Kamis, 10 Mei 2018

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


                Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar kata “mendaki gunung”? Keindahan? Perjuangan? Ataukah persahabatan? Buat saya, ketika mendegar frasa itu, yang teringat adalah Ninja Hatori. Karena jilbab istri saya (cieee istri ciee) mirip dengan Ninja Hatori yang “mendaki gunung, lewati lembah. Sungai mengalir indah ke samudra. Bersama teman bertualang.” Bah, lupakan intro tidak jelas di atas. Intinya, ini adalah pengalaman mendaki gunung saya yang pertama—bersama istri ehehehe.

                Cerita bermula ketika seorang kawan yang kini berprofesi sebagai Asisten Akademik di Jurusan Teknik Mesin ITB (cerita tentang dia ada di sini) melempar wacana ke grup Line mengenai pendakian ke Gunung Prau, Dieng. Karena saya ingat pernah berjanji pada istri untuk ajak dia naik gunung, saya pikir kesempatan ini layak untuk di follow up. Karena jujur, untuk naik gunung berdua saya masih belum berani. Maklum, saya juga masih newbie di urusan beginian hehe.


Singkat cerita, saya pun kabarkan pada istri terkait rencana ini. Dia tentu ceria sekali menyambut berita ini, apalagi dekat dengan tanggal lahir dia perjalanannya. Yah, itung-itung hadiah ulang tahun laaah meski nyatanya saya tidak pernah merayakan ultah seumur hidup saya hehe.

                Karena peralatan naik gunung kami minimalis, maka kami putuskan untuk menyewa saja peralatan naik gunung dari Southwind. Kami menyewa tenda, sleeping bag, head lamp, sepatu gunung, nesting, dan kompor portabel beserta tabung gasnya. Yang peralatan pribadi semuanya untuk istri, maklum keril deuter 55 + 10 L saya sudah terisi dengan peralatan pribadi lengkap, sisa-sisa kejayaan mencumbu SangDewi (sombong dikit hehe). Meski kami sewa dari Jum’at siang dan baru dikembalikan Senin pagi, tapi hanya dihitung sebagai 2 malam saja. Ini beneran murah banget gaes, very recommended dah pokoknya! Mas Budi pun sangat baik dan ramah :D

Barang yang kami sewa, belum termasuk nesting dan kompor sebagai tambahan hehe


                Namun pada detik-detik terakhir si Nain, Sang Calon Dosen itu malah memberi kabar tak sedap—bahwa yang berminat ikut berguguran semua. Kebanyakan beralasan karena UAS ITB sudah di depan mata. Waduh, lha ini peralatan sudah disewa, istri sudah ceria, cuti sudah masuk bagian personalia, masa tidak jadi? “Lha kalo cuma gue doang sama lu pada, jadi obat nyamuk lah gue Her,” begitu kata Nain. Untungnya, Allah Berkehendak lain dengan menggerakkan hati seorang Akhmad Fathoni, Koordinator Asisten Lab Fluida, Teknik Mesin ITB angkatan 2014 untuk menemani si Nain sehingga Pak Dosen tidak jadi obat nyamuk hehehe. Oke, here we go!

Keril sudah dibawa ke kantor, biar lebih enak
ngomongnya sama atasan hehehe



Berangkat, Terminal Cicaheum

                Kami berangkat dari Terminal Cicaheum dengan Bus Sinar Jaya (Tiket @ Rp 70.000,-) jurusan Wonosobo pada pukul 19.00 WIB (Waktu Indonesia Bandung). Hari itu dingin, dan Bandung hujan. Aih, syahdu. Saat saya tiba bersama istri, baru lah saya berkenalan dengan si Toni tersebut. Ternyata, orang Solo dia. Anak buahnya si Anu dong hahaha. Aseeeeek, ketemu Orang Jawa, mantaaap.
 
Tidak dipungkiri, saya memang selalu manis
(Saya, Toni, dan Nain)

                Ternyata dalam bus tersebut, 90% penumpangnya adalah calon pendaki Gunung Prau. Ada 3 orang pemuda dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan 10 orang rombongan dari Daarut Tauhid. Akhirnya Nain pun memutuskan untuk menggabungkan diri dengan rombongan tersebut. Mantap emang Pak Dosen ini, mengayomi sekali kami-kami ini sebagai pemimpin perjalanan hehehe.

Rombongan UIN sendiri terdiri dari Mang Tatang yang sangat tinggi jiwa sosialnya, Bisma yang sangat tinggi jiwa seninya, dan Adit sang calon Ustadz. Katanya si Adit ini pengen lanjut mondok setelah lulus dari UIN, barakallah bro, semoga menjadi da’i yang hanif yo aamiin. Dan di sinilah saya merasa tua, karena ternyata rombongan UIN tersebut angkatan 2014 semuanya hehe.

                Di dalam bus, saya pun menikmati quality time bersama istri. Mulai membahas soal jarinya yang perih karena memotong kuku kependekan, sepatu saya yang basah, sampai rencana pindahan ke rumah yang di Cikarang. Ternyata benar, hal yang paling memengaruhi kualitas percakapan bukanlah isi percakapan, namun dengan siapa kita bercakap. Dan ternyata benar juga, buat wanita semua persoalan itu sama ribetnya haha. Duh, maaf sengaja bikin iri :p

Tiba, Terminal Wonosobo

                Kami tiba di Terminal Wonosobo sekira pukul 04.10 WIB (Waktu Indonesia wonosoBo). Kesan pertama saya akan terminal ini adalah bersih, ramah, sejuk. Pokoknya mantap lah. Bagi yang pernah ke sini pastinya tahu bagaimana kerennya Terminal Wonosobo. Saya pun berpikir, andai semua terminal bus senyaman ini, andai transportasi massal di Indonesia dibenahi, pasti negeri kita tak perlu merasa konyol karena tergila-gila dengan mobil rakitan yang hanya muncul di kala menjelang pilpres. Kalau yang tidak paham, maksud saya adalah mobil SMK. Mobil rakitan yang diaku mobil buatan dalam negeri padahal sekedar macam beli gundam kit saja.

                Baik, kembali ke topik. Kami pun bersiap-siap, mandi, sholat Shubuh, sarapan, dan lanjut naik elf. Kami bertujuh belas naik elf yang sama (Tiket @ 20.000,-) untuk memudahkan koordinasi dan berangkat dari terminal sekira pukul 07.00 WIB. Alhamdulillah, saya dapat bangku eksklusif di samping pengemudi, berduaan dengan istri cieeeeeeh hehe.
 
Leyeh-leyeh dhisik mas...

Terminalnya enak banget sumpah, nyaman!

Rombongan akhwat, ikhwan, dan badboys hehe
Siap-siap naik elf


Wajah-wajah iri dari Mang Tatang dan Adit haha
  
              Dalam perjalanan, terlihat Pegunungan Dieng dengan terasering perkebunan sayur dan kentang di kakinya, juga Gunung Sindoro dan Sumbing nan cantik di sana. Saya pun sedikit bernostalgia, karena sebelumnya saya sudah pernah ke Wonosobo untuk mengunjungi teman saya yang merupakan anak dari seorang Sekda Kota Wonosobo. Ketika sampai di Pasar Garung, kami berhenti sebentar untuk membeli logistik yang belum dibawa.
 
Masyaa Allah

Pegunungan Dieng dengan teraseringnya

Meliuk-liuk aseeeek

Pasar Parung, beli tempe dulu

Ramai sekaliiii

                Sekitar pukul 09.00 WIB, kami sampai di Tugu Dieng Plateau (ini bener ga ya namanya) untuk repacking, karena kami memutuskan untuk memulai dari jalur pendakian ini. Sudah lumayan terik matahari saat itu. Dan karena saya suami siaga, jadilah keril tampan saya berisi 5 x 1,5 L air mineral, tenda great outdoor kapasitas 2 orang, peralatan pribadi saya, nesting, kompor, dll. Belum apa-apa, udah menjerit pundak saya hahaha.


Pendakian, Jalur Dieng

                Jalur pendakian dimulai dengan melewati perumahan warga untuk menuju base camp, biasa, pendaftaran dulu (Tiket @ Rp 10.000). Di sini, saya brunch  dulu bersama istri, sebungkus berdua karena hanya sarapan gorengan pas di Terminal Wonosobo. Kelar makan, saya pun boker. Ceria!

Masih full energy hehe

Isinya baju doang sama indomie :p
(Menuju base camp)

Makasih Nain, kau abadikan aku yang sedang jadi porter :')

Nah, itu dia base camp nya


Brunch unyu dulu gaes
(Btw, karena pakai kamera depan jadi terbalik tangannya.
Soalnya kemarin mertua protes saat dikirimi foto ini,"Itu teh
Intan tangannya salah. nanti ditiru anak kalian lho."

Ini petanya

                Sekira pukul 10.30 WIB, kami meninggalkan base camp dengan tidak lupa berdoa terlebih dahulu. Banyak orang lupa, bahwa tujuan utama mendaki gunung bukanlah sunset, sunrise, instagramable pictures, atau malah maksiat dengan lawan jenis. Bukan, tujuan utama naik gunung adalah tadabbur ayat-ayat kauniyah Allah untuk kemudian pulang dengan selamat. Baiklah, perjalanan dimulai bung!

                Awalnya saya sebagai sweeper, di belakang istri. Ternyata, hal ini justru membuat saya dan istri jauh tertinggal. Akhirnya jadilah istri paling depan dan saya ngos-ngosan di belakangnya. Entahlah, saya tak tahu kenapa istri malah jadi makin cepat. Heri yang biasanya egois dengan melaju paling jauh di depan saat naik, kini harus terima buat jalan pelan-pelan dengan beban keril berat -_-

                Dalam perjalanan naik ini, ternyata kami terpisah dengan rombongan dari Daarut Tauhid. Berikut adalah foto-foto pendakian kami.

Nain, Mang Tatang, Bisma, Adit, Toni

Cieee dapat ucapan selamat datang
(Di kresek itu isinya sawi hehe)

Capek? :v

Sedang kebelet manjat pohon kali ya

Diem-diem bae, ngopi dhisit napa



Masak air dulu bro

Ada yang sadar kamera lah

Pemandangan sepanjang perjalanan

Pemandangan sepanjang perjalanan (2)

Pemandangan sepanjang perjalanan (3)

Rimbun ya?

So sweat haha eh sweet deng

Paham kan kenapa kami lama sampai puncak? Hehe

Aduh ketahuan lagi nyuri-nyuri foto cewek u,u

Semangat!

Hap hap hap

Bukit Teletubies

Telaga Warna kelihatan tuh

Post Wedding photograph 
Plastik isi jajanan si Zombie merusak pemandangan aja -_-

Pamer Keril Deuter-nya nih

Tenang Ton, di atas sana ga ada dosbingmu kok. TA akan selesai pada waktunya

Mang Tatang dan pengawalnya


Puncak, Bukit Teletubies
                Kami sampai di puncak sekitar pukul 15.30 WIB. 4 jam yah, lumayan juga hehehe. Saya bersama Nain dan Mang Tatang kebagian tugas menjadi pendahulu untuk mencari lokasi berkemah yang bagus. Intruksi Pak Dosen jelas; agar saat keluar dari tenda dapat view foto-foto yang bagus -,-

                Dan dapatlah kami lokasi berkemah di suatu lereng perbukitan yang menghadap ke Gunung Sindoro dan Sumbing. Harapannya, saat sunrise akan indah sekali. Saya pun mulai mendirikan tenda bersama istri dan menata interior tenda. Lalu lanjut sholat jama’ qashar ta’khir untuk Dhuhur dan Ashar. Istri ga ikut sholat, tamu bulanannya datang katanya. Dan kami pun mulai memasak.



Kabut mulai turun buuung

Kabut (2)

Pasang tenda dulu gaes

Kami sih masak aja

Adit sang tester, Toni sang master chef, Intan sang istri tercinta

Lumayan sehat lah ya haha

Kenapa makanannya enak? Karena kena sentuhan tangan si Toni, secara harfiah

Goreng tempe biar sehat

Hey world!

Bunga krisan?

                Sekira habis maghrib dan setelah selesai sholat Maghrib dan Isya’, kami pun menikmati bintang-bintang sembari bermain 24. Ini permainan kartu yang koplak sih sebenarnya, dengan Mang Tatang yang jadi tertuduh paling sering hehehe.

Main kartu di bawah bintang

                Namun belum lama di luar, sekitar pukul 20.00 WIB kabut mulai turun dengan angin kencang. Sejak itu, hanya rasa was-was yang ada di pikiran saya. Saking kencangnya, bahkan tenda sampai meliuk-liuk hampir roboh. Saya pun terpaksa menahan frame dengan kaki agar tidak ambruk tendanya. Kabut makin tebal hingga jarak pandang hanya 5 meter. Lereng di kanan kiri tenda seolah berubah menjadi lautan yang tidak terlihat dasarnya, dan sinar rembulan yang samar-samar menembus kabut membuat saya makin merinding. Sumpah, malam itu menyeramkan sekali. Seumur hidup pengalaman saya berkemah dan naik gunung, malam itu adalah pengalaman yang paling berat. Apalagi pada dini hari di tengah kondisi sadar dan tidak sadar karena bosen menahan frame tenda, tiba-tiba istri terbangun dan langsung memeluk sambil menangis. “Lho dek, kenapa?” tanya saya sok santai, padahal panik bener. “Perutnya sakit?” ini anak biasanya kalau hari pertama tamunya datang, bisa guling-guling nahan sakit. Masih menggeleng, yasudah, saya minta dia minum aja dulu. Saya hanya khawatir dia “kemasukan”, belum pengalaman soalnya dalam hal meruqyah. Apalagi saat kondisi kabut turun sampai bagian dalam tenda basah karena embun dan angin kencang begini. Usut punya usut, ternyata katanya dia mimpi buruk soal saya dan mendapati saya tidak ada ketika membuka mata. Ya pasti tidak ada, lha wong dia miring ke kanan sedang saya ada di sebelah kirinya -_-

                Belum lagi saya dikagetkan dengan suatu umpatan,”Anj*ing!” Ternyata si Nain sedang marah-marah dengan tetangga yang baru datang dan ribut sekali saat mendirikan tenda hahaha.

                Saya baru bisa tidur nyenyak sekira pukul 02.30, ketika sudah benar-benar bosan menjaga tenda. “Bodo amat lah, ngantuk!” Lalu ketika alarm Shubuh saya menyala, saya pun bangun dengan malas. Melihat keluar tenda, beuh, masih gelap akan kabut ternyata. Yasudah, saya pun terpaksa sholat Shubuh di dalam tenda. Istri? Dia dengan damai sejahtera lanjut tidur karena tidak ada tanggungan buat sholat. Sekitar jam 05.15 saya keluar tenda hanya untuk mendapati kabut tebal masih ada. Orang bilang, kita bisa foto buat KTP di sana, seolah di depan wallpaper warna putih.

                Kami baru bangun ketika suasana di luar menjadi agak terang, kurang lebih pukul 07.00 WIB. Karena cuaca masih tidak bersahabat, kami memutuskan untuk memasak nutrijell saja buat sarapan, masih di dalam tenda. Akhirnya, kabut mulai hilang sekitar pukul 08.30 WIB, dan kami pun keluar untuk cari instagramable pictures.
 
Masak nutrijell buat sarapan
No caption

Tenda meleyot sisa pertempuran semalam

Nunggu Sindoro dan Sumbing muncul

Ramai yah

Nah itu mulai kelihatan

Yeay, keliahatan!

Foto-foto gaes

Turun, Jalur Patakbantengb

                Setelah membereskan tenda, packing, kami memutuskan turun melalui jalur pendakian Patakbanteng. Waktu itu sekitar pukul 11.00 WIB kalau tidak salah. Keril saya sudah jauh lebih ringan karena air minumnya tinggal 2 x 1,5 L, tapi akan ada kejutan lagi. Yap, istri saya mengalami dismenor. Udah deh, pasrah. Apalagi jalur turun Patakbanteng ini sangat curam, selain mengkhawatirkan kondisi istri, saya pun khawatir dengan kondisi saya sendiri. Ya, nasib sebagai penderita fobia ketinggian harus lewat jalur yang kelihatan dasar gunungnya. Dan omong-omong, pendakian kemarin itu serasa De Javu bagi saya. Karena perbandingan jalur naik dan turunnya mirip sekali dengan jalur naik dan turun saya ketika di Rinjani, yaitu jalur naik Sembalun dan turun Senaru.

                Untunglah, dalam perjalanan turun ini istri hanya mengalami dismenor  setengah jalan. Setelah agak mendingan, dia pun bisa turun dengan cepat, lompat ke sana kemari, lincah sekali. Saya juga bisa mengimbanginya, karena jurangnya sudah tertutupi rimbunan pohon hehehe. Dan syukur alhamdulillah lagi, di jalur ini kami bertemu warung. Huhah, 2 potong semangka, 4 unit gorengan, 1 botol keringat pocari, ludes saya lahap!

Gemeteran kaki saya :(

Capek dek? hehe
Mantap kan jalur Patakbanteng haha

Capek dek? (2)

Sampai dikasih pinjem tracking pole si Nain haha

Habis batu terbitlah akar

It is so beautiful


                Kami mencapai base camp Patakbanteng kira-kira jam 13.30 WIB. Istirahat sebentar, beli manisan carica, lanjut naik elf ke Terminal Wonosobo. Sampai di sana sekitar jam 15.00 WIB, lanjut istirahat, makan, mandi, ngecas HP, dan bercengkrama dengan sahabat baru dari UIN. Jam 18.00 WIB kami berangkat ke Bandung dan sampai dengan selamat di Terminal Cicaheum jam 03.30 WIB. Alhamdulillah...
 
Nah itu warungnya kelihatan

Wajah saya disamain kayak melon kali ya

Latihan pakai cadar si ibu, semoga bisa istiqomah aamiin

aku dan keringat pocari

Gini nih kalau saya yang ngambil selfie

Udah sampai ke perkebunan warga

Yok pulang hehe

Di sini, istri saya memilih naik ojek -_-

Base camp Patakbanteng

Saya beli carica di sini hehe

Tuh carica saya dijagain istri
(Lagi lihatin apa mbakyu? hehe)

Pulangnya pun naik Bus Sinar Jaya lagi

See you again Wonosobo :)

Penutup

                Naik gunung selalu menghasilkan banyak kejutan. Teman-teman baru, pengalaman baru. Seperti saya, yang beban kerilnya hampir sama seperti ketika naik Gunung Rinjani, padahal ini “hanya” gunung Prau. Pengalaman pertama mendaki gunung bersama istri, belajar tidak menjadi manusia yang egois. Setelah bersyukur pada Allah, saya ingin mengucap terimakasih pada anggota rombongan: Istri saya, Pak Nain si Calon Dosen, si Toni sang Kordas Lab Fluida, Mang Tatang yang saya jagokan menggantikan nama Puncak Kerinci (Wallahi, tidak ikhlas saya puncak Kerinci dinamai Puncak Jokowi), Adit si Calon Ustadz yang sedang berusaha move on, dan Bisma yang, ah entahlah ini orang. Tapi saya masih keki sebenarnya sama si Toni, sudah tidak bawa tenda dll, eh dia cuma bawa air 1 x 1,5 L -_-

                Akhirul kalam, terimakasih kawan-kawan atas kesabarannya dalam mendaki bersama kami. Salam peluk dari saya, istri ikut titip salam tapi tidak pakai peluk ya hehe.



Sampai jumpa di pendakian berikutnya :)

Sebuah kenang-kenangan dari pendakian pertama kita dek :)

0 komentar:

Posting Komentar