Minggu, 04 September 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under :


                Beberapa waktu belakangan ini saya memang jarang menulis. Entahlah, saya sendiri tak mengerti. Dan dapat dipastikan, efek langsung dari macetnya tulisan adalah semakin ramainya saya berdebat di medsos. Saya pikir, kini saatnya saya kembali melemaskan jari sambil mengisi blog yang satu ini.

                Oke, saya akan bercerita mengenai pengalaman saya menonton film. Mari kita mulai ceritanya…

Pemeran Utama

                Saya berani bertaruh, dalam semua—setidaknya sebagian besar—film pastilah ada yang namanya pemeran utama. Tak peduli jika film itu bercerita mengenai serombongan superhero yang tawuran atau manusia “setengah dewa” yang tidak jadi mati gara-gara memiliki nama ibu yang sama dengan calon pembunuhnya. Baik jika film itu sekolosal LOTR atau pun sekedar FTV picisan yang diangkat jadi layar lebar. Semuanya pasti memiliki pemeran utamanya bukan?


                Nah, dalam beberapa kesempatan, saya menemukan bahwa yang menjadi pemeran itu tak mesti yang paling baik. Bahkan pada beberapa kasus, justru yang sering sial itu yang jadi pemeran utama. Tak mesti pula mereka yang paling pandai, karena film sedang bercerita tentang serunya mencontek jaman SMA. Bahkan dalam film “You Are an Apple of My Eyes”, kisah cinta tokoh utamanya tidak berakhir baik-baik saja bukan? Hidup mereka tidak selalu mudah bukan?

                Tetapi, apa lalu kita protes dengan Ganool karena memberikan link film yang tokoh utamanya tidak mengalami happy ending? Tidak kan? Dan mereka yang hidupnya sempurna, lempeng, baik-baik saja, justru hanya dijadikan pemain figuran.

Maksudnya Apa?

                Nah, dari ilustrasi di atas saya tidak sedang ingin memprovokasi pembaca agar mengalami hidup yang seru atau apalah namanya. Justru di sini saya ingin membuat sebuah refleksi, bahwa sejatinya diri kita adalah pemeran utama dalam “film” kehidupan kita masing-masing. Sebuah peran yang jarang kita sadari sepenuhnya. Penyebabnya bisa macam-macam, namun yang paling sering adalah karena kita tidak menyadari bahwa kitalah pemeran utama dalam hidup kita. Karena kita terlalu sering “melirik” para “pemeran figuran”, bisa tetangga, teman kerja, atau sekedar orang yang jarang kita jumpai. Atau bisa jadi orang yang tidak mengenal kita. Kita terlalu sering melihat kehidupan mereka, betapa beruntungnya mereka, betapa nikmat dan lempengnya hidup mereka.



Dan inilah yang membuat kita seringkali merasa tersisih, tidak bahagia akan kehidupan kita. Dan merasa bahwa kita hanya pemeran figuran dalam kehidupan kita sendiri!

Lalu kita berusaha tampil seperti mereka, berusaha terlihat bahagia. Padahal buat apa? Belum tentu juga ada orang lain yang mau melihat kita kan? Padahal sekali lagi, justru merekalah pemeran figuran dalam “film” kehidupan kita.

Maka sejak sekarang, mari berjanji untuk selalu fokus pada film kita sendiri. Atau setidaknya jika mau memperhatikan, perhatikan tokoh-tokoh protagonis kehidupan kita seperti keluarga atau sahabat. Berjanji untuk menjalani kehidupan ini sebaik-baiknya, agar nanti ketika film ini diputar kembali pada hari di mana semuanya ditampilkan, kita dapat melihat diri kita yang bahagia dan melalui kehidupan yang layak untuk dikenang.

0 komentar:

Posting Komentar