Rabu, 30 April 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


               
sumber: http://1.bp.blogspot.com/-I-aB_U43mTE/UMRg79Lg4UI/AAAAAAAAAEU/dZL9ZFQ8DTs/s1600/kspk+1.JPG
            
Dulu saya pernah menulis tentang lelaki sejati. Atau lebih tepatnya, LELAKI IDEAL. Dan memang, contoh paling ideal jika menurut saya adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Dan lagi, biasanya untuk mencapai kondisi ideal itu memerlukan beberapa langkah. Jika pada kasus ini adalah mengenai menjadi lelaki ideal, maka salah satu langkahnya—menurut saya—adalah dengan menjadi pria dewasa.

Pria Dewasa?

                Ya, pria dewasa saya anggap bukanlah seorang sosok yang sempurna nan ideal. Ia hanyalah salah satu langkah mencapai titik ideal yang dicita-citakan setiap orang. Dalam kedewasaan, parameter-parameternya tidaklah sesulit menjadi sosok ideal bukan? (Hehehe, berasa jadi cak lontong ya paragraph yang ini)

                Jadi, sebenarnya apa yang melatar-belakangi saya menulis hal ini? Pertama, artikel ini: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/04/03/0652365/Mengapa.Anak.yang.Pintar.di.Sekolah.Bisa.Alami.Kesulitan.Ekonomi.


                Pada tulisan itu memang tidak spesifik menyebut kualifikasi untuk menjadi pria dewasa. Dan baiklah, mungkin di artikel ini lebih menyerang tentang anak-anak yang pandai secara akademik akan cenderung kesulitan nantinya—ketika ia dewasa. Salahkan saya jika Anda merasa bahwa saya melakukan generalisasi.

Namun yang rasakan, ada kesan  generasi di atas saya mulai ragu untuk melihat kedewasaan generasi saya—atau kita. Kesan bahwa generasi saya hanyalah kumpulan anak manja yang terbiasa hidup mudah dengan jaminan dari orang tuanya. Sebuah generasi yang terlalu naïf, sehingga menjadi orang-orang utopis yang membayangkan dunia orang dewasa semudah serial teletubbies.

Kenapa Begitu?

                Ada banyak hal yang menyebabkannya. Beberapa hal akan coba saya ulas merupakan hasil celotehan saya dengan kawan-kawan dan baca sana-sini. Aneh ya, diskusi dengan orang-orang segenerasi yang sama-sama sedang dianggap sebagai generasi terlambat dewasa. Tetapi setidaknya kami merasakan hal yang sama, keganjilan yang sama, ketika kami merasa generasi di atas kami mulai meragukan kami sebagai generasi penerus. Dan sekali lagi, sebuah generasi yang terlambat dewasa.

                Untuk diketahui, kedewasaan sungguh berbeda dengan bertambah tuanya umur. Kedewasaan adalah mengenai karakter, dan paradigma dalam memahami kehidupan serta kedewasaan itu sendiri. Bukan sekedar sudah memiliki KTP akan menjamin bahwa yang memiliki tidak akan bersikap sebagai anak TK yang manja. Atau sekedar sudah bisa menghamili anak orang, bahkan jika orang itu pun sudah menikah. Ya, dewasa lebih dari itu.

                Kembali kepada subjudul di atas, kenapa kedewasaan generasi kita dianggap terlambat?

                Sekarang, coba kita lihat sekeliling kita. Atau malah kita sendiri. Tengoklah kembali diri kita sesaat setelah keluar kantor kelurahan waktu mengambil KTP. Lalu tanyakan pada diri kita,”Sudahkah kita layak disebut dewasa? Layakkah kita jika kita disebut dewasa ketika bahkan ditanya mau kuliah di mana masih dijawab,’Masih galau nih’.” Bahkan menggerutu ketika uang jajan terasa kurang. Kita hanya melihat masalah demi masalah, tanpa mau sedikit berlelah diri dengan solusi. Kita yang saat itu hanya tahu tentang menadah pada orangtua. Kita yang berpikir bahwa belajar di sekolah sudah sedemikian beratnya (tapi emang berat sih, apalagi bejibun gitu mata pelajarannya) sehingga layak untuk ‘digaji’ dengan uang saku.

                Yah, mungkin karena di sekolah kita terbiasa dengan solusi eksak. Solusi yang sudah pasti ada ketika kita membuka kunci jawaban di halaman paling belakang. Bayangkan, 12 tahun seperti itu. Tidak aneh bukan jika kita melihat hidup semudah cincong para motivator?

                Selain itu, kita terbiasa menjadi pengemis. Pengemis kepada orang tua kita setidaknya. Padahal—dalam pengalaman kehidupan saya sendiri—ayah saya sudah bekerja sejak kecil. Bertani ke sawah untuk membantu kakek saya. Sepulang sekolah menyiangi rumput sambil menggembala sapi atau kambingnya. Begitulah dulu perjuangan orang tua—ayah—kita dahulu. Perjuangan yang akan mematangkan karakter dan kepribadiannya, sehingga menjadi pria tangguh seteguh batu karang. Bukan pria menye yang diracuni lagu-lagu picisan merusak dengan isi mengajarkan menjadi penyembah ‘cinta lawan jenis’. Dan bukankah Rasul sejak kecil telah bekerja sebagai penggembala?

                Saya teringat kisah seorang petani yang menyuruh anaknya selalu bekerja sepulang sekolah. Dia pun ditegur oleh tetangganya,”Janganlah kau terlalu disiplin dan keras pada anakmu. Tanamanmu akan tetap tumbuh baik tanpa harus kau mempekerjakan anakmu seperti ini.” Dan sang petani menjawab,”Aku tidak sedang berusaha menumbuhkan tanaman padiku, melainkan menumbuhkan karakter anakku.”

Akibatnya?

                Pria yang terjebak oleh hidup dalam kenyamanan seperti ini, akhirnya hanya akan mengerdilkan dirinya sendiri. Dia tidak akan pernah bertumbuh, hanya hitungan jatah dia di dunia saja yang semakin berkurang. Fisiknya bertambah tua, namun secara emosional masih menjadi orang yang tergantung pada orang lain—pada orang tuanya.

                Orang tua memang wajar ingin selalu menjaga anaknya aman dan nnyaman. Tercukupi segala pangan, sandang, dan papan. Tidak kekurangan belaian kasih sayang dan perhatian. Namun satu hal yang lupa dipahami—atau terlambat dipahami—adalah seberapa banyak anaknya membutuhkan itu. Layaknya obat, jika dosisnya tak sesuai umur tentu akan berakibat buruk bukan? (ini hasil baca-baca dari salah satu artikel hehe). Intinya, enggan melepaskan anak lelakinya untuk menjadi pribadi yang mandiri, pribadi yang tertantang untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. (Jika pada artikel di atas, orang tua selalu hadir menyelesaikan masalah yang seharusnya menjadi tanggung jawab anaknya)

                Dalam artikel-artikel tersebut, hal ini akan memproduksi pria-pria yang hanya berkumis dan berjenggot namun bermental layaknya bocah laki-laki yang egois dan tidak mampu bertanggung jawab, bahkan atas dirinya sendiri. Mereka menjadi pria yang tergantung secara emosional kepada orang tuanya, terkhusus kepada mamanya. Bahkan lebih parah, tergantung secara fisik juga dengan orang tua. Bukan karena tidak mampu membeli rumah baru, namun lebih karena takut pisah dengan mamanya. Takut tidak bisa merasakan masakan mama, takut tidak dapat perhatian mama, dan bahkan takut memutuskan sesuatu dalam hidupnya tanpa asistensi dari mama. Jujur, tinggal dengan orang tua memang menyenangkan tapi ketika tidak mampu mengurus diri dan mengambil keputusan dalam hidupnya sendiri, ia tak akan pernah menjadi pria dewasa seutuhnya. Lalu, bagaimana mungkin ia berani untuk bermimpi mampu mengurus anak orang lain?

“Bagaimana mungkin Anda menjadi pria dewasa yang seutuhnya bila orang tua Anda saja tidak menganggap Anda dewasa dan selalu melihat Anda sebagai anak kecil yang harus diatur-atur dan dijaga? Coba dipikirkan..”

Lalu, Apa Yang Harus Dilakukan?

                Menjadi dewasa merupakan suatu proses yang berkesinambungan. Setiap hari merupakan suatu pendidikan bagi pendewasaan diri kita. Dan berikut beberapa hal yang menurut saya bisa dijadikan referensi—karena saya pilih-pilih dari beberapa referensi yang saya baca hehe.

1.       Merantau.

Cara pertama untuk melatih kedewasaan adalah “pergi”. Tinggalkan tempat aman, nyaman, dan penuh makanan yang bernama rumah itu. Lihatlah dunia luar dengan kacamata yang baru sebagai seorang yang “tunawisma”. Rasakan tantangan untuk selalu memikirkan apa yang harus Anda lakukan esok hari jika masih ingin makan—meski sekedar memilih keputusan akan makan di warteg yang mana.

Mustahil Anda mendapatkan pelajaran hidup jika selalu saja berdiam di tempat itu. Tempat di mana orang tua Anda akan selalu memandang Anda sebagai cute little boy-nya. Nikmati kebebasan Anda sebagai seorang yang berhak untuk menentukan hidupnya sendiri, sekaligus berkewajiban untuk menilai kebebasan tersebut dengan standar tanggung jawab yang baru.


Ketika Anda keluar dari rumah, tinggal di tempat lain—jika bisa bukan di rumah  saudara juga—maka Anda akan mulai kehilangan kenyamanan dan rasa aman. Dua hal inilah yang selalu menjadi penjara bagi pengembangan diri: Rasa nyaman dan rasa aman.

Tenang saja, toh Anda selalu memiliki rumah untuk mudik bukan?  ;)
 

2.      Coba Hal-Hal Baru.

              

             Jika Anda belum pernah naik gunung, naiklah. Jika Anda belum pernah mencoba suatu jenis hobi yang sejak dulu Anda idamkan namun takut, cobalah. Temui orang-orang baru, masuki komunitas baru. Anda akan dapat pengayaan yang tak terhingga banyaknya. Namun hal ini—menurut saya—belum lengkap tanpa melakukan yang nomor 1. Ingat, hal baru berarti pengalaman baru. Dan pengalaman baru berarti pengetahuan baru. Pengetahuan baru akan mendatangkan kebijaksanaan.


Menjadi dewasa merupakan iterasi akan pengalaman-pengalaman hidup. Dan tentu, mencoba hal baru memang selalu menimbulkan rasa tidak nyaman dan tidak aman. Tapi, tanpanya mustahil tantangan akan hadir untuk menempa hidup kita bukan?
3.       Minimalisir Dana Dari Orang Tua.

Di mana pun di dunia ini, umumnya Anda tak akan pernah dipandang dewasa selama Anda tidak memiliki penghasilan. Ini merupakan suatu aturan yang universal. Dan untuk mencapai tingkat itu, mulai sekarang mulailah untuk sedikit demi sedikit mengambil alih tugas menghidupi diri Anda dari orang tua. Mulailah belajar untuk menghidupi diri sendiri. dan cara termudah adalah dengan mengurangi permintaan kepada orang tua. Ada banyak cara untuk hal ini. Apalagi katanya pemuda itu penuh ide dan energy kan? :D  

4.       Jangan Jadi Anak “Terlalu Penurut”.

Ya, Anda tidak salah baca. Saya menganjurkan Anda untuk tidak selalu jadi anak manis yang menuruti setiap perkataan orang tua. Pada usia tertentu, ada saatnya orang tua dan kita berdiskusi bukan sebagai ‘yang selalu benar sedang mengajari yang tidak tahu apa-apa’. Kita perlu melatih diri untuk berdiskusi secara seimbang, dengan mengedepankan alasan logis dan pertimbangan yang matang. Sekali lagi, kedepankan alasan yang logis dan pertimbangan matang. Bukan sekedar rengekan anak kecil yang hanya tahu ngambek jika keinginannya tidak dituruti.  

Orang tua, seharusnya bangga jika anaknya telah mampu memikirkan yang terbaik bagi dirinya. Diskusi, kini tak hanya berjalan satu arah melainkan dua arah. Jika orang tua tidak membiasakan anaknya untuk demikian, sampai kapan orang tua akan selalu ada untuk menjawab tantangan yang sedang dialami putranya yang manja itu?

Bicarakan perbedaan pendapat dengan baik-baik. Tunjukkan Anda layak mendapat pengakuan dari orang tua bahwa telah cukup mampu memutuskan apa yang terbaik bagi diri Anda, bukan yang terbaik menurut orang tua Anda—saja. Seperti misalnya jika orang tua bilang,”Buat apa naik gunung, nyusahin diri aja.” Apakah Anda lalu akan terus mengikuti kata-kata itu. Di saat teman-teman Anda menikmati petualangan penuh tantangan tersebut, Anda hanya bisa gigit jari mendengar cerita mereka bagaimana perjalanannya sungguh seru dan syarat pembelajaran.

 Intinya, Anda wajib meghormati orang tua Anda sebagaimana orang tua juga wajib mengerti bahwa anaknya perlu latihan ini demi pelajaran pendewasaannya.

5.       Bertanggung Jawab.
      
Akan lucu sekali jika setelah Anda berhasil meyakinkan orang tua Anda tentang manfaat-manfaat mendaki lalu ketika pulang dengan badan tepar dan lecet-lecet tiba-tiba curcol langsung ke mama(Eh, berarti ini belum merantau ya? :p). Mengeluh. Menyalahkan keputusan yang telah diambil. Kalau begitu, reaksi apa lagi yang akan dikatakan orang tua selain,”Tuh kan, apa mama bilang. Besok-besok makanya nurut.” Skak Mat ini namanya. Dan ketika nantinya Anda harus melakukan hal lainnya maka penentangan orang tua akan semakin berat.

Terkadang, keadaan tidak berjalan sesuai perencanaan Anda. Meski telah dihitung dan dipersiapkan secara matang. Nah, di sinilah ujian kedewasaan. Seberapa jauh Anda mampu memahami konsekuensi atas pilihan-pilihan yang Anda ambil. Dan ini pula yang harus menjadi pertimbangan matang untuk melakukan poin 1-6. Bertanggung jawab atas ke-bertanggung jawab-an kita itu sendiri merupakan contoh bertanggung jawab yang berat. Dan akhirnya, jadikan pengalaman itu sebagai pelajaran yang berharga akibat kesulitan yang kita alami.

7.       Kendali Atas Diri Sendiri, Termasuk Emosi.

Anda tak mungkin menjadi pria dewasa jika Anda menjadi budak dari emosi Anda. Berpikir jernih bahkan dalam kondisi paling tidak mengenakkan merupakan salah satu ujian terbesar dalam usaha menjadi pria dewasa. Jika Anda tak dapat mengatur diri Anda, lalu bagaimana Anda akan mengatur hal-hal di luar Anda?

Itulah beberapa poin yang saya jadikan pengingat atas diri saya yang juga sedang belajar menjadi pria yang lebih dewasa dari hari kemarin. Mari simpan kekanak-kanakkan dalam diri kita untuk dikeluarkan pada saat kedewasaan mengatakan bahwa itu merupakan saat baginya keluar.
               

 Beberapa bacaan:




0 komentar:

Posting Komentar