Jumat, 04 Oktober 2013

Posted by Heri I. Wibowo | File under : ,


                Lagi pengen nulis yang gak serius-serius amat nih(emang selama ini serius? :p). Sesuatu yang bisa dibaca tanpa perlu mengerutkan kening, bahkan kalau bisa bisa menarik bibir ke samping. Dan kini, aku akan bercerita tentang diriku dengan rokok. Beberapa kenangan tak terlupakan dengan tema rokok di dalamnya hehe.

                Dahulu, waktu masih SD masih ingat kan kita sudah disuruh bikin barang aneh-aneh yang katanya untuk semakin memahamkan kita pada IPA? Padahal, menurutku itu kurang efektif karena yang bikin pun bapak-bapak kita semua. Misalnya nih kelompokku, sok-sok an mau bikin kincir air buat menyalakan sebutir lampu kecil dengan guyuran air kran. Pertama, siapa yang bisa bikin kincirnya(atau dalam bahasa sekarang, turbin)? Lalu generatornya pun hanya memakai dynamo sepeda. Temanku malah ada yang cuma pakai dynamo tamiya. Yang paling krusial, waktu dicoba dengan air kran di sekolah namun lampunya tak nyala, aku pun bertanya pada guruku,”Kok tidak nyala Bu?” Beliau menjawab,”Wah, Ibu juga tidak tahu. Kabelnya nggak nyambung kali? Atau airnya kurang deras?” Yaaaah, harusnya kalau anak SD disuruh buat kayak begini waktu TK sudah diajarkan minimal termodinamika 1 dan elemen mesin 1 :v


                Nah, temanku yang lain juga membuat barang yang menguji sifat air pula. Yaitu semakin ke dalam maka tekanannnya semakin kuat(ini bahasa waktu SD dulu). Aplikasinya adalah bendungan yang bentuknya makin ke dalam makin tebal. Sayangnya dia sejak SD telah menerapkan salah satu budaya anak teknik—deadliner. Karena belum berpengalaman dia pun kelabakan ketika laporan telah selesai di buat namun barang belum jadi. Barangnya berupa botol dengan beberapa lubang yang berderet dari bawah ke atas di mana nantinya ketika di isi air pancuran yang terbawah akan memancar paling jauh(padahal saya tahu itu sekarang belum tentu benar, karena tergantung di mana kita meletakkan botolnya. Jika kita letakkan di atas tanah langsung, pancuran terbawah akan keburu menyentuh tanah sebelum sempat menghabiskan semua “kemampuannya”). Karena waktu itu papanya sedang sibuk sesuatu sehingga tak bisa membantu membuat dan melihat bungkus rokok papanya tergeletak di atas meja, dia pun berijtihad untuk membuatnya sendiri. Dia nyalakan rokoknya dan mulai melubangi itu botol. Papanya yang mencium aroma khas dari rokoknya bingung, kok ada asap rokok dari kamar anaknya? Akhirnya, setelah tahu bahwa anaknya “mencuri” rokoknya, kawanku itu dihukum untuk menulis ‘saya tidak akan merokok lagi’ seratus kali. Namun parahnya, sekarang kalau di rumah mereka malah merokok bareng -_-

                Lalu ketika SMP, inilah masa di mana sebagian besar temanku mulai mencoba-coba rokok. Ada yang merokok hanya buat ganteng-gantengan, ada pula yang memang sudah kecanduan. Suatu ketika kami nongkrong di base camp kami(sekarang udah gak ada :’(  ). Yaitu di dekat tower air PDAM sehingga memiliki pemandangan yang bagus sekali. Di sana, seperti biasa rokok adalah teman setia. Kalau tidak salah aku juga bawa yang mirip rokok, yaitu chocolatos hahaha. Ternyata ada temanku yang membawa rokok yang bentuknya mirip jajananku yaitu cerutu(kadang aku berpikir iklan chocolatos itu mengajarkan merokok). Dia pun awalnya bingung, mana yang depan mana yang belakang. Setelah berpikir keras, menyala jugalah cerutu itu. Dan dengan wajah penuh kemenangan dia hisap cerutu itu seperti rokok biasa. Kontan saja dia langsung terkapar, orang cerutu kok asapnya dimasukin paru-paru.

                Melihat hal itu kawanku yang lain malah cerita,”Eh, kemarin temanku ada yang menghisap langsung 5 batang lho.” “Terus?” kata kami. “Dia muntah-muntah hahahaha, untung gak mati,” jawab dia seenak perut.

                Lanjut ke SMA. Pada masa ini aku cukup jarang bergaul dengan mereka yang suka merokok karena, yaaaah, memang jarang yang merokok. Jadi seingatku tak ada kekonyolan bersama rokok karena selain jumlah yang sedikit, yang sedikit itu pun sudah ahli hehe.

                Nah waktu kuliah ini, mulai melihat bahwa mahasiswa itu banyak juga yang merokok. Merasa sudah dewasa makanya santai saja jadi kereta api uap. Hingga pada suatu ketika aku bertanya kepada seorang kawan,”Eh ***, ortu kamu tahu kamu ngerokok?”

                “Tahu kok Her, kenapa emang?” katanya.

                “Dibolehin yo?” tanyaku.

                “Gini Her, ada trik-nya ini. Suatu ketika gua sekeluarga lagi makan di resto kan. Nah, waktu makanan kelar bokap gua bilang,’Duh, korek papa ketinggalan nih’. Mama gua langsung jawab,’***, sana beliin papa korek ke warung depan!’ Langsung gua ambil korek di kantong celana dan  bilang,’Ga perlu Ma, nih aku ada korek.’ Bokap gua dengan wajah yang penuh terimakasih langsung ambil itu korek. Terus Mama gua kan kaget tuh, terus nyeletuk,”Lho, ****** sekarang ngerokok nih Pa.’ Eh, papa gua malah ngebelain gua,’Ya gak papa, kan udah gedhe.’ Gitu Her, bikin sikonnya aja hahaha,” cerita dia panjang lebar.

                “Hahaha, gak enak juga ya papa kamu orang udah dipenjemin korek malah nyalah-nyalahin. Emang alesan pertama dulu kamu ngerokok apa?”

                “Yaitu, di keluarga gua yang cowok pada ngerokok. Om gua, papa gua. Ya masak gua yang gak ngerasain enaknya tapi malah jadi perokok pasif? Apalagi kata orang perokok pasif lebih beresiko kan?”

“Wahahaha, lose-lose solution dong kalo gitu,” sindirku.

                “Iya sih Her, ya tapi gua gak bakal ngerokok sembarangan kok. Ntar makin banyak orang yang tersesat kayak gua hahaha.”

                So, begitulah ternyata kawan-kawan. Sehingga alasan merokok yang aku tahu adalah berikut:

1.       Pengen kelihatan ganteng, ma(c)ho, gaya, dan sebangsanya padahal rokok malah bikin “kelelakian” berkurang(kata dibungkusnya).
2.       Waktu itu lagi stress karena tugas ospek tumpang tindih sama nilai UTS yang cuma kepala 2, terus sama kawannya ditawarin dan mau aja karena… Aku tak tahu kenapa
3.       Tanda “kepantasan” ketika bergaul(yang beginian sering nih dulu ane hampir kena). Kan katanya kalau ditawarin sesuatu tapi nolak itu tidak sopan.
4.       Gak mau jadi perokok pasif, akhirnya memilih jadi perokok aktif.


Terakhir, kemarin waktu pulang kampung ketemu lagi sama kawan-kawan yang dulu. Meski sudah bertahun-tahun teman lama tak boleh dilupakan. Dan mereka sudah tahu, jika merokok mereka akan mengambil posisi di mana asap rokok akan paling minimal mengarah padaku. Karena asyik berbincang pengalaman masing-masing temanku yang sudah “ahli” di urusan kebul-kebul ini terlihat ada yang aneh. Kok rokoknya tidak mau nyala-nyala. Tak perhatikan hingga akhirnya aku tahu: Dia kebalik ngrokoknya, itu filter yang di depan malah yang di bakar -_-

Oke, aku kira itu beberapa kisahku dengan silinder pembakar uang. Waktu aku bilang rokok cuma membakar uang, mereka men-qiaskan dengan orang main kembang api waktu tahun baru. Yawislah, karepmu. Asal jangan merokok di dekat-dekat saya. Yang pasti prinsipku: Merokok itu tidak keren.

                                             Itu ceritaku, apa ceritamu?

Sebagai tambahan saja:


6 komentar:

  1. jadi, km pernah merokok, heri? wow

    BalasHapus
    Balasan
    1. Adakah kalimat dalam tulisan ini yang mengindikasikan hal tersebut? :)

      Hapus
    2. haha ga ada sih, canda her wkwk. luar biasa blogmu, masya Allah :D

      Hapus
    3. hehe, karena postingannya nguawur2 yo? Apa kabar siluman kertasmu?

      Hapus
    4. enggak kok, blogmu keren, tak akoni (y). siluman kertas udah hilaaaang, diganti namanya hehe, abisan banyak yg bilang alay :''

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus