Sabtu, 23 April 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , , , , ,


Setelah saya bercerita mengenai kondisi awal saya masuk Kampus Gajah Yang Duduk (Di Atas Buku), kini saya akan merangkum perjalanan hidup saya di kampus tersebut.

TPB
            Di ITB, pada zaman saya ada suatu tahap yang disebut Tahap Paling Bahagia, eh maksudnya Tahap Persiapan Bersama. Di sini mereka yang mengaku sedang bahagia karena sudah bisa terjerumus ke ITB akan mulai disadarkan,”Kuliah di ITB tak seperti di FTV!”


            Mahasiswa baru seperti saya dulu tentunya sangat bahagia hanya kebagian 17-19 SKS (TPB SKS-nya paket) yang artinya kulih hanyalah 3 hari dengan jam kelas yang wajar. Masuk jam 7-11 dan 13-17. Yah, sekitaran itu lah.

            Saya, sebagai mahasiswa FTMD (Fakultas Tempat Menantu Dicari) hanya mengalami kuliah dari hari Senin-Rabu, sedangkan Kamis praktikum dan Jum’at sore UTS. Yah, yang anak ITB dan angkatan saya pasti ngertilah. Sekilas, menyenangkan sekali bukan? Dan satu hal yang membuat saya besar kepala adalah para dosen yang telah menganggap kami sebagai manusia dewasa, manusia seutuhnya. Bahkan panggilannya pun “Anda”. Bukan “Kamu” (kecuali Kaprodi saya waktu itu, yaitu Pak Zainal Abidin hahaha).

            Saya awalnya ikut banyak unit, bahkan beladiri saja saya ikut dua: Tarung Derajat dan Perisai Diri. Sedangkan Gamais, so pasti! Banyak lah pokoknya, masih maba masih banyak gaya. Namun akhirnya yang istiqomah hanyalah Perisai Diri hehehe. Dan saya tidak menyesal (If Tou Know What I Mean, #evilsmile). Oh ya, karena pengalaman beasiswa yang pernah dicabut itu, saya pun belajar dengan sangat giat. Namun apa daya, ternyata sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Karena selama 2 semester, Kimia Dasar saya abadi di indeks BC -_-

            Dan di masa TPB inilah saya bertemu calon sahabat perjuangan yang bentuknya sungguh tidak sedap dipandang mata. Dialah sang anak kebumen yang gemar bersepeda dan memakai kemeja kebesaran. Tapi soal IP, jangan salah! 3,6 broh! Yap, dialah Madun The Ngapak! Juga seorang kawan yang meski jaraknya dekat tapi kalau ngobrol bisa sampai 20 meter terdengar. Yap, dialah si Ucup The Loud! Hahahaha.

Saya dulu, bersama Mas Imron

           
Madun Dulu


Ucup Dulu

Madun Saat Wisuda

Ucup Saat Wisuda dengan PW-nya


Tingkat 2, Penjurusan dan Ospek

            Dulu awal saya memilih FTMD (Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara) karena saya tertarik dengan jurusan Aeronautika yang memiliki pesawat tempur MIG-21 di laboratoriumnya. Namun, ternyata dalam perjalanannya saya juga tertarik dengan Mechanical Engineering. Kalau kata salah satu teman saya, lebih manly gitu (padahal pikiran ini sesat haha). Nah, setelah sholat istikharah, saya pun membiarkan pilihan tetap pada tempatnya hahaha. Jadi, secara teknis saya tidak memilih. Karena default pada kuisionernya telah diurutkan Teknik Mesin, Teknik Aeronautika, dan Teknik Material. Alhamdulillah saya masuk Teknik Mesin. Dan dimulailah sesuatu yang menyebalkan bernama Ospek!

            Ospek Teknik Mesin dari dulu terkenal keras—meski tidak sekeras jaman dulu. Saya mengalami ospek sekitar 5 bulanan. Dan sialan, saya pikir cukup menyita waktu liburan dan tidur juga ini ospek. Bahkan 8 orang teman saya mengundurkan dari ospek, mereka pikir tidak ada gunanya. Yah, buat saya juga tidak ada urgensinya sih hahaha. Kalau motivasi saya sih mending menyesal karena sudah ikut daripada menyesal karena tidak ikut (payah ya haha). Kami diagitasi, diberi tugas yang membuat malas, latihan baris berbaris, push up kepal, harus kenal satu angkatan, disiram oli, banyak deh. Hal ini pada akhirnya memang membentuk manusia yang bangga dengan himpunannya, tapi sayangnya kadang menjadi arogan. Terkait mandi oli bekas, kami harus rela mandi dengan sabun cuci piring dan keramas dengan sabun colek. Belum lagi kalau cuaca panas, uh gerah karena olinya masih menutupi pori-pori. Dan memang, semboyan ospek itu hanya satu:

“Indah untuk dikenang, bukan untuk diulang.”


            Dan saya berani bilang, saya akan jauh lebih menyesal jika saya tidak ikut ospek daripada akibat ikut ospek.

            Oh ya, ada hal yang menarik. Akibat kesibukan di Perisai Diri (saya jadi Kadiv Kekeluargaan, bisa dibilang orang kedua setelah Ketua), Diklat OSKM, dan Ospek Jurusan, maka waktu pun tinggal sedikit. Waktu belajar pun menyempit. Namun, di saat IP teman-teman saya jatuh, saya justru melejit menjadi 3,70! Huoooooo hahahaha. Sampai-sampai wali akademik tanya-tanya apakah saya ikut kegiatan kampus atau tidak. Dikira saya mahasiswa apatis apa hahaha. HMM-ku, himpunanku, himpunan yang perkasa…

Gini-gini saya pernah pertandingan juga lho haha
NB: Maaf, foto ospek tidak untuk disebar hehe…

Tingkat 3, Woles

            Tingkat 3, semester 5 dan 6. Yahm bisa dibilang ini adalah masa-masa paling santai. Dan di masa inilah cikal bakal suatu perkumpulan manusia-manusia koplak yang bernama “Ojo Dumeh” terbentuk. Diawali dengan semangat belajar bersama menjelang ujian—yang akhirnya jadi ajang curhat dan bercerita jorok sehingga saat ujian malah mengantuk, lalu mengagendakan main bersama, dan hal-hal yang semacamnya. Namun memang salah satu yang mengagumkan dari anak ITB adalah mentalnya yang teruji. Sudah tahu jika ujiannya sulit dan nilainya jelek, tetap saja besok masih malas belajar hahaha…

Ojo Dumeh 1

Ojo Dumeh 2 (Minus Kamal dan Anu)

Cikal Bakal Ojo Dumeh

Idem

Eh nyelip, pas arak-arakan wisuda Tahun 2014

Ojo Dumeh Gans
            Dan di tingkat 3 ini pula saya dikirimi sepeda motor Supra X tahun 2000 yang akhirnya saya gunakan untuk mengajar. Dan dari mengajar inilah saya dapat membeli tas keril Deuter 55+10 liter dengan harga hampir 3 juta rupiah! Hehehehe…

Tingkat 4, Kelewat Woles

            Tingkat 4, semester 7 dan 8. Semester di mana sudah tidak jelas jadwal kuliahnya. Dan tugas lebih banyak dalam bentuk project, seperti misalnya Mata Kuliah Perancangan. Namun satu hal yang saya alami di semester ini: Saya makin sering jalan-jalan! Hehehehe…

            Namun hal yang paling mengesankan adalah ketika kami mulai mengerjakan Tugas Akhir. Ada perasaan sedih di sana. Bahwa kami sekarang adalah mahasiswa tertua di ITB, dan melihat adek-adek tingkat yang unyu-unyu itu. Mulailah pikiran sedikit lebih jauh melaju ke depan: "Abis lulus mau ngapain?"

            Ah, jika teringat masa itu, ada sedikit sedih bahwa ingin mengulangnya (minus saat ospek ya hehehe). Bahwa hampir 4 tahun tidak terasa, bahwa Bandung memanglah sebuah kota yang dibuat dari “Nyaman” dan “Cinta”.

            Singkat cerita, setelah pergulatan yang besar, saya pribadi mencapai tiga hal terbesar di tingkat 4 ini:

1. Menyapa Puncak Rinjani

            Ya, hanya 3 orang saja, kami mampu menakhlukkan ego masing-masing, untuk bersama-sama “yellboys” di Puncak Rinjani. Buat saya, semuanya boleh pergi, tapi persahabatan tak akan mati!

Tuh pantai Pulau Lombok keliatan bro
2. Lulus Tepat Waktu

            Saya sempat kepikiran bahwa TA saya tak akan selesai. Bayangkan, saya disuruh membuat program maintenance dari peralatan yang tidak pernah saya lihat sebelumnya dengan metode yang belum saya pernah pelajari sebelumnya. Peralatannya Gearbox dan Dredge Pump dari suatu Kapal Keruk milik PT Timah di Bangka Belitung sana dengan metodologi Reliability-Centred Maintenance!
Puncak kuliah (?)

Yellboys!!

Sabuga

Dulu mengarak kini diarak saat wisuda

Top miring

Star Wars

Topi Miring

Greget

Minus Anu dan Kamal


3. Orang Tua Saya ke Bandung Untuk Pertama Kalinya!

            Selama saya kuliah ke Bandung, tak sekalipun orang tua saya datang. Yah, banyak keterbatasan lah. Namun akhirnya mereka bisa atang bersama adek saya yang gendut :)
Keluarga

Keluarga

1 komentar:

  1. Nice post bro, btw selama ospek ada tindak kekerasan ato ga ya?

    BalasHapus