mungkin benar-benar sekedar cerita, bahkan saya sendiri tak ada motivasi untuk berbagi hikmah. Meskipun bahkan pada hal cerita paling tidak mutu di blog ini pun saya selalu ingin berbagi hikmah—seperti pada serial “Jalan-Jalan#” dan “Berasa Bodoh#”, namun untuk yang satu ini biarkan ada yang berbeda. Yah, bisa dibilang ini adalah salah satu hal yang benar-benar serupa curhat di blog ini.

                 Dan mohon dipahami pula, bersamaan dengan tidak adanya motivasi untuk memberi pelajaran maka sebenarnya tak ada pula tendensi apa pun. Tak ingin menyindir siapa pun. Dan tak ingin menyenangkan siapa pun pula—kecuali diri saya hahaha. Jadi, sebenarnya saya mau curhat apa?

                Kemarin saya membaca sebuah novel—pinjaman—yang sangat bagus dengan judul “Ayahku (Bukan) Pembohong”. Banyak hal yang akan saya dapatkan, kata yang punya novel, darinya. Sebagian besar bagaimana cara mendidik anak sebagai seorang ayah, bagaimana bersikap ke ayah, dan bagaimana yang lainnya. Bahkan pada bagian belakangnya ada sebuah frasa yang sangat menarik:

                Mulailah membaca novel ini dengan hati lapang, dan saat tiba di halaman terakhir, berlarilah secepat mungkin menemui ayah kita, sebelum semuanya terlambat, dan kita tidak pernah sempat mengatakannya. (Sungguh membuat penasaran bukan?)

Senin, 14 Juli 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under :


               

                Entah sudah berapa kilometer kaki saya harus melangkah lagi. Menembus pusaran-pusaran pasir yang diterbangkan angin gurun, dengan dahaga yang tak terkira. Apalagi untuk kerongkongan manusia khatulistiwa seperti saya ini. Sejauh mata memandang hanya beberapa desa hancur yang saya lihat. Teronggok pula sisa-sisa kendaraan yang hangus terbakar, selongsong peluru yang menyaingi jumlah kerikil, atau beberapa binatang liar yang khas ditemui di daerah tak berpenghuni. Kota hantu ini, menurut kawan baru saya belum lama terbentuk.

“Desa ini hancur ketika tentara pemerintah berusaha merebutnya dari kami, saudaraku. Alih-alih menyerbu dengan pasukan darat, mereka lebih suka melemparkan roket-roketnya. Dan malam itu, kau bisa makan kambing panggang bahkan tanpa menyembelihnya hahaha,” kata kawan baru saya dengan begitu entengnya. Tidak pahamkah dia jika candaannya membuat saya harus menahan diri untuk tidak muntah?

Sabtu, 05 Juli 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,
                Pertama-tama, setelah memuji Allah dan kemudian bershalawat pada Rasul-Nya saya ingin meminta maaf kepada Anda—siapapun Anda—yang bertanya di sini. Maaf, karena saya menjawabnya di blog alih-alih menjawab singkat dengan “iya dan si fulanah” atau “tidak dan buat apa”. Karena jawaban yang akan saya berikan ini teramat panjang, bahkan lebih panjang dari yang saya antisipasi sebelumnya. (Selain itu karena jawaban di sini bisa di-edit sih :p)


:v


                Pertanyaan semacam ini tidak hanya sekali ditanyakan kepada saya. Entah itu seorang kawan, saudara, sahabat, atau sekedar kenalan yang bertanya untuk melanjutkan obrolan iseng. Sungguh, saya tidak terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan semacam ini. Bahkan saya senang, karena merasa diperhatikan.

                Baiklah, mari kita lihat bagaimana (bukan apa) jawaban saya sebenarnya…

                Bismillah…

                Saya akan memulai jawaban saya dengan suatu cerita.

Selasa, 01 Juli 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,
KIBLAT.NET—Di kalangan aktivis Islam, Pemilu yang akan berlangsung besok ini terasa beda. Bila sebelumnya Pemerintah selaku penyelenggara Pemilu sendiri “memerangi” golput, kali ini beberapa tokoh dan aktivis Islam—bahkan MUI secara resmi—pun mengajurkan umat Islam memilih caleg yang ditengarai akan bermanfaat bagi kebaikan Islam dan kaum Muslimin.


Sebenarnya tidak ada nash qath’i tentang halal-haramnya nyoblos atau golput. Semua didasari oleh ijtihad yang lahir dari perspektif berpikir yang berbeda dalam memandang mashlahah-madharat.Juga oleh kesimpulan yang berbeda terkait pengalaman serupa yang terjadi di masa lalu.
Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,
                Sudah posting dua tulisan yan cukup serius, kini saya mau bercerita saja tentang hal-hal yang terkesan merupakan kekonyolan namun semoga ada hikmahnya. Cerita akan saya susun secara kronologis dari yang paling terakhir saya alami.

1.       Sahur? (30-6-2014)

Besok adalah hari pertama puasa. Wah, euphoria-nya maaaaan. Dan jadilah hari itu tidur lebih awal agar dapat bangun sahur. Tentu, bangunnya masih dibangunkan oleh sahabat tercinta: ALARM. Yang tak pernah lelah membangunkan saya meski cerewetnya minta ampun. Aku sayaaaaang alarm :v Ini sekaligus bukti atas sindiran di sini.