Kamis, 20 Agustus 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


            Hari ini saya akan bercerita mengenai apa yang saya dapat berdasarkan ingatan saya yang lemah dan catatan yang payah—semoga Allah Menambah kebaikan ingatan dan catatan saya. Yaitu mengenai hikmah Surah Asy-Syura ayat 13, terjemahannya kurang lebih begini:


“Dia (Allah) telah Mensyariatkan kepadamu agama yang telah Diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami Wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami Wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan ‘Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah Memilih orang yang Dia Kehendaki kepada agama tauhid dan Memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS 42: 13).



            Coba baca terjemahan ayat itu (kalau sama tafsirnya, lebih bagus sih hehe), apa yang kalian dapat? Ya, ayat itu menyebutkan 5 lima manusia terbaik; Para Ulul Azmi. Secara bahasa, Ulul Azmi dapat diartikan sebagai “Sang Pemilik Azzam”. Sebenarnya, pada malam itu dibahas tentang tafsir mengapa jika kepada selain Nabi Muhammad kata yang digunakan adalah “wasiatkan”, sedangkan pada beliau “syariatkan”. Juga mengenai kelonggaran para ulama dalam menggunakan kisah umat terdahulu untuk memberikan semangat akan keutamaan suatu amalan, namun begitu ketat dalam menyeleksi kisah terdahulu jika mengenai penetapan suatu hukum. Juga dibahas tentang syariat yang masih dipertahankan Allah untuk umat terkini, dan syariat yang telah digantikan.

            Yang paling perlu dipahami, boleh jadi syariat setiap Rasul itu berbeda-beda. Namun, dien (agama, undang-undang, jalan hidup, ideologi) mereka semua sama: Islam dengan tauhidnya. Tauhid, yang artinya hanya memberikan hak sebagai tuhan kepada Allah semata.

            Namun, pada tulisan ini, saya lebih ingin berbagi mengenai kelima person yang disebutkan di atas. Mereka yang mendapatkan gelar keren berupa “Sang Pemilik Azzam”. Sebuah gelar yang bahkan tidak Allah Berikan pada manusia pertama.

[Perhatikan Surah Thaha:
Dan sungguh telah Kami Pesankan ** kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa, dan Kami tidak dapati kemauan yang kuat padanya.(Q 20:115)
------------------------------------------------------------------
**Pesan Allah ini tersebut dalam Q.S. 2 al-Baqarah: 35
Pada surah tersebut, dikatakan bahwa Adam Alaihissalam dikatakan tidak memiliki kemauan yang kuat (azzam), padahal kesalahan beliau “hanya” sekedar urusan makan buah. Simpel kan? Macam kalau kita tidak boleh nyolong mangga tetangga, tapi iseng saja dilempar-lempar sandal. Dan kita dengan entengnya bilang,”Alaaaaah, mangga doang kok.” Tapi hukuman buat beliau sangat berat: diusir dari surga bro!

Lalu bagaimana dengan kita yang sering melanggar perintah Allah yang lebih berat? Hikmah pertama;

”Janganlah melihat pada kecilnya pelanggaran yang kau lakukan, namun lihatlah keagungan Dzat yang kau maksiati dengan pelanggaran itu.”
]

            Kembali kepada urusan Ulul Azmi tadi. Selama ini, kita mungkin hanya memahami cerita para Rasul terbaik itu “sekedar” dari mukjizatnya. Seperti Nuh dengan bahteranya, Ibrahim dengan aksi pembakarannya, Musa dengan tongkatnya, Isa dengan kemampuan penyembuhan dirinya (Dan terkait hal ini, saya pernah debat dengan orang agama sebelah yang menuhankan beliau terkait mukjizat ini), dan Muhammad dengan Isra’ Mi’raj-nya.

            Cerita-cerita di atas memang spektakuler, dan seru untuk diceritakan. Cerita seperti itu mungkin menarik sebagai cerita pengantar tidur anak-anak kita (buat saya, masih nanti :p). Namun, jika kita hanya melihat kisah itu secara lahiriah/normatif tanpa mengambil esensinya, lama-lama bosan juga. Apalagi ketika kita telah dewasa, dan tahu bahwa di zaman sekarang agak sulit menemukan relevansinya. 

            Karena sebenarnya yang lebih penting bukan bagaimana bentuk mukjizat itu, tapi mengapa mukjizat itu harus ada. Bahwa dalam cerita-cerita mereka terdapat ibrah luar biasa mengenai kemampuan untuk tetap teguh dalam mengikuti perintah Allah (azzam) dan tentang kelurusan manhaj-nya. Tentang cara-cara penegakan agama, dan tentang agama macam apa yang harus kita tegakkan itu.

1.       Nuh alaihissalam

Perhatikanlah tentang manusia dengan durrability yang tidak manusiawi ini. Bagaimana beliau berdakwah “…selama tahun kurang lima puluh tahun…” (QS 29: 14), dan selama itu pula pengikut beliau sangatlah sedikit. Menurut para ahli tafsir dan sejarahwan, umatnya antara 7 dan 88 orang. Perhatikanlah, jika prestasi dakwah diukur dengan pengikut, maka beliau mungkin Rasul yang paling suram prestasinya.

Namun, mengapa Allah Menganugerahi beliau gelar keren tersebut. Ternyata, prestasi beliau adalah kesungguhan dan kesabaran untuk berdakwah. Kasarnya, siapa yang mungkin mengejar prestasi dakwah beliau jika parameternya adalah durasi? Bahkan Rasulullah pun usia dakwahnya “hanya” 23 tahun. Dari sini kita belajar tentang dakwah sebagai manhaj para Nabi dan Rasul, dengan kesungguhan yang tak boleh main-main. Siapa pun kita, tak ada pemakluman untuk meninggalkan dakwah. Namun juga harus diingat, tak ada pemakluman dalam kemalasan mencari ilmu, sehingga dakwah yang salah akibat kurangnya ilmu karena kemalasan mencari ilmu (failure root cause analysis nih hehe) juga tidak dapat ditolerir.
 
2.       Ibrahim alaihissalam

Nabi Ibrahim, bapak para nabi. Apa yang bisa kita pelajari dari beliau?

Pada zamannya, ternyata kebathilan telah mencapai derajat yang akut. Sehingga, beliau hanyalah satu-satunya manusia di antara masyarakatnya yang masih memiliki otak; yaitu bahwa patung itu bukan (perwujudan atau perantara) tuhan. Bahkan ketika beliau menghancurkan patung-patung kerajaan buatan ayahnya, beliau ini sendirian. Beliau tak punya organisasi, di mana beliau cukup mengonsep gerakan lalu membiarkan anak buahnya untuk turun ke jalan. Beliau yang berpikir, bergulat dengan pikirannya, dan mengeksekusi pemikiran itu. SENDIRIAN!

Ada hikmahnya pula mengapa beliau yang satu orang disebut sebagai umat dalam Al-Quran.  Yaitu agar orang-orang yang mengikuti beliau tidak merasa kesepian meskipun mereka hanyalah kafilah yang sepi. Karena kewajiban menegakkan agama ini tidak menjadi hilang akibat sedikitnya kawan. Karena iqomatuddien adalah fardu ‘ain.

Selain itu, beliau juga mengajarkan kita untuk tidak selalu mempertanyakan alasan dibalik suatu perintah. Karena Allah tidak Membebani kita tentang hal itu. Dia hanya Ingin kita tahu apa Yang Dia Mau, lalu lakukan sebaik-baiknya. Seperti perintah pada beliau untuk membawa putranya ke daerah terpencil bernama Mekah. Dan oleh karenanya tak penting kita tahu keburukan makan babi. Yang penting, jangan makan babi. “Karena keajaiban menguatkan iman, dan keimanan akan melahirkan keajaiban” –Ustad Salim A. Fillah

3.       Musa alaihissalam

Nabi yang lahir di Mesir ini, memberikan hikmah bahwa Allah-lah Sebaik-baik Sutradara. Bahwa manusia hanya bisa berencana, dan Allah Sang Penentu. Bayangkanlah, betapa strategis langkah dari Fir’aun. Sebagai orang besar, dia telah mendapat firasat mengenai kejatuhan kerajaannya. Lalu ia memerintahkan pembunuhan setiap lelaki dari kaum yahudi. Sebuah langkah cerdas dari salah satu ahli perang dan politik terbaik yang pernah lahir—sayang, dia menuhankan dirinya.

Manusia boleh membuat makar. Namun Allah adalah Sebaik-baik Pembuat makar. Dan Allah Mengilhamkan pada Ibu Musa untuk menghanyutkan bayinya. Dan jika perintah Tuhan kita timbang dengan logika, hal ini terasa konyol. Orang sedang bingung menyelamatkan generasi penerus, darah dagingnya sendiri, kok malah suruh dihanyutkan. Kalau dimakan ikan gimana coba?

Tetapi Allah dengan skenario-Nya yang indah memberikan Musa kembali ke pangkuan ibunya. Dan akhirnya Musa selamat. Dan betapa terkadang orang-orang terdekat tidak sepemikiran dalam dakwah ini. Bisa jadi tetangga, saudara, anak, istri, bahkan mungkin orang tua. Dan tugas kita untuk mendakwahi mereka.
(Sehingga hendaklah niat menikah kita demi perjuangan dakwah, tak semata karena kata menye yang disebut sayang dan cinta. Bahwa menikah adalah jalan untuk mendekatkan diri pada jannah nanti, bukan sekedar penghalalan farji’)

Dan jika pembaca ingat mengenai kisah pengejaran Musa oleh Firaun sang super power jaman itu. Musa, tak punya senjata, tak punya kekuatan, tak punya wilayah/negeri. Tapi Allah Selamatkan mereka, meski akhirnya para yahudi itu jadi umat yang tak tahu diri.

4.       Isa alaihissalam

Kisah tentang Rasul yang satu ini sejatinya masih bersambung di akhir zaman ini. Namun, kita tak boleh lupa betapa beliau telah dikhianati kaumnya. Para bankir yang berdagang uang di Baitullah/ Bethlehem. Kisah tentang beliau mengajarkan pada kita, bahwa sebaik apapun manusia, maka dia adalah manusia. Tak boleh dilantik jadi tuhan. Karena hal itu bagaikan anak SMA melantik mahasiswa Teknik Mesin ITB jadi anggota HMM (Himpunan Mahasiswa Mesin).

5.       Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam

Rasul terbaik, sang pemberi syafaat, suami paling lembut, komandan perang yang cerdas, ramah, namun tetap manly ini tak akan bisa dibahas dalam tulisan ini. Namun satu keistimewaan yang wajib kita ketahui: Beliau satu-satunya Rasul yang “dibebani” amanah untuk berdakwah ke seluruh manusia, bahkan seluruh alam (jin dkk wajib tunduk juga). Rasul lain “hanya” kepada umatnya saja.

Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Matius 10: 5-6)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menegur Umar r.a, ketika ia membaca al-Qur’an dan Taurat secara berganti-ganti untuk memperbandingkan, kata beliau SAW pada sahabatnya itu : “Buanglah itu! Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada  ditangan-Nya, seandainya Musa As masih hidup sekarang, maka tidak halal baginya kecuali harus mengikutiku, akulah penghulu para nabi dan akulah penutup para nabi.” (HR Ahmad, III/387, di-*hasan*-kan oleh Albani dlm *Al-Irwa’* VI/34 & *Al-Misykah* I/38)




Baik, itulah salah satu hikmah dari kisah Ulul Azmi; tentang kelurusan manhaj mereka. Bahwa kesabaran dan keteguhan hati dalam berdakwah pasti sudah tidak asing di telinga para aktivis dakwah. Saya sih belum jadi aktivis dakwah :)

Jika ada manfaatnya, silahkan diambil dan share postingan ini. Jika ada kesalahan, kritik yang berdalil akan saya terima dengan lapang dada.


0 komentar:

Posting Komentar