Minggu, 24 Agustus 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


                Ah, selalu sulit memang mencari kalimat pembuka setiap kali Anda ingin menulis, bukan? Nah, itulah yang sekarang sedang terjadi pada saya. Bahkan lebih berat lagi adalah merealisasikan ide dan niat untuk menulis. Namun cita-cita untuk mendokumentasikan setiap perjalanan dan petualangan yang telah saya lakukan sungguh menggoda bagian-diri-saya-yang-rajin untuk bersegera menuliskannya sebelum semakin tenggelam dalam tumpukan ide-ide aneh nan koplak di kepala. Jadi, apa yang ingin saya bagi?

                Saya ingin membagi perjalanan yang diinspirasi oleh obsesi saya pada ketinggian—salah satu dari dua fobia saya adalah ketinggian sehingga saya sangat berhasrat untuk menaklukkannya, bersama dengan claustrophobia—dalam Agustus ceria kemarin. Tiga puncak yang memberi rasa yang berbeda, di tiga provinsi yang berbeda. Dan meskipun salah satunya memang cukup tinggi, menurut saya tetap tidak akan mampu mengalahkan beratnya pendakian saya ke Gunung Bukit Tunggul (Namanya emang bukit, tapi isi perjalanannya yang tak terkira hahaha).


1-8-2014: Gunung Ungaran, 2050 mdpl  (Jawa Tengah)

                Setelah petualangan ke Curug Benowo dan Curug Lawe (saya dokumentasikan juga di blog ini), maka Abang mengajak saya untuk sesekali mendaki gunung di Jateng. Karena usul itu terdengar menarik, apalagi melihat di google bahwa ketinggiannya “hanya” 2050 mdpl, maka saya pun langsung mengiyakannya. Karena saya pikir ini pasti tak lebih berat dari Gunung Burangrang yang memiliki ketinggian sama persis. Bahkan, saat naik Gunung Burangrang kami waktu itu benar-benar tak ada persiapan (jangan ditiru, ini sangat berbahaya!) dan dalam waktu 3,5 jam mampu mencapai puncak meski ransum hanya roti sobek dan air 2 L untuk 5 orang. Namun, ternyata pemikiran saya ini salah agak total!

                Waktu itu kami berangkat berdelapan dengan mobil dari salah seorang kawan yang bernama Gunung. Beneran, nama beliau ini Gunung. 7 orang adalah mantan teman seperjuangan saya selama 2 tahun di kelas Olimpiade dan satu orang adalah kawan si Gunung. Namanya sih Anggoro, tapi saya masih suka memanggilnya Pohon. Enam orang lainnya adalah Pang, Andi, Bakul, Andhika, Abang, dan tentu saya: Owner Blog ini :)

                Perjalanan awalnya ingin dilaksanakan pada Jam 2 pagi dari Semarang agar tidak terlalu panas, atau syukur-syukur mendapat momen matahari terbit. Namun, saya tidak setuju. Entah karena Abang mendaulat bahwa saya-lah yang mempunyai ide pendakian ini (iya sih, saya urun ide untuk rijal only di perjalanan ini) maka jadilah rencana kedua yan terlaksana: berangkat setelah shubuh.

                Sekitar jam 7 pagi, kami memulai pendakian. Tetapi baru sekitar 5 menit melangkah, kami ditegur oleh kakek-kakek yang membawa rumput. Waduh, masa sudah melakukan masalah?

“Mau ke mana Mas-Mas semua ini?”

“Naik gunung Pak,” jawab saya bodoh.

“Eh, maksudnya ke Puncak Pak. Ada apa ya?” jawab Bakul.

“Salah jalan Mas, harusnya lewat sana…”

                Dan kami semua pun menunduk malu, masa baru berjalan 5 menit saja sudah salah jalan? Hahaha. Oh ya, ada satu ternyata hikmah kami tersesat—setidaknya buat saya—saya menemukan tulisan berikut ini:

Sebuah Cerita :)

Sungguh, tulisan di atas bukanlah rekayasa. Tetapi benar-benar telah tertulis begitu saja di sana dan saya membayangkan bahwa penulisnya adalah salah satu pembaca setia blog ini.

                Baiklah, singkat cerita perjalanan pun berlanjut. Perjalanan terasa cukup berat karena track yang benar-benar cenderung vertical, bahkan hampir 62% track harus merangkak. Belum lagi panas yang menyengat dan tidak tidur malamnya—mungkin gara-gara terlalu excited. Dan starting point yang cukup rendah. Atau lebaran juga bisa dipersalahkan karena makanan-makanan enak buatan Mamak sukses membuat saya makan dengan ukuran berlebih. Pokoknya, lelahnya tidak sesuai perkiraan saya! Bahkan, karena ada salah satu anggota yang kurang fit akhirnya rombongan di bagi dua kelompok. Awalnya tidak terpisah jauh, namun entah kenapa ketika mencapai puncak kami terpisah ada sekitar 1-2 jam.
Saya dan Abang



Bukan puncak :p




                Dan ekspektasi bahwa perjalanan cukup 4 jam jadi molor menjadi hampir 6 jam. Sesi foto-foto sangat bisa dipersalahkan sebenarnya hahaha. Setelah penantian yang terasa panjang akibat tak mendapat kepastian akhirnya rombongan dua mencapai puncak. Lega rasanya, karena jika rombongan dua memutuskan pulang duluan,”Mau naik apa kami ke Semarang nanti??”

                Sepanjang perjalanan, kami lebih banyak membahas apa saja capaian-capaian kami selama ini. memikirkan dan merancang visi-visi ke depan. Beberapa kali menyerempet urusan, ehem, c*nta. Yah, begitulah jika naik gunung menjadi acara reuni :)

                Yang mengejutkan, saat perjalanan pulang ternyata salah seorang kawan sempat merasa bahwa ia melihat “mbak-mbak berambut panjang”. Padahal waktu itu matahari bahkan belum tenggelam. Benarkah? Entahlah…

                Perjalanan pun diakhiri dengan makan malam di warung di kaki gunung dan kepulangan dengan kaki Gunung yang gemetar waktu menginjak kopling mobil. Sorry Bro, ane belum punya SIM A :v

5, 6, 7-8-2014: Gunung Bromo, 2329 mdpl (Jawa Timur)

                Inilah perjalanan mendaki saya yang paling lama diwacanakan. Sebulan lebih ada mungkin. Sebuah perjalanan yang direncanakan oleh teman-teman di Karang Praga (Keluarga Semarang Putra Ganesha, perhimpunan mahasiswa semarang di ITB). Awalnya saya galau akibat dana yang harus dipersiapkan yang cukup besar (menurut saya) padahal ada rencana ingin membeli pedang. Namun, pertimbangan bahwa pedang bisa menunggu sedang kesempatan berpetualang belum tentu hadir lagi, jadilah saya sambar kesempatan itu. *hitung-hitung persiapan ke Mahameru

                Perjalanan di mulai di Stasiun Poncol dan menempuh 8 jam ke Kota Surabaya. Sampai di sana sekitar jam 6 sore dan ada slot waktu  hingga pukul 10 sebelum dijemput tour guide. Maka dari Stasiun Pasar Turi (bener kan?) kami menuju ke Tugu Pahlawan. Ingin sekedar foto-foto. Meski ada sedikit masalah akibat masuk tanpa izin—akhirnya bisa dilobi kok, ilmu saat jadi Agnibrata belum terlalu luntur hehe. Setelah itu kami melakukan makan malam yang entah kenapa terasa muraaaaaaaaaaaaah sekali. Ayam goreng yang hanya seharga 14 ribu sepiring dengan 3 potong sedang ayam. Ternyata baru sadar, di Surabaya itu memang tidak semahal di Bandung.

Tugu Pahlawan

                Mobil elf yang menjemput pun tiba. Karena pengemudi harus ditemani ngobrol agar terasa sopan saya pun ditunjuk untuk duduk di depan—bersama seorang kawan yang terbukti tidur juga di akhir-akhir perjalanan. Sungguh, hari itu saya kembali tidak tidur. Namun saya sungguh (lagi) tidak menyesal karena ternyata sopir tersebut adalah yang punya travel dan merupakan pengusaha jasa travel dengan asset 18 mobil berbagai jenis. Darinya saya belajar banyak hal tentang bisnis persewaan mobil—bapak saya pengen mengembangkan usaha di sini—dan perbincangan politik yang membuka pikiran. Betapa sebenarnya kasus lumpur Lapindo tidak seburuk yang diberitakan. Karena yang masih macet adalah mereka yang mengaku terkena dampak lumpur namun tak mempunyai dokumen bukti kepemilikan property. Dan inilah quote terbaik malam itu:

“Kalau untuk hidup, penghasilan berapa pun seharusnya cukup.
Namun jika untuk gaya hidup, penghasilan berapa pun tak akan pernah cukup.”

Ini menanggapi pertanyaan saya akan keputusan beliau yang keluar dari Bank Danamon padahal sudah berpenghasilan 8 juta/bulan (tahun 2010) untuk memulai usahanya dengan penghasilan yang seringkali minus. Dan beliau berkata bahwa menjadi pengusaha itu memang berat. Bagaimana harus tidur pagi tiap hari akibat menunggu mobil yang belum pulang, mencuci mobil malam-malam, order sepi, dan tertipu. “Tapi saya enjoy aja Mas. Ya gimana ya, mungkin gara-gara usaha punya sendiri sih. Jadi ya semangat.”

                Singkat cerita, kami tiba di terminal jeep. Dan mulailah pendakian hepi dengan jeep menuju gardu pandang Gunung Bromo untuk memandang matahari terbit. Beuh, rame banget di mana hampir setengah turis adalah turis asing. Dan mulailah terpikir satu hal: “Ini sholat shubuhnya gimana?”

                Akhirnya saya putuskan untuk sholat di pinggir jalan, bodo amat dengan bisik-bisik turis lain. Mungkin kalo ada turis brengsek dari luar negeri dan menyerang saya akibat menganggap saya radikal,  dengan senang hati saya akan menghajarnya. Ada kerambit kok di tas :p

                Dan inilah pemandangan sunrise itu. Orang-orang sibuk berfoto atau memotretnya. Namun saya ingat nasihat seseorang,

”Jika harus memilih, pilihlah untuk merekam semua momen terindah dalam memorimu. Karena tak ada kamera yang dapat melebihi kemampuan mata, dan foto yang melebihi kenangan di hati.”

Agak Berawan 

Udah agak terang

                Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke padang pasir dan padang savanna. Widih, keren sekali pemandangannya…


Sebagian peserta Bromo Tour

Padang pasir

Saya cuma megangin, gak bisa main sama sekali :v

Lalu dilanjutkan ke kawah Gunung Bromo yang harus mendaki ratusan anak tangga. Sebenarnya bukan panas atau lelahnya yang menantang—kaki saya masih pegal akibat naik Gunung Ungaran sih—namun lebih pada hembusan pasir yang menerpa mata dan mulut. Dan yang lebih heboh, pasir itu bercampur dengan pup kuda yang mengering -_-

                Sempat terpikir, jika pasir di Bromo saja sudah begini kira-kira bagaimana badai pasir di Syam sana ya? Atau, gimana dengan Padang Mahsyar nanti?

19, 20, 21-8-2014: Gunung Ciremai, 3078 mdpl (Jawa Barat)

                Sepulang mendongeng fisika (17-8-2014), saya pun bermain ke kosan si Madun. Yah, sekedar ngobrol-ngobrol mengusir bosan. Dan baru sampai di depan kamarnya itu orang sudah nongol dan berkata,”Ciremai yok!”

“Kapan?”

“Tanggal 19 sampai 20. Siap? Kurang orang nih!”

“Matanyaaaaa, yang bener ajalah persiapan dua hari doang. Yaudah lah, apa speknya?” (semua percakapan dalam bahasa jawa semi ngapak dan semarangan)

                Malam itu saya mulai bergerilya mengumpulkan spek dengan meminjam ransel, matras, dan sleeping bag dari inventaris kosan Pang. Juga headlamp dari Mbak Yudith.


                Hari-H pendakian gunung tertinggi di Jabar. Yang lainnya memakai sepatu gunung (meski ada yang pinjaman) sedang saya tetap berusaha tangguh dengan sandal gunung. Berangkat dari kampus sekitar pukul 5 sore dan sampai di Pos 0 pada pukul setengah 10. Perjalanan dengan elf dari Bandung ke Majalengka skip dulu saja. Oh ya, ternyata baru sadar bahwa Curug Muara Jaya itu satu kompeks dengan gunung ciremai lho.

                Kami mengambil jalur pendakian teringan yaitu Apuy. Setelah tidur semalam di gardu Pos 1 (padahal ada mushola yang anget tapi gak keliatan gara-gara gelap -_-) dengan kedinginan, pada pukul delapan pagi kami mulai pendakian. Tidak lupa sarapan dulu penuh karbohidrat berupa mie rasa soto yang dibuat seperti mie goreng, nasi, dan lanting.

                Hari-H pendakian gunung tertinggi di Jabar. Yang lainnya memakai sepatu gunung (meski ada yang pinjaman) sedang saya tetap berusaha tangguh dengan sandal gunung. Berangkat dari kampus sekitar pukul 5 sore dan sampai di Pos 0 pada pukul setengah 10. Perjalanan dengan elf dari Bandung ke Majalengka skip dulu saja. Oh ya, ternyata baru sadar bahwa Curug Muara Jaya itu satu kompeks dengan gunung ciremai lho.

                Kami mengambil jalur pendakian teringan yaitu Apuy. Setelah tidur semalam di gardu Pos 1 (padahal ada mushola yang anget tapi gak keliatan gara-gara gelap -_-) dengan kedinginan, pada pukul delapan pagi kami mulai pendakian. Tidak lupa sarapan dulu penuh karbohidrat berupa mie rasa soto yang dibuat seperti mie goreng, nasi, dan lanting.
Pak Bos Bang Ojan dan anggota lain (Madun) sedang menyiapkan sarapan
Saya? Nonton doang :9


Nasi, mie, lanting

Mushola

Jalur pendakian

Madun, saya, Dhani, Mbak Anik, Mbak Wira, Bang Ojan


                Wah, jalurnya maaaaaan, jauh dan menanjak terus. Bahkan yang menyebakan ada salah seorang yang memindahkan plang pos 3,5 ke tempat pos 2,5. Jadilah PHP  huhu. Namun perjalanan sungguh terbayar dengan pemandangan yang di dapat dari pos 6, tempat kami mendirikan tenda. Total waktu yang dibutuhkan sekitar 8 jam sehingga kami tiba jam 4 sore. Tidak terlalu buruk kan?
Pos V

Menuju Pos VI

Persimpangan dari jalur Palutungan

Masak makan malam

Saya (kembali) hanya melihat.
Karena masakan jika terlalu banyak yang ikut campur jadi aneh rasanya (ngeles)


Mulailah kami menyiapkan tenda dan memasak untuk makan malam. Menunya adalah nasi, tempe goreng, kerupuk udang, sayur sop, dan sambal kecap. Istimewa. Kalau saya ditambah dengan beri hutan. Jadilah empat sehat: nasi, sayur, lauk, dan buah :9

                Nah, inilah pemandangan matahari terbenam dari pos 6:
Sunset 1

Sunset 2

Lautan awan


ehm...

                Setelah matahari terbenam maka pemandangan langit menjadi lebih menakjubkan lagi, sempurna dengan ketiadaan kabut maupun bulan. Meski biasanya saya sangat menyukai bulan, namun ketiadaannya saat itu justru menjadikan langit lebih puitis dengan bintang yang bertaburan. Bahkan galaksi Bima Sakti terlihat jelas dari ketinggian 2950 mdpl Pos 6. Senada dengan ketiadaan “bulan yang itu” karena sedang nun jauh di sana. *abaikan

                Sayang tidak bawa kamera DSLR yang bisa mengabadikannya. Yah, jika Anda ingin mencobanya silahkan mendaki sendiri dan bayangkan betapa kecilnya kita. Kami pun mulai saling membagi pikiran dan bercerita mulai dari kekejaman zionis, scenario akhir zaman, Malhamah Kubra, alien, hingga azab-azab umat terdahuu. Puas memandang langit saatnya tidur. Karena sesuai rencana kami akan muncak untuk memandang matahari terbit.

                Jam 03.00, kami terbangun dan setelah sedikit bersiap (malamnya Pemimpin Safar membuat nutrijel dengan potongan nanas), pendakian sesi dua pun di mulai. Tidak perlu waktu lama ternyata, cukup setengah jam. Yang lama adalah ketika mengitari kawah untuk mencapai spot terbaik di ujung timur kawah. Bahkan kami harus merayap—dalam arti harfiah—di tepi kawah yang sangat rawan untuk terjatuh. Hal ini belakangan saya sadari sangat konyol karena di sisi kanan agak ke bawah sebenarnya ada jalan yang lebih manusiawi. Namun, setidaknya hal ini merupakan cerita yang indah untuk dikenang apalagi jika Anda seorangyang takut ketinggian hahaha. Bahkan pantulan cahaya bulan sabit (bulannya baru muncul ternyata) di kawah membuat saya berpikir bahwa kawah berisi air serupa danau dengan kedalaman tak terkira dan monster air yang menyeramkan (oke, ini lebay).

Setelah sampai di tempat tujuan, cahaya merah mulai mengintip di ufuk timur. Kami pun bersegera melaksanakan sholat shubuh untuk kemudian bergegas mencari tempat paling pas menikmati momen ini. Dan jika Anda cermati maka akan nampak Gunung Slamet (3428 mdpl) yang menjulang gagah seolah menyapa dari timur. Ah, sebuah keindahan tak terkatakan yang sangat indah jika dinikmati dengan hati yang tenteram dan tidak ribut dengan selfie. Dan pemimpin perjalanan—Bang Ojan—sepertinya sudah sangat paham akan hal ini.
Sunrise feat Gunung Slamet

Arah matahari angsung

Sayang agak blur

Madun gak ada, berrti dia yang motret :v

Idem

Kerambit dan jaket himpunan di atas awan :)
Saya akui ini keren

Punakawan ceritanya

LOVE

Kawahnya

Berdiri, ruku', duduk, sujud :)

Full team di puncak 3078 mdpl

"Bigger, Stronger, Better"


Ransel Deuter emang enak banget

Selamat jalan...

Dari terminal terlihat gagahnya 3078 mdpl

                Lalu perjalanan pulang pun di isi dengan rasa kantuk yang mendera akibat kelelahan. Namun satu yang saya ingat, salah seorang anggota rombongan pernah bilang,”Kau ini kok kayak gak pernah kehabisan energy sih. Pantesan makannya paling banyak, orang hiperaktif gitu.” Dan saya hanya tersenyum mendengarnya, mungkin benar itu yang menyebabkan saya tidak gendut-gendut meski makannya paling banyak :)


                   Dan saat perjalanan turun ada satu quote dari Dhani Ndog yang cukup mengena:

"Ijazah dulu, baru 'ijab sah'!"


NB: Buat anggota Tim Ciremai yang kemaren saya kasih nama "Jawa Coret" yaitu Bang Ojan, Madun, Dhani 'Ndog', Mbak Wira dan Mbak Anik: Menakjubkan!

NB2: Alasan penamaan itu saya ambil karena 5 anggota adalah orang Jawa (Semarang, Pati, Temanggung, dan Kebumen) sedang satu orang dari tanah seberang: Padang :)

2 komentar:

  1. meski tidak dibaca secara rinci dan menyeluruh, aku akui hebat dah mas, tahun ini 3 gunung sekaligus :v kereen :p
    view-nya nggak kalah keren :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ehm, kalo tahun ini lebih sih :\

      Ini 3 gunung sebulan kok haha
      *nyombong

      Hapus