Minggu, 05 Juni 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


Waktu terus berjalan

            Cerita hari ini masihlah berkisar mengenai kenangan dan masa depan, karena entah kenapa saya masih terganggu dengan urusan yang satu ini. Bukan, hal ini tidak ada kaitan dengan urusan cinta-cintaan atau hal menye lainnya, karena jujur saya tidak pernah menempatkan hal semacam itu dalam prioritas hidup ini. Yah, menyedihkan memang kehidupan masa sekolah dan kuliah saya yang kalau dituduh sebagai jomblo akut. Entah karena tidak laku atau karena tidak peduli.

            Nah, jadi kenangan macam apa yang ingin saya ceritakan ini? Masa depan seperti apa yang menjadi kekhawatiran?

            Baiklah, saya akan bercerita. Pagi ini, H-1 ramadhan (dan masih akan sahur sendirian—selamat pada Mas Imron AE 09 yang sudah punya teman sahur) saya berjalan-jalan. Kata orang berjalan-jalan dapat menjernihkan pikiran, bahasa kerennya saya sedang melakukan “Root Cause Analysis” atas gangguan ini. Kenapa saya tak bisa move on dari masa lalu? Dan kenapa tidak bisa men-syukuri masa kini? Dan mengapa pula saya khawatir akan masa depan?

            Saya pun mulai mengurutkan persoalan yang menurut sebagian orang ecek-ecek ini. Dan saya mendapatkan beberapa penyebab potensial atas hal ini. Beberapa merupakan hasil kontempelasi tidak penting berupa berjalan ke tengah sawah, beberapa merupakan obrolan dengan banyak orang. Dan saya harap, hal ini dapat membantu pembaca mengenai kekosongan hati, kekhawatiran diri, saat melihat masa lalu dan masa depan.


1. Kenangan Indah Masa Lalu

            Urusan ini bukanlah urusan yang mudah. Aneh memang, di saat sebagian orang bercerita mengenai penyesalan di masa lalu, saya justru mengangkat topik ini. Karena hal inila yang sekarang aktual terjadi pada diri saya; saya berharap kembali ke masa lalu. Dan saya pikir hal ini sebenarnya juga sering orang lain rasakan.

Masa kecil
            Pernah dengar perkataan,”Kuliah tidak semenyenangkan itu, nikmati sajalah masa SMA-mu.” Biasanya dikatakan oleh mereka yang menyandang gelar mahasiswa. Dan sekarang saya pun merasa, masa kuliah itu memang kadang menggoda untuk selalu dikenang. Tak hanya itu, bahkan saya masih teringat masa-masa dirangkul Mamak saya ketika hujan deras di depan rumah, ditemani pisang goreng dan teh hangat. Lalu Bapak bercerita mengenai hujan di desanya dulu. Anda tahu, bahkan saya terobsesi dengan kondisi tersebut, yaitu ketika saya masih kelas 2 SD! Entahlah, adakah di dunia ini fobia akan kedewasaan? Ya, terkadang saya benci bertumbuh.

Saya tak mau kehilangan teman-teman saya, karena entah bagaimana saya termasuk orang yang sulit move on atas suatu kejadian. Bahkan ketika membuka laptop dan menemukan materi kuliah, ingatan saya kembali ke masa itu, masa awal kuliah…

           
2. Kesempitan Yang Dirasakan Saat Ini

            Hal ini berkaitan erat dengan hal sebelumnya, yaitu bahwa sering kita merasa hidup yang sekarang tak seenak yang dulu. Bahwa hidup yang sekarang lebih banyak tekanan. Bahwa hidup yang sekarang, meski memiliki lebih banyak daripada yang dulu namun tetap saja terasa lebih menyenangkan yang dulu.


Kesempitan dup
            Contoh real-nya begini. Dulu jaman kuliah, dengan beasiswa saya, ditambah dengan uang hasil mengajar, ngobyek di sana-sini, kiriman ortu saat ada, paling banter hanya mencapai kurang dari setengah yang saya hasilkan sekarang. Namun hei, jika kita membayangkan keleluasaan yang saya miliki, beban yang saya hadapi, ingin rasanya saya kembali ke masa-masa di mana hari esok lebih menyenangkan untuk dinanti…

3. Kekhawatiran Akan Masa Depan

            Dan ini adalah hal terakhir yang sering kita—saya, tepatnya—hadapi terkait perjalanan hidup kita di dunia ini. Yaitu terkait kelangsungan hidup kita di masa depan. Bagaimanalah nanti?

Khawatir
            “Dapatkah aku memiliki rumah? Dapatkah akhirnya aku menikah?” Ya, seringkali orang-orang, khususnya yang masih awal bekerja dan jomblo yoi, bertanya-tanya mengenai hal itu. Belum lagi dengan impian membahagiakan ortu terlebih dulu. Bahkan ada pula pemikiran bagaimana arah kita berjalan di masa depan.

            Kekhawatiran-kekhawatiran ini sungguh membuat malas bangun di pagi hari. Karena bagi saya, seringkali semua hal tersebut hilang lalu muncul kembali. Dan saat paling pasti bahwa ia akan hilang hanyalah di saat tidur.

Baca lanjutannya di sini

0 komentar:

Posting Komentar