Jumat, 02 Oktober 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


Pada saat HUT TNI ke-69, saya ‘menghujat’ anggota (hewan eh) dewan yang banyak cakap dengan berkata bahwa perhelatan pameran senjata di Markas Koarmatim sebagai pemborosan. Bahwa katanya tidak pas dengan momen bayangan harga BBM yang akan naik. Entahlah, apa yang sebenarnya ada di pikiran mereka. Kalau bagi saya, saat itu adalah waktu yang tepat untuk menggaungkan hal berikut; 

"Ini lho kekuatan militer kami. Terbesar semenjak tahun 60an. Setelah puasa akibat beli rongsokan dari Barat dan akhirnya kena embargo itu, akhirnya TNI kembali berotot. Negara-negara tetangga yangg usil macam “kanguru” atau “si upil” jangan ganggu kami, atau pulau kecil kami ratakan dengan R-Han dan D*rwin di serbu Marinir!"




Tapi untuk kasus HUT ke-70, saya berpikir ini adalah pemborosan. Kenapa?

1.      Ekonomi meroket om! Sayang, roketnya jenis udara-ke-darat (Air-to-Ground-Missile, AGM). Jadi menukik langsung macem AGM Maverick.

AGM Maverick



2.      Yang digunakan life ammo alias amunisi hidup. Gunanya buat apa? Tidakkah ini pemborosan? Kalau untuk latihan sungguhan bolehlah, sedangkan ini “sekedar” demo yg saya pikir tidak mengasah doktrin tempur sungguhan—sotoy mode on. (lihat: http://arc.web.id/galeri/711-3-hari-jelang-hut-tni-makin-marak)

Dan pemborosan di tengah kondisi seperti sekarang juga saya pikir kurang bijak.

3.      Tidak ada alutsista baru yang ditampilkan. Semua adalah hasil pembelian/pengembangan jaman MEF 1 (2009-2014). Paling kalau ada yang baru itu “hanya” pengiriman dari kontrak-kontrak yang dulu. Bahkan ada isu karena rupiah jeblok pembelian beberapa alutsista harus direvisi kuantitasnya. Apa tidak sebaiknya uang pameran itu digunakan untuk persiapan latihan saja? (Kalau yang ini murni opini pribadi. Mari kita tunggu apakah ada penampakan alutsista baru.)
4.      Kabut asap, Kasus Lumajang, dan lainnya seolah menegaskan bahwa kondisi sosial kita sedang sakit. Bahwa ada yang aneh dengan masyarakat kita. Entahlah apa itu. Lalu demo ini seolah mengizinkan saudara kita yang sedang dirundung musibah untuk berkata,"Situ main kembang api di Cilegon, kami mah mati kena asapnya." Bahkan sampai ada netizen yang minta Kalimantan diserahkan pada malaysia. Kenapa life ammo itu tidak diarahkan ke S*rawak saja dan dana yang ada dipakai untuk menyewa pesawat pemadam dari Rusia? Jaman SBY jg gitu kan?

(Baca puisinya di http://jakartagreater.com/potensi-ancaman-kedaulatan-bangsa/

“Dear Yth. Presiden RI Joko Widodo,

Titik api di sekitar kami bukanlah simbol kemarahan Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa, tapi simbol keserakahan dan bukti ketidakpedulian Negara terhadap daerah.

Bapak mau kesini sekarang?

Bandara ditutup pak, lagipun tak ada anak sekolah yang menyambut bapak, sekolah diliburkan.

Mau menempuh jalan darat?

Bahaya Pak, asap tebal tidak bagus untuk kesehatan Bapak dan Ibu Iriana.

Biarkan saja seperti ini agar Kalimantan menjadi lahan tambang, lahan sawit dan bisa ditanam tanaman industri, kami ikhlas mati pelan-pelan karena ISPA, karena ketidakberdayaan kami di sini. 

Kami pasrah, mungkin ini kehendak Allah SWT Tuhan YME.

Bagi saudara/i kami di daerah lain, kami sangat berterima kasih atas do’a yang selalu kalian panjatkan, mohon maaf karena kiriman asap Kalimantan, kalian jadi terganggu.

Udara di Kalimantan berstatus bahaya. Berita dari berbagai media katanya Kalimantan sudah tidak layak huni lagi karena 5% udara yang bersih yang bisa di hirup.

Pemerintah pusat sudah tidak peduli pada kami. Hari ini puncaknya 9 jt rakyat Kalimantan akan terkena kanker paru-paru, terutama anak-anak. Sepertinya lebih peduli pada kekisruan internal ditubuh istana dari pada nasib Kalimantan.

Padahal Kalimantan salah satu penyumbang devisa terbesar negara.

Belum lagi usai Bencana Asap kami sudah dihadapkan lagi pada limbah tambang batubara yang mencemari aliran sungai di pertanian maupun peternakan, serta turun nya harga sawit sangat parah.

Semoga Pemerintahan Pusat dan Daerah bisa melihat sedikit bencana yang kami hadapi dan memberikan solusi jalan keluarnya atau serahkan saja Kalimantan sepenuhnya oleh Malaysia dan Brunei.

Tolong sebarkan karena media TV dan Koran tidak banyak memberitakan tentang hal ini, terlalu sibuk dengan pemberitaan Kepentingan Pribadi dan Kelompok semata di dalam Istana.

Kami hanya bisa berharap pada do’a, sebelum rakyat Kalimantan mati perlahan disini.

#PrayForKalimantan”
)

Entahlah, saya sebagai fansboy militer tentu senang jika ada aksi kembang api di Cilegon. Tapi, kalau tak ada senjata baru saya berani bilang hal ini mubadzir. Toh ga ada efek geopolitis maupun geostrategisnya. Wong sudah pernah ditunjukkan tahun lalu kok.

Tapi, yaaaah, ‪#‎bukan_urusan_saya sih :)

Note: Lama tidak menulis, sekalinya menulis langsung pesan sarkastik. Maaf jika tidak nyaman membaca tulisan saya. Sekedar geregetan tapi belum bisa melakukan aksi nyata yang berdampang besar pada perbaikan negeri ini. Maafkan aku negeriku :(

Note2: Saya tak pernah mendukung disintegrasi. Hanya berusaha mengabarkan kepedihan saudara-saudara kita di luar Pulau Jawa. Saya pernah sekali ke pulau Bangka atau Lombok, memang berbeda greget pembangunannya.

0 komentar:

Posting Komentar