Minggu, 10 Agustus 2014

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,


                Setelah menulis sesuatu yang saya pikir cukup bermanfaat, hari ini saya ingin menulis sesuatu yang sangat mungkin akan mengundang cerca. Sebuah tulisan yang termotivasi oleh “pertengkaran” saya pada orang-orang yang terlalu bahagia karena sudah berpasangan dan mereka yang terlalu mengemis pasangan. Selain itu juga dikatalis oleh tayangan ‘Golden Ways: Jones atau Marnes? (Jomblo Ngenes atau Married Ngenes?)’.

                Jadi akhir-akhir ini, karena hidup di rumah orang tua praktis kesibukan saya pun mau tidak mau turun. Bahkan untuk urusan makan yang dulu perlu usaha kini tinggal ke dapur dan membuka tudung saji. Menurunnya kesibukan biasanya akan berbanding lurus pada dua hal: jika bukan panjang angan-angan maka kemampuan mengurusi orang lain. Nah, karena yang pertama saya sudah tahu obatnya, jadilah saya kena yang kedua. Dulu-dulu juga sudah sering mengurusi sih, hanya sekarang bertambah lebih suram. Bahkan sudah sampai pada tataran sarkasme. Yap, apalagi jika bukan urusan orang-orang “pemuja” pernikahan (tuh kan, sinisme-nya mulai lagi -_-).

                Nah, mau dimulai darimana ya?


Yang Sudah Tidak Jomblo

                Di luar sana memang ada orang-orang yang telah tidak jomblo. Mereka telah punya pasangan. Atau mungkin lebih syar’I jika kita definisikan yang tidak jomblo adalah orang yang sudah menikah. Bahkan ada yang diberi kelapangan untuk dapat mewujudkan sunnah ini dalam usia yang belia. Dalam usia muda, bahkan lebih muda dari saya. Akibat kehati-hatiannya agar tidak terjerumus dalam zina. Akibat keinginan untuk menundukkan pandangan.

                Sampai di sini tak ada yang salah. Justru saya sangat mengagumi para pemuda—dan pemudi—yang telah mau berkomitmen pada urusan besar ini. Mereka yang belum mapan, namun telah berjanji setia satu sama lain untuk terus bahu-membahu dalam mengarungi kehidupan. Dan hanya kepada Allah mereka bersandar.

                Sungguh, sampai di sini saya memberikan respek yang tinggi pada orang-orang jenis ini. Namun, kemudian ada beberapa orang—oknum—labil yang mulai bertingkah lebay. Dan kepada orang-orang jenis inilah sarkasme saya seperti menemukan tempat yang tepat.

Yang Bagaimana Memang?

                Oknum jenis pertama adalah mereka yang sedang dalam euphoria akibat ‘berhasil’ menikah. Atau yang berhasil ‘menikah muda’, dan mulailah kegembiraan ini mereka bagikan. Memang ada ayat yang berisi tentang ‘jika kau mendapat nikmat, maka sebut-sebutlah’. Tapi kan tidak mesti setiap hari membagikannya di jejaring social? Apa bedanya dengan para ababil yang sedang pacaran lalu mengumbar kemesraannya?  

                “Kan kami sudah halal, jadi kami boleh dong beradu kemesraan! Biar mereka tahu, emang yang pacaran doang yang bisa begitu?” Lah, kok pendek sekali pola pikirnya. Jadi selama ini motivasinya sekedar tidak mau kalah dengan mereka yang pacaran? Mau beradu upload foto-foto diri bersama pasangan?

                Kemudian oknum kedua adalah yang lebih sering jadi korban sarkasme saya. Atau setidaknya komentar tidak enak dari orang-orang seperti saya. Mereka adalah orang-orang dengan niat baik, namun dengan cara yang menjengkelkan. Pernah dengar cerita orang yang sedang banyak utang lalu minta bantuan? Kemudian ada orang yang datang dan melemparkan berlian. Sayangnya, berlian itu justru mengenai dahinya sehingga membuat darah mengucur. Menurut Anda, akankah orang itu melihat bantuan yang diberikan atau justru memukuli yang melempar berlian? Apalagi jika ternyata orang yang kesulitan itu tidak meminta bantuan, wah udah deh, yang ada malah berkelahi.

                Nah, itu pula yang terjadi pada kalian. Mungkin niatnya baik, memotivasi mereka yang (menurut kalian) tidak seberuntung kalian karena masih berstatus jomblo. Namun sayangnya, tidak dengan cara yang ahsan. Mending jika nasehat ditujukan langsung, lah ini dengan main sindir-sindiran. Tidakkah Anda sadar bahwa cara itu justru lebih memancing saya untuk berkomentar dengan kata-kata yang bikin tertawa tapi sekaligus sakit mata?

                Tidakkah Anda sadar di luar sana ada orang-orang yang memang berkeinginan untuk menikah dalam usia muda, secepatnya. Bahkan keinginan itu telah hadir di pikiran mereka di saat Anda semua belum mengerti apa itu pernikahan (karena masih SD :p). Banyak orang-orang yang niat dan ilmu untuk melakukannya jauh melampaui Anda semua, namun Allah memang belum memberikan ladang pengamalannya. Bahwa orang-orang seperti mereka itulah yang-jika-saya-dengan-kapasitas-hati-seperti-sekarang menjadi mereka, tentu akan menjadi sakit sekali hati ini. Lalu, tidakkah Anda memikirkan bagaimana rasanya menjadi orang seperti mereka?

                Ada beberapa kasus, mungkin saja mereka telah berikhtiar semaksimal mungkin. Hingga usia merambat naik, ikhtiar itu tidak pernah dikendurkan. Doa mereka tak pernah putus. Mereka tetap istiqomah, dan saya tahu beberapa dari mereka. Mereka lah orang-orag yang KONTRIBUSINYA PADA DAKWAH TIDAK KALAH DARI ANDA SEMUA! Saya tahu mereka selalu tersenyum kecut dalam hati saat ada berita walimahan ikhwannya yang jauh lebih muda, namun mereka diam saja. Dan itu bukan berarti mereka iri! Mereka hanya tidak nyaman jika ada pasangan-pasangan muda dengan emosi yang belum stabil, menikah, lalu memiliki euphoria berlebihan memamerkan “keberuntungan”mereka. Jadi saya mohon, setidaknya hormati orang-orang ini. Karena sungguh, jika ada dua orang di depan saya di mana yang satu Anda dan satunya lagi dari mereka maka saya akan memilih mereka sebagai amir saya. Entah itu dalam safar, dakwah, atau pun jihad. Karena bagi saya, menikah itu bukan ukuran kehormatan seseorang, jika orang itu hanya bisa menyindir orang lain.

                Lalu siapa yang tahu jika orang-orang yang Anda sindir-sindir  itu memiliki banyak pertimbangan mulia yang itu bahkan tak terpikirkan oleh Anda? Karena sejauh yang saya tahu, kebanyakan mereka yang menikah muda itu di back up oleh dua hal: Orang tua yang berada dan memiliki pemahaman yang sama tentang “indahnya” nikah muda. Siapa yang tahu jika orang yang Anda sindir itu memiliki tanggungan sebagai anak sulung yang harus memikirkan biaya pendidikan adik-adiknya? Bagaimana jika orang tua mereka bukanlah mereka yang “ter-tarbiyah” akan keutamaan nikah saat kuliah? Bagaimana bila orang tua mereka adalah orang tua “konservatif” yang meminta anaknya tidak menikah sebelum memiliki penghidupan yang jelas? Anda mau bilang bahwa mereka berarti tidak percaya akan janji Allah tentang rezeki? Yaaah, saya harap Anda lebih bijak lagi—bukan lebih pintar lagi. Karena Anda saya pikir sudah cukup pintar, namun kurang bijak.

"Menuntut orang melakukan hal syar'i 
tanpa paham tentang waqi' (realita) adalah awal kedzaliman". 

Jadi, pernahkah Anda memikirkan hal ini? Bahwa tidak semua orang hidup dalam kondisi dan standar kehidupan Anda yang islami sekali itu?

                Lalu yang membuat saya paling meradang adalah ketika membawa hadits tentang seburuk-buruknya manusia adalah yang tidak menikah dan sehina-hinanya kalian adalah mayat pemuda yang dalam keadaan bujang. Hey Bro, hadits ini ancaman dan celaan buat mereka yang TIDAK MAU menikah, bukan mereka yang BELUM menikah. Tidakkah sadar betapa banyak mujahidin di medan jihad sana yang tidak “sempat” SEKEDAR menikah karena ada kewajiban lebih besar untuk membela harta, jiwa, dan kehormatan muslimin lainnya? Sedangkan Anda berani bilang sebaik-baik manusia ini sebagai sehina-hinanya mayat? Anda yang bahkan secara tidak langsung memegang predikat CABOT?

                Oh ya terakhir buat yang suka upload foto sama istri, sebelumnya punten. Pada kadar yang berlebihan tidakkah Anda sedang memamerkan wanita milik Anda pada dunia? Anda mau bagi-bagi kecantikan istri? Sedangkan coklat silver queen saja Anda tidak mau bagi-bagi :)

Yang Masih Jomblo

                Jomblo adalah predikat bagi mereka yang belum berpasangan. Lalu salahkah? Tentu, tak mesti ini sesuatu yang salah.  Karena di mata saya ada dua jenis jomblo: Jomblo ngenes dan Jomblo Mulia.

Jomblo Ngenes

                Pernahkah Anda menemui orang-orang yang begitu sering memikirkan tentang menikah? Ada yang salah? Sekali lagi, sampai di sini tidak salah-salah amat. Namun akan menjadi salah—di mata saya—ketika yang ada di otak Anda cuma urusan ini saja. Apalagi jika Anda seorang aktivitas dakwah, seolah tanpa menikah tak mungkin ada khilafah (oke, ini lebay lagi). Namun, saya pikir Anda paham maksud saya. Kalau kata seorang kawan,”Lebih banyak mikirin nikah daripada mati, padahal besok masih belum pasti.” Terasa jleb? Ya, santai saja kok. Dulu saya juga pernah mengalami saat-saat seperti ini.

                Tidakkah Anda paham, bahwa urusan kita lebih banyak jadi jangan buang-buang energy pada hal yang masih serupa angan-angan. Silahkan baca tentang bahaya terlalu sering berangan-angan di sini.

                Apalagi ada yang berpikiran bahwa menikah itu untuk mengisi jiwa yang sepi. Bahwa ia sendiri, maka perlu orang lain untuk mengisi. Bahasa lebay-nya,”Kaulah pelepas dahaga, atas hidupku yang terasa hampa…” Man, pup banteng! Jika Anda masih berpikiran seperti itu, kata teman saya lebih baik Anda urungkan niat menikah Anda. Mari kita sedikit berandai-andai.

                Anda adalah orang yang merasa kurang atas hidup Anda, kurang bahagia, kurang bermakna. Maka Anda berharap dengan hadirnya orang lain (ini juga berlaku bagi mereka yang mau pacaran juga sih), maka rasa sepi itu akan hilang. Tidakkah Anda sadar betapa egoisnya Anda? Anda hanya akan menjadi pihak yang selalu meminta, atau malah mungkin menuntut saja. Anda berharap pasangan Anda adalah “sapi perah” yang bisa Anda ambil manfaatnya.

                Jika memang nantinya Anda mendapatkan orang dengan kapasitas yang memang bisa memenuhi hidup Anda, meramaikan hidup Anda, maka tidak terlalu masalah. Lalu bagaimana jika yang didapat justru yang sepemikiran dengan Anda? Tidakkah yang ada saling menuntut? Kalau kata teman saya itu, inilah yang seringkali menyebabkan pertengkaran di antara mereka yang telah memiliki pasangan.

                Bagaimana jika paradigmanya dibalik? Anda adalah seseorang yang sudah sangat puas dengan hidup Anda. Kesibukan-kesibukan Anda, aktivitas Anda, telah membuat hidup Anda begitu bermakna. Lalu Anda pun mulai berpikir,”Wah, alangkah serunya jika keasyikan hidup ini aku bagi? Dengan siapa ya? Kayaknya dengan orang yang aku cintai saja deh.” Nah, di sinilah Anda memulai niat dengan harapan untuk MEMBERI, bukan MEMINTA. Bukankah itu yang disebut cinta? Maka saat Anda pada kondisi terburuk mendapat pasangan yang hanya meminta cinta dari Anda, yang berharap Anda bisa mengisi hidupnya, dengan tersenyum Anda bisa memenuhinya bukan? Oh ya, bukankah janji Allah untuk memberikan pasangan yang sepadan? ;)

                Selain itu ada yang menikah dengan motivasi HANYA karena takut berzina. Maaaan, kok motivasinya itu doang tuh lho. Anda pikir menikah HANYA urusan sex? Sanggupkah Anda memandang mata pasangan Anda—istri Anda—lalu berkata,”Aku menikahimu HANYA karena aku takut zina.”

                Tak ada yang salah sebenarnya di sini, tapi terasa kurang pas saja di hati. Saya sih tidak tega kalau begitu, karena menikah itu kan urusan dua orang. Padahal ada yang lain yang lebih praktis dan hemat: PUASA!

                Kenapa tidak Anda gunakan kesempatan yang telah diberikan Allah ini. Nikmat besar ini? (bukankah waktu yang longgar adalah nikmat juga?) Percayalah, waktu yang Anda miliki ini akan lebih berguna jika Anda pakai untuk bekerja, bekerja, dan bekerja demi umat daripada buat mikirin terus sampai galau nikah. Karena siapa yang tahu, saat kualitas diri Anda yang sekarang dan Anda diberi pasangan oleh Allah, maka kontribusi Anda pada umat langsung anjlok.

                Jika kata kontribusi untuk orang lain terlalu berat, mari kita andaikan waktu longgar yang Anda miliki untuk pengembangan diri sendiri. Gunakan kebebasan waktu, finansial, dan energy ini untuk meningkatkan kualitas hidup Anda semaksimal mungkin. Anda dapat pergi ke mana saja, melakukan apa saja, berpetualang ke daerah terpencil, tanpa harus membuat khawatir orang lain kecuai diri Anda dan (mungkin) orang tua. Asal semuanya demi perbaikan kualitas kehidupan Anda sebagai muslim. Percayalah, saya pernah mendengar saudara yang sudah menikah berkata,”Wah, sekarang mau apa-apa sudah tidak sebebas dulu. Bahkan mungkin untuk urusan dakwah.”

                Ingat kata-kata kaprodi saya ini:

Jika Anda belum siap berkorban, jangan menikah!

                Mungkin panduan pertanyaan ini bisa dipakai:
               
·         Hal-hal baru apa saja yang sudah saya pelajari selama enam bulan terakhir?
·         Keahlian baru apa yang semakin saya pertajam dalam tiga bulan terakhir?
·         Buku dan bacaan apa saja yang telah saya habiskan dalam sebulan terakhir?
·         Perbedaan apa yang sudah saya lakukan di minggu ini dibanding rekan-rekan saya?
·        Pencapaian apa saja yang saya miliki hari ini yang membuktikan bahwa saya lebih baik daripada hari sebelumnya?

Ketika Anda mengembangkan passion untuk menjadi yang terbaik dalam segala bidang, Anda akan menemukan lebih banyak kepuasan dan kenikmatan dalam hidup. Anda tidak lagi punya waktu untuk merasa kesepian. Anda sudah begitu puas akan hidup Anda.  Seperti kata seorang filsuf India bernama Omkar Phatak,

"Being single is getting over the illusion that there is somebody out there to complete you and taking charge of your own life."

Jadi, masih mau menjadi jomblo ngenes? ;)

Jomblo Mulia

                Untuk ini saya copas saja dari kultwit ustad Bendri Jaisyurrahman (@ajobendri) hehe:



1.      Bismillah, saya mau bahas sedikit tentang JULIA (Jomblo Mulia). Agak2 girly sedikit ya istilahnya. Ya, maaf. Belum nemuin istilah lain hehe
2.      Entah gmn ceritanya. Pembahasan nikah saat ini menjadi isu yg begitu populer terutama bagi anak muda yg tak setuju dgn pacaran. #JULIA
3.      Mereka memang tdk pacaran. Tapi saat orientasi pikiran hanya tertuju kpd nikah, tak sadarkah bahwa bnyak amal lain yg terabaikan? #JULIA
4.      Bnyk yg merasa malu jika umur sudah mapan, blm juga dapat pasangan. Akibatnya nikah kayak kejar setoran. Amal lain ditelantarkan. #JULIA
5.      Tak salah jk kebelet nikah. Itu normal. Namun, jgn sampai orientasi hdp utk ibadah jd lalai. Seolah jk tak nikah hdp sudah slesai #JULIA
6.      Bnyk akhirnya jomblo yg tersandera. Blm mampu nikah namun amal lain tak ada. Pikiran diarahkan tuk buat rencana agar nikah sgera #JULIA
7.      Beruntunglah Jomblo yg sadar diri. Bhw nikah adlh jln tuk dekati ilahi. Jika blm dpt pasangan sibukkan diri dg amal silih brganti #JULIA
8.      Usia muda adlh puncak sgala energi. Justru ia pakai utk sbanyak2nya mngabdi kpd Ilahi. Jgn sampai tak brdakwah krn sibuk cr istri #JULIA
9.      Jomblo mulia punya agenda kesibukan yg padat. Berpindah dr amal yg satu ke amal lain. Tak nganggur. Maka tak ada kata galau. #JULIA
10.  Ia tau nikah adlh setengah agama. Tapi ia juga paham, bahwa sibuk dlm amal yg lain bagian setengah agama yg lainnya. #JULIA
11.  Ia pahami nikah ibarat makan siang. Akan datang jadwalnya. Sambil nunggu jadwal datang maka ia bekerja. Tiba2 hidangan tersedia. #JULIA
12.  Perhatikan bgmn pasien RS. Dr pagi sudah tanya tentang jatah makan siang. Tersebab mrk tak punya kesibukan. Terkapar di ranjang. #JULIA
13.  Jomblo yg nganggur sll brtanya kpn ia nikah. Utk apa? Utk ibadah, katanya. Klw gitu knapa tidak banyak tilawah. Ibadah juga kan? #JULIA
14.  Kadang kalau jujur, urusan nikah lebih banyak masalah gengsi. Menjadi jomblo dianggap gak laku. Gak mutu. Nikah jadi diburu #JULIA
15.  Padahal sejarah banyak mencatat jomblo2 bermutu. Namanya abadi krn sibuk dlm amal tak kenal henti. Surga pun menanti. #JULIA
16.  Ibnu Taimiyah contoh Jomblo Mulia. Tak sempat nikah. Namun ia adalah mutiara ilmu bagi banyak ulama. Pahala mengalir deras. #JULIA
17.  Begitu pula dgn imam nawawi. Gelarnya muhyiddin 'yg menghidupan agama'. Jomblo mulia yg banyak keluarkan bnyk buku. #JULIA
18.  Masih banyak contoh lain. Tak inginkah para jomblo mengikuti jejak mereka? Banyak sibuk. Tak ada waktu utk galau dan gelisah. #JULIA
19.  Sesekali galau silahkan. Tp Jomblo yg selalu galau adalah jomblo pecundang. Di dunia tak berarti, di akherat rugi. Mau? #JULIA
20.  Jomblo bkn dosa. Yg dosa klw meratapi nasib dan putus asa. Gagal ukir prestasi saat sedang di puncak energi. Umur terbuang sia2. #JULIA
21.  Setan mndekat kpd jomblo yg nganggur. Dgiring kpd rasa pnyesalan akan taqdir. Sesekali setan ajak tamasya pkiranny ttg pasangan. #JULIA
22.  Allah siapkan kjutan spesial utk jomblo mulia. Yg sbukkan dr dlm amal nyata. Tak dpt pasangan didunia, dsambut 72 bidadari surga #JULIA
23.  Dari skrg mulai mencatat. Amal apa yg blm dikerjakan. Segera lakukan. Doa utk nikah, terus panjatkan. Namun tetap dlm kesibukan. #JULIA
24.  Ingat, kewajiban kita lebih banyak drpd waktu tersedia. Mumpung belum direpotkan dgn urusan rmh tangga, banyak2in amal yg lain. #JULIA
25.  Kelak saat jodoh datang, merasa tak ada amal yg terutang. Semua amal sdh dikerjakan. Berlanjut dlm amal lain yg lebih menantang. #JULIA
26.  Tiap2 tahapan ada amalnya. Saat jomblo ada amalnya. Saat mnikah ada amalnya. Hidupnya berpindah dr amal yg satu ke amal yg lain. #JULIA
27.  Yuk ah yg masih galau krn status jomblonya. Tunjukkan bahwa jomblo banyak karya. Bahkan bs melebihi yg sudah menikah. Mau coba? #JULIA
28.  Demikian kultwit tentang #JULIA Perez (Jomblo Mulia Penuh Preztasi) :D. Semoga ada manfaat. Maaf jika tak berkenan. Silahkan dishare

 Yuk, keep JOSH (JOmblo Sampai Halal) sambil memantaskan diri :D (sumber: http://monilando.blogspot.com/2013/01/julia-perez-jomblo-mulia-penuh-preztasi.html )

Penutup

                Sebagai penulis, dan sampai sekarang masih jomblo, sah-sah saja jika Anda menganggap saya barisan sakit hati yang iri. Dan katanya iri tanda tak mampu. Yah, memang tak ada yang salah. Namun jika saya diizinkan untuk untuk bermonolog atas kondisi saya, maka inilah saya.

                Saya adalah pemuda yang tentu sangat ingin meraih indahnya pernikahan. Namun saya pribadi yakin, ada saat untuk setiap hal. Dan jika memang sekarang belum saatnya, kenapa terlalu ambil pusing? Banyak pekerjaan lain—dan mungkin saja itu jalan ke “sana”—yang menunggu untuk diselesaikan. Biarlah saya berusaha untuk berada dalam barisan mereka “yang sudah, sedang, dan akan selalu mempersiapkan diri secara proporsional.”

                Karena bagi saya menikah adalah suatu proses untuk membuat suatu peradaban. Peradaban yang tak bisa dipandang sebelah mata, maka layakkah jika ia dibangun atas dasar kejar setoran semata? Dan sebaliknya, layakkah jika ia semakin tertunda akibat kelemahan diri saja?

Memangnya menikah itu perlombaan lari? Jadi ada yang lambat menikah? Cepat menikah?

Semua orang paham bahwa jodoh adalah rahasia Tuhan. Sayangnya, tetap saja banyak yang mendefinisikan 'telat menikah', atau sebaliknya 'pernikahan dini'. Tidak ada standar kapan harus menikah, karena semua orang khas. Jika tiba masanya, maka pasti akan terjadi.

--Tere Liye—

                Maaf bila ada kata yang kurang berkenan, karena seperti saya bilang, saya memang suka cari masalah hehehe.

5 komentar:

  1. Dari awal kayak ditampar2: hyak des! :D Terakhiran jadi nangis bacanya. Thanks ilmunya, Mas Bro. Padahal tadinya aku nyari review acaranya Pak Mario. -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf ya, emang penuh sarkasme. Yang nagis gara-gara saya barisan sakit hati?

      Haha, sip2, saya barusan juga liat resep sosis saus tomatnya. Dan nyesek juga rasanya, diperut :v

      Btw, maturnuwun sampun mapir :)

      Hapus
  2. rulisan dinlog ente bagus2 bang, inspiratif :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. yo, promosikan yo bang biar saya main populer :v

      Hapus
  3. hahaha, oke oke, salam kenal :)

    BalasHapus