Minggu, 21 Oktober 2012

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,
Di sini saya akan mencoba untuk berbagi ilmu tentang betapa hebatnya kitab suci Al-Qur’an. Berdasarkan buku “Melacak Teori Einstein dalam Al-Qur’an” karya H. Wisnu Arya Wardhana yang saya baca, trigonometry dapat di gunakan sebagai salah satu ilmu untuk mengukur kecepatan cahaya. Dalam menghitungnya, dosen Perguruan Tinggi Kedinasan, Sekolah Tinggi Tenaga Nuklir (STTN) ini menggunakan sebuah ayat dari kitab suci Al-Qur’an.

Adapun ayatnya adalah :
“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan)  itu naik kepada-Nya* dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Qs. As Sajdah, 32: 5).


Maksud  “urusan itu naik kepada-Nya”  menurut not no. 1991 Al-Qur’an dan terjemahannya terbitan kerajaan Arab Saudi, adalah berita yang dibawa oleh malaikat ke hadapan Allah SWT. Dan sebagaimana kita ketahui dengan haqqul yaqqin (yakin yang sebenar-benarnya) bahwa malaikat itu diciptakan Allah SWT dari cahaya. Malaikat yang tercipta dari cahaya (nur) itu turun dari langit ke bumi lalu kembali ke hadirat Allah SWT dalam satu hari yang lamanya sama dengan seribu tahun menurut pemikiran manusia.

Nah, dari petunjuk-petunjuk inilah kecepatan cahaya akan kita hitung. Untuk menghitung dan mencari kecepatan cahaya itu dibutuhkan perhitungan matematika  dan fisika yang berbasis ayat-ayat Al-Qur’an. Dan hal-hal yang patut kita renungkan adalah sebagai berikut.

Pertama, akan terbukti  terbukti bahwa kitab Al-Qur’an yang turun 15 abad yang lalu, telah memuat secara tersirat tentang penghitungan matematis kecepatan cahaya yang menjadi bagian penting dari kebanyakan teori Einstein. Misalnya pada teori E=MC2. Tanpa diketahui harga kecepatan cahaya (C), maka rumus itu tinggalah sebuah rumus tanpa pembuktian/realita, begitu pikir saya.

Kedua, mengenai kecepatan malaikat (nur/cahaya) melaksanakan urusannya dari langit ke bumi kemudian menghadap Rabbnya kembali dalam waktu satu hari yang kadarnya menurut manusia adalah seribu tahun, adalah suatu isyarat bagi kaum yang berpikir (apakah saya termasuk kaum yang berpikir ? sepertinya belum, hehehe… ) bahwa ada perhitungan mengenai kecepatan cahaya. Dalam hal ini telah diketahui waktu tempuh dan jarak yang ditempuh. Nah, inilah saatnya menggunakan rumus fisika yang tentulah kita semua pernah mempelajarinya :

S = (v) X (t)
Dengan
S          = jarak yang ditempuh
(v)        = kecepatan
(t)        = waktu tempuh

Berdasarkan ayat Al-Qur’an di atas, kita telah mengantongi jarak yang ditempuh dan waktu tempuh. S dan (v) dapat dihitung sebagaimana yang telah dilakukan DR. Mansour Hasaf El Nabi, seorang ahli astrofisika Mesir yang telah menemukan caranya, sebagai berikut : 

{ jarak yang ditempuh                        =                      { jarak yang ditempuh oleh
oleh malaikat dalam                                                        bulan selama 1000 tahun
satu hari}                                                                           atau 12.000 bulan}

c . t = 12.000 . L
Dengan :
c  = kecepatan cahaya yang akan dihitung.
t  = waktu selama satu hari.
L  = panjang jarak yang ditempuh bulan selama satu bulan.

Selanjutnya, kitapun harus mengetahui bahwa dalam astronomi di kenal dua macam kalender, yaitu:
1.      System sinodik, yaitu kalender berdasarkan penampakan semu gerak bulan dan matahari apabila dilihat dari bumi. Berdasarkan system ini 1 hari = 24 jam dan 1 bulan = 29,52059 hari.
2.      System sideris, yaitu kalender berdasarkan pada pergerakan relative bumi dan matahari terhadap bintang dan alam semesta. Dalam system ini 1 hari = 23 jam 56 menit 4, 0906 detik (86164,0906 detik), dan 1 bulan = 27,321661 hari. Waw ! untung saya tidak harus menghitungnya  sendiri, hehehe…

Dalam perhitungan astronomi terbukti bahwa perhitungan dengan system sideris akan menghasilkan harga (c) yang lebih tepat, setidaknya mendekati harga (c) yang diketahui saat ini. 

            Oleh karenanya saya hanya akan menguraikan sedikit tentang system sideris (sidereal). Dan penting kita ketahui bahwa, revolusi bumi kembali ke posisi semula (360o) sama dengan revolusi bumi bumi menempuh sudut 26,97484o aterhadap matahari. Posisi tersebut ditempuh dalam waktu 27,321661 hari.

            Gambarnya dapat dilihat berikut ini:
            Panjang lintasan bulan yang ditempuh dalam satu kali revolusi atau 27,321661 hari dapat dinyatan dengan rumus:
L = V*bulan . T
            Dengan :
            L          = panjang jarak yang ditempuh bulan.
             V*bulan= kecepatan bulan terhadap bintang atau matahari.
            T          = periode revolusi bulan (27,321661 hari).

            Dalam astronomi, terdapat 2 macam kecepatan bulan, yaitu kecepatan relatif terhadap bumi dan kecepatan relatif terhadap bintang (matahari) dan alam semesta. Untuk lebih jelasnya, berikut penjelasannya:

1.      Kecepatan relatif terhadap bumi yang besarnya dapat dihitung dengan persamaan berikut:
Vbulan = 2 π R / T
Dengan :
R          = jari-jari revolusi bulan (384.264 km).
T          = periode revolusi bulan (27,321661 hari = 655,71864 jam)
Lalu :
Vbulan= 2 (3,141592654) (384.264) km / (655,719864)jam = 3.682,063106 km/jam

2.      Kecepatan relative terhadap matahari dan alam semesta. Mengenai hal ini jujur saya juga kurang paham. Namun, Einstein sendiri sangat mendukung untuk menghitung hal ini dengan menggunakan unsur trigonometry (kosinus) dan dimasukkan kedalam  kecepatan relatif terhadap bumi. Sehingga dihasikan :

V*bulan= vbulan . cos α
V*bulan= vbulan . cos 26,92848o
Dan selanjutnya rumus ini kita masukkan ke dalam persamaan dan menjadi :
C . t = 12.000 . L                                                          ingat : L = V*bulan.T
C . t = 12.000 . V*bulan .T                                              V*bulan= vbulan . cos α
C = 12.000 . (vbulan . cos α) . T/t
C = 12.000. (    3.682,063106 km km/jam. cos 26,92848o) . 655,719864                     jam/ 86164,0906 detik.
C = 12.000. (3.682,063106. 0,891572527) . 655,719864                     jam/ 86164,0906 detik.
C = 299.792,7981 km/detik

Demikianlah kecepatan cahaya yang dapat kita hitung berdasarkan ayat   Al-Qur’an. Dan itu telah sangat mendekati harga (c) yang umum saat ini yaitu 300.000 km/jam. Untuk lebih meyakinkan berikut saya sertakan hasil-hasil pengukuran para ahli sebelumnya dengan berbagai macam metodenya.

                                   






“TABEL HASIL PENGUKURAN HARGA (C)”.
No.
Pengukuran Menurut Versi:
Metode:
Hasil Yang Diperoleh:
1
Al-Qur'an
Seperti di atas
299.792,7981 km/det.
2
Us Nat. Bur. Of Stand
-
299.792,4574 km/det.
3
The British Nat. Phys. Lab
-
299.792,4590 km/det.
4
James Bradley (1728)
Aberasi bintang
301.000.0         km/det.
5
Armand Fizeau (1849)
Roda gigi
315.000,0         km/det.
6
Leon Foucault (1850)
Cermin berputar
298.000,0         km/det.
7
Rosa & Dorsey (1907)
Elektromagnet
299.788,0         km/det.
8
Albert Michelson (1926)
Cermin berputar
299.796,0         km/det.
9
Smith Essen (1947)
Resonator
299.792,0         km/det.
10
K.D. Froome (1958)
Radio interferor
299.792,5         km/det.
11
Evansons (1973)
Sinar laser
299.792,4574  km/det.
                                                                       
                                    Sumber: “Melacak Teori Einstein dalam Al-Qur’an” hal 178.

Note: sebenernya ini adalah artikel buat tugas matematika waktu SMA dulu hehehe

5 komentar:

  1. saya masih belum paham perhitungannya

    Pertama: bagaimana mungkin ada persamaan

    c.t = 12000 . L ............................................(1)

    jika diterangkan diatas,

    { jarak yang ditempuh = { jarak yang ditempuh oleh
    oleh malaikat dalam bulan selama 1000 tahun
    satu hari} atau 12.000 bulan}

    berarti disini menyamakan dari variabel s

    s = v.t ............................................(2)

    Pada persamaan (1) sisi sebelah kiri
    s = v.t
    s = c.t .............................................(3)
    masih dapat dipahami karena v menjadi kecepatan cahaya c

    Tetapi pada sebelah kanan
    s = v.t
    s = v . 12000 .........................................(4)

    Seharusnya v.12000 mengapa dari persamaan (1) menjadi L.12000 ? sedangkan L sendiri bukan menandakan kecepatan melainkan jarak? Disini agak rancu, mohon penjelasannya.

    BalasHapus
  2. hplpambudi@gmail.com
    Waktu antar alam dunia dan alam akhirat berbeda , 1 hari akherat : 1000 tahun bumi, Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu ( As Sajdah 32:5). Ada lebih dari 10 surat dalam Al Qur’an dan banyak di hadits yang menerangkan nya dan termasuk juga ada dalam AlKitab yi :
    Alkitab :  [2 Petrus 3 : 8] Akan tetapi, ..., yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun ....Mazmur 90:4 Sebab di mata –Mu seribu tahun sama seperti ( satu) hari kemarin, apabila berlalu , atau seperti suatu giliran malam
    Jadi disini adalah kesetaraan waktu di dunia vs di akherat , kita di dunia merasa 1000 tahun padahal kl dilihat dari sisi akherat cuma 1 hari , sedangkan kl soal kecepatan itu kasusnya saat nabi isro miroj yang didampingi Malaikat ( bukan naik burung ) .... adapun kecepatan Malaikat , seperti :
    Ta'ruju lmalaa-ikatu warruuhu ilayhi fii yawmin kaana miqdaaruhu khamsiina lfa sana [Al-Ma’aarij : 4].
    Malaikat- malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun

    BalasHapus
  3. [ Thaa haa 20:103] mereka berbisik-bisik di antara mereka: "Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sepuluh (hari)"

    Nahnu a'lamu bimaa yaquuluuna idz yaquulu amtsaluhum thariiqatan in labitstum illaa yawmaa
    [ThaaHaa 20:104] Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka: "Kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanyalah sehari saja".
    Ada makna apa pada Surat Thaa haa 103 diatas, mengingat dalam Al Quran itu berisi hal hal yang penting, tidak sekedar perbincangan yang salah dan perihal ini sudah beberapa kali tertulis, apakah ini dikaitkan dengan waktu kiamat yang 10 hari,soal kiamat : [ Thaa haa 20:103] mereka berbisik-bisik di antara mereka: "Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sepuluh (hari)"

    Nahnu a'lamu bimaa yaquuluuna idz yaquulu amtsaluhum thariiqatan in labitstum illaa yawmaa
    Ada makna apa pada Surat Thaa haa 103 diatas, mengingat dalam Al Quran itu berisi hal hal yang penting, tidak sekedar perbincangan yang salah dan perihal ini sudah beberapa kali tertulis, apakah ini dikaitkan dengan waktu kiamat yang 10 hari, , saat ini sudah masuk hari ke 10...apakah kalau dikaitkan dengan surah Al Fajr : 1 demi Fajar apakah terjadi saat Fajar atau bisa di artikan Fajar nya hari ke 11 yaitu 1 hari dibagi 5 ( waktu sholat ) artinya kurang 0,00.. - 0,2 hari . Bisa juga di artikan terjadi pada saat Fajr ( di belahan bumi mana? ), kalau ini artinya maka maksimum masih 0,49 hari lagi.
    Sesuai Surat Hud Ayat 104 : Dan Kami tidak akan menunda (kedatangan hari kiamat), kecuali sampai waktu yang sudah ditentukan.

    BalasHapus
  4. Setiap sesuatu yang ada sumpah dalam al-Qur’an merupakan suatu hal yang penting dan sangat perlu diperhatikan. Sumpah dalam al-Qur’an berfungsi untuk memperkuat sesuatu yang disampaikan dan menegakkan atau menyempurnakan hujjah (argumentasi).
    Al-Qiyamah Ayat 1 - 2
    (1). لَا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ Aku bersumpah dengan hari kiamat,
    (2). وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ الَّوَّامَةِ dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).
    “Demi fajar, dan malam yang sepuluh dan yang genap dan yang ganjil, dan malam bila berlalu”(Q.S al-Fajr 1-4)
    Penyebutan kaum ‘Aad dalam al-Qur’an terhitung sebagai pemberitaan paling banyak dibandingkan dengan pemberitaan tentang ummat-ummat yang lain yang dibinasakan , sebagai bentuk keajaiban dalam al-Qur’an.
    Hal itu karena kaum ini (‘Aad) telah dibinasakan secara total dengan angin berpasir yang tidak sewajarnya. Pasir-pasir itu mengubur dan menutup peninggalan-peninggalan mereka, hingga tersembunyi (tertutup) semua peninggalan mereka dari muka Bumi.
    Dan ini di kaitkan dengan Surat Al-Fajr 1 - 6
    1.“Demi fajar.”

    2.dan malam yang sepuluh,
     
    3.dan yang genap dan yang ganjil,
     
    4.dan malam bila berlalu.
     
    5.Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal.
     
    6.Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum 'Aad?

    Ayat yang pertama adalah Allah menyuruh perhatikan fajar. Fajar yakni cahaya pagi ketika mulai mengusik kegelapan malam. Yaitu cahaya matahari yang mulai membayang di sebelah Timur, kira-kira satu jam lagi lebih kurang sebelum matahari itu sendiri terbit.
    Dengan menyebut kelima hal tersebut Allah menekankan pada surah al fajr diatas bahwa benar-benar pada yang demikian itu terdapat sumpah yang mestinya mengantar siapa yang berakal untuk menerima dan meyakini apa yang disampaikan Allah melalui rasul-Nya, yaitu keniscayaan Hari Kiamat.
    Rasulullah (saw) mengatakan: "Kehidupan dunia seperti tujuh hari pada hari-hari akhirat. Allah Ta'ala, mengatakan, satu hari sama seperti seribu tahun di sisi Tuhanmu." (Anas bin Malik)
    Walaqad arsalnaa nuuhan ilaa qawmihi falabitsa fiihim lfa sanatin illaa khamsiina 'aaman fa-akhadzahumu ththhuufaanu wahum zhaalimuun
    Demikian juga soal kehidupan manusia ,karena nabi pernah bersabda bahwa datangnya kiamat tidaklah lama , yaitu sesudah masa diutusnya nabi menjadi utusan terakhir/penutup (berjarak '1 masa' yaitu 1000 tahun) ,Nabi Muhammad saw lahir di Makkah pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah , tanggal 20 April 571 Masehi , Jadi perkiraan : 571 + 63 = 634 ...... + 1000 = 1634 Masehi + jika arti fajar = 200 tahun = 1834 klihatan dah lewat , seandainya + fajr maximum 500 tahun = 2134 ( = 1455 H ), kurang / lebih 18 tahun lagi
    As–Suyuti dalam kitab (الكشف عن مجاوزة هذه الأمة الألف) mengatakan: “Berdasarkan sejumlah riwayat (atsar), umur umat ini (islam) adalah lebih dari seribu tahun, namun lebihnya tidak mungkin lebih dari 500 tahun (al Kasyf hal 206). Artinya, maksimal umur umat ini adalah 1500 tahun.”
    ......... Pendapat lain

    BalasHapus
  5. Ibnu Hajar mengatakan adanya tambahan 500 tahun sesuai hadis marfu dari Sa’ad bin Abu Waqqash bahwa Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya saya berharap agar umatku tidak akan lemah di depan Tuhan mereka dengan mengundurkan umur mereka selama setengah hari.
    Jadi total umur Islam menurut Ibnu Hajar adalah 900 + 500 tahun = 1400 tahun lebih, belum termasuk tambahan (karena tidak mungkin umur itu bernilai genap)
    Jika sekarang tahun 1437 H (2016 M), berarti sudah melewati lebih dari 1400 tahun itu. Sedangkan tambahan yang dimaksud itu mungkin adalah umur Nabi Muhammad SAW, karena Islam adalah agama yang dibawa oleh Beliau. Juga ditambah dengan 13 tahun karena awal penulisan tahun Hijriah dimulai pada saat Rasulullah SAW hijrah ke Madinah dan 13 tahun adalah ketika beliau di Makkah.Sehingga : 1400 + 63 (umur Nabi) + 13 ( sebelum hijrah) = 1476 H tahun
    Jika saat ini 2017 M (1438 Hijirah), berarti 1476 – 1438 = 38 tahun, ini +/- sisa umur umat Islam.
    ( Apakah pada tahun 2055 M Islam sudah hilang dari muka bumi ? Hanya ALLAH yang mengetahuinya )
    Jadi kapan KIAMAT??..... ( Umat Islam akan di wafatkan dulu sebelum kiamat )
    , Ya itu + / - saja, kepastian nya wallahua’lam

    BalasHapus