Minggu, 11 Agustus 2013

Posted by Heri I. Wibowo | File under :


                Baik kawan, saya ingin bercerita tentang hari raya saya. Gak apa-apa dong sesekali(atau seringkali?) blog saya diisi dengan cerita pribadi saya yang entah ada ibrahya atau tidak hehe. Karena teman saya pun ada yang punya blog dan blognya itu  buat dia menulis tentang kesehariannya. Katanya sih biar saat tua nanti bisa teringat kenangan masa muda. Yaaah, meskipun saya juga gak tahu blog dia sebenarnya haha.

Oke, kembali ke cerita tentang  Idul Fitri saya. Hari raya yang hebat dari umat yang hebat dari agama yang paling hebat—Islam. Nah, biar saya mulai cerita saya ini dari pagi hari sesudah shalat Shubuh.

                Pagi hari sebelum berangkat shalat Ied, di meja sudah tersedia teh hangat dan makanan khas lebaran di Indonesia—sambal goreng dan opor. Semoga di luar sana, khususnya semua umat Islam di dekat rumah saya  bergembira di pagi hari itu dan tidak ada yang mengalami kekurangan makanan. Untuk muslim yang di medan jihad, maaf, dengan sedih dan iri saya hanya baru bisa menyampaikan doa. Sebenarnya pengen sih mengirimkan opor Mamak saya yang super nikmat itu buat mujahidin yang di medan jihad dan ribath :(

                Oke, selanjutnya berangkat ke masjid. Wah, seger sekali berangkat ke masjid pagi-pagi udah mandi. Maklum, biasanya—atau selalu—kalau ke masjid buat shubuhan cuma wudhu doang kecuali ada sesuatu yang mengharuskan mandi. Yaah, kalian tahulaaaaah hahaha. Ada yang lucu ternyata di masjid saya. Takmir berkata dengan pengeras suara,”Kepada jama’ah x(menyebut kampung saya), shalat Ied akan dilaksanakan pada pukul enam lebih lima belas. Bapak-bapak dan ibu-ibu mohon lekas ke masjid dan blablabala.” Lucunya adalah, saya sampai di masjid pada saat jarum jam yang panjang mencapai angka 2 dan jama’ah baru segelintir. Masak iya shalat mau dimulai lima menit lagi? Saya pikir, memajukan waktu janjian ternyata juga berlaku buat shalat Ied kalau di Indonesia karena orang kita terkenal ngaret hahaha.


                Setelah kelar shalat dan sedikit istirahat mulailah saya mengikuti tradisi lebaran di Indonesia: berkeliling kampung untuk saling mengucapkan selamat idul fitri. Dan bagi yang masih kecil ini merupakan ajang untuk mengumpulkan uang hehe. Dan kemarin itu saya ada di masa yang menggalaukan, di mana saya sudah tidak pantas untuk mendapat uang jajan lagi namun juga belum berpenghasilan untuk memberikan uang jajan pada anak-anak kecil itu. Ya, jadilah saya golongan orang-orang yang menonton. Duh, jadi pengen cepet-cepet bisa membuka pintu rejeki agar nanti bisa lah dikit-dikit ikut ngasih angpao buat beli permen hehe.

Oh ya, sebelum berangkat saya telah mengingatkan diri untuk menjaga dari menyentuh yang tidak halal untuk di sentuh(Non-Mahram). Lebih tepatnya kami sekeluarga sudah berikrar bersama hehe. Kalo adek saya mah masih selow, wong belum baligh.

Jalan-jalan di mulai dari tetangga terdekat samping rumah dan menyisir ke setiap rumah yang dituakan di kampung. Dan dengan cukup bahagia saya bisa berkata, tantangan untuk menjaga agar tidak menyentuh—berjabat tangan—Non-Mahram dapat diakhiri dengan status: cumlaude :D Kalau yang sama anak-anak kecil yang belum baligh kan tidak aa-apa to?

Sekitar jam setengah sepuluh pagi, kami sekeluarga mulai melakukan perjalanan ke tempat kelahiran saya. Sebuah kota yang bernama “forget crocodile”, atau dalam bahasa jawa krama inggil “bajul kesupen”. Kalau menurut pembuat peta dan kebanyakan manusia sih: BOYOLALI. Dan kenganguran dalam perjalanan membuat saya bisa melihat HP saya yang serupa artefak itu. Wow, banyak juga sms ucapan selamat. Ya sudah, sekalian aja bikin template hehehe. Oh ya, bagi kawan-kawan yang belum mendapat kiriman dari saya karena nyangkut di awang-awang, ga ada nomernya, atau saya kelupaan maaf ya :P. Saya ucapkan lewat sini aja ya. Isinya kurang lebih begini yang saya kirim:

Bismillah,
Taqabalallahu minna wa minkum, semoga Allah menerima amalanku dan amalanmu. Selamat hari raya Idul Fitri. Mari bergembira, namun jangan berlebihan, sewajarnya saja :D

Heri, dan belum berkeluarga.
  

Ya kira-kira begitulah, lupa saya hehe. Dan yang membalas om, wih, beraneka ragam macamnya. Ada yang agak nyebelin membalas cuma dengan 4(empat) karakter,”sma2”. Ada pula yang sepanjang 3 sms lebih ahaha. Lalu ada juga yang menambahkan di bawahnya gini,”(Nama dia)-numpang di keluarga bapak saya”. Asem, ini orang bisa aja membalas pernyataan saya hahaha. Atau yang paling parah, malah membalas dengan pertanyaan,”Gimana Her? Masih ahli maksiat?” Wah, sialan juga yang ini (-_-“)a. Tapi saya gak terlalu kaget sih wong dia meyakini teori Raditya Dika bahwa cowok itu hanya ada dua: Berengsek atau Maho.

Yaaah, itu lah. Sekelumit dinamika yang mengisi Nokia 2626 saya ;)

  Dan sampailah di rumah embah. Embah saya yang dari Bapak masih lengkap, sedangkan yang dari Ibu tinggal yang Embah Putri. Dan jujugan pertama adalah Embah yang dari Bapak. Nah, mungkin ini enaknya jodoh cuma beda kecamatan. Kalo mudik gak ribet, jadi buat teman saya yang katanya mau dapat yang dari sekota, ini mungkin bisa memotivasi :D

Ada satu kebanggaan saat mudik ini. Ibu dan Adikku, memakai hijab syar’i. Dih, seneng banget deh hahaha.

Seperti biasa, untuk menginap kami lebih memilih rumah Embah yang dari Ibu karena selain sudah tidak ada Embah Kakung juga karena rumahnya lebih gede. Sampai di rumah saudara buat silahturahim, di mana pun itu, kata-kata yang termasuk pertama yang di bilang sama saudara-saudara(dalam bahasa jawa tentunya) adalah,

”Duh, Mas Heri udah gede. Udah mau nikah dong ya?”

“Woh, iya dong!” jawabku dengan mantap.

“Emang udah ada jodohnya?”

“Ada dong….” ;)

“Anak mana? Siapa namanya? Blablabla?”

“Eh, gak tahu. Kan masih di tangan Gusti Allah, kan janjinya tiap makhluk-Nya berpasang-pasangan hehe” :v

“-_________-“ ekspresi semua orang hahaha.

Wah, seru sekali pokoknya. Karena Ibuku dan Bapakku adalah anak terakhir, otomatis aku adalah cucu termuda—setela adikku. Sepupuku sebagian besar telah menikah. Kawan-kawan “mbolang” (memboeroe belalang—dalam arti harfiah karena belalang sangat enak jika digoreng), pasaran(permainan ini tak mengenal gender :D), main-main ke sawah, dan permainan seru lainnya sekarang telah bekerja dan rata-rata sudah punya anak. Jika dulu ada sepupu yang memandikanku, kini gentian aku yang memandikan anaknya. Eh, enggak ding, lebih tepatnya aku yang menimbakan air haha.

Oh ya, satu hal yang kusukai di sini adalah menimba air. Karena di sana kan gak enak kalo diliatin sedang pull up. Jika push up mah bisa sambil ngumpet-ngumpet lah. Nah, untunglah dengan adanya sumur yang perlu ditimba ini aku bisa melakukan olahraga yang setara pull up, namun dalam versi sebaliknya, pull down hehehe. Kadang aku merasa badan ini aneh sih, terlalu suka olahraga kayaknya -_-

Oke, kembali ke cerita. Malam hari, di bawah langit yang terang, semua cucu sampai cicit berkumpul. Menggelar tikar, dan Bapak ane jadi koki dadakan dengan membakar 4 ekor ayam sumbangan dari tiap keluarga. Nah, ini nih yang saya kagumi dari masyarakat desa. Mereka berpikiran bahwa yang penting itu kumpul, masing-masing berusaha ikut andil dalam menyukseskan kegiatan. Tak ada mentimun, semua tinggal balik terus cari di rumah yang ada kulkasnya. Baru Bapak saya bilang kecap habis, anak-anak kecil sudah pada pulang dan mengambili kecap di dapur. Pokoknya guyub sekali, seru sekali. Menikmati berkumpulnya semua saudara di bawah langit malam. Dari embah sampai cicit.

Saya, tak ketinggalan juga jadi koki. Koki bodoh tepatnya, bersama sepupu ipar saya yang cukup bodoh juga hahaha. Karena ada saudara yang bercanda bilang,”Lha itu ada burung dara, kalo bisa nangkep bakar aja sekalian haha!!” Tanpa babibu, kami langsung tangkap satu, sembelih, buang kotorannya, cabutin bulunya seadanya tanpa air panas, dan, BAKAR. Gila, yang ayam aja di rebus dan dibumbuin dulu ini burung dara main bakar aja. Tapi, ternyata enak juga tuh :9

Dan seandainya kami sehari lagi lebih panjang, tentu malam selanjutnya akan kami isi dengan berburu di malam hari. Dua sepupu iparku ini sangat hobi berburu, meski katanya sering “melihat” yang aneh-aneh. Hehe, abis dibilangin begitu malah makin tertantang sebenarnya :P

Kemudian, hari ini kami pulang. Ke semarang tentunya. Saat membuka pintu, wah, tercium aroma tidak sedap. Langsung aku sebagai anak lelaki(sok) mencari ke tempat yang paling mungkin menjadi TKP—engsel pintu. Soalnya, seringkali ada cicak kejepit dan akhirnya menjadi mumi di sana. Aku cek pintu-pintu bagian depan rumah—bersih. Lalu saat jalan ke belakang kok makin menyengat dan ada amis-amisnya sedikit. Dan, deng deng!! Ternyata pintu air kolamku terbuka akibat disenggol ikanku(ikanku gede-gede om!) sehingga kolam mengering dan ikanku mati semua :’(

Akhirnya jadi alay sedikit dengan update status:

"Gara-gara ditinggal pulang kampung, terjadi bencana kekeringan di kolam belakang karena pintu air terbuka. Korban meninggal semua dalam kondisi mengenaskan kecuali seorang lele yang mampu bertahan hidup karena mampu menempatkan dirinya sedemikian rupa dalam sebercak bekas air.

Memang, kematian adalah sesuatu yang paling dekat dengan mereka yang hidup namun sebagian besar manusia tidak menyadarinya. Dan kematian dapat menghampiri dari jalan yang tidak diduga-duga.

Demikian berita ini dibuat dengan sebenar-benarnya tanpa ada rekayasa maupun paksaan dari pihak manapun."

Good bye my lovely fishes, maaf kamu harus berakhir dengan tidak terhormat. Karena kematian yang terhormat bagi kalian adalah di perut saya sedangkan dengan kondisi begitu untuk memakanmu saya juga gak doyan. R.I.P

0 komentar:

Posting Komentar