Kamis, 19 Maret 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under :




            Banyak orang yang mempertanyakan tentang kematian. Mulai urusan remeh macam apakah Romeo dan Juliet akan menjadi sepasang kekasih setelah mati hingga yang berat seperti benarkah ada kehidupan setelah mati. Ada pula yang takut mati, atau bahkan yang ingin segera mati. Yang lebih mengenaskan, adalah mereka yang mati sebelum mati. Mereka, yang membunuh mimpi dan ambisinya.

            Aku pun sama dengan kalian. Sama bingungnya. Apakah mati itu menyeramkan, atau mati sekedar jalan menuju tempat yang lain? Persis seperti jika aku ingin bertemu dengan gadis pujaanku, aku harus melewati depan rumah gadis yang memujaku? Hahaha, lupakanlah urusan cinta segitiga ini.


            Beberapa hari yang lalu, seorang tetangga mengalami musibah. Ya, ibunya meninggal. Dan tentu aku melayat, sekedar memenuhi norma agar tak dikira sebagai mahasiswa apatis yang tak peka dengan lingkungan. Karena akhir-akhir ini masyarakat sudah melihat betapa mahasiswa semakin melangit, menjauhi lingkungannya yang di bumi masyarakat. Oke, cukup dengan urusan kemahasiswaan ini. kembali pada urusan mati tadi.

            Tetanggaku ini, sebenarnya sudah jauh lebih dewasa dariku. Berusia 26 tahun, belum menikah. Sebut saja namanya Ihsan. Mas Ihsan bisa dibilang seorang eksekutif muda, dan telah mapan untuk ukuran pria seusianya. Rumah punya, mobil pun ada. Tak disangka, 2 hari kemudian kami bertemu di warung kopi.

            “Mas Andri kok tumben sudah pulang jam segini?” sapa Mas Ihsan sembari memesan segelas kopi hitam.

            “Haha, iya mas. Gimana lagi, mahasiswa tingkat akhir gabut ya begini ini. Oh ya Mas, saya turut berduka cita ya,” jawabku. Kebetulan warung kopi dari tadi sepi, hanya aku sendiri. Maka kedatangan Mas Ihsan seolah menghilangkan sepi tersebut.

            Lalu mulailah kami saling bercerita. Atau tepatnya, ia yang berkeluh kesah. Betapa sedih ditinggalkan ibunya meninggal. Betapa ia belum sempat membahagiakan seutuhnya. Saat kubilang bukankah ia telah melakukan semua yang pantas, bahkan meng-haji-kan, ia berkata ada satu yang kurang.

            “Saya belum sempat memberikan beliau cucu Mas. Saya, sebagai anak pertama, belum merasa lengkap dalam membahagiakan beliau,” katanya sambil menerawang. Dan matanya pun berkaca-kaca. Aku, demi sopan santun pun menepuk-nepuk pundaknya sambil berkata menenangkan. Hanya memberikan pesan-pesan klise semacam “doakan terus saja Mas” dan “ini sudah takdir Tuhan”. Lalu, sekitar jam 11 malam aku pun berpamitan pulang. Karena yang aku beli sedari tadi bukanlah kopi, namun dua gelas susu coklat hangat. Pantas saja jam segini aku sudah mengantuk.

***

            Pagi ini aku bersepeda. Yang di kepalaku hanyalah tentang segera bertemu gadis yang kusuka. Tak peduli dengan kabut yang masih bersisa. Namun, semua menjadi tak semudah yang kukira…

            Dari depan sana, sebuah truk melaju kencang dan masuk ke dalam jalurku. Truk itu pun, tanpa ampun menghajarku hingga yang aku ingat hanya kilatan lampu sorotnya yang membutakan mata.

            Tiba-tiba, aku dibangunkan oleh suatu cahaya yang terang namun meneduhkan. Dan ada seorang pria yang tak kukenal di sampingku. Pria berusia tiga puluhan, berbadan tegap, dan berambut sepundak.

            “Siapakah Anda?” tanyaku.

            “Nanti kau juga akan tahu. Yang lebih penting, apakah kau tahu siapa dirimu?” tanyanya denga npertanyaan yang “menakutkan”, anehnya aku merasa tetap tenang di sampingnya. Yah, aku pun menganggukkan kepala.

            “Bagus,” katanya lagi.

            “Eh Pak, apakah saya sudah mati?” tanyaku tiba-tiba, mengingat insiden “ciuman” dengan truk barusan.

            “Nanti kau juga akan tahu. Sekarang, mari kita jalan-jalan.”

            Kami pun menyusuri jalanan yang aneh. Sepertinya jalanan hanya habis di ujung sana, ternyata masih bersambung hingga antah berantah. Aku pun melihat seorang pemuda yang menyandang AK-47 dengan baju berlumuran cat berwarna merah sedang mengisi suatu daftar di satu konter. Dan astaga, parfumnya yang wangi menyenangkan bisa sampai ke hidungku. Padahal kuperkirakan jarakku dengannya sekira 50 meter. Apakah cat berwarna merah itu parfumnya? Entah.

            “Pak, pemuda yang di sana itu. Sedang apa dia?”

            “Oh, dia sedang kebingungan. Dia telah menuliskan nama ibunya, ayahnya, tiga saudaranya, dan tiga puluh tujuh nama saudaranya yang lain. Padahal masih ada dua puluh delapan slot nama yang tersisa. Nama-nama itu yang nantinya akan memperoleh koneksi dengannya saat pengadilan agar bisa dipermudah.”

            “Memang apa yang dilakukan pemuda itu?”

            “Oh, hanya satu hal. Dia berperang demi membela saudaranya, juga kehormatan dan kebenaran yang ia yakini. Untungnya kebenaran itu sejenis dengan kebenaran menurut Sang Hakim. Lalu ia tertembak sambil saat meneriakkan nama Sang Hakim. Tentu, Sang Hakim sangat senang dan tersanjung, hingga ia memperoleh kemudahan itu. Yah, sesederhana itu saja.” Dan aku pun ber-oooooh panjang.

            Lalu aku pun berteriak,”Pak! Bukankah itu ibu Mas Ihsan?! Wah, apa pula yang ia lakukan di konter yang itu?”

            “Oh, ia hanya sedang mengambil jatah koinnya. Setiap saat anak-anaknya mengirimkan koin buatnya. Kau lihat bukit gedung besar itu? Itu adalah gudang penyimpanan koin-koinnya. Dan sepertinya kami harus segera membuatkan satu gedung baru lagi. Anak-anaknya seperti tak punya lelah untuk mengiriminya koin itu.”

            “Apa guna koin itu?”

            “Nanti, saat pengadilan dibuka oleh Sang Hakim, koin ini akan menjadi pertimbangan atas keputusan Sang Hakim.”

            Dan kembali, aku hanya ber-oooooh panjang. Hingga suatu kesadaran menghantamku seketika!

            Lalu, bagaimana dengan koinku? Apakah koinku bisa berbunga-bunga seperti milik ibu Mas Ihsan? Apakah aku bisa mendapat koneksi dengan Sang Hakin nanti seperti sang pemuda tadi? Dan sesuatu yang lebih serius pun hadir, tidakkah aku belum melakukan apa-apa untuk ibuku? Tidakkah aku tak bisa mengiriminya koin lagi, pun dengan membuatkan daftar koneksi? Tidakkah aku yang selama ini meminta koin selalu darinya?

“Ibu, aku mau ujian. Mohon doanya ya…”

“Ibu, anakmu akan berangkat ke Bangka. Mohon didoakan ya…”

Ibuku selalu mendoakanku di setiap helaan napasnya. Berharap yang terbaik. Berharap tabungan koinku selalu cukup. Bahkan senyumnya saja pun telah memberikan koin padaku. Lihatlah, lihatlah gundukan koin di belakang itu. Yang itu dari ibuku. Yang itu dari ayahku. Lalu, apa yang pernah kulakukan untuk mereka. Di dunia aku pun belum merasa menjadi anak yang berguna, dan di sini bahkan aku hanya menyumbang sangat sedikit koin untuk mereka. Aku memberikan koin pun macet-macet, apalagi menuliskan namanya di daftar 70 orang yang akan mendapat koneksi dengan Sang Hakim.

Lalu aku pun sudah di sini. Di tempat di mana aku hanya bisa berharap menolong diriku dengan bekal koinku yang sedikit (dan beberapa tambahan tiap bulan dari beberapa pekerjaanku yang membungakan koin) dan belas kasihan Sang Hakim nanti.

Aku pun jatuh terduduk, meraung-raung. Merindukan senyum ibu dan bapakku. Yang selama ini sering terlupa oleh urusan remeh semacam tugas atau kesibukan. Yang hanya kuhubungi ketika kubutuhkan doanya, dan buru-buru menutup telpon dengan alasan sedang mengerjakan PR. Lalu, kini aku telah di sini? Begitu cepat?

Aku jatuh meraung-raung. Menangisi kondisi diriku sendiri. Menangisi akan kesia-siaan yang telah aku lakukan. Dan pria berambut sepundak itu hanya membiarkanku…

***

Aku terbangun. Kulihat jam, 03.27 WIB. Seharusnya kamarku ini dingin, namun kasurku basah oleh keringat. Aku menggigil. Masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Lalu, terasa ada yang hangat di pipiku. Astaga, aku menangis dalam tidurku. Aku lihat bantalku, ia pun basah oleh air mata dan keringat.

Dengan tangan gemetar kuraih HP di meja belajar, dan susah payah menekan tulisan “IBU”. Dua kali percobaan baru diangkat, oleh malaikat yang dihadirkan Sang Hakim untukku di dunia ini.

“Assalamu’alaykum, ada apa Mas Andri telpon jam segini?” tanya ibuku dengan nada khawatir.

“Ibu, apakah engkau ridha memiliki anak sepertiku?”

Lama tak ada jawaban, hanya isak tangis yang kudengar.

            “Ibu selalu ridha denganmu Nak. Apakah engkau ridha memiliki ibu sepertiku?” jawab ibu dengan susah payah dalam tangisnya.

            Sekarang giliranku yang jatuh terduduk, sekali lagi menangis…



NB: ini murni cerpen. Fiksi. Sekedar kisah yang terinspirasi kejadian tadi pagi. Ditulis sambil menahan agar air mata tidak tumpah. Namun, membendung kerinduan itu tidaklah mudah :’)

NB2: semoga bermanfaat

3 komentar: