Rabu, 15 Juli 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under :

Hari ini hari yang sama, sayang
Debu, panas, dan beberapa suara yang familiar
Meski kau lihat wajah yang berbeda
Sejatinya cerita ini tetap sama


Hari ini masih sama, sayang
Ketika jalanan di sana tak lebih dari lorong kosong
Dan bangunan lebih mirip tempat petak umpet
Tanpa bekas meski sekedar kotoran unta



Hari ini hari yang seirama, sayang
Karena bahkan manisnya puding buatanmu
Dengan taburan kismis dan kurma di atasnya
Bagai makanan surga bagi mereka
Sepertinya



            Hari ini tak ada yang berbeda, sayang
            Setiap berapa menit reflex melihat ke atas
            Setiap lima belas menit berbicara pada handy talky
            Setiap sepuluh menit melihat dengan teropong—bukan bintang
            Setiap setengah jam ada saja suara petasan



Hari ini masih saja sama, sayang
Kata orang selepas senja aku dapat makan
Namun bagaimanalah aku akan makan?
Jika ada orang tua dan anak-anak sampai menyembelih kucing?
Sementara wilayah sebelahnya telah bertahun-tahun diblokade keturunan kera dan babi?



            Hari ini kurasa tak berubah, sayang
            Anak-anak yang menatap nanar
            Anak-anak yang menangis
            Anak-anak yang tercabik perang
            Anak-anak yang menderita



Hari selalu saja sama, sayang
Mari menunggu kemenangan
Bagi orang yang menunggu
Bagi aku, kau, dan mereka


           
                                                                                                                                                                    
Note1: Ditulis sebagai ungkapan kesedihan akan keadaan Syam dan bumi islam lainnya. Yang tercabik perang di bulan Ramadan ini. Karena di saat saya sedih Ramadan akan pergi, ada bagian umat ini yang setiap harinya terasa Ramadan. Tanpa makanan, panas, dan bahkan harus bersapa dengan kematian. 

Note2: Syam adalah wilayah yang luas, mencakup Suriah, Palestina, dan wilayah sekitarnya. Semuanya kini sedang menderita.

0 komentar:

Posting Komentar