Sabtu, 01 Oktober 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , ,


                Beberapa hari belakangan ini sedang sangat ramai mengenai Mukidi. Mulai dari grup WA, Line, hingga sebaran di Facebook. Well, saya memang cukup aktif di medsos sih hehe. Dan sampai sekarang saya masih belum paham (si)apa dan bagaimana sebenarnya Mukidi itu. Apalagi soal Mukidi yang gemar menuduh seseorang masuk organisasi terlarang. Ah, entahlah, mungkin dia sedang mabuk amplop.

Kodok Mukidi


                Justru kali ini saya ingin berbagi pemikiran saya mengenai kodok. Yap, kodok rebus. Lebih tepatnya, mengenai cara merebus kodok.

Merebus Kodok


                Tentu Anda semua sudah mahfum mengenai peristiwa bahwa kodok tidak akan melompat dari air yang dipanaskan perlahan, hingga sudah terlalu terlambat. Dan itu, seringkali dibahas oleh mereka-mereka para aktivis pakai “P”—aktipis—itu. Pembahasannya pasti di sekitaran hal itu, yaitu mengenai kehati-hatian agar tidak menjadi kodok rebus dalam sebuah permainan. Permainan apapun itu. Kalo buat aktivis yang kajiannya merah jambu mulu, jangan sampai jadi kodok rebus harapan kosong—ceileeeeeeh….

                Kini fenomena rebus-merebus itu tak hanya berkaitan soal menghindari menjadi kodok rebus. Lebih dari itu, ada pertimbangan (yang katanya) strategi dimasukkan. Akhirrnya, banyak teman-teman yang tertarik untuk memanfaatkan filosofi merebus kodok ini sebagai salah satu jalan menggapai mashlahat. Bahasanya,”Ini strategi, Kawan…”

                Apakah ada yang salah dengan menggunakan strategi dalam suatu hal? Oh, tentu tidak. Tidak ada yang salah. Apalagi jika ranah tersebut ditarik pada urusan lebih besar, yaitu benturan antara yang haq dengan yang bathil, maka tidak ada yang masalah dalam bermuslihat. Karena,

“Perang adalah tipu daya.”
-Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam, dalam HR. Bukhori No. 3029-

Bahkan dalam perang pun diperbolehkan mundur jika akan memberikan efek kejut. Jadi ya strategi itu tidak masalah.

Masalahnya?

                Ya, jadi apa masalahnya?

Masalahnya ada banyak. Salah duanya adalah mengenai definisi soal mashlahat dan bahwa terkadang ada kerancuan mengenai siapa merebus siapa.

Definisi Mashlahat

Yang pertama,  definisi mengenai mashlahat. Terkadang, ada beberapa orang yang terlalu berlebihan dalam memandang mashlahat. Seringkali, pertimbangan mashlahat menjadikan pertimbangan ilmu menjadi kabur. Dengan berpikir bahwa jika saya lakukan X maka setidaknya peristiwa B tidak terjadi menjadikannya hanya berlogika sampai di sana. Urusan bahwa dalam melakukan X berarti menabrak aturan D, E, F, G, sampai Z tidak masuk hitungan dulu. Ya pertimbangannya itu, takut B terjadi. Setidaknya yang terjadi adalah A. Lah, kalau begini, bukan berlomba demi mashlahat yang ada, namun hanya masuk permainan lawan demi mengejar madharat terkecil. Jadi, tak perlu bermanis kata dengan mengutarakan bahwa kita sedang memperjuangkan mashlahat, karena nyatanya kita masih pada fase lebih rendah dari itu, yaitu memilih mudharat yang paling kecil!

Jadi, ada dua masalah juga di sini: Masuk permainan lawan dengan melanggar aturan kita sendiri dan kepedean dengan menyebut sedang memperjuangkan mashlahat, padahal aslinya hanya sedang menurunkan mudharat.

Siapa Merebus Siapa?

Swike Rebus

                Masalah ini malah lebih mengerikan lagi. Dengan rasa pede yang lebay, bisa saja kita berkata,”Ini strategi, Kawan…”

                Bahwa kita yakin jika lawan sedang mengikuti permainan kita. Bahwa tidak bijak jika kita menyuarakan sesuatu secara terang sekarang dengan alasan,”Tenang Kawan, kita sedang merebus mereka!” Tapi semuanya tetaplah harus dipertimbangkan dengan matang.

                Kita semua sepakat, ketika kita berusaha memakai filosofi merebus kodok, maka mau tak mau kita sedang berusaha “terlihat” mengikuti alur yang diinginkan lawan. Artinya kita sedang menggunakan alat atau aturan lawan untuk mengalahkan mereka sendiri—begitu harapan kita. Artinya pula, kita sedang terlihat “menyimpang” dari aturan main kita sendiri. Masalahnya, bagaimana jika ternyata kita tak sekedar terlihat, namun benar-benar (sedikit) lupa dengan jalur awal kita?

                Ya, ternyata lawan membiarkan kita menang pada hal-hal kecil adalah agar kita lupa—tidak waspada—bahwa kita sedang berkecimpung dalam pancinya. Kita sedang dijauhkan dari sungai pemikiran kita sendiri, hanya untuk dibiarkan bersantai dalam air tak berarus yang bernama panci rebus. Lupa bahwa memiliki cara mainstream kita sendiri. Lupa bahwa tujuan kita TIDAK SEKEDAR urusan calon pemimpin yang paling MENDINGAN (bukan yang paling baik loh), aturan yang mengakomodir SEDIKIT kemauan kita, jumlah kursi EMPUK sekian belas, dan urusan kebolehan berpakaian tertutup. Itu semua baik, tapi tidakkah kita lupa bahwa itu semua BUKANLAH KEMENANGAN SEJATI?

Sedikit demi sedikit lawan sedang merebus kita, hingga akhirnya kita tidak merasa sedang direbus, lalu ketika semua sudah terlalu terlambat, kita tak bisa melompat keluar. Bisa karena sudah terlalu lemah untuk melompat atau karena bibir panci telah ditutup rapat!

Contoh panci yang tertutup rapat tinggal tengok negeri pemilik Terusan Suez tahun lalu.

Contoh kodok yang keenakan berendam, yah, liat aja Swike di warung itu hehehe.


0 komentar:

Posting Komentar