Jumat, 29 Januari 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , ,


Tentu Anda ingat bukan mengenai tulisan nyinyir yang menyindir seseorang yang dengan gigih menawar dagangan di pasar? Yang dengan sikap sok tahu dan sok sosialis itu menghakimi bahwa menawar di pasar adalah sifat para kapitalis. Jika belum, maka silahkan baca di sini.
Sudah dibaca kan? Lihatlah, apa orang itu kurang kerjaan bahkan sampai harus mengomentari kami yang lagi berdagang? Yang beli bukan bukan kalian, yang jual bukan kalian, bahkan kalian mungkin tidak melihat ketika SAYA menawar, kok Anda yang repot? Kalau kata Alm. Gus Dur,”Gitu aja kok repot?”
Berikut adalah alasan mengapa kalian tak perlu mengomentari kami, bahkan saya akan sadarkan kalian bahwa kalian itu salah!
1. Kalau kalian tak pandai menawar, jangan iri
            Kalian tahu apa itu lobbying? Oh, tidak tahu? Lobbying adalah kemampuan kita untuk melobi orang, memengaruhinya. Hal itu akan sangat berguna, apalagi jika Anda hidup di dunia yang kompetitif seperti sekarang.

Sabtu, 23 Januari 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


            Beberapa hari belakangan ramai kembali mengenai LGBT. Entahlah, menurut hasil penerawangan saya hal tersebut disebutkan adanya poster dari suatu lembaga yang memfasilitasi curhatan kalangan LGBT. Dan bertambah ramai ketika mencatumkan (mencatut?) suatu  perguruan tinggi top di negeri ini.
            Hal tersebut menjadi semakin ramai ketika humas kemahasiswaan perguruan tinggi tersebut menolak keterkaitan dengan lembaga tersebut. Dalam bahasa mereka, mereka tidak dimintai izin dan tidak bertanggung jawab atas apa yang dilakukan lembaga tersebut. Bahkan dikatakan tidak berhak menggunakan logo perguruan tinggi tersebut. Terimakasih kepada aplikasi yang bernama “L*ne” yang telah membuat segala hal semakin mudah. Bahkan press release pun semakin mudah dan murah. Oh ya, bagi yang masih bingung sebenarnya saya sedang membahas apa, silahkan bertanya kepada makhluk halus bernama Go*gle.
Source: http://overpassesforamerica.com/?p=21833

Sabtu, 26 Desember 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , ,


            Bismillah,
            Hari ini saya ingin berbagi mengenai khutbah jum’at kemarin. Temanya adalah “Pendidikan Anak Menurut Islam”. Namun dalam penceritaan ini, sebenarnya khutbah tersebut “hanya” menginspirasi saya, sedangkan pengembangannya tetap menurut sudut pandang saya. Jadi jika ada kebenaran maka pasti ada andil dari khutbah tersebut, sedangkan jika ada kesalahan dalam pengembangan itu murni kesalahan saya.
            Khatib memulai dengan bercerita bahwa anak merupakan cobaan, perhiasan dunia, penyejuk namun suatu saat dapat menjadi musuh (pembahasan mengenai ‘Kedudukan Anak Dalam Al Qur’an tidak saya bahas dulu). Lalu beliau mulai menceritakan betapa banyak orang yang salah kaprah dalam mendidik anak. Entah karena terlalu sayang atau terlalu keras.
            Sebagai contoh yang paling mudah (ini penulis alami sendiri), ketika pulang sekolah maka akan selalu ditanya
1. “Sudah makan belum?”
2. “Jajan apa aja tadi? Nggak jajan sembarangan kan?”
3. “Gimana ulangannya matematikanya? Bisa? Perlu les matematika tidak?”
4.  “Ada yang nakal tidak di sekolah?”

Sabtu, 17 Oktober 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,



 
Suatu pagi, Jeruk hendak berjalan-jalan. Namun dilihatnya cuaca muram dan terkesan agak mendung. Oleh karenanya Jeruk pun kembali masuk ke rumah dan meneruskan kegiatan kesukaannya: TIDUR.

Sekira jam sepuluh, Jeruk mulai lapar. Berjalanlah ia ke dapur dan bermaksud membuat sandwich telur (laper kakaaaaa!). Dia pun kembali uring-uringan, demi melihat roti yang belum dibakarnya telah menjadi gosong. Lalu dibukanya magic com, eh nasinya pun juga termasak menjadi gosong. Payah semuanya, payah! Maka jadilah hari tersebut ia sangat murung. Ia pun kembali ke kamarnya, untuk melakukan kegiatan yang menjadi hobinya: bersantai…

Senin, 05 Oktober 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,



            Beberapa waktu yang lalu saya pernah melakukan wawancara kerja dengan suatu lembaga bimbingan belajar. Yah, itung-itung buat mengisi waktu luang dan menyambung hidup dari hari ke hari. Pada wawancara tersebut, ada satu hal yang tiba-tiba tercetus. Karena suasananya santai, saya pun bisa seenaknya menjawab hehe.

Q         : Ceritakan secara singkat tentang diri Anda.

H         : Saya adalah orang yang pragmatis.

            Tentu Bapak tersebut sangat terkejut. Dalam pikiran beliau (saya tebak), orang yang pragmatis adalah orang yang culas. Orang yang hanya memikirkan untung rugi saja. Menilai segala hal hanya dengan ukuran apa untungnya bagi saya, apa ruginya bagi saya.

Jumat, 02 Oktober 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


Pada saat HUT TNI ke-69, saya ‘menghujat’ anggota (hewan eh) dewan yang banyak cakap dengan berkata bahwa perhelatan pameran senjata di Markas Koarmatim sebagai pemborosan. Bahwa katanya tidak pas dengan momen bayangan harga BBM yang akan naik. Entahlah, apa yang sebenarnya ada di pikiran mereka. Kalau bagi saya, saat itu adalah waktu yang tepat untuk menggaungkan hal berikut; 

"Ini lho kekuatan militer kami. Terbesar semenjak tahun 60an. Setelah puasa akibat beli rongsokan dari Barat dan akhirnya kena embargo itu, akhirnya TNI kembali berotot. Negara-negara tetangga yangg usil macam “kanguru” atau “si upil” jangan ganggu kami, atau pulau kecil kami ratakan dengan R-Han dan D*rwin di serbu Marinir!"

Kamis, 20 Agustus 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


            Hari ini saya akan bercerita mengenai apa yang saya dapat berdasarkan ingatan saya yang lemah dan catatan yang payah—semoga Allah Menambah kebaikan ingatan dan catatan saya. Yaitu mengenai hikmah Surah Asy-Syura ayat 13, terjemahannya kurang lebih begini:


“Dia (Allah) telah Mensyariatkan kepadamu agama yang telah Diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami Wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami Wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan ‘Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah Memilih orang yang Dia Kehendaki kepada agama tauhid dan Memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS 42: 13).