Sabtu, 26 Desember 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , ,


            Bismillah,
            Hari ini saya ingin berbagi mengenai khutbah jum’at kemarin. Temanya adalah “Pendidikan Anak Menurut Islam”. Namun dalam penceritaan ini, sebenarnya khutbah tersebut “hanya” menginspirasi saya, sedangkan pengembangannya tetap menurut sudut pandang saya. Jadi jika ada kebenaran maka pasti ada andil dari khutbah tersebut, sedangkan jika ada kesalahan dalam pengembangan itu murni kesalahan saya.
            Khatib memulai dengan bercerita bahwa anak merupakan cobaan, perhiasan dunia, penyejuk namun suatu saat dapat menjadi musuh (pembahasan mengenai ‘Kedudukan Anak Dalam Al Qur’an tidak saya bahas dulu). Lalu beliau mulai menceritakan betapa banyak orang yang salah kaprah dalam mendidik anak. Entah karena terlalu sayang atau terlalu keras.
            Sebagai contoh yang paling mudah (ini penulis alami sendiri), ketika pulang sekolah maka akan selalu ditanya
1. “Sudah makan belum?”
2. “Jajan apa aja tadi? Nggak jajan sembarangan kan?”
3. “Gimana ulangannya matematikanya? Bisa? Perlu les matematika tidak?”
4.  “Ada yang nakal tidak di sekolah?”


Dan sangat jarang yang bertanya,
1. “Sudah sholat dhuhur belum?”
Pada kasus ini anak pulang sekolah jam 2 siang. Memang secara sunnah yang harus didahulukan adalah makan sebelum sholat, namun yang ditekankan di sini adalah sebuah peringatan bagi anak bahwa orang tuanya sangat concern di urusan agamanya. Mau makan dulu atau sholat dulu tentu tergantung realita di lapangan.
2. “Sempet tilawah nggak Dek tadi?”
Bukan ingin memaksakan anak yang masih kecil untuk tilawah. Namun untuk menekankan pada anak bahwa kedekatan pada Al Qur’an adalah cita-cita keluarga. Namun, untuk anak yang sudah besar apalagi kuliah, saya pikir pertanyaan ini wajib. Betapa saya kadang seharian bisa tidak menyentuh Al Qur’an, astaghfirullah…
3. “Gimana matematikanya tadi? Nggak nyontek kan? Ada kesulitan tidak, Nak?”
Harusnya yang ditanyakan bukan masalah bisa atau tidaknya dulu, namun apakah ia mengerjakannya dengan jujur atau tidak. Betapa banyak orang tua yang membajak bahkan menghancurkan masa depan anaknya dengan memberikan kemudahan semacam membelikan kunci jawaban UN atau menyogok guru untuk memberi nilai yang baik. Penulis pernah mengalami hal ini, maksudnya melihat sendiri rekadaya ortu teman yang mendatangi seorang guru demi memberikan kenaikan kelas saat kecil dulu. Hal seperti ini akan memberikan setidaknya 2 kerugian: Pertama, mengajari anak bahwa ada tuhan baru yang bernama uang. Kedua, akan menjadikan mental cemen pada anak. Kalau ortunya termasuk orang yang terlanjur kaya macam Bill Gates sih tak apa, namun bagaimana jika sekedar “mampu”?
4. “Apakah ada temanmu yang kamu nakali hari ini, Nak? Adakah yang kamu sakiti hatinya hari ini?”
Pertanyaan ini—tentunya tanpa memarahi jika ia jujur—akan meningkatkan kepekaan anak bahwa tak ada gunanya sukses jika artinya mendzalimi saudaranya. Jangan sampai seperti ISIS yang sukses menguasai wilayah yang luas namun di atas genangan darah suci para syuhada dan luka para mujahidin, serta derita kaum muslimin. Hal seperti ini tentu sebuah kesalahan.

            Kemudian, pernahkah kita berpikir pengajaran macam apa yang seharusnya kita berikan pada anak? Maka leluhur kita yang bernama Luqman Al Hakim telah memberi kita contohnya. Sedangkan intisarinya secara singkat adalah:
1. Tauhid. Jangan menyekutukan Allah dengan apapun. Karena dosa dari menyekutukan Allah tidak akan diampuni.
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya,’Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”’ (QS Luqman: 13)
Bendera tauhid adalah milik umat islam, bukan milik suatu kelompok tertentu
 Ada penekanan menarik, bahwa yang pertama dan paling utama terlarang untuk didzalimi adalah Allah. Bukan ayahnya, bukan ibunya, apalagi sekedar pacarnya *ups. Jangan sampai anak yang telah dilahirkan muslim dan baik justru menjadi rusak karena pendidikan dari kita.
“Dan (ingatlah) ketika Tuhan-mu Mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah Mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya Berfirman),‘Bukankah Aku ini Tuhan-mu?’ Mereka menjawab,’Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.’ (Kami Lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan,’Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini, atau agar kamu tidak mengatakan,’Sesungguhnya nenek moyang kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami adalah keturunan yang (datang) setelah mereka. Maka apakah Engkau akan Membinasakan kami karena perbuatan orang-orang (dahulu) yang sesat?’” (QS Al A’raf: 172)
Jangan lupa pula mengenai hadits mengatakan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah/islam. Tugas kita hanya cukup menjaganya tetap dalam islam/fitrah, mengajarkan padanya makna tauhid, dan implementasinya. Seharusnya tidak lebih berat daripada mengajak orang yang tidak islam untuk bersyahadat kan?
 2. Implementasi atas sikap kehati-hatian dalam menjalani kehidupan.
“(Luqman berkata),’Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan Memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha Halus,** Maha Teliti.” (QS Luqman: 16)
Selalu muhasabah diri
 Luqman mengajarkan anaknya—setelah bertauhid—adalah mengakui Kekuasaan Allah yang tidak terbatas. Sehingga anak akan tetap merasa diawasi.
3. Setelah itu, anak juga diberi penekanan jangan pernah meninggalkan sholat—meski kemungkinan besar cara sholat di zaman Luqman berbeda dengan syari’at Muhammad shalallahu’alaihi wassalam. Selain itu ada beberapa nasehat berikutnya yang tidak kalah dalam.
“Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.” (QS Luqman: 17)
Dan dirikanlah sholat...
 Bagaimana anak akan mampu menjadi perhiasan dunia atau komandan mujahidin jika sholat saja bolong-bolong?(Teknis pengajaran sholat pada anak terdapat pada hadits)
Dan yang menarik Luqman mewasiatkan ke anaknya agar menjadi pembela kebenaran, superhero bagi masyarakatnya. Yaitu agar memiliki kekuatan lebih, karena dia meminta anaknya tak sekedar menyuruh pada kebaikan, namun juga MENCEGAH  perbuatan mungkar. Dan pengetahuan bahwa tak ada yang bertahan di jalan tersebut melainkan orang-orang yang sabar.
4. Dan tentang muamalah, yang ditekankan adalah bukan mengenai cara menjadi kaya atau teknik bisnis yang mumpuni. Atau bagaimana cara menjilat atasan. Bukan.
“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS Luqman: 18)
Apa yang mau kau sombongkan jika membantu muslim lainnya pun tak pernah
Note: Anak Suriah di Pengungsian

Dan penekanan bahwa apapun yang dikerjakan bukanlah diukur dengan standar manusia, namun pertanyaan,”Apakah Allah akan Menyukai perbuatanku?” Ah, sebuah nasehat yang indah.
5. Ternyata ada juga nasehat beliau yang praktis, bahkan sampai ke cara berjalan.
“Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS Luqman: 19)
 Adakah kita terpikir bahwa cara berjalan dan bersuara pun harus diajarkan?
***
Demikianlah, betapa Al Qur’an telah memberi rambu-rambu dan teladan secara umum bagaimana cara mendidik anak. Sedangkan contoh lebih rinci tentunya ada dalam peri-kehidupan Baginda Muhammad shalallahu’alaihi wassalam. Yuk ah, yang mau nikah doa dan usahanya ditambahi. Tak hanya urusan meminta jodoh yang ideal, tapi juga urusan menyiapkan generasi pilihan. Generasi yang tangguh bukan yang lemah. Yang bertauhid bukan yang musyrik (secara tak sadar). Yang menjadi pembela umat bukan sampah masyarakat.
“Dan orang-orang yang berkata,’Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.’” (QS Al Furqan: 74)
Bahkan, sekelas Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pun berdoa seperti ini,
“Ya Tuhan-ku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.” (QS Ash-Shaffat: 100).

Lah ente siapa kok berani-beraninya nikah tapi kagak nyiapin ilmu parenting yang memadai? Belajar kagak, tanya orang kagak, ngaji kagak, bahkan doa pun kagak, mau enaknya doang ye? *sarkasme
NB: Terkait ayat-ayat Al Qur’an di atas saya anjurkan Anda untuk membuka tafsirnya. Karena akan lebih banyak yang Anda dapat di sana dan mencegah dari kesalahan akibat memahami dengan akal serta hawa nafsu semata.

0 komentar:

Posting Komentar