Rabu, 01 Oktober 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


Di dunia ini, seringkali hal yang ada terbagi dalam tiga kelompok besar. Jika bukan ektrim kanan atau kiri, maka akan ada hal yang di tengah. Mungkin inilah konsekuensi logis dari kurva yang sering disebut dengan distribusi normal. Mulai dari urusan rasa masakan hingga aqidah, ternyata begini adanya. Untuk masakan jika bukan enak banget, tentu ada lawannya di mana rasanya seperti ban dalam. Dan di tengahnya adalah rasa yang biasa saja, yang pas lah. Untuk aqidah, selain murjiah (pakai alif ya, bukan ‘ain) dan seteru abadinya khawarij, tentulah ada mereka yang di atas jalan yang lurus, di atas manhaj salaf, berada dalam timbangan wasath: Ahlu sunnah wal jama’ah.

Namun sebenarnya bukan dua hal di atas yang akan saya bahas di sini. Saya sedang ingin membicarakan—eh, menuliskan ding—sesuatu yang lebih berat dari sekedar dengan rasa seperti ban dalam namun lebih ringan daripada pembahasan mengenai aqidah. Yaitu sesuatu yang sering terjadi pada diri kita: Usaha, Doa, dan Takdir.


Ekstrim Pertama

                Pernah mendengar orang yang berkata bahwa hidup ini cukup jalani saja? Mengesankan bahwa kita tak perlu melakukan apapun?

“Lah, naik motor mah santai aja. Kebut-kebutan oke kok, toh kalau takdirnya mati mereka yang penuh armor dan berhati-hati juga bakal dipeluk truk .”

“Orang pintar kalah dengan orang rajin, tapi orang rajin akan kalah dengan orang yang beruntung. Mau sepintar dan serajin apapun jika waktu ujian Finite Element Method salah dikit dalam penentuan sudut juga bakal salah total kok.”

“Jodoh gak usah dicari, santai saja. Nanti juga datang sendiri kok.”

“Jalani hidup gak usah ngoyo. Mengalir saja seperti air, nanti malah stress lho. Selow broooo….”

                Kalimat-kalimat di atas memang tidak salah, namun jika Anda berkata bahwa tak ada kecacatan logika padanya itu pun juga salah. Saya katakana tidak salah, karena benar bahwa takdir kita sudah diketahui. Mau gimana akhirnya, mau sama siapa jodohnya, mau makan apa habis ini, semua sudah tertulis dan diketahui. Namun masalahnya, bukan kita yang mengetahui. Yang mengetahui adalah Allah. Bahkan Rasul dan Jibril pun tak tahu tentang takdir.

Disebutkan dalam Shahihul Bukhari dari Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Tak seorang pun dari kamu kecuali telah tertulis tempatnya di surga atau tempatnya di neraka” Kemudian (sahabat) bertanya : “Ya Rasulullah, apakah kita tidak menyerah saja” (Dalam suatu riwayat disebutkan :’Apakah kita tidak menyerah saja pada catatan kita dan meninggalkan amal). Beliau menjawab : “Jangan, beramallah, setiap orang dipermudah (menuju takdirnya)”. (Dalam suatu riwayat disebutkan : “Beramallah, karena setiap orang dipermudah menuju sesuatu yang telah diciptakan untuknya”). Orang yang termasuk ahli kebahagian, maka dia dipermudah menuju perbuatan ahli kebahagiaan. Adapun orang yang termasuk ahli celaka, maka dia dipermudah menuju perbuatan ahli celaka”. Kemudian beliau membaca ayat : “Adapun orang yang memberi dan bertaqwa dan membenarkan kebaikan, maka Aku akan mempermudahnya menuju kemudahan. Adapun orang yang bakhil dan menumpuk kekayaan dan mebohongkan kebaikan, maka Aku akan mempermudahnya menuju kesulitan”.

                Dari hadits di atas kita dapat mengerti bahwa perilaku menjalani hidup mengalir seperti air pada batas-batas yang ekstrim akan membuat seseorang menjadi pasifis. Memang dia tidak akan stress dengan apa yang mungkin terjadi, namun akan sangat sulit untuk mencapai kemajuan.
Ekstrim Kedua

                Nah, jika yang sebelumnya mengenai orang-orang yang terlalu woles maka sekarang saya ingin mengomentari mereka yang terlalu aktifis (lawannya pasifis, bukan yang artinya mahaiswa sering rapat lho). Para aktifis (bukan aktivis) ini memandang bahwa hidup ini HANYALAH tentang sebab akibat. Bahwa jika saya berinvestasi sekian maka akan terjadi yang demikian. Jika saya belajar maka saya akan dapat nilai bagus. Pokoknya dia menganggap hidup ini bagaikan persamaan yang linear dengan hanya satu variable.

                Padahal dia lupa, bahwa dunia ini merupakan  kumpulan variable yang mendekati tak hingga. Ditambah lagi dengan sesuatu yang lebih besar dari itu: Tuhan. Sayangnya orang-orang tipe ini biasanya seorang yang atheis, sehingga meskipun dia menyadari bahwa ada banyak sekali variable di dunia ini namun dia tidak mengetahui asal dari semua kemungkinan: Tuhan. Atau jika pun dia seorang theis, ada sikap dalam dirinya yang terlalu deterministic. Yang berpikir bahwa dunia HANYA mengenai sebab akibat. Hal ini dikarenakan dia kurang memahami tentang hakikat tawakkal. Orang-orang inilah yang seringkali dihujat oleh manusia-manusia jenis Ekstrim Pertama sebagai orang-orang tidak woles. Dan ini menurut saya: BENAR!

                Resiko terbesar dari sikap jenis ini adalah sulitnya berbahagia dan mood swing yang menakutkan. Jika berhasil maka dia terlalu bangga dan bahagia, sedangkan jika gagal dia akan menjadi sangat sedih. Padahal yang pernah saya dengar dari Sang Manusia Terbaik, urusan jadi bahagia itu simple:
“Bersyukur jika mendapat nikmat,
dan bersabar jika mendapat musibah.”

                Hidupnya akan penuh dengan stress. Jadi memang benar untuk orang-orang ini kita haruslah berkata, ”Santai aja kenapa bro. Seloooooowwwww…” :P

Yang Pertengahan

                Orang-orang jenis ini berangkat dari keyakinan seperti layaknya hadits di atas. Dia sadar tetntang hokum sebab akibat, dengan ketentuan yang bersyarat: Allah Menghendakinya.

                Saya pernah mendapatkan pelajaran enting dari pembimbing lapangan saya saat Kerja Praktek di PT. Pindad (Persero), Ir. Hardi Sutanto M.T,. Beliau berkata,

“Kita bekerja maksimal itu bukan agar mendapatkan hasil yang maksimal. Bukan, jangan berniat seperti itu. Namun kita bekerja maksimal itu agar bisa mendapat lebih banyak pilihan.”

                 Jadi logikanya memang benar bahwa ada yang tak perlu berusaha keras mengejar IP setinggi mungkin, mengasah skill secara maksimal, membuka jaringan sana-sini namun dia dapat lebih sukses daripada yang sudah melakukan itu semua. Contohnya ada orang-orang yang tak lulus kuliah eh malah jadi CEO. Namun, sekarang mari kita pikirkan: Berapa persen mereka dibandingkan populasi total? Saya jamin, tidak banyak! Mereka adalah orang-orang yang memang mendapat keberuntungan yang sangat langka. Sangat sangat sangat langka. Lalu, apakah bisa disebut laki-laki—atau malah manusia?—sejati seseorang yang hanya mengandalkan keberuntungan?

“Keberuntungan adalah ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan.”

                Tetapi salah juga jika kita berpikir bahwa IP tinggi, skill mumpuni, jaringan luas, sikap baik, kehati-hatian PASTI akan membuat kita sukses. Tidak, sekali lagi TIDAK! Segala persiapan dan usaha tersebut hanyalah agar kita mendapatkan pilihan dan kesempatan yang lebih luas. Misalnya, dengan IP yang tinggi kita akan lebih mungkin untuk melamar pekerjaan di lebih banyak perusahaan. Dengan kualitas diri yang tinggi dan kedewasaan sejati tentunya lebih banyak ‘akhwat’ yang bisa masuk radar. #eh, abaikan :v

                Ingat, sekali lagi ini mengenai memperbanyak pilihan dan kemungkinan keberhasilan, bukan keberhasilan itu sendiri. Karena hasil itu merupakan urusan Tuhan, sedangkan kita hanya berkewajiban membuka sebanyak mungkin kemungkinan keberhasilan dengan usaha maksimal—dan TENTUNYA: DOA. Jadi jika nantinya kita sudah berusaha maksimal namun masih tetap gagal, seharusnya kita bersyukur karena setidaknya telah diberi kesempatan untuk belajar. Karena logikanya kan begini:

“Sudah berusaha maksimal saja masih gagal, apalagi jika hanya pasrah dan bermalasan dengan berkedok kalimat sakti tawakkal?”

Bukan malah berpikir, ”An*ir, rugi gue usaha susah-susah. Kalah sama dia tuh yang gak usaha tapi lebih sukses. Besok-besok gak usah aja ah!”


                Salah satu dosen saya, Dr. Ir. Waya Suweca pernah berkata seperti ini:

“Orang yang lebih rajin dan berhati-hati itu mempunyai kemungkinan tidak mengalami kesialan lebih besar daripada mereka yang hidunya ngawur dan tidak disiplin.”

                Jadi, mari menjadi golongan pertengahan. Yang memaknai bahwa usaha dan doa adalah untuk menambah kemungkinan berhasil semata, bukan sebuah jaminan kepastian akan terhindar dari kesialan. IP tinggi tidak menjamin kesuksesan, apalagi yang IP-nya tidak tinggi?


Setuju? Tidak setuju? Silahkan komentar jika tidak setuju, dan share jika setuju.

2 komentar:

  1. menjadi orang yg beruntung lebih menyenagkan daripada menjadi orang yg pintar , tapi kalah sama orang yg beruntung

    BalasHapus
  2. menjadi orang yg beruntung lebih menyenagkan daripada menjadi orang yg pintar , tapi kalah sama orang yg beruntung

    BalasHapus