Engineers like to solve problems. If there
are no problems handily available, they will create their own problems - Scott
Adams
Sekadar cerita
kawan. Hari Selasa kemarin, aku mengikuti kuliah TTE (Teknik Tenaga Listrik)
yang kawan-kawan jurusanku sering memplesetkannya menjadi “Tiba-Tiba E”-Na’udzubillah. Dan asal kalian tahu,
dosen pengampu mata kuliah ini terkenal dengan kuliah kehidupannya dan cara
mengajarnya yang unik. Seperti yang kemarin kualami.
Awalnya kuliah
berjalan seperti biasa. Beliau mempresentasikan kuliah dengan slide dan kami mencatat apa yang beliau
sampaikan. Hingga tiba di bagian analisa rangkaian menggunakan prinsip
superposisi. Prinsip ini begitu sederhana, yaitu jika A = B + C, lalu B = D + E
dan C = F + G maka akan lebih mudah untuk menghitung masing-masing B dan C lalu
menjumlahkan B dan C agar menjadi A daripada langsung menghitung seperti ini: A
= D + E + F + G.
Beliau berkata
prinsip ini umum sekali digunakan pada analisis oleh mahasiswa engineering karena banyak hal menjadi
mudah dengannya ketika memodelkan suatu peristiwa. Prinsip ini hanya bisa
diterapkan jika terjadi linearitas. Contoh sederhananya, jika sebuah engine(bedakan apa itu engine dan machine) mempunyai daya-katakanlah-1500 hp(mesin tank Leopard ini
:P) maka jika kendaraan itu memiliki 4 engine
maka dia memiliki daya 6000 hp. Namun kehidupan engineering sesungguhnya tidak semudah itu. Karena daya bergantung
pada kondisi tangki bahan bakar, kehancuran ekserginya dan lain-lain. Di sinilah
engineer’s sense sangat dibutuhkan.
Dari engineer’s sense, beliau berlanjut
mengomentari banyaknya mahasiswa yang ngaku anak teknik tidak memiliki hal ini.
Contoh sederhananya adalah pada suatu kuis-atau survey. Waktu itu, beliau
memberikan soal sangat mudah:
Jika saya akan menempuh jarak 100 km dengan
kecepatan konstan dan saya mencapai tujuan dalam waktu 3 jam, maka angka berapa
yang ditunjuk oleh speedometer saya?
Mudah sekali
bukan? Tinggal membagi 100 dengan 3, dan taraaaaaaaaaaaaa hasilnya adalah
33,3333333333333333334 km/jam. Itu juga yang sempat aku pikirkan meski angka di
belakang koma tidak sebanyak itu. Secara
sains tak ada yang salah dengan jawaban itu, namun secara engineering jawaban itu akan terlihat sangat konyol. Mana ada
speedometer yang bisa menunjuk angka 33,3333333333333333334 km/jam? Terlihat jika
jawaban ini tak memillii engineering
sense.
Beliau melanjutkan,
bahwa seorang engineer itu melihat
sesuatu berdasarkan nilai gunanya. Buat apa mengukur sampai angka “klenik” kalo
itu bahkan tidak dapat memindahkan seekor semut?(yang ini bahasa saya:P). Seorang
engineer lebih tertarik untuk melihat
kapan suatu benda mengalami kegagalan alih-alih menghitung terus tegangan nyata
yang terjadi. Dan memilih menjawab dengan kata “terbakar” daripada menjelaskan dengan
mekanisme rumit yang terjadi ketika ditanya: apa yang terjadi jika suatu lampu
berdaya 20 watt dialiri listrik 200 watt?
Ah, engineering sense. Mudah diucapkan namun
susah didapatkan, karena kita harus tahu kapan sesuatu boleh diabaikan dan
kapan dia memang harus dihitung dengan pasti. Kapan beda tinggi boiler dengan turbin bisa diabaikan dan
kapan harus masuk persamaan. Dan sekali lagi, seorang engineer melakukan sesuatu berdasarkan nilai gunanya bagi manusia,
bukan keasyikannya. Bukan kekerenan dan tingkat kesulitannya. Bukan karena (semata-mata)
kecintaan, namun karena KEBUTUHAN. Inilah yang membedakan seorang engineer dengan scientist.
Adalah seorang scientist yang akan bekerja bertahun-tahun meneliti sesuatu meski
belum tahu gunanya. Berkutat pada satu eksperimen dan mengulangi berkali-kali
tanpa rasa bosan. Banyak orang bilang scientist
adalah serombongan orang kurang kerjaan yang memiliki akses dana tak
terbatas. Sampai titik ini aku dan kawan-kawan hanya terbahak dengan arogansi
mulai menyusup ke dalam hati.
Mengetahui hal itu, beliau langsung
melanjutkan,”Namun asal kalian tahu, kalian ini-bahkan dunia ini-memerlukan
orang-orang kurang kerjaan itu. Karena tanpa newton yang menemukan persamaan
gaya apa yang bisa dilakukan anak teknik mesin dan teknik sipil? Karena pekerjaan
seorang scientist itu MENEMUKAN, sedangkan
pekerjaan seorang engineer adalah
MEMANFAATKAN. Bersama-sama mereka akan MENGEMBANGKAN demi kemashlahatan umat
manusia.”
Deg!!! Untaian kalimat itu pun dilanjutkan
dengan perkataan bahwa tak ada kelebihan antara seorang mahasiswa teknik dengan
mahasiswa sains, juga antara anak IPA dengan anak IPS. Karena semestinya
seorang manusia dapat memilih sesuatu yang disenangi dan dikuasai, bukan apa
yang orang tua atau masyarakat senangi dan kuasai. Sehingga ketika seseorang
yang suka IPS memilih IPS lalu menjadi hebat di sana akan lebih bermanfaat
daripada dia mengejar gengsi dengan masuk jurusan IPA namun menjalani dengan
setengah hati.
Ah, sebuah kuliah yang memberi semangat dan
kesadaran dari seorang dosen TTE yang membuat jatuh arogansiku. Dan mungkin quote di atas bisa menggambarkan
paradoks seorang engineer :D
0 komentar:
Posting Komentar