Sabtu, 07 Maret 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,

             

                Tak terasa blog ini telah mencapai hampir 3 tahun dalam keberjalanannya. Tak terasa pula telah ada 25 follower, dengan 80an hits setiap hari. Lumayan, 975 follower lagi dan saya mulai bisa memasang iklan. Ya sudahlah, itu tujuan komersilnya.

                Nah, untuk sampai ke sana, hari ini saya membagikan sesuatu yang mungkin agak cukup berisi sedikit. Apa yang ingin saya bagi?

                Dalam hidup ini, masalah terbesar yang dialami manusia biasanya bermula dari komunikasi. Katanya sih begitu. Mulai urusan saling diam antara kawan hingga sebesar Perang Troya seringkali diawali oleh kesalahpahaman. Bahkan seringkali perang dalam Islam itu adanya kesalahpahaman. Para penyembah berhala salah paham tentang keinginan Tuhan Ingin disembah, Islam datang ingin memberikan informasi bagaimana Tuhan Ingin disembah. Tapi sebelum para da’i itu memperoleh kesempatan, mereka berpikir pasukan Islam hanya ingin merebut harta benda saja. Mereka mengira sedang berbuat kebaikan dengan memerangi Islam, padahal mereka sedang melakukan kesesatan yang nyata.


                Jika urusan “semua orang ingin dimengerti” ini begitu besar, apa yang membuatnya demikian sulit terjadi? Di sini, berdasarkan pengalaman saya pribadi maupun hasil ngobrol dengan orang-orang bijak (dari praktisi beladiri, ustadz, hingga pengantin baru), saya menyimpulkan urusan ini dipengaruhi oleh dua pihak: Yang Ingin Dimengerti dan Yang Ingin Mengerti. Dan harap dicatat, saya menuliskan hal ini bukan berarti saya telah khatam dalam mengamalkan. Justru karena enggak bisa-bisa itulah hal ini saya tulis, agar tidak lupa. Minimal tahu teorinya dulu baru praktek.

1.       Yang Ingin Dimengerti

Siapa sih yang tidak mau dimengerti di dunia ini? Siapa sih yang tidak ingin dipahami? Namun, apakah semua orang memang layak dimengerti? Yuk, mari kita evaluasi diri.

Betapa banyak orang di dunia ini—saya, anda, dan mereka— yang menyatakan bahwa dunia tidak mengerti diri kita. Kita merasa bahwa diri kita begitu special, begitu berbeda. Sampai di sini tak ada yang salah, toh Tuhan memang Menciptakan kita dengan bentuk dan karakter yang unik. Karena Tuhan memang Maha Kreatif. Sayangnya setan membubuhi hati kita dengan bumbu yang rasanya gurih tapi sangat beracun: rasa angkuh.

Ya, betapa sering kita berkata hal-hal semacam ini,”Aku itu ya begini, karakterku memang begini. Ceplas-ceplos, dan anti-kompromi untuk hal yang aku yakini kebenarannya.” Atau begini,”Yah beginilah saya. Saya berasal dari daerah x yang karakternya memang begini, tolong dimaklumi ya.” Man, saya pikir itu adalah salah satu pikiran paling egois yang pernah saya dengar. Angkuh sekali bahwa semua orang harus mengalah dan memahami diri kita—tanpa kita berusaha memahami orang lain. Di mana peribahasa “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung?”

Anda ceplas-ceplos seenak perut di tempat di mana orang-orangnya sangat menjunjung tinggi kesantunan, maka bersiaplah akan konsekuensinya. Kalau di jaman samurai dulu bisa ditebas leher Anda hanya karena dianggap tidak sopan (ini contoh ekstrimnya).

Yang kedua, masih banyak orang—terlepas dari gendernya—yang mengira bahwa semua orang itu adalah anggota pasukan Sandhi Yudha. Padahal kan mereka tahu, jumlah anggota Kopassus itu cuma 5000-an orang dan yang jadi anggota Sandhi Yudha pun hanya Grup 3 (Anda tidak tahu? Baik, sekarang saya kasih tahu kan?). Misalnya, mereka itu tidak suka akan sikap seseorang yang ramai di kamar sebelahnya. Lalu mulai bertingkah aneh seperti mondar-mandir di depan pintu kamar itu, menutup pintu kamar dengan kencang, dan seterusnya. Kalau dipikir kan ada cara yang lebih gampang. Anda ketuk pintu kamarnya lalu bilang baik-baik,”Mas, maaf, besok pagi jam 7 saya bimbingan. Dan ini sudah jam 23.30 juga. Jadi tolong main DotA-nya disudahi dulu, biar nggak ramai. Maaf, saya susah tidur jika ada teriakan ‘Anjing! Faaak! Kampret!’ dari kamar sebelah. Apa kita mencapai saling pengertian di sini?”

(Ini pengalaman pribadi, dan alhamduLillah mereka mengerti kok. Mereka minta maaf, dan 4 orang itu pada pulang ke kosan masing-masing. Bahkan besoknya saya dapat setengah kotak choco cheese cake. Tapi memang sih, kepercayaan diri itu mutlak dimiliki. Kasarannya, kalau 5 orang itu tidak terima, saya siap untuk kemungkinan terburuk. Yaah, karena memang bahasa saya tidak sehalus dan sedetail itu sih pas kenyataannya hehe. Maklum, capek abis latihan :v )

                Entahlah, jujur saja saya sangat sebal dengan orang yang main kode-kodean. Apalagi di jejaring sosial, yuck! Kalau gak suka, ya bilang saja enggak suka. Kalau suka, ya bilang saja suka (eh, jangan dipersempit hanya pada urusan merah jambu ya!). Namun, kombinasikan dengan hal sebelumnya. Usahakan dengan bahasa yang sesuai dengan kebudayaan dan karakter yang dipahami oleh lawan bicara. Rasul pun mengajarkan untuk berbicara dengan bahasa yang dipahami suatu kaum. “Mudahkanlah, jangan persulit. Ringankanlah, jangan diperberat”, begitu kata beliau. Kalau memang mentok, ya bersiap untuk hal yang terburuk :p

                Nah, kesimpulannya adalah semua orang ingin dimengerti. Tapi tidak semua orang berusaha untuk dimengerti. Sehingga, agar saling pengertian itu bisa lebih mudah terjadi lakukanlah dua hal di atas:                

a.       Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
b.      Ungkapkan apa yang kau inginkan dengan bahasa yang singkat, jelas, padat, dan santun. Jangan muter-muter seperti politikus yang banyak bacot tapi gak ada poinnya itu. Menjijikkan!


2.       Yang Ingin Mengerti

Tapi inilah dunia, tak ada yang sempurna. Bahkan planning yang (kelihatannya) sempurna pun seringkali harus diputar-putar. Kalau bahasa waktu diklatnya,”Lapangan itu dinamis, Mas!”

Ya, lapangan itu dinamis. Meskipun kita telah berusaha menjadi pribadi yang layak dimengerti (ceileeeh, bahasanya hahaha), pribadi yang berusaha untuk lebih mudah dingerti, jangan berharap semua orang akan menjadi seperti kita. Wong kadang-kadang kalau ego kita sedang memuncak dan hati sedang empet, kita bisa menjadi pribadi yang menyebalkan itu kok.

Lalu, kalau sudah begini apakah proses “saling mengerti” akan menjadi mustahil? Ya seharusnya tidak. Kita, yang mempercayai bahwa diri kita ini baik dan special, harusnya men-syukuri nikmat Allah itu dengan menjadi pribadi yang “mau” berusaha lebih untuk memahami orang-orang yang tidak seberuntung kita. Orang-orang yang masih suka egois dan suka main kode-kodean. Mengapa? Ya setidaknya, proses yang awalnya dua arah ini bisa tetap terjadi. Meskipun itu dengan effort yang lebih berat. Perhatikan ilustrasi berikut.

1
2
3
4
5
6


Sebenarnya, tak ada masalah jika Anda semua tak ingin saling pengertian. Yang penting Anda bertanggung jawab. Katakanlah ada orang yang sebal dengan Anda dan ingin menebas kepala Anda, ya Anda jangan marah. Hadapi, dan terima dengan lapang dada. Itu konsekuensi atau akibat wajar dari apa yang Anda lakukan. (itu ekstrimnya)

                Demikianlah kawan, semoga tulisan yang barusan itu bisa dipahami. Jadi, mari kita buat dunia ini lebih indah dengan “saling pengertian” :)

2 komentar:

  1. menurut saya tindakan ingin mengerti dan dimengerti dipengaruhi oleh karakter seseorang juga seperti introvert, eksovert, dsb. saya sendiri belum tahu psikologi hehe
    kadang orang yang lebih suka mengalah lebih bertindak untuk ingin mengerti.
    cmiiw

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya kalau saya pikir, seperti tertulis di atas itu. Tempatkan diri di posisi yang sesuai aja sih intinya :9

      Hapus