Senin, 05 Oktober 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,



            Beberapa waktu yang lalu saya pernah melakukan wawancara kerja dengan suatu lembaga bimbingan belajar. Yah, itung-itung buat mengisi waktu luang dan menyambung hidup dari hari ke hari. Pada wawancara tersebut, ada satu hal yang tiba-tiba tercetus. Karena suasananya santai, saya pun bisa seenaknya menjawab hehe.

Q         : Ceritakan secara singkat tentang diri Anda.

H         : Saya adalah orang yang pragmatis.

            Tentu Bapak tersebut sangat terkejut. Dalam pikiran beliau (saya tebak), orang yang pragmatis adalah orang yang culas. Orang yang hanya memikirkan untung rugi saja. Menilai segala hal hanya dengan ukuran apa untungnya bagi saya, apa ruginya bagi saya.


            Pun pengertian tersebut sesuai dengan pengertian saya. Atau agar baik, mari kita lihat artinya dalam KBBI:

pragmatis/prag·ma·tis/ a 1 bersifat praktis dan berguna bagi umum; bersifat mengutamakan segi kepraktisan dan kegunaan (kemanfaatan); mengenai atau bersangkutan dng nilai-nilai praktis; 2 mengenai atau bersangkutan dng pragmatisme (http://kbbi.web.id/pragmatis)

            Ya, sebenarnya pragmatis dihubungkan dengan urusan lebih mementingkan aspek kepraktisan/praktikal daripada teoritikal. Tapi baiklah, pada pembahasan ini saya akan lebih menggunakan pengertian yang telah mengalami pergeseran makna: Memandang sesuatu hanya dengan penilaian akan kebermanfaatannya (pada diri). Atau bisa juga "hanya" melihat hasil yang (mungkin) dicapai.

"...Lain halnya dengan seseorang yang pragmatis. Sosok pragmatis cenderung mengutamakan segi praktis dan instan. Baik buruknya sesuatu ditentukan dengan kebermanfaatannya, baik bila menghasilkan keuntungan yang besar dan buruk bila merugikan. Seorang pragmatis cenderung bersifat "profit hunter" dan mengabaikan proses untuk mendapatkan profit tersebut. Bahkan dalam prosesnya terkadang menabrak norma-norma yang telah ada..." (http://ourreference.blogspot.co.id/2013/01/pragmatis.html)

            Terdengar egois? Ya, tentu saja.

            Salahkah? Hmm, saya pikir tak mesti begitu.

            Mengapa? Mari kita lihat wawancara sok ide saya lagi.

Q         : (Terkejut) Sungguh? Tapi tentu Anda tak bisa pragmatis dalam segala hal kan? Dalam cinta mungkin?

H         : Tidak juga Pak. Namun ya, ada satu hal saya tak bisa pragmatis.

Q         : Apa itu?

H         : Dalam urusan agama.

Q         : Wah, Anda alim sekali. Berarti Anda bisa jadi manusiawi dalam urusan agama?

H         : Bukan begitu Pak. Saya tak bisa pragmatis dalam hal tersebut karena agama bagi saya adalah ukuran untung rugi saya. Saya sedang BERUSAHA menggunakannya sebagai alat ukur tepatnya.

            Ya, saya sedang berusaha menjadi seorang pragmatis seutuhnya. Yang menggunakan pertimbangan untung rugi dalam mengambil tindakan. Buat apa memiliki pertimbangan teoritik namun saat eksekusi bagai kerbau kesasar di mall: ngaco?

            Maka tidak mesti orang yang memikirkan untung rugi semata itu sebagai seorang yang culas dan oportunis. Justru merekalah orang yang cerdas. Karena hanya orang bodoh yang mau melakukan sesuatu meski tahu hal itu merugikannya.

            Namun orang yang cerdas belum tentu baik. Baik buruknya orang yang “oportunis” tersebut ditentukan dengan alat ukur yang ia pakai.

            Orang yang menggunakan penggaris yang bengkok, mikrometer yang tak terkalibrasi, atau alat ukur tak standar lainnya tentu akan menghasilkan produk yang cacat. Begitu pula pemikiran/timbangan baik buruk akan tindakan kita. Jika hanya mengandalkan kemanusiaan, pastilah tindakannya akan cacat. Apalagi sekedar menggunakan perasaan yang labil, maka hasil kerjanya tak akan sanggup memuaskan semut sekalipun.

            Sehingga menurut saya tak ada yang salah dengan menjadi orang pragmatis. Semuanya tergantung pada timbangan yang digunakan.

Fighting has been enjoined upon you while it is hateful to you. But perhaps you hate a thing and it is good for you; and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah Knows, while you know not.” (Al Baqarah (2) : 216)


0 komentar:

Posting Komentar