Sabtu, 01 Oktober 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , ,


                Beberapa hari belakangan ini sedang sangat ramai mengenai Mukidi. Mulai dari grup WA, Line, hingga sebaran di Facebook. Well, saya memang cukup aktif di medsos sih hehe. Dan sampai sekarang saya masih belum paham (si)apa dan bagaimana sebenarnya Mukidi itu. Apalagi soal Mukidi yang gemar menuduh seseorang masuk organisasi terlarang. Ah, entahlah, mungkin dia sedang mabuk amplop.

Kodok Mukidi


                Justru kali ini saya ingin berbagi pemikiran saya mengenai kodok. Yap, kodok rebus. Lebih tepatnya, mengenai cara merebus kodok.

Merebus Kodok

Minggu, 04 September 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under :


                Beberapa waktu belakangan ini saya memang jarang menulis. Entahlah, saya sendiri tak mengerti. Dan dapat dipastikan, efek langsung dari macetnya tulisan adalah semakin ramainya saya berdebat di medsos. Saya pikir, kini saatnya saya kembali melemaskan jari sambil mengisi blog yang satu ini.

                Oke, saya akan bercerita mengenai pengalaman saya menonton film. Mari kita mulai ceritanya…

Pemeran Utama

                Saya berani bertaruh, dalam semua—setidaknya sebagian besar—film pastilah ada yang namanya pemeran utama. Tak peduli jika film itu bercerita mengenai serombongan superhero yang tawuran atau manusia “setengah dewa” yang tidak jadi mati gara-gara memiliki nama ibu yang sama dengan calon pembunuhnya. Baik jika film itu sekolosal LOTR atau pun sekedar FTV picisan yang diangkat jadi layar lebar. Semuanya pasti memiliki pemeran utamanya bukan?

Minggu, 05 Juni 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,


Baca Part 1 di sini.

          Kekhawatiran-kekhawatiran ini sungguh membuat malas bangun di pagi hari. Karena bagi saya, seringkali semua hal tersebut hilang lalu muncul kembali. Dan saat paling pasti bahwa ia akan hilang hanyalah di saat tidur.

            Itulah masalahnya. Sekarang, mari berbicang mengenai kemungkinan penyebab dan solusinya.

1. Kurang Bersyukur

            Ya, di dalam kitab suci telah diterangkan mengenai rumus bahwa jika kita bersyukur maka akan ditambahkan nikmat kita. Setidaknya, nikmat itu dapat berupa ketenangan. Urusan konkritnya begini. Alih-alih kita menyesali masa kini yang tak seindah masa lalu, mengapa kita tidak mengubah paradigma kita?

Indah bukan? ;)
            Alih-alih berpikir tentang indahnya kenangan dan ingin kembali, mengapa tidak bersyukur bahwa dalam posisi sebagai hamba yang penuh dosa ini Tuhan masih Berkenan Memberikan kita sepotong kehidupan yang indah?

            Alih-alih berpikir bahwa masa dewasa sungguh menakutkan, mengapa kita tidak bersyukur bahwa telah diberikan kesempatan untuk menjadi lebih dewasa setiap harinya? Dihadapkan pada tantangan yang akan menandakan kita naik kelas?

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


Waktu terus berjalan

            Cerita hari ini masihlah berkisar mengenai kenangan dan masa depan, karena entah kenapa saya masih terganggu dengan urusan yang satu ini. Bukan, hal ini tidak ada kaitan dengan urusan cinta-cintaan atau hal menye lainnya, karena jujur saya tidak pernah menempatkan hal semacam itu dalam prioritas hidup ini. Yah, menyedihkan memang kehidupan masa sekolah dan kuliah saya yang kalau dituduh sebagai jomblo akut. Entah karena tidak laku atau karena tidak peduli.

            Nah, jadi kenangan macam apa yang ingin saya ceritakan ini? Masa depan seperti apa yang menjadi kekhawatiran?

            Baiklah, saya akan bercerita. Pagi ini, H-1 ramadhan (dan masih akan sahur sendirian—selamat pada Mas Imron AE 09 yang sudah punya teman sahur) saya berjalan-jalan. Kata orang berjalan-jalan dapat menjernihkan pikiran, bahasa kerennya saya sedang melakukan “Root Cause Analysis” atas gangguan ini. Kenapa saya tak bisa move on dari masa lalu? Dan kenapa tidak bisa men-syukuri masa kini? Dan mengapa pula saya khawatir akan masa depan?

            Saya pun mulai mengurutkan persoalan yang menurut sebagian orang ecek-ecek ini. Dan saya mendapatkan beberapa penyebab potensial atas hal ini. Beberapa merupakan hasil kontempelasi tidak penting berupa berjalan ke tengah sawah, beberapa merupakan obrolan dengan banyak orang. Dan saya harap, hal ini dapat membantu pembaca mengenai kekosongan hati, kekhawatiran diri, saat melihat masa lalu dan masa depan.

Sabtu, 23 April 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , , , , ,


Setelah saya bercerita mengenai kondisi awal saya masuk Kampus Gajah Yang Duduk (Di Atas Buku), kini saya akan merangkum perjalanan hidup saya di kampus tersebut.

TPB
            Di ITB, pada zaman saya ada suatu tahap yang disebut Tahap Paling Bahagia, eh maksudnya Tahap Persiapan Bersama. Di sini mereka yang mengaku sedang bahagia karena sudah bisa terjerumus ke ITB akan mulai disadarkan,”Kuliah di ITB tak seperti di FTV!”

Sabtu, 09 April 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


            Pernahkah Anda merasa bahwa hidup berjalan begitu cepat? Kalau saya, jujur ada saat-saat di mana waktu terasa berjalan dengan sangat cepat. Bahkan begitu sering saya pikir. Yaitu, ketika week end.
            Namun, selain itu ada waktu pula ketika saya akan berujar,”Subhanallah! Ternyata saya sudah sedemikian tua ya!” Seolah tak percaya bahwa anak-anak kelahiran 1990an awal (saya 1993 lho Bro) sekarang sudah kepala 2, bahkan yang kelahiran 1990 sudah ada yang setengah abad lebih. Yaitu ketika saya kemarin ke Bandung dan membersihkan kamar kost-an saya.
Duh, kok seperti tidak terasa ya?  

Minggu, 21 Februari 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


            Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan versiku yang tak pernah orang lain lakukan. Dengan cara yang bahkan tak pernah kita pikirkan. Dengan segala keterbatasan yang akan menguatkan.

            Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Bahkan meski semuanya masih tampak kelabu di ujung sana. Bahkan meski seperti tak ada harapan lagi yang tersisa. Bahkan meski ketika kita seolah berjalan sendirian melawan kerasnya dunia.

            Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Sesederhana kata yang selalu kuucapkan ketika mengingatmu. Sesederhana kata yang menari-nari di garis waktu. Sesederhana kata itu. Rindu.