Minggu, 21 Juni 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , ,


                Saya bukanlah aktivis dakwah, setidaknya itu yang saya rasakan. Karena, kok sepertinya ada yang mendikotomikan antara seorang “aktivis” dan “pasivis” (atau pasiva? Seperti istilah dalam akuntansi?). Namun, meski begitu saya sering mendengar perkataan tentang dakwah ini, karena saya telah diberi nikmat untuk dapat bergaul dengan para aktivis dakwah. Dan hari ini saya akan membagikan beberapa ingatan saya mengenai dakwah itu sendiri.

Prolog
                Dakwah secara bahasa dapat diartikan sebagai seruan, ajakan, atau panggilan sebagaimana terdapat pada Surah Al-Fushilat (ayat 33-34). Sedangkan menurut para ahli, contohnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (Mazhab Hanabilah);

“Dakwah  merupakan  suatu  proses  usaha  untuk  mengajak  agar  orang beriman   kepada   Allah,   percaya dan   menaati   apa   yang   telah diberitakan   oleh   rasul   serta   mengajak   agar   dalam   menyembah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya” [1]

Sumber

                Jadi, setidaknya itulah sedikit mengenai pengertian dakwah. Dan kini saya akan mulai bercerita sedikit tentangnya.

Dakwah Sebagai Kewajiban

Dalam sebuah riwayat Rasulullah pernah bercerita, bahwa ada seorang shalih yang berada di tengah-tengah negeri yang rusak secara ruhiyah, akhlaq, dan yang lainnya. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Malaikat untuk meluluhlantakkan negeri tersebut. Malaikat tidak mengadzab negeri tersebut karena ia melihat bahwa masih ada seorang shalih yang senantiasa menyebut namaNya. Malaikat itu kembali menghadap Allah dan bertanya perihal orang shalih di negeri tersebut. Namun, Allah Murka dan Berfirman “Orang itu yang pertama (dibinasakan)..!”[2]

Dakwah Sebagai Kewajiban
Sumber


Para Ulama menjelaskan bahwa hukum asal dari berdakwah sendiri adalah fardhu kifayah. Tapi ingat, pengertian fardhu kifayah yang benar bukanlah “jika telah ada satu orang yang melaksanakannya, maka telah gugur kewajiban orang lain”. Bukan, bukan begitu arti dari fardhu kifayah. Arti yang sebenarnya adalah  “jika telah ada cukup orang yang menjalankannya, maka telah gugur kewajiban muslim yang lain. Namun, jika belum mencukupi jumlah orang yang melaksanakannya, maka belum gugur kewajiban muslim yang lain.” Contoh termudah tentang hal ini adalah sholat jenazah. Adakah kewajiban sholat jenazah telah gugur dengan hanya ada satu orang yang berdiri untuk sholat padahal penduduk kampung itu ada ribuan yang muslim dan mereka tak memiliki udzur? Begitu pula tentang jihad, juga dakwah. [3]

Dakwah Sebagai Amal Jama’i

                Semalam, ketika sedang tarawih di Masjid Salman, keren sekali penceramahnya. Beliau berkata mengenai amal-amal yang lebih utama jika dikerjakan secara jama’ah. Karena kewajiban yang diberikan dalam agama ini akan lebih sempurna jika dilakukan secara berjama’ah. Name it! Sholat, pahalanya 27 derajat lebih tinggi ketika jama’ah. Dan amalan-amalan lainnya.
Dakwah Sebagai Amal Jama'i
Sumber



                Selain mengenai pahala, maka ada pertimbangan praktis mengapa amalan tersebut sebaiknya dilakukan secara berjama’ah.      

1.       Menambah semangat. Rasakan bedanya Sholat Shubuh sendirian di kamar dengan berdiri tegak di masjid bersama kawan-kawan dan mengingat kata-kata seorang jenderal negara zionis,”Kami akan kalah ketika jama’ah Sholat Shubuh sama dengan jama’ah Sholat Jum’at.” Allahu akbar!       

2.       Menunjukkan syi’ar yang semarak. Semarak tak mesti mengenai konser atau yang berbau hedonism. Kita telah memiliki kesemarakan yang lebih keren. Yang akan membuat kagum dan gentar umat lain akan kekuatan umat ini. Bayangkan jika di saat dhuhur, jalanan penuh dengan para pria yang tegap dan kuat sedang berjalan menuju masjid. Atau ketika puasa, serentak semua umat Islam tak mau makan siang—kecuali yang memiliki udzur. Dan saat Hari Raya, semuanya serentak menuju lapangan. Penuh! #Saya berharap Hari Raya tahun ini serentak, sedih saya kalau sampai beda lagi :(              
  
3.       Mempercepat kesuksesan. Pepatah lidi tentu pembaca telah tahu. Nah, begitu pula setiap amalan Islam. Jika dilakukan berjama’ah, tentu akan lebih greget. Berjihad dengan 1000 pasukan tentu akan lebih baik dibandingkan jika “hanya” dengan 10 orang—dengan catatan mereka memiliki kualitas yang sama. Karena setelah kualitas, urusan itu jatuh pada persoalan kuantitas. Juga kesolidan. Begitu pula tentang dakwah. Simpelnya, mengajak teman satu geng buat tilawah bareng daripada sekedar nongkrong mulu akan lebih berasa jika 1/2n+1 anggota lebih condong ke tilawah daripada nongkrong kan? #Geng saya sih 7 orang, jadi gampang hehehe.

Dakwah Sebagai Nahi Munkar

                Inilah yang sering kita kesampingkan. Bahwa dakwah hanya dibatasi pada mengajak kepada kebaikan. Padahal, dakwah juga berbicara mengenai ajakan untuk meninggalkan keburukan. Kasus ekstrimnya begini;

                Anda sedang pulang dari kampus malam-malam. Lalu, Anda dibegal oleh seorang—ya, “hanya seorang”, mabuk lagi, maka apa yang akan Anda lakukan? Tentu, Anda harus mendakwahinya kan? Jika hanya sekedar mengajak kebaikan, dan dia tetap mengacungkan pisau tumpulnya ke badan Anda, akankah Anda akan diam? Pasrah? Tentu, untuk mencegah kalian berdua dari kebinasaan (dia masuk neraka karena membunuh Anda, dan Anda mati sia-sia), maka Anda harus membela diri. Minimal Anda yang pulang dengan selamat malam itu dan dia yang dapat by pass ke neraka, syukur-syukur dapat melumpuhkan tanpa melukai terlalu fatal orang ini. Maka, dakwah memerlukan kekuatan. Karena dakwah adalah tentang “Amar Ma’ruf Nahi Munkar”. “Menganjurkan kebaikan dan mencegah dari keburukan.”


Melatih fisik
                Maka, seorang muslim—khususnya yang ikhwan—wajib memperkuat dirinya. Minimal jasmani dan ruhaninya. Karena ilmu tanpa kekuatan hampa, dan kekuatan tanpa ilmu buta. Yang pertama hanya menghasilkan para pemrotes bermodal bacot doang, yang kedua akan menghasilkan orang-orang yang cenderung dzalim.

                Kekuatan dibutuhkan karena memang ada orang-orang yang mengerti cukup dengan isyarat halus, namun ada pula yang perlu dengan kepalan tangan di dagunya atau tendangan telak di ulu hati. Dan tindakan apa yang tepat untuk setiap kasus memerlukan ilmu yang memadai :)

Dakwah Sebagai Bahasa Cinta

                Ketika saya sedang Muktamar MPI di Jogja, ba’da shubuh terdapat kuliah yang menarik dari Ustadz Fadhli. Begini ceritanya;

                Bayangkan ada orang yang berjalan sambil menutup mata dan berjalan di tepi jurang yang di dalamnya terdapat lava mengalir. Apa yang akan Anda lakukan? Dibiarkan saja?

                Oke, sekarang tambahkan wajah orang yang Anda kenal di sana. Ayah, Ibu, Kakak, Adik, atau teman-teman akrab kalian. Nah, masih tetap tak melakukan apa-apa?

Dakwah Sebagai Bahasa Cinta
Sumber


                Dan kini saat kalian memutuskan untuk bertindak, apa yang akan kalian lakukan? Meneriakinya? Memarahinya? Bayangkan apa yang terjadi jika kalian meneriakinya, tidakkah ia akan kaget dan justru lari masuk ke dalam jurang itu? Atau kalian mendekati dengan wajah menakutkan, apa yang akan terjadi?

                Atau kalian akan datang dengan sabar dan wajah berseri, dan dengan Bahasa Cinta mengajaknya menjauh dari jurang tersebut? Nah, begitu pun dengan dakwah. Karena ia harus didasari atas keinginan untuk menolong, bukan menyombong. Bukan tentang mencaci maki, namun bagaimana menyentuh hati.

                Tentu akan ada yang bertanya, tidakkah ini bertentangan dengan subbab sebelumnya? Maka saya akan bertanya, ketika kalian menarik tangan saudaramu yang akan masuk ke jurang apakah tidak butuh kekuatan? :)

Kesimpulan: Dakwah Sebagai Bagian Kehidupan

                Dakwah tak boleh hanya dibatasi pada mimbar-mimbar. Dakwah pun tak boleh dikurung hanya di dalam masjid. Dan dakwah adalah suatu pekerjaan yang terlalu berat jika hanya dibebankan pada pundak para ustadz. Apalagi dengan menjamurnya para da’I bermodal bisa nyanyi, bersajak, dan hapal matan hadits dhoif bahkan maudhu’ di TV. 

Dakwah adalah bagian integral kehidupan
Apapun organisasimu
 

                Dakwah memanggil kita, generasi umat ini. Untuk menyentuh dengan hati orang-orang terdekat kita. Yang belum sempat menyambangi/menemui ustadz-ustadz dan ulama hanif tersebut. Jika kita hanya shalih sendirian, surga terlalu luas untuk ditinggali sendiri. Tanpa orang terkasih. Tanpa keluarga kita, tanpa teman-teman kita, tanpa manusia yang kita kenal semuanya. Itu pun jika kita tak dilempar ke neraka karena keegoisan diri.

                Namun, tentu untuk mengajak, bahasa yang baik adalah bahasa teladan. Dan bahasa cinta. Dengan kekuatan yang akan membelanya…

0 komentar:

Posting Komentar