Senin, 26 Maret 2018

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,
                Cikarang hari ini masih seperti biasanya, panas agak kering berangin, serupa dengan tempat saya menghabiskan 15 tahun hidup saya—Semarang. Namun malam ini agak mendingan, karena musim pancaroba masih sanggup menjadikan uap air yang seadanya ini berkondensasi (Halah, ngomong aja gerimis sok-sok an puitis ya). Hingga gerah sedikit terobati oleh hembusan angin dingin yang sepoi-sepoi. Tetapi tetap, tak bisa menggantikan nyamannya Bandung yang mengisi 4 tahun hidup saya, cieeeeh.

                Lama tidak menulis, sepertinya saya perlu merenggangkan jari-jemari dan otak untuk merangkai sebuah cerita. Ditambah lagi ada permintaan dari wanita yang paling saya cintai setelah ibu saya. Katanya, sebelum menggenapi tulang rusuk saya dia sudah suka membaca dongengan di blog ini. Meski isinya campur aduk dari urusan test pack sampai demokrasi, dari tugas Teknik Mesin sampai cerita cebok pakai uang kertas hahaha. Nah sekarang, “Kok sepi?” begitu katanya. Ya terang saja sepi, dulu jaman kuliah itu lowong banget waktunya. Lha sekarang kan sudah mencari nafkah, ya makin lowong waktunya #eh. Cuma makin malas saja hahahaha.


                Baiklah, pada kali ini saya ingin bercerita tentang diri saya, diri kami mungkin lebih tepatnya. Tulisan ini tidak akan detail, takut membosankan. Dan memang ada beberapa hal yang lebih baik kami simpan, cukup dua keluarga besar kami yang tahu :)

Mengenai tulisan yang ada hikmahnya nanti-nanti dulu ya, ini sedang melemaskan jemari setelah vakum menulis lebih dari setahun. Ya walaupun kalau berdebat di medsos dengan para kecebong, isiser, atau assader (pembela assad la’natullah) juga mengharuskan saya menulis 1-3 paragraf hehe.

Prolog

Menikah memang asyik untuk dibicarakan, apalagi jika kau adalah jomblo. Dahulu, menikah bagi saya merupakan impian namun belum terbayang caranya untuk bilang ke Bapak,”Pak, aku pengen rabi.” Ya terang saja belum terbayang caranya, lha wong saat itu belum jelas kelayakannya kok. Kata Ustadz Felix, tanda paling nyata kita siap menikah itu jika waktu ngomong sama Bapak, beliau tidak menganggap anaknya sedang mabuk kecubung ataupun sedang latah ikut-ikutan April Mop gara-gara nonton Sponge Bob mengerjai Squidward. Namun merupakan pernyataan sikap (busyet, berasa jadi ketua BEM aja gue) yang nyata lagi realistis. Caranya? Ya tunjukkan, minimal apa yang bisa dilakukan bapakmu sudah bisa kau lakukan.

Ehehehe...

Karena biasanya standar bapak sendiri itu cukup mewakili standar calon mertua. Setidaknya bapak sendiri cukup tega untuk bertanya terang-terangan,”Arep mbok pakani opo anake wong?” (“Mau kamu kasih makan apa anak orang?”) Bagi saya, pertanyaan tersebut adalah dasar sebelum pertanyaan tingkat tinggi seperti mengenai kesiapan mental atau ilmu-ilmu pernikahan lainnya.

Dan untungnya, saat saya menyatakan ingin “main” ke rumah si dia, bapak saya hanya bilang,”Yakin udah siap? Enggak terlalu muda?” yang untungnya (lagi) sebelum sempat saya counter, mamak pun menimpali,”Lha emang njenengan dulu waktu nikah umur berapa? Kan sama-sama 24 tahun toh? Bahkan dulu njenengan masih kuliah di IAIN sambil kerja, lha ini Heri kan sudah punya pekerjaan tetap.” Pada malam itu, saya menyaksikan jarang-jarang bapak saya kalah argumen sama mamak hahaha.

Fit & Proper Test
               

                Saat saya “main” ke rumah calon istri waktu itu, langsung deh dihadapkan dengan seorang ustadz. “Apa fit & proper test-nya tidak cukup bapaknya aja ya?” pikir saya. Lalu dimulailah test tersebut, berkisar pada hal-hal berikut:

1.       Bacaan Al Qur’an saya. Ya alhamdulillah dulu sempat belajar tahsin sedikit-sedikit sama Kang Fadhli hehe.

2.       Permasalahan Tauhid: Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah, dan Tauhid Asma’ wa Shifat. Alhamdulilah dulu ada daurahnya di MPI Bandung, ada tesnya juga, dan akhirnya punya juga Kitab Tauhid tulisan Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan hehehe.

3.       Permasalahan Harakah Islamiyah: Yah agak-agak beda sedikit lah, tapi saya berikan kalimat sakti ini,”Lebih banyak persamaan di antara kita ya ustadz dibandingkan perbedaan minor yang ada. Insyaa Allah kita berakar pada hal yang sama dan bertujuan pada hal yang sama pula. Kita bekerjasama pada hal yang kita sepakati, dan saling menasehati serta menghormati pada hal yang tidak kita sepakati.” Wehehehe, besar sekali ya omongan saya.

Begitulah, singkat cerita akhirnya diskusi (test) tersebut selesai. Dan tibalah saat yang ditunggu; santai sambil ngopi dan ngemil, maklum, Bandung-Majalengka jauh bos hehehe. Pada saat santai inilah, baru urusan kesanggupan saya menjadi suami anak beliau diuji. Ternyata cukup terwakili dengan 3 pertanyaan yang saya jawab seperti berikut;

1.       Mas Heri serius kan? Saya jawab: Serius, insyaa Allah (easy one)

2.       Mas Heri kerja di mana? Saya jawab: Saya kerja di PT XXX Pak (another easy one, saya jelaskan pula produknya. Sudah macam orang marketing abal-abal saya ini)

3.       Kerjanya ngapain mas? Saya jawab: Ya maintenance mesin Pak hehe. (Another easy one again. Dan saya makin banyak bercakap karena menjelaskan pekerjaan kita pada orang lain itu menyenangkan hehe)

Yang bikin saya sangat nyambung dengan calon mertua, beliau juga orang pabrik. Ngerti mesin meski otodidak. Dan beliau juga paham soal industri pengemasan. Jadilah kami nyambung hingga tak terasa sudah sore, dan saya pun kembali ke Bandung (waktu itu saya masih ada kosan di Bandung, karena dulu sehabis lulus saya perpanjang setahun. Jaga-jaga, kali aja perlu stay di Bandung buat lamar kerja kesana kemari).

Calon mertua tidak pernah tanya berapa gaji saya, apa jabatan saya, sudah karyawan tetap atau belum. Bagi beliau, cukup laki-laki ini mau bekerja, itu sudah cukup. Justru bapak saya sendiri yang pernah bilang,”Kalau bisa nanti pas sudah nikah ya punya rumah, biar lebih tenang.”

                Sedikit nasehat bagi kita yang laki-laki. Ketahuilah, seburuk-buruknya seorang bapak, dia selalu ingin yang terbaik dan melindungi anak perempuannya. Sejak kecil diberi makanan yang terbaik, perkataan-perkataan yang baik (meski kalau di luar rumah omongan bapaknya isinya kebun binatang doang), diperlakukan selayaknya seorang putri. Maka jangan kaget jika mereka ingin memastikan orang terbaiklah yang akan menggantikan tugas tersebut. Minimal bisa memberikan yang setara dengan yang telah ia berikan. Ini hal yang wajar sekali, maka selayaknya pula jika mereka memberikan beberapa syarat bagi kita. Sekali lagi, hal tersebut wajar dan manusiawi. Maka sering pula kita lihat, betapa banyak bapak pengantin wanita yang menangis ketika melaksanakan Ijab Qabul. Karena dia sedang menyerahkan wanita istimewanya kepada laki-laki yang tidak ia kenal. Kalau dalam kasus saya mungkin cicak yang di atap waktu itu mikir,”Ini ada orang Jawa, item, cengengesan, makannya banyak, celananya jeans, sok akrab, tidak kenal latar belakangnya, eh berani-beraninya datang mau nikahin anaknya Pak Rojudin.”

Kalau kata Ustadz Felix, kurang pantas dan manly jika ada laki-laki yang berkata,”Semoga anak bapak siap hidup susah bersama saya”.

Lamaran

                Setelah menunggu beberapa waktu, tibalah saat mendebarkan itu: Lamaran. Bisa dibilang saya lulus tes berarti hehehe. Meski awal perkenalan kami tidak macam ikhwan akhwat yang taaruf, tapi kenal di Silat Perisai Diri, tapi saya tetap ingin berusaha sebaik mungkin. Ada perkataan ulama atau atsar yang berbunyi,”Rahasiakanlah khitbah, syiarkanlah nikah.” Maka saya pun memutuskan untuk lamaran hanya akan mengajak bapak saja. Agar cukup pantas, saya ajak pula dua sahabat saya yang waktu itu bekerja di Cikarang juga yaitu si Ucup dan Faiz. Ya lumayanlah, bisa bantu nyetir mobil mereka hehehe.
Lamaran diantar sahabat (ada bapak saya sih, tapi enggak kelihatan hehe)

                Singkat cerita, sampailah kami di rumah calon mertua saya. Bisa dibilang itu adalah pertemuan pertama bapak saya dengan calon mertua saya. Sudah begitu, saya lupa memastikan bahwa bapak saya masih ingat nama calon mertua saya lagi -_-

                Akhirnya, dengan cincin satu buah, resmi pula lamaran saya diterima. (Kenapa tidak sepasang? Buat saya, cincin itu sekedar tanda keseriusan saya. Bukan untuk dipamer-pamerkan bahwa saya telah “mengikat” dia. Sekedar hadiah yang dibawa agar terasa pantas.)

Dari kiri ke kanan: Calon Mertua, Ayah Tercinta, Saya 

                Alhamdulillah, lamaran sukses!


Next Story: D-Day!


Mau nikah apa mau mendaki Ciremai Mas?


No caption


0 komentar:

Posting Komentar