Selasa, 16 Desember 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,




               
Baik, sepertinya edisi ketiga dari catatan perjalanan saya ke Pulau Bangka ini saya isi dengan senang-senang saja. Atau tepatnya, cerita tentang dua objek wisata yang (sempat) saya datangi. So, check it out!

Museum PT Timah

                Saya berkunjung ke sini pada hari ketiga, di mana seharusnya saya ke Kapal namun karena ada satu dan lain hal maka tidak jadi. Beberapa jam waktu yang ada, saya manfaatkan untuk sekedar mengunjungi suatu tempat unik. Yap, Museum PT Timah. Tidak lucu kan jika (katanya) mau TA tentang peralatan penambangan timah tapi tak tahu sejarahnya?

Sabtu, 13 Desember 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,
1. Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun - dan (tapi) selalu membutuhkan kehadirannya.
*Sepertinya enggak, eh apa iya ya?

2. Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil, tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar.
*Mana ada -_-

3. Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret.
*enggak, Bapak saya gak suka memotret.

4. Ayah selalu tepat janji! Dia akan memegang janjinya untuk membantu seorang teman, meskipun ajakanmu untuk pergi sebenarnya lebih menyenangkan.
*Yoiii men!

5. Ayah selalu sedikit sedih ketika melihat anak-anaknya pergi bermain dengan teman-teman mereka.karena dia sadar itu adalah akhir masa kecil mereka.
*Eh, iya Pak? Sorry yo hehehe.
Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


                Hari ini saya akan bercerita tentang seseorang yang sangat menginpirasi saya. Seseorang yang begitu saya hormati dan hargai, seseorang yang bahkan dalam beberapa kesempatan pernah saya “benci”. Salah satu manusia yang membentuk paradigma saya, bahkan mungkin ketika saya belum paham apa itu paradigma. Seseorang yang darahnya mengalir dalam darah saya, dan mungkin saya siap jika darah saya tertumpah untuknya. Orang ini: My Old Man, Bapak saya.

                Cerita ini sungguh ingin saya tumpahkan di blog ini, asalnya karena hal ‘sepele’. Saya sedang suntuk, ada kawan memberikan serial “Supernatural”, dan saya mendapat kutipan bagus ini:


Minggu, 07 Desember 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


             
Poster kami, courtesy of FHS 
                 Mari tinjau Perancangan 2. Sebuah Mata Kuliah yang menurut saya memiliki sks yang kontroversial. Di sinilah—menurut saya—kesabaran, dedikasi, lobi, manajemen deadline, dan keterampilan proses manufaktur dasar anak mesin diuji. Bahkan ada yang lebih dari itu, saya merasa sekaranglah saat-saat di mana bahkan diskusi mulai dibumbui nama-nama hewan.
Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


Hari Jum’at kemarin adalah hari yang cukup penting bagi saya. Mengapa? Pertama, karena itu Hari Jum’at, yang muslim pasti paham tentang hal ini. Kedua, karena hari itulah karya kami—Mahasiswa Teknik Mesin 2011—yang juga merupakan hasil dari tugas Matkul Perancangan 1 & 2 dipamerkan.

                Mata kuliah ini mengharuskan setiap mahasiswa mengeluarkan idenya untuk membuat sebuah alat yang bermanfaat, inovatif, kreatif, dan budgetif (maksudnya di bawah 2,5 juta, dan sialnya inflasi merusak teklap. Dasar uang kertas penuh riba). Untuk waktu sendiri, kami diberikan tenggat selama satu tahun. Semester 6 dengan Perancangan 1 (3 sks) dan semester 2 dengan Perancangan 2 (2 sks). Bisa dibilang ini adalah salah satu hajat besar jika Anda kuliah di sini, bahkan cara pengerjaannya mirip Tugas Sarjana. Tak ada kelasnya (ada sih di awal-awal), hanya berisi bimbingan, asistensi, dan presentasi.


Perancangan 1
 
Diagram Alir Perancangan
             

Senin, 01 Desember 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


                Setelah sampai, maka yang dicari pertama adalah makanan khas sini. Dan pilihan kami (Bapak-bapak sih, saya cuma ngikut saja hehe) adalah warung seafood ‘Mr. Asuy’. Sebenarnya mau seperti anak muda kekinian yang suka memotret makanan, tapi ya gimana lagi, bisa gagal TA saya kalau kelihatan alay haha.

                Setelah kenyang, ke hotel, maka sampailah kami di hotel dan disambut Kepala Keteknikan dan Sarana PT Timah, Pak Yono, untuk diskusi awal sebelum ke kapal esok harinya. Kapal ini adalah BWD, Bucket Wheel Dredge, yang bisa dibilang merupakan ‘perkawinan’ kapal keruk dengan kapal isap.



             Secara singkat, cara kerja BWD adalah dengan cara 'menggaruk' lapisan tanah di dasar lautan. Kemudian, hasil garukan tersebut akan dihisap oleh sebuah mulut hisap sedemikian hingga campuran hasil kerukan dan air laut akan terhisap ke 'semacam tower reservoar' di dalam badan kapal. Setelah itu, akan dibagi dengan laba-laba untuk dialirkan ke setiap jig yang ada. Dari sana, singkat cerita jig akan memisahkan pasir dengan timah. Timah akan ditampung sedangkan pasir akan dibuang lagi ke laut melalui suatu saluran di belakang kapal.
General Arrangement BWD
Courtesy of PT Timah

 

Senin, 24 November 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


Awal Perjalanan


                Pernah dulu saya membaca Tetralogi Novel “Laskar Pelangi”, dan membayangkan bagaimana rasanya hidup di suatu tempat yang tanahnya menyimpan kekayaan alam berupa logam strategis timah. Tempat di mana budayanya sangat unik, apalagi jika membaca bahwa warga Melayu adalah orang-orang ramah nan paling pandai men-syukuri hidup. Perbauran antara Suku Melayu dan orang Keturunan Tionghoa diceritakan begitu unik dan cair. Dan akhirnya, mimpi tersebut terwujud sudah minggu kemarin.

                Saat itu, saat bimbingan.

D: Dosen

Sabtu, 15 November 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,
Sebelumnya, baca Part 1 dulu biar nyambung cuy hehehe...




1.       Konsumsi dan Produksi Minyak Nasional
Baik, berikut adalah data konsumsi minyak nasional:


Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,


                Hari ini saya ingin berceloteh tentang hal yang sangat sensitive hari-hari ini: Harga minyak atau masalah pemotongan subsidi. Dan sebelum Anda saya ajak menyelami alam pikiran saya yang (kata orang-orang) heartless—maksudnya suka kelihatan tidak pakai perasaan, hanya sekedar benar salah—mari kita lihat sharing seorang pendukung/kader PKS di media social berikut:



Senin, 10 November 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under :

 

 

 

Ayo! Siapa berani coba?!
Pernah ditodong pisau/senjata lainnya?
Mau tahu cara lepas dari todongan pisau?
Mau punya pisau dummy alumunium/kayu sendiri?
Minggu, 30 Nopember 2014 @Kampus ITB!
PERISAI DIRI ITB mempersembahkan..
"Coaching Clinic: Beladiri Pisau" oleh Kang Salmin Hermawan
Teaser? Langsung klik http://youtu.be/WgL35g1fPkg?list=UUvDMmonlvyKt-TU6WqPLRsw

Minggu, 02 November 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,
Mengapa umat Islam tidak bisa hidup di bawah Hukum Syariah di negeri kita sendiri?

Selalu, kita lelah mendengar argumen yang sama mengenai "umat Islam memiliki hak untuk hidup menurut Islam". Di negara-negara Muslim (bukan Islam), Muslim diberitahu bahwa kita tidak bisa menerapkan dan hidup dengan hukum Syariah, karena di sana ada (minoritas non-Muslim) dan kalangan Sekuler yang tidak ingin hidup di bawah hukum Syariah. Ketika dikatakan kepada mereka bahwa Syariah hanya untuk umat Islam, mereka akan menjawab "adalah tidak adil jika memiliki hukum yang berbeda dengan orang-orang, dan tidak setiap 'Muslim' inginkan Syariah."
 
Jika kalangan Sekuler ini hidup di abad ke-7 di Madinah, maka mereka mengatakan pada Nabi Muhammad (SAW​​): "Anda harus menghapus ketentuan dalam Konstitusi (sahifa) Madinah yang berbunyi, 'jika ada yang bersengketa, (maka hendaklah) merujuk kepada Allah dan Rasul-Nya' karena di Madinah juga terdapat minoritas Yahudi yang tidak mengakui Anda sebagai Rasul Allah, dan tidak mengakui Anda telah menerima wahyu." Mereka mungkin akan mendirikan gerakan Pemberontakan dan mengundang Abdallah ibn Ubay untuk memimpinnya.

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


                Nah, seperti saya singgung pada ceritanya sebelumnya, sekarang saya ingin bercerita tentang jalan-jalan pelatih dan (ehem) asisten pelatih ke Purwakarta.

Pada Hari Minggu 28-10-2014, dengan paha pegal dan tangan masih agak tremor habis dari menjenguk Puncak Cikuray, saya ikut rombongan PD ITB ke Purwakarta. Rencananya adalah latihan tentang disarm pisau dan aplikasi senjata pisau itu sendiri kepada Kang Salmin Hermawan, spesialis pisau PD Purwakarta dan bertingkatan Strip Merah. Selain itu, juga untuk membicarakan wacana mengadakan coaching clinic di ITB mengenai “cara menghadapi pisau”. Tunggu saja tanggal mainnya, akhir bulan ini kok. Insyaa Allah :)

Sabtu, 01 November 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


Lauan Awan Dari Puncak Cikuray



               
Pada tanggal 24 Oktober 2014 kemarin, sekali lagi Geng Koplak PAW (Pasukan Anti-Wacana) menunjukkan taringnya—oh ya, nama geng ini sangat tidak resmi kok, ngasal hasil karangan saya pribadi saja. Dan entah kenapa, sudah dua kali berturut-turut ini kami justru melakukan kegiatan yang tidak umum pada waktu-waktu yang “tidak umum” pula. Jika saat ke Papandayan kemarin bertepatan dengan Ultah Kota Bandung—dan lebih pas untuk keluar bareng pacar atau gebetan, maka hari yang kemarin ini kebanyakan orang-orang menyambut datangnya Tahun Baru Hijriah. Padahal saya juga belum tahu dasarnya kenapa 1 Muharram atau 1 Sura ini banyak orang jalan-jalan pakai obor dan berpesta.

                Yah, itulah kami. Sering melakukan hal yang aneh-aneh di saat yang aneh pula. Dan sebagai informasi, ada 4 misi utama saya untuk pendakian kali ini:

1.       Mencoba merasakan puncak Cikuray. 

2.       Ingin muhasabah diri pada awal tahun di tempat yang tidak umum (jika ini bid’ah mohon dikoreksi).

3.       Menghilangkan stress pasca UTS. Yang ini gagal total, karena semua UTS yang sedianya dilakukan minggu itu malah diundur ke minggu berikutnya. Dan jadilah ini justru senang-senang pra-UTS -_-“

4.       Menguji coba—ciyeee—sepatu baru yang harganya setara 13 kali bayaran saya mendongeng fisika dan matematika, dan inilah misi utamanya.

Senin, 27 Oktober 2014

Posted by Heri I. Wibowo |
Jadi ceritanya dapat pertanyaan dari sini http://ask.fm/HIW27/questions/120327164603/reply

Nah, lapak ini saya siapkan buat jawaban yang panjang. Bentar ya, lagi sibuk jadi belum bisa jawab panjang-panjang hehe.

Selasa, 14 Oktober 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,


                Sepuluh hari telah terlewat dari hari besar juga hari agak besar itu, dan saya malah baru menuliskannya saat ini: 15 Oktober 2014. Ya, hari besar berupa Idul Adha dan hari agak besar yaitu HUT ke-69 hulubalang negeri ini—TNI—yang jatuh pada waktu yang bersamaan, tanggal 5 Oktober. Dan hari ini saya akan membicarakan yang kedua, karena yang pertama saya merasa kurang berkompeten. FYI juga, karena waktu yang bersamaan itu pula maka parade militer digeser menjadi tanggal 7 Oktober.

                Ya, tujuh hari yang lalu itulah digelar parade militer terbesar dalam sejarah TNI. Dan itu, hebatnya terjadi pada saat kita tidak sedang dalam masa perang. Berbeda dengan saat tahun 60-an, di mana kekuatan TNI yang sangat diperhitungkan, bahkan merupakan angkatan udara terbesar di belahan bumi selatan dan prestasinya atas kepemilikan kapal penjelajah KRI Irian, karena saat itu TNI sedang masa perang dengan Belanda untuk merebut Irian Barat. Untuk melihat betapa besarnya kekuatan TNI, Anda semua dapat merujuk pada videonya di Youtube.

Jumat, 10 Oktober 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,
 Lalu Kenapa Harus Sekarang?

                Jawabnya simple sebenarnya. Karena kita tak tahu kapan akan mati. Sudah, sesimpel itu.

                Ah, baiklah. Akan saya bahas sedikit lebih panjang jika demikian.

Pertama

                Pertama, karena terkadang ada beberapa hobi yang akan lebih mudah untuk terealisasi ketika Anda belum berkeluarga. Saya ada beberapa contoh kasus. Sepupu saya ada yang memiliki hobi berburu. Jadi saat malam di akhir pekan, setelah seharian bekerja layaknya kuda di bidang pemasaran, yang bersangkutan langsung mencangklong senapan anginnya dan dengan ditemani sebungkus rokok, senter, kupluk, dan segerombolan kawan-kawannya dia menembus hutan di pinggiran kota. Sekedar menembak satu dua tupai, namun lebih sering pulang dengan sekedar tawa puas. Sayangnya, di antara kawan-kawannya, dia salah satu dari sedikit orang yang sudah tidak jomblo. Sehingga, seringkali rasa puas dan senang saat pulang segera luruh ketika melihat wajah cemberut istrinya. Ya, istrinya tak suka dia berburu. (Man, padahal berburu burung dan tupai. Bukan berburu istri kedua hahaha)
Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


                Beberapa saat yang lalu saya ditanya begini,”Ngapain sih sampai segitunya cuma mau ke ******i? (Menyebut nama salah satu gunung di Indonesia, nama gunung saya samarkan aja deh biar ceritanya nanti jadi kejutan hehe) Toh nanti kalo sudah kerja juga puncaknya enggak pindah kan?” Ya, beliau yang bertanya ini sedang mengkritisi keputusan saya yang “katanya” berlebihan dalam berikhtiar untuk mencapai sesuatu yang bernama SEKEDAR hobi ini—atau lebih tepatnya hobi baru saya ini. Bahwa saya dikatakan sedang tak logis, kenapa untuk urusan tak penting seperti ini saya harus berjuang mati-matian (kata beliau sih, saya santai aja padahal) dari urusan finansial, fisik, taktik, dan perencanaan. Apa tidak ada yang lebih penting?

                Baik, untuk pertanyaan terakhir saya bisa jawab langsung,”Yang lebih penting banyak kok, tapi ini layak diperjuangkan.”

Jumat, 03 Oktober 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


Prolog


              


                
Beberapa hari yang lalu ketika naik gunung bersama Anak Rimba (baca ceritanya di sini), yang bersangkutan melontarkan sebuah frasa yang sangat bijak, “Sekarang makin banyak orang-orang yang sekedar ‘Penikmat Alam’, bukan ‘Pecinta Alam’!” Celetukan tersebut berkenaan dengan vandalism mereka yang sedang dimabuk bensin eh c*nta sehingga merasa harus mengukir namanya di atas bebatuan. Padahal dengan begitu, secara tak langsung mereka sedang menabung doa agar hubungannya tak langgeng dari para Pecinta Alam sejati dan alam itu sendiri—juga saya. *evil smile :v

Motivasi Naik Gunung

               
Sebelumnya mari kita membahas bermacam jenis motivasi orang yang naik gunung. Hari-hari ini naik gunung seolah menjadi tren di kalangan anak muda. Katanya biar gaul gitu. Apalagi setelah media memprovokasi dengan lahirnya sebuah film yang menceritakan serunya perjalanan mengejar awan di Puncak Mahameru. Sehingga—meminjam kata-kata Anak Rimba dan Si Madun—lahirlah mereka yang kemudian disebut Penikmat Alam dan Pendaki Karbitan. Ya, karena mereka berpikir bahwa naik gunung sekedar suatu perjalanan adu keren dengan obsesi dokumentasi semata. Untuk kemudian dibagikan di jejaring sosial. (Oke, instropeksi diri)

Rabu, 01 Oktober 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


Di dunia ini, seringkali hal yang ada terbagi dalam tiga kelompok besar. Jika bukan ektrim kanan atau kiri, maka akan ada hal yang di tengah. Mungkin inilah konsekuensi logis dari kurva yang sering disebut dengan distribusi normal. Mulai dari urusan rasa masakan hingga aqidah, ternyata begini adanya. Untuk masakan jika bukan enak banget, tentu ada lawannya di mana rasanya seperti ban dalam. Dan di tengahnya adalah rasa yang biasa saja, yang pas lah. Untuk aqidah, selain murjiah (pakai alif ya, bukan ‘ain) dan seteru abadinya khawarij, tentulah ada mereka yang di atas jalan yang lurus, di atas manhaj salaf, berada dalam timbangan wasath: Ahlu sunnah wal jama’ah.

Namun sebenarnya bukan dua hal di atas yang akan saya bahas di sini. Saya sedang ingin membicarakan—eh, menuliskan ding—sesuatu yang lebih berat dari sekedar dengan rasa seperti ban dalam namun lebih ringan daripada pembahasan mengenai aqidah. Yaitu sesuatu yang sering terjadi pada diri kita: Usaha, Doa, dan Takdir.

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,

 


 
 
"Kita hidup di atasnya, mati demi membelanya, dan  dibangkitkan pada hari kiamat dengannya."
-Syaikh Al-Fatih Abu Muhammad Al-Jaulani-



Senin, 29 September 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,



               
Maaf lama tidak update blog, sehingga mungkin saja ada pembaca yang menanti-nanti. Kalau yang ini bukan karena tidak ada ide atau sedang stuck inspirasi. Bahkan rancangan tulisan saya setidaknya hingga kini telah ada 8 tema. Namun yang terjadi pada saya ternyata lebih berbahaya dari itu semua: saya sedang malas menulis! Sehingga mohon dimaklumi jika tulisan berikut lebih merupakan catatan kegiatan saya, itung-itung buat melemaskan jari dan lutut—eh bukan, maksudnya otak. Dan bagi pihak-pihak yang nantinya ikut meramaikan cerita ini, saya mohon maaf juga jika isinya saya-sentris.

                Bagi saya sendiri, salah satu hal yang paling memuakkan di dunia ini adalah ketika rencana menjelma jadi sekedar wacana. Makanya, ketika rencana telah tersusun 3 hari yang lalu untuk melakukan pendakian ke Gunung Papandayan, saya pun menjanjikan satu hal: Ikut jika sakit lutut akibat salah posisi duduk saat makan Ayam Goreng Sambal Mangga ini baikan. Meski artinya itu saya harus merelakan tidak ikut nonton pameran mobil-mobil keren di IIMS (maaf ya, soalnya mundur sih rencananya hehe). Dan ketika hari-H tiba, saya pun bela-belain buat menembus kemacetan dari Jalan Cisitu untuk menuju ke Jalan Plesiran meskipun badan pegel semua akibat akumulasi kurang tidur, lutut belum asyik bener, dan kemacetan tak tertahankan akibat HUT Kota Bandung dipusatkan di Dago. Karena saya pernah mendengar kata seorang kawan,”Laki-laki itu pakai otak kalau berjanji. Tapi sekalinya berjanji, berusahalah untuk menepati!”

Sabtu, 06 September 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,


Bismillah,

Sudah lama sekali sejak saya mem-posting salah satu genre terbaik saya: serial halaqah. Yah, maklumi saja karena terkadang ada hal-hal yang membuat saya bolos tidak sempat menuliskannya di blog. Sehingga, semakin menumpuk dan menumpuk dan akhirnya menjadi lebih malas lagi hehe.

Baik, sekarang biarkan saya memulai kembali kebiasaan baik tersebut. Kali ini halaqah bertema mengenai hikmah yang ada dalam hadits berikut:

Dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memegang kedua pundakku lalu bersabda, "Jadilah engkau hidup di dunia seperti orang asing atau musafir (orang yang bepergian)." Lalu Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhu menyatakan, "Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari. Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu." (HR. Al-Bukhariy no.6416)

Kamis, 04 September 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,
"Eh Pak, uang jajan adek kurang nih. Gimana kalo tv yang ada di ruang keluarga itu DIJUAL aja?

Eh2, laptop bapak kayaknya di rumah juga cuma nganggur, dipakainya di kantor doang, JUAL aja yah?

 

Eh iya Bu, kan panci presto yang ada di dapur itu juga jarang dipake, JUAL juga aja ya?

 

Eh kakak kakak, sepeda motornya ngabisin bensin tuh, JUAL aja ya?"

Rabu, 03 September 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,


                Tersebutlah pada suatu masa, terdapat seorang pria yang begitu cemerlang, setidaknya untuk ukuran masa itu. Di mana ukuran prestasi adalah seberapa luas tanah yang kau kuasai, berapa banyak negeri yang kau taklukkan, jumlah pasukan yang tunduk padamu, dan banyaknya manusia yang gemetar bahkan ketika mereka baru mendengar rencanamu untuk menguasai jajahan baru.

                Maka ia pun mulai membangun suatu ikatan kuat dengan orang-orang yang ia proyeksikan untuk menjadi jenderalnya. Mulai menempa mental orang-orang yang ia inginkan sebagai pengikut. Dan visinya seolah didukung semesta untuk terwujud. Dan terciptalah sebuah angkatan perang yang terkenal dengan taktiknya yang bisa disebut “Super Blitkrieg”. Hal ini karena kecepatan mereka dalam memobilisasi pasukan berkudanya lebih cepat daripada pasukan panzer Der Fuhrer NAZI. Ada yang bilang sampai tiga kali lipatnya, dan suplai logistic yang terencana dengan mengambil sumber dari daerah yang telah ditaklukkan (hal ini sangat mungkin terjadi karena waktu itu belum ada angkatan udara yang memungkinkan serbuan jauh ke jalur belakang lawan untuk memotong konvoi logistik).

Kamis, 28 Agustus 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under :
Beberapa hari terakhir ini horor musiman bagi rakyat Indonesia mulai lagi episodenya dengan alur skenario yang sama setiap masanya: BBM mau dinaikkan, ramai, BBM jadi langka, ramai, BBM dinaikkan, ramai, lalu sepi (Atau pecahkan saja gelasnya biar ramai?). Seolah tak terjadi apa-apa. Bahkan dua hari yang lalu di salah satu SPBU di Kota Bandung antrian sepeda motor mencapai 4 lajur. Ya sudah, demi waktu tidur yang berharga saya putuskan untuk pulang saja dan berharap tidak perlu membeli BBM campuran: campur dorong :v




Mirip banget sama yang di Ujung Berung pren!

Minggu, 24 Agustus 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


                Ah, selalu sulit memang mencari kalimat pembuka setiap kali Anda ingin menulis, bukan? Nah, itulah yang sekarang sedang terjadi pada saya. Bahkan lebih berat lagi adalah merealisasikan ide dan niat untuk menulis. Namun cita-cita untuk mendokumentasikan setiap perjalanan dan petualangan yang telah saya lakukan sungguh menggoda bagian-diri-saya-yang-rajin untuk bersegera menuliskannya sebelum semakin tenggelam dalam tumpukan ide-ide aneh nan koplak di kepala. Jadi, apa yang ingin saya bagi?

                Saya ingin membagi perjalanan yang diinspirasi oleh obsesi saya pada ketinggian—salah satu dari dua fobia saya adalah ketinggian sehingga saya sangat berhasrat untuk menaklukkannya, bersama dengan claustrophobia—dalam Agustus ceria kemarin. Tiga puncak yang memberi rasa yang berbeda, di tiga provinsi yang berbeda. Dan meskipun salah satunya memang cukup tinggi, menurut saya tetap tidak akan mampu mengalahkan beratnya pendakian saya ke Gunung Bukit Tunggul (Namanya emang bukit, tapi isi perjalanannya yang tak terkira hahaha).

Sabtu, 16 Agustus 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under :
Buletin ini memang sudah dipesan untuk memperingati hari kemerdekaan sob :)
Semoga dapat membuat pikiran kita terbuka, betapa kerennya SDM negeri ini.


Masih ada satu artikel lain yang bisa Anda baca, silahkan mengunduhnya di http://goo.gl/0JR9sf.





Dan jangan lupa untuk memberikan jempol pada fanpage kami di https://www.facebook.com/MechanicalExpressMagazine.

Kritik dan saran yang membangun bisa Anda berikan di sini maupun langsung ke fanpage-nya :)

Heri I. W.
13111070

Minggu, 10 Agustus 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


                Setelah menulis sesuatu yang saya pikir cukup bermanfaat, hari ini saya ingin menulis sesuatu yang sangat mungkin akan mengundang cerca. Sebuah tulisan yang termotivasi oleh “pertengkaran” saya pada orang-orang yang terlalu bahagia karena sudah berpasangan dan mereka yang terlalu mengemis pasangan. Selain itu juga dikatalis oleh tayangan ‘Golden Ways: Jones atau Marnes? (Jomblo Ngenes atau Married Ngenes?)’.

                Jadi akhir-akhir ini, karena hidup di rumah orang tua praktis kesibukan saya pun mau tidak mau turun. Bahkan untuk urusan makan yang dulu perlu usaha kini tinggal ke dapur dan membuka tudung saji. Menurunnya kesibukan biasanya akan berbanding lurus pada dua hal: jika bukan panjang angan-angan maka kemampuan mengurusi orang lain. Nah, karena yang pertama saya sudah tahu obatnya, jadilah saya kena yang kedua. Dulu-dulu juga sudah sering mengurusi sih, hanya sekarang bertambah lebih suram. Bahkan sudah sampai pada tataran sarkasme. Yap, apalagi jika bukan urusan orang-orang “pemuja” pernikahan (tuh kan, sinisme-nya mulai lagi -_-).

                Nah, mau dimulai darimana ya?

Sabtu, 09 Agustus 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,
             


             Hari ini saya ingin sedikit berbagi, bercerita sedikit dengan gaya bahasa yang lebih menggurui. Yaaah, mungkin gara-gara keseringan baca hipwee.com  menjadikan saya tertantang untuk menuliskan hal berikut: Lima Tipe Manusia Dalam Memperlakukan Waktu.

                Oh ya, untuk lebih menyamakan cara memandang maka saya saya mendefinisikan yang bermanfaat dengan dua cara. Secara umum, sesuatu saya bilang bermanfaat jika itu diakui secara syar’i. Namun, karena tulisan ini ingin saya bagi secara universal, apapun keyakinan Anda maka ada pengertian khususnya:
Semua hal yang mendekatkanmu pada visi yang telah kau rancang!

                Maka, jika visi Anda beririsan bahkan identic dengan pengertian umumnya, saya ucapkan selamat terlebih dahulu :)

Jadi, inilah pembagian saya:



1.       Orang Yang Produktif Dalam Melakukan Hal Yang Bermanfaat

Produktif artinya dia orang yang efektif dan efisien, atau dalam bahasa ekonominya mirip dengan kalimat:

Dengan input sekecil mungkin, didapatkan output sebesar mungkin.

Dalam bahasan kita, maka yang saya maksud input adalah waktu sedangkan output-nya adalah apa yang ia hasilkan. Nah, artinya orang tipe pertama ini adalah mereka yang bisa memanfaatkan waktunya seoptimal mungkin untuk melakukan sebuah kebaikan. Sebuah pekerjaan yang bermanfaat.

Senin, 04 Agustus 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


                Beberapa malam yang lalu saya menjanjikan adik  saya sesuatu agar  dia mau mengerjakan PR-nya: cerita horror nanti malam. Dan karena saya habis baca-baca jangan suka bohong sama anak kecil—adik saya udah gede sih—akhirnya malam harinya saat Bapak dan Ibu sudah sare saya tepati janji itu. Di ruang tamu, gelap, dan bercerita sambil memandangi jalanan depan rumah. Adik saya di lantai dengan guling dan selimut, saya mlungker di atas kursi. Lalu, perasaan itu muncul…

                Perasaan bahwa saya nyaman di kondisi ini. Saya tak ingin menjadi lebih tua lagi. Saya ingin selalu di usia 21 tahun dan adik saya 11 tahun, di mana permasalahan-permasalahan yang ada begitu sederhana. Lebih tepatnya, saya takut tentang harus menjaga adik saya nantinya. Kalau masih kecil—kurang dari 11 tahun misal—kan urusannya tinggal masalah jangan beli es di pinggir jalan.

                Namun lalu saya berpikir, benarkah perubahan demikian menakutkan?

Masa Lalu, Sekilas Tentangnya

                Pernahkah kita mencoba untuk sedikit mengulik masa lalu kita? Buat saya sendiri, terkadang ada saat-saat di mana mencoba menengok ke belakang. Melihat bagaimana saya saat itu, dan tindakan-tindakan apa yang saya lakukan ketika menghadapi suatu masalah. Lalu terpikir, seandainya saya yang sekarang kembali ke masa lalu apakah saya akan melakukan hal yang sama?

Kamis, 24 Juli 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under :


Sebuah tujuan memang benar dapat dicapai dengan berbagai jalan. Tapi yakinkah bahwa jalan yang ditempuh akan mengantarkan?

Kemudian ditempuhlah beberapa jalan yang ada perbedaan. Tidakkah ada kewajiban untuk saling menasehati dalam kerangka bangunan seiman?

Dan saat menempuh suatu jalan dan mungkin berbeda dalam arahan. Tidakkah seharusnya tetap bersepakat pada satu keinginan dan tujuan?

Mungkin bahwa pilihan berbeda jalan karena beda dalam memaknai kemenangan. Tak mengapa, namun apakah itu harus memutus persaudaraan?

Selasa, 22 Juli 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under :

Apakah makna selalu dapat terlukiskan dalam kata?

Ketika bahkan pemahaman tak dimiliki yang merasa

Lalu semua sekedar bisik dalam heningnya kala

Dan kita pun membisu pada saat berjumpa

Maka aku pun bertanya, mengapa?

Sabtu, 19 Juli 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,


                Berawal dari film kopian berkualitas (sangat) buruk yang berjudul “300: Rise of An Empire” maka jadilah saya bergerilya mencari kopian yang berkualitas mantap. Tanya-tanya kawan yang ada di Semarang, dan ternyata kawan saya yang biasa saya panggil Abang pun menyanggupi untuk berbagi. Dan jadilah saya pada hari Minggu kemarin menikmati suasana Kota Semarang (yang panas) dari dalam jendela Bus Rapid Transit—yaah, macam Busway-nya kota ini. Cukup tiga ribu lima ratus perak dari ujung barat hingga ujung timur kota. Tak hanya itu, ternyata saya juga berhasil membawa pulang serial “Avatar, The Legend of Korra: Spirit”, juga novel "Ayahku (Bukan) Pembohong".

                Sekalian sudah keluar rumah Abang pun mengajak saya ke rumah kawan yang biasa kami panggil Pang (PanglimaCT sih). Dengan tiga orang pemuda berkumpul saat liburan maka muncul pula ide keren: cari tempat jalan-jalan yang unik di sekitar Semarang. Melalui Google, didapat beberapa alternative. Mulai dari sekedar nama jalan di dekat pusat kota hingga sebuah air terjun yang belum pernah terdengar oleh telinga kami: Curug Lawe dan Curug Benowo.

                Tertarik dengan nama curug yang mirip salah satu nama teman kami di kelas Olimpiade dulu, tanpa babibu kami pun mulai mencari jalan ke sana. Dan tahukah Anda, menurut link di sini yang di dapat hanyalah sebuah koordinat. Ketika dimasukkan ke Gmaps yang tertunjuk adalah suatu kata yang begitu spektakuler: Unnamed Road!

Jumat, 18 Juli 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


               
Pendahuluan

Kali ini saya ingin berbagi sesuatu. Sebuah cerita yang mungkin benar-benar sekedar cerita, bahkan saya sendiri tak ada motivasi untuk berbagi hikmah. Meskipun bahkan pada hal cerita paling tidak mutu di blog ini pun saya selalu ingin berbagi hikmah—seperti pada serial “Jalan-Jalan#” dan “Berasa Bodoh#”, namun untuk yang satu ini biarkan ada yang berbeda. Yah, bisa dibilang ini adalah salah satu hal yang benar-benar serupa curhat di blog ini.

                 Dan mohon dipahami pula, bersamaan dengan tidak adanya motivasi untuk memberi pelajaran maka sebenarnya tak ada pula tendensi apa pun. Tak ingin menyindir siapa pun. Dan tak ingin menyenangkan siapa pun pula—kecuali diri saya hahaha. Jadi, sebenarnya saya mau curhat apa?

                Kemarin saya membaca sebuah novel—pinjaman—yang sangat bagus dengan judul “Ayahku (Bukan) Pembohong”. Banyak hal yang akan saya dapatkan, kata yang punya novel, darinya. Sebagian besar bagaimana cara mendidik anak sebagai seorang ayah, bagaimana bersikap ke ayah, dan bagaimana yang lainnya. Bahkan pada bagian belakangnya ada sebuah frasa yang sangat menarik:

                Mulailah membaca novel ini dengan hati lapang, dan saat tiba di halaman terakhir, berlarilah secepat mungkin menemui ayah kita, sebelum semuanya terlambat, dan kita tidak pernah sempat mengatakannya. (Sungguh membuat penasaran bukan?)

Senin, 14 Juli 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under :


               

                Entah sudah berapa kilometer kaki saya harus melangkah lagi. Menembus pusaran-pusaran pasir yang diterbangkan angin gurun, dengan dahaga yang tak terkira. Apalagi untuk kerongkongan manusia khatulistiwa seperti saya ini. Sejauh mata memandang hanya beberapa desa hancur yang saya lihat. Teronggok pula sisa-sisa kendaraan yang hangus terbakar, selongsong peluru yang menyaingi jumlah kerikil, atau beberapa binatang liar yang khas ditemui di daerah tak berpenghuni. Kota hantu ini, menurut kawan baru saya belum lama terbentuk.

“Desa ini hancur ketika tentara pemerintah berusaha merebutnya dari kami, saudaraku. Alih-alih menyerbu dengan pasukan darat, mereka lebih suka melemparkan roket-roketnya. Dan malam itu, kau bisa makan kambing panggang bahkan tanpa menyembelihnya hahaha,” kata kawan baru saya dengan begitu entengnya. Tidak pahamkah dia jika candaannya membuat saya harus menahan diri untuk tidak muntah?

Sabtu, 05 Juli 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,
                Pertama-tama, setelah memuji Allah dan kemudian bershalawat pada Rasul-Nya saya ingin meminta maaf kepada Anda—siapapun Anda—yang bertanya di sini. Maaf, karena saya menjawabnya di blog alih-alih menjawab singkat dengan “iya dan si fulanah” atau “tidak dan buat apa”. Karena jawaban yang akan saya berikan ini teramat panjang, bahkan lebih panjang dari yang saya antisipasi sebelumnya. (Selain itu karena jawaban di sini bisa di-edit sih :p)


:v


                Pertanyaan semacam ini tidak hanya sekali ditanyakan kepada saya. Entah itu seorang kawan, saudara, sahabat, atau sekedar kenalan yang bertanya untuk melanjutkan obrolan iseng. Sungguh, saya tidak terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan semacam ini. Bahkan saya senang, karena merasa diperhatikan.

                Baiklah, mari kita lihat bagaimana (bukan apa) jawaban saya sebenarnya…

                Bismillah…

                Saya akan memulai jawaban saya dengan suatu cerita.

Selasa, 01 Juli 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,
KIBLAT.NET—Di kalangan aktivis Islam, Pemilu yang akan berlangsung besok ini terasa beda. Bila sebelumnya Pemerintah selaku penyelenggara Pemilu sendiri “memerangi” golput, kali ini beberapa tokoh dan aktivis Islam—bahkan MUI secara resmi—pun mengajurkan umat Islam memilih caleg yang ditengarai akan bermanfaat bagi kebaikan Islam dan kaum Muslimin.


Sebenarnya tidak ada nash qath’i tentang halal-haramnya nyoblos atau golput. Semua didasari oleh ijtihad yang lahir dari perspektif berpikir yang berbeda dalam memandang mashlahah-madharat.Juga oleh kesimpulan yang berbeda terkait pengalaman serupa yang terjadi di masa lalu.
Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,
                Sudah posting dua tulisan yan cukup serius, kini saya mau bercerita saja tentang hal-hal yang terkesan merupakan kekonyolan namun semoga ada hikmahnya. Cerita akan saya susun secara kronologis dari yang paling terakhir saya alami.

1.       Sahur? (30-6-2014)

Besok adalah hari pertama puasa. Wah, euphoria-nya maaaaan. Dan jadilah hari itu tidur lebih awal agar dapat bangun sahur. Tentu, bangunnya masih dibangunkan oleh sahabat tercinta: ALARM. Yang tak pernah lelah membangunkan saya meski cerewetnya minta ampun. Aku sayaaaaang alarm :v Ini sekaligus bukti atas sindiran di sini.

Senin, 30 Juni 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,
             
 

             Abdullah bin Saba, tokok intelektual dari pendirian gerakan syi’ah kini telah memiliki sejumlah pengikut pada masa kekhalifahan Usman bin Affan radhiallahu’anhu. Bersama pengikutnya, mereka mencoba mengantongi kesalahan-kesalahan pemerintahan shahabat yang terkenal sangat pemalu ini untuk kemudian menjadikannya protes terbuka kepada khalifah (dan syubhat terbesar mereka adalah bahwa Ali merupakan titisan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam sendiri—bahkan pada kadar yang paling ekstrim ada syi’ah yang menganggap Ali adalah titisan Allah). Namun, mereka tidak cukup memiliki keberanian untuk melakukannya secara terang-terangan melainkan dengan menyamarkannya sebagai ibadah umrah.

                Di suatu tempat yang bernama Juhfah, demi mencium gelagat buruk dari rombongan ini khalifah pun mengutus Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu untuk mencegah mereka memasuki kota yang diberkahi: Madinah. Agar pemikiran beracun mereka tidak menyebar di tengah-tengah penduduk yang beriman kepada Allah dan menerima secara penuh legitimasi Usman sebagai kepala negara.

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,
Bismillah...

                Wah, blog ini sudah beberapa minggu terlantar. Mungkin karena terlalu focus ke blog satunya hehe—ngeles. Baik, apa yang ingin saya ceritakan hari ini? Hmm, mungkin karena sudah masuk suasana Bulan Ceria—Ramadhan—maka saya akan menceritakan dan hikmah terbaru yang saya dapat, tadi.

                Pada awalnya hari ini kami berencana untuk Praktikum PPT (Para Pencari Ta’jil). Bahkan sudah diatur rapi mau ke masjid mana jam berapa. Namun, qadarullah malah dapat panggilan dari Ustad buat ke masjid yang tadinya ingin dituju. Begini bunyinya:

Dimhn hdr kajian ramadhan dan buka bersama hari ini,
30 jun jam 16.00 di kaffah..
Ksh thy g lain.
Jzk.

                Singkat, padat, dan jelas. Sebagai tukang jarkom jadilah saya menyebarkannya. Dan rencana yang tadinya iseng-iseng ternyata Didengar oleh Allah :)

Senin, 16 Juni 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


Sekedar mengingatkan, visi kita adalah "Memenangkan hati dan pikiran umat..."

Fokus kerja kita adalah:

1.      Mendidik dan membina generasi Islam agar siap menjadi butir-butir peluru yang melesat tepat di jantung para tiran.

2.      Memberikan pencerdasan kepada umat tentang kondisi umat Islam di tengah pertarungan politik global, agar mereka bisa memberikan dukungan kepada para da'i dan mujahid. Sehingga bendera jihad tidak sekedar dikibarkan oleh satu golongan atau jama'ah saja. Jihad kita adalah jihadnya umat!"

Senin, 09 Juni 2014

Posted by Heri I. Wibowo |


                Tidak terasa blog ini telah memasuki tahun ke-3 berjalan. Dan tidak saya sangka pula pengunjungnya mencapai lebih dari dua puluh ribu. Ini lebih banyak daripada pasukan Ahzab terkutuk yang menyerang Madinah, bahkan lebih banyak daripada pasukan Jenderal Shibata ketika menghadapi Hideyoshi di Shizugatake.

Kamis, 05 Juni 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


                Tadinya mau bikin tulisan tentang kekonyolan-kekonyolan yang saya alami akhir-akhir ini. Tapi ada beberapa kejadian yang membuat saya kekurangan motivasi untuk menyelesaikannya. Eh, malah terbuka inspirasi untuk menulis hal-hal berikut. Haha, semoga ini cukup menghibur.

                Bagi yang sering menghabiskan waktunya di jalanan—baik dengan jalan kaki, naik motor, mobil, atau angkot—pasti ada waktu-waktu di mana rasanya demikian jengkel dengan kejadian yang ada. Dan mari saya bagi beberapa kejadian yang membuat saya seringkali geleng-geleng kepala, istighfar, dan kadang sambil mengelus dada berkata,”All iz well, all iz well…”

1.       Parkir Sembarangan
Sepertinya saya kenal daerah mana ini. Yang sering shalat di Masjid Salman mungkin tahu?



Pernah suatu kali saya sedang dalam kondisi lelah, super lapar, dan buru-buru karena baru selesai praktikum atau kuliah—saya lupa—dan terpaksa melewati salah satu jalan yang ada di daerah kosan saya. Jalan itu sempit, yang bahkan jika dua mobil dari arah berlawanan simpangan maka mereka perlu hati-hati agar kaca spion tidak saling “menyapa”. Dan siang itu, di sanalah saya dengan bungkusan lauk di setang motor kiri, terjebak kemacetan akibat ada mobil-mobil yang parkir di pinggir jalan. Perut keroncongan, tugas numpuk, ujian besoknya belum belajar.

Tidak cukup sampai di situ, karena ternyata hujan turun dengan lebat pun. Di tas juga sedang membawa laptop. Maka apa lagi yang bisa saya lakuan selain memasang rain coat di tas dan berucap all iz well, all iz well...?

Meski tidak membantu juga, karena sampai rumah saya perlu push up beberapa kali demi meredam kejengkelan yang ada (sepertinya perlu pasang sand sack di kamar nih). Dan berakhir dengan update status di FB—dengan semangat untuk memberi saran, bukan alay lho :

“Sebelumnya saya mohon maaf jika lancang sebagai pendatang. Tapi saya mohon untuk kawan-kawan yang memiliki mobil dan kebetulan sering parkir di jalan ****** untuk sesekali memikirkan mahasiswa yang hanya bisa bermotor seperti saya. Yang terjebak ketika hujan turun dengan lebat pun.”

Agak lupa redaksinya sih, tapi ya kira-kira begitu lah :p

Bahkan yang menyebalkan, seringkali mobil—juga sepeda motor—parkir di jalur khusus sepeda. Ini orang kayaknya pengen ya kalau jalan tol buat parkir sepeda? -_- (Teringat waktu dulu masih jadi biker hehe)

Senin, 02 Juni 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,

Sabtu, 31 Mei 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


                Dalam hiruk pikuk perjalanan, tak ada yang lebih membantu dibanding seorang kawan. Setidaknya untuk tidur bergantian, agar selalu terjaga barang bawaan. Ah, entahlah apa yang sebenarnya kini kutuliskan. Mungkin sekedar sebuah catatan, dalam perjalanan menuju perantauan. Dari tanah yang sudah sejak lama kuinginkan, merekam jejak kaki yang kutorehkan.  Dari sebuah provinsi yang juga kerajaan. Karena meski Semarang dan Yogyakarta tidaklah berjauhan, namun kesempatan belum dihadirkan.

                Mata pun seakan sulit terpejam. Ketika jendela menampilkan lukisan alam. Bahkan kehidupan orang-orang yang seolah bergumam. Namun hei! Lihatlah kawanku yang kini telah memejam.

                Kembali saja kuliskan kata-kata, untuk sebuah cerita. Cerita kesenangan hati akan nikmat yang tiada tara. Kesehatan dan kebebasan yang membuat merasa sungguh merdeka.

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


                Jeruk adalah mahasiswa baru di suatu perguruan tinggi yang dianggap cukup bagus di Bandung: ITB. Sejak dahulu dia hanya bisa bermimpi untuk bisa berjalan tanpa arah sepanjang Indonesia Tenggelam  dengan maksud cuci mata melihat para mahasiswi fakultas sekitar sambil menikmati indahnya Gunung Tangkuban Parahu. Melepas penat di selasar Masjid Salman sambil terkantuk-kantuk. Atau sekedar mengagumi kata-kata dosen di kelas yang unik dan artistic. Semua yang dulu hanya impian, kini benar-benar terjadi. Benar-benar dialami.

                Hingga tidak heran jika saat pulang kampung ia begitu berbangga dengan kampusnya. Seluruh atribut yang menampakkan ke-ITB-an ia pakai. Jeruk mencemooh teman-temannya yang memang tidak memilih ITB. Ia berkata bahwa teman-temannya salah pilihan. Ia menganggap bahwa ITB adalah perguruan tinggi terbaik di Indonesia, bahkan dunia. Baginya, ITB adalah segalanya.

                Hingga suatu ketika ada seseorang yang menunjukkan apa itu MIT, Harvard University, dan lainnya. Berdasarkan fakta bahwa perguruan tinggi tersebut memang menempati urutan tinggi di ranking internasional. Namun dia tetap keukeuh bahwa yang lain tetap jelek. Dia sudah buta bahwa di atas langit selalu ada langit.