Minggu, 21 Februari 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


            Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan versiku yang tak pernah orang lain lakukan. Dengan cara yang bahkan tak pernah kita pikirkan. Dengan segala keterbatasan yang akan menguatkan.

            Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Bahkan meski semuanya masih tampak kelabu di ujung sana. Bahkan meski seperti tak ada harapan lagi yang tersisa. Bahkan meski ketika kita seolah berjalan sendirian melawan kerasnya dunia.

            Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Sesederhana kata yang selalu kuucapkan ketika mengingatmu. Sesederhana kata yang menari-nari di garis waktu. Sesederhana kata itu. Rindu.


            Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Seperti irama hujan yang memasuki kamar melalui jendela. Seperti suara tempias air yang berdendang di ujung telinga. Seperti suara pendingin udara yang bergetar menyelusup jiwa.

            Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Layaknya rumusan Einstein tentang energi dengan huruf E, M, dan C-nya. Layaknya rumus kimia dari air dan beberapa senyawa. Layaknya aku hapal di luar kepala bahwa tekanan adalah pembagian gaya oleh area.

            Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan hukum dasar yang memastikan tanpa energi eksternal air akan selalu mengalir ke bawah. Dengan pengetahuan dasar bahwa yang harus dihukum adalah mereka yang salah. Dengan kaidah dasar bahwa air akan menjadikan basah.

            Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Sebagaimana cinta yang menjadikanku hadir ke dunia ini. Sebagaimana cinta ayahku yang terwujud dalam tanggung jawab setengah mati untuk mencukupi. Sebagaimana cinta ibuku akan kesetiaan tanpa syarat kecuali syari’at untuk menaati.

            Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…

Namun maafkan aku, aku tak bisa. Karena entah kenapa engkau masih menjadi misteri rumit yang jawabnya hanya pada kitab di Langit Sana.

            Bagaimanakah aku akan mencintaimu dengan sederhana? Dengan kaidah dan kisah cinta mereka? Bagaimanakah aku bisa mencintaimu dengan sederhana, jika untuk mencintaimu saja belum bisa?

            Tetapi aku akan selalu berusaha mencintaimu dengan sederhana. Dan langkah itu aku yakinkan, akan aku mulai ketika ayahmu menyerahkan dan aku menerima.


Note:
Terinspirasi oleh sajak yang sangat indah oleh Sapardi Djoko Damono, Penulis Buku “Hujan Di Bulan Juni”.

1 komentar: