Senin, 16 Februari 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


Kejadian Suriah dan Yaman membuktikan bahwa kekuatan dakwah tauhid dan sunnah tidak akan efektif hingga dipayungi kekuatan.

Goresan sunnah penuh dengan perintah untuk mempersiapkan kekuatan dari memanah, berkuda, hingga idad fisik karena itu adalah fitrah perjuangan.

Itulah yang menjadikan sahabat setelah sempurna pengajaran sunnah kepada jiwa mereka, maka Allah mendidik mereka dengan memerintahkan jihad.


Pantas Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa islam mustahil tegak kecuali dengan perkara yang menyertai;   Kitaabul Hadi dan Saifun Naashir.

Kitaabul hadi: ilmu yang memberikan petunjuk umat hingga terang antara syirik dan iman, antara haq dan bathil, ia menerangi ditengah kegelapan.

Saifun naashir: pedang (kekuatan) yang menghantarkan kemenangan untuk agama Allah dan melindungi kebenaran dari segala perusak dan pengganggunya.

Keduanya selaras dengan fitrah sunnah , karena ilmu memanggil kekuatan untuk pelindung, sebagaimana kekuatan memanggil ilmu untuk mengendalikan.

Ilustrasi ilmu dan kekuatan ibarat burung dengan kedua sayapnya, maka apabila salah satu sayap itu ada yg sakit, maka burung gagal terbang.

Syaithan pun datang untuk merusak manhaj ini, ada yg disibukkan dengan ilmu tapi melalaikan kekuatan dan juga ada yang sibuk dengan kekuatan tapi melalaikan ilmu.

Sehingga ketika ilmu tanpa dibingkai kekuatan maka ia hanyalah macan tanpa taring, ataupun kekuatan tanpa ilmu ia hanya merusak dan membinasakan.

Tak lebih seperti Zaid bin Amru bin Nufail. Ia hanif,dan ahli ibadah, ia mengkritik adat Qurays tapi ia tak punya kekuatan dan pendukung.

Karena tanpa kekuatan,maka ia tak ditakuti orang Qurays dan tak dimusuhi kaum musyrikin, karena ia tak membahayakan.

Beda dengan Rasulullah ketika muncul dengan tauhidnya berfondasi ilmu dan kekuatan, maka serentak seluruh musyrikin dan Qurays mengerahkan kekuatan.

Inilah perpaduan antara keshalehan pribadi dan menshalehkan sekitar, 2 perkara itu membutuhkan ilmu dan kekuatan yang haq.

Pantaslah apabila Suriah dan Yaman, yang pertama kali menolong mereka adalah generasi yang menggabungkan ilmu dan kekuatan dalam perjuangan.

Mereka berada di garda terdepan dan bergegas ketika darah seorang mukmin menetes karena kedzaliman, mereka langsung berjejer rapi melindungi.

Mereka paling cekatan dan tiada mempedulikan celoteh manusia serta hujatan, mereka berjuang hanya mengharapkan agama Allah tegak di atas bumi

Semoga Suriah dan Yaman menyajikan faidah ilmu kepada kita,"Bahwa agama ini tegak dengan ilmu dan kekuatan, maka jangan mengamputasi salah satunya.”

Karena musuh sunnah dalam akhir zaman sama dengan musuh nabi: Musyrikun, Romawi, dan Persia. Mereka akan senantiasa memerangi kita sebagaimana dulu memerangi pendahulu kita.

Dan menghadapi mereka tak hanya butuh dakwah dan akhlaq tapi juga membutuhkan kekuatan ketika mereka berbalik mendzalimi dan memerangi.

Maka beruntunglah generasi yang sedikit dan dimenangkan —Thoifah Manshurah—yaitu yang menyandingkan antara ilmu serta kekuatan untuk agama Allah.

Kumpulan twit Oemar Mita " faidah manis dri luka suria dan yaman", dengan editing seperlunya untuk memperbaiki tanda baca dan menghilangkan singkatan. Disalin-sunting-tempel dari Grup WA ‘Sharing Korda MPI’.

1 komentar: