Sabtu, 09 April 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


            Pernahkah Anda merasa bahwa hidup berjalan begitu cepat? Kalau saya, jujur ada saat-saat di mana waktu terasa berjalan dengan sangat cepat. Bahkan begitu sering saya pikir. Yaitu, ketika week end.
            Namun, selain itu ada waktu pula ketika saya akan berujar,”Subhanallah! Ternyata saya sudah sedemikian tua ya!” Seolah tak percaya bahwa anak-anak kelahiran 1990an awal (saya 1993 lho Bro) sekarang sudah kepala 2, bahkan yang kelahiran 1990 sudah ada yang setengah abad lebih. Yaitu ketika saya kemarin ke Bandung dan membersihkan kamar kost-an saya.
Duh, kok seperti tidak terasa ya?  


Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Rabb-Nya, hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakan dan apa saja yang telah ia perbuat dari ilmu yang dimilikinya.” (HR. ath-Thirmidzi no. 2416, ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir jilid 10 hal 8 hadits no. 9772 dan hadits ini telah dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Ashahihah no. 946)
Suasana meja "belajar"

Kertas-kertas saksi pergulatan hidup seorang mahasiswa

Jeans rusak yang menjadi saksi percumbuan dengan pagi di Rinjani

Sudah tahulah kalian


Kotak HP yang HP-nya sendiri sudah pensiun

Terlihat hadiah wisuda pada suatu kantong yang tak akan pernah saya buang


Ya, beres-beres kamar


Karena kita harus Move On


Dan dimulailah suatu dilema dalam diri saya. “Apakah ini bisa kubuang? Bagaimana kalau yang ini saja? Memang mau buat apa kalau tidak dibuang?” Sungguh, sedihlah saya memikirkan semuanya.       
Teringat masa-masa awal saya merantau. Pemuda tanggung yang bahkan tak pernah meninggalkan Semarang, tanpa sanak saudara (darah), tanpa pengalaman, dan bahkan tanpa kejelasan tempat tinggal. Ditempa kesulitan hidup ketika beasiswa dicabut karena kesalahpahaman administrasi, untuk kemudian sadar bahwa hidup bergantung pada beasiswa itu kurang manly. Maka ia pun memilih mencari tambahan uang, agar bisa setidaknya membeli baju layak pakai dan makan sedikit lebih bergizi. Mereguk pengalaman yang mungkin tak akan saya dapat jika masih saja bertahan di Kota Asal.
Kemudian mulai menjalani semester demi semester, menemukan keluarga baru, teman-teman baru. Ospek, pertandingan, kuliah, kerja praktek, ngajar, mroyek, TA, dan akhirnya wisuda. Semua hal itu adalah kenangan. Semuanya adalah bagian dari suatu siklus keidupan. Semuanya adalah, sebagian diri saya. Lalu, kini saya harus membuangnya?
Tetapi saya ingat, bahwa otak manusia terbatas dalam menempatkan memori sebagaimana perkataan Sherlock Holmes. Dan justru ada banyak hal yang lebih berhak mendapatkan perhatian; Masa Kini. Maka yang saya lakukan adalah menyortir barang-barang/kenangan yang masih relevan dan membuang/menghapus yang lainnya. Demi menyediakan pada memori yang lebih indah.

“Kita harus menyingkirkan hal-hal yang sudah tidak berguna.



Karena selain untuk membersihkan ruangan dan meringankan beban, juga untuk menyediakan tempat bagi yang lebih baik.”





NB: Dengan saya yang mencari nafkah di Kabupaten Bekasi, rumah orang tua di Semarang, dan kost-an di Bandung, maka saya pun mulai kesulitan mendefinisikan kata “Pulang”.

0 komentar:

Posting Komentar