Sabtu, 17 Oktober 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,



 
Suatu pagi, Jeruk hendak berjalan-jalan. Namun dilihatnya cuaca muram dan terkesan agak mendung. Oleh karenanya Jeruk pun kembali masuk ke rumah dan meneruskan kegiatan kesukaannya: TIDUR.

Sekira jam sepuluh, Jeruk mulai lapar. Berjalanlah ia ke dapur dan bermaksud membuat sandwich telur (laper kakaaaaa!). Dia pun kembali uring-uringan, demi melihat roti yang belum dibakarnya telah menjadi gosong. Lalu dibukanya magic com, eh nasinya pun juga termasak menjadi gosong. Payah semuanya, payah! Maka jadilah hari tersebut ia sangat murung. Ia pun kembali ke kamarnya, untuk melakukan kegiatan yang menjadi hobinya: bersantai…


Hingga akhirnya ia mendapat sms dari seorang kawan—yang bernama Mendoan—yang mengabari tentang rencana hang out geng mereka: Geng Pengen Bodho :v

Jeruk yang suntuk pun terlonjak gembira. “Akhirnya ada yang menyenangkan pagi ini!” mungkin begitu pikirnya. Maka ia pun segera ke kamar mandi untuk mandi. Namun waktunya tidak cukup hingga kemudian ia putuskan untuk cuci muka dan gosok gigi di wastafel. Nah, di sinilah terungkap sebuah misteri yang luar biasa.

Ternyata ia sadar mengapa sepanjang pagi ini pandangannya gelap. Terang saja, karena kacamata hitam yang ia pakai kemarin saat ke pasar (buat ngeksis, tapi malah awkward) masih belum dilepas. Begitu dilepas, baru tahulah ia bahwa hari ini sangat cerah. Selain itu, roti yang iya kira kusam itu pun ternyata masih putih mulus dan nikmat. Dan tak sempat ia nikmati karena sedang buru-buru ke tempat hang out. Maka pagi ini ia kehilangan dua hal setidaknya: Udara pagi yang bagus dan sarapan yang menyenngkan.

Dan begitulah seringkali yang terjadi pada kita. Entah berapa banyak kehilangan yang kita rasakan; kesempatan, teman, sahabat, kebahagiaan, bahkan surga 'hanya' karena kita meletakkan “kacamata” yang salah.

Mungkin suatu ketika kita bingung dalam memutuskan sesuatu. Seolah semua pilihan buruk semuanya. Seolah semua jalan tertutup.  Maka itu artinya kita sedang mengenakan “kacamata” pesimistis.

Atau pada kondisi lain, kita melihat bahwa teman-teman menjadi orang yang berbeda. Orang-orang menjadi semakin buruk. Dan bahkan keluarga sudah tak bisa menjadi tempat kembali. Mungkin itu artinya kita sedang memakai “kacamata” prasangka buruk.

Dan sebagainya…

Sehingga, sebelum Anda memutuskan untuk menilai sesuatu yang ada/terjadi di sekitar Anda, pastikan Anda telah menggunakan “kacamata” yang tepat.

Dan tak ada sesuatu yang paling tepat digunakan untuk memilih “kacamata” selain ilmu. Ilmu apapun itu, baik ilmu yang berkaitan dengan agama secara langsung (aqidah, fiqh, dll) maupun yang tidak langsung (kalkulus, trigonometri, mekanika, termodinamika, senjata, olahraga, dll).

“Pahamilah kebenaran, maka kau akan tahu orang-orang yang berjalan di atasnya.”
-Ali bin Abi Thalib-

“Manusia sangat butuh kepada ilmu melebihi kebutuhan mereka kepada makan dan minum. Karena kebutuhan manusia kepada makan dan minum dalam sehari hanya sekali atau dua kali. Sedangkan kebutuhan mereka terhadap ilmu sebanyak bilangan nafasnya.”

1 komentar: