Jumat, 29 Januari 2016

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , ,


Tentu Anda ingat bukan mengenai tulisan nyinyir yang menyindir seseorang yang dengan gigih menawar dagangan di pasar? Yang dengan sikap sok tahu dan sok sosialis itu menghakimi bahwa menawar di pasar adalah sifat para kapitalis. Jika belum, maka silahkan baca di sini.
Sudah dibaca kan? Lihatlah, apa orang itu kurang kerjaan bahkan sampai harus mengomentari kami yang lagi berdagang? Yang beli bukan bukan kalian, yang jual bukan kalian, bahkan kalian mungkin tidak melihat ketika SAYA menawar, kok Anda yang repot? Kalau kata Alm. Gus Dur,”Gitu aja kok repot?”
Berikut adalah alasan mengapa kalian tak perlu mengomentari kami, bahkan saya akan sadarkan kalian bahwa kalian itu salah!
1. Kalau kalian tak pandai menawar, jangan iri
            Kalian tahu apa itu lobbying? Oh, tidak tahu? Lobbying adalah kemampuan kita untuk melobi orang, memengaruhinya. Hal itu akan sangat berguna, apalagi jika Anda hidup di dunia yang kompetitif seperti sekarang.

            Ketika Anda ingin menjadi anggota dewan, Anda harus melobi banyak orang agar memilih Anda. Anda bahkan perlu melobi partai agar Anda yang dimajukan. Ketika Anda meminta uang saku tambahan pada orang tua, Anda pun perlu melobi. Bahkan ketika Anda sedang PDKT dengan seorang cewek, Anda sedang melobinya. Anda sedang melakukan persuasi. Lalu, apa yang salah dengan melobi orang lain?
            Toh kami tidak memaksa penjual itu menurunkan harga dagangannya kok. Kalau urusan mereka tak ada pilihan, ya itu salah mereka sendiri. Bukankah ada pepatah bahwa “pembeli adalah raja”? Justru salah mereka sendiri yang tidak mau berjuang lebih. Salah mereka yang tak mau berusaha lebih keras. Tak mau sekolah tinggi, tak mau belajar ilmu pemasaran yang lebih baik. Jika kenyataannya yang memegang uang adalah saya, lalu apakah saya salah jika saya kaya? Saya mengorbankan banyak hal untuk mendapatkan uang ini, bahkan terkadang nurani saya sendiri. Lalu Anda berharap saya cuma-cuma memberikan uang ini? Ayolaaaaaah, berpikirlah sedikit membumi. Jangan banyak berangan-angan kosong.
            Hidup ini adalah kompetisi, yang terkuatlah yang menang. Hidup adalah mengenai adaptasi, jika tak sanggup kenapa tak memilih mati? Janganlah manja ketika menjalani hidup bos. Sekali lagi, kami tak memaksa. Ketika kami menawar dagangan pun, bukankah kami memberikan pilihan,”Ya kalau tidak bisa turun, ya saya tidak jadi beli.” Bagian mana yang tidak baik bos? Dan satu lagi, apakah bos lupa bahwa prinsip ekonomi itu "mendapatkan hasil sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya"? Sini-sini, kita ngobrol sebentar di warung kopi. Tenang, saya yang traktir.

2. Di mall kami tidak menawar, karena…
            Di mall kami tidak menawar, mengapa? Helloooooo, apakah Anda pernah ke mall? Jika belum, maka mari saya ongkosi buat sekedar ngangkot ke mall terdekat. Jika sudah, maka mari saya tanya lagi,”Apakah di sana bisa menawar dangangannya?”
            Setahu saya, di mall itu layaknya di retail dekat rumah,”Tidak bisa ditawar”. Bahkan harganya saja sudah terpampang di dekat barang itu. Kita bisa mengira-ira berapa pengeluaran kita. Tidakkah hal ini sangat brilian? Tak perlu repot bertanya, tak perlu repot ngobrol dengan orang YANG BELUM TENTU kita sukai. Kurang apalagi coba?
            Oh ya hampir lupa, tidakkah mbak-mbak yang jaga toko di mall itu seger-seger? Setidaknya, bisa membuat Anda yang jalan dengan istri (bukan pacar loh ya, iyuh) dijewer karena matanya melakukan eksplorasi ke sana kemari. Mungkin untuk mengakomodir jiwa eksplorasi yang sedang macet akibat harga minyak yang sedang tidak bersahabat? Entahlah.
            Selain itu, banyak orang selain saya juga tahu, bahwa di mall itu kebanyakan memang tidak bisa ditawar. Jadi masalahnya bukan pada urusan KENAPA ANDA TIDAK MENAWAR DI MALL namun di pertanyaan KENAPA ANDA MEMILIH BELANJA DI MALL?
            Lha iya toh, kenapa belanja di mall? Pertama, selain banyaknya pandangan seger sebagaimana saya sebut di atas, maka juga ada pada urusan kenyamanan. Mall itu nyaman, maka apakah tidak patut jika saya mengapresiasinya dengan tidak menawar dagangannya?
            Selain itu, dari para pemilik modal yang besar itu, tidakkah kita bisa mengambil pelajaran? Tentang memanjakan pelanggan dan berjuang demi mengumpulkan modal demi modal? Bukankah pengorbanan ini layak diteladani dan diapresiasi?

3. Barang bermerek dan impor tidak kami tawar, karena…
            Ya karena saya tahu, bahwa untuk bisa menembus pasar negeri ini mereka perlu usaha besar. Entah dengan membayar pajak aneh-aneh atau resiko kehilangan barang akibat tenggelam di samudra pasifik. Belum lagi usaha untuk menjaga barang itu baik sampai ke tangan kita, tidakkah hal ini layak untuk dihargai? Maka, betapa kejamnya saya jika harus menawar?
            Belum lagi, datangnya barang-barang atau waralaba makanan dari luar negeri itu justru memutar roda perekonomian kita. Betapa banyak warga negara yang dibantu dengan lapangan kerja di situ. Dan Anda tak ingin saya menghargai kedermawanan para PMA (Penanam Modal Asing) ini? Anda maunya saya jahat sama mereka?
            Lalu mengenai barang bermerek, apa yang salah? Tidakkah Anda sadar berapa banyak uang yang mereka keluarkan untuk iklan dan memelihara brand mereka? Jika belum, silahkan tanya kepada marketing tempat Anda bekerja. Maka Anda akan tahu alasan mengapa orang marketing itu begitu disayang bos: PEKERJAAN MEREKA TIDAK MAIN-MAIN!

4.  Win-lose solution itu yang membuat orang bertahan di tengah kerasnya kehidupan
            Lalu, jika kalian bertanya,”Apakah kalian tak ingin membantu orang miskin dan warga negeri kita sendiri?” Maka saya jawab:
a. Justru inilah tanda sayang saya. Saya ingin warga negeri ini terpacu untuk menghadirkan barang dan jasa yang berkualitas, yang akan membat saya sungkan untuk menawar.
b. Kenapa saya harus repot memikirkan mereka, sedangkan negara dan mereka sendiri tidak memikirkan dirinya? Kalau mau kaya, ya sekolah, ya kerja, ya berusaha lebih. Jangan malas! Buatlah barang yang berkualitas, atau setidaknya branded!
Kalau tak ada duit buat beli beras, ya diet aja. Paling resiko gara-gara kebanyakan diet cuma sekedar died. Saya baca dari koran, menteri loh yang ngomong gini hehehehe…
5. Tak perlu bawa dalil agama, agama tidak menggaji Anda per bulannya
            Sudahlah, main logis aja. Ngapain sih bawa-bawa agama. Urusan tawar-menawar itu kan urusan kita ajalah, tak perlulah bawa-bawa Tuhan ke area ini. Dia terlalu tinggi untuk sekedar Mengurusi hal remeh semacam ini. Tuhan dan agama terlalu suci jika dijadikan alat untuk melegitimasi urusan kotor macam ini. Sekotor gang-gang di pasar ketika turun hujan.
            Tuhan dan agama itu tempatnya di masjid, di gereja, di vihara, dan di hati kalian masing-masing. Gitu bos, setuju? Mehehehehe….

***
            Semua yang saya tulis di atas adalah sarkasme. Jika Anda kurang mengerti maksudnya, setidaknya jangan hujat saya dulu. Silahkan baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, dan semoga Anda mengerti maksud saya :)

           Dan tanpa bermaksud sombong, mulai sekarang saya sedang berusaha untuk tidak menawar dagangan orang kecil. Semisal, saya kemarin beli sandal jepit karet Rp. 15.000,- Mau nawar berapa lagi bos? Uang segitu, bahkan sama jatah makan siang kita di kantor perusahaan masih kalah.
            Kalau saya ketika melihat harganya terlalu mahal, sebisa mungkin selalu bilang begini,”Maaf Pak/Bu/Dek, saya tidak mau menawarnya. Tapi harganya kok saya lihat terlalu mahal ya. Saya minta, apakah harganya tidak bisa turun? Bapak/Ibu/Adek masih untung, tapi saya tidak merasa dirugikan. Biar kita sama-sama untung.” Dan alhamdulillah, selama ini saya tidak pernah merasa ditipu. Setidaknya kepada pedagang kaki lima dulu :)
 
"Dalam berdagang itu kita tak sekedar cari untung, tapi tukeran untung."

-Kang Adams-
Pelatih silat, guru kehidupan saya, dan wirausahawan sukses hepi

Salam Sehat,

Heri I. Wibowo

0 komentar:

Posting Komentar