Sabtu, 31 Januari 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , , , ,




               
Saat saya dapat kesempatan ‘jalan-jalan’ ke PT Timah di Bangka sana, saya mendapat satu pelajaran menarik. Pelajaran yang saya dapat dari salah satu karyawan yang menemani saya keliling Bucket Wheel Dredge untuk mempelajari alat pertambangan lepas pantai tersebut. Jadi, di sela-sela alat pencucian di perut kapal itulah beliau banyak bercerita, dan inilah cerita beliau.

Manfaat Visi

                Seringkali kita bingung ketika ditanya,”Hidupmu maunya seperti apa?” Mungkin akan ada jawaban begini,”Ah, gue mah mengalir aja. Seperti air, woleeeees…” Lalu beliau, Pak Gandhy, menceritakan tentang contoh yang paling mudah dipahami para jomblo seperti saya ini, kriteria istri.


                “Jadi gini Mas, bayangin kalau Mas enggak punya kriteria jelas tentang pendamping hidup Mas. Mas anggap saja nanti dia akan datang sendiri. Ada cewek A, suka. Ada cewek B, bingung. Datang cewek C, ngelirik. Itulah kenapa mereka yang seperti itu gak dapet-dapet (Asem, semoga ini tidak sedang menyindir saya hahaha). Memang kriteria ini gak usah terlalu strick macam memilih spesifikasi barang teknik. Tapi setidaknya ada bayangan, maunya nanti gimana, gitu”, kata beliau panjang lebar. Beliau yang angkatan tahun 2000 ini masih okelah ngobrol sama saya, belum terlalu jauh jaraknya.

                “Nah Pak, kalau contoh konkritnya gimana?” tanya saya. Maklum anak teknik, to the point hehehe. Untungnya beliau juga anak teknik, Jurusan Teknik Pertambangan tepatnya.

                “Kalau saya Mas, saya buat analisis kondisi dulu. Kalau anak mesin bilang apa itu…”
               
                “DR & O Pak, Design Requirement and Objective,” sahut saya.

                “Nah itu, ada Design Requirement-nya dulu. Misal nih, saya kan anak tambang. Peluang buat kerja ke lapangan itu sangat besar, dan saya tidak mau LDR, maka saya sudah dapat satu kriteria: mau di ajak merantau. Nah, dari situ juga, saya bisa menentukan jurusan apa istri saya itu. Yang kira-kira profesinya tidak men-syaratkan harus tinggal di kota besar. Maka saya pilih dokter. Bukan pegawai bank. Karena dokter itu kalau mau praktek tinggal pasang plang di depan rumah. Kalau memang orang kampung situ tidak mau membayar, ya tidak apa-apa. Yang penting istri saya senang dan tidak bosan, urusan uang biar saya saja.”

                “Wah, Bapak penganut aliran anti-babby sitter nih hehehe,” sahut saya.

                “Lho, lha iya to Mas. Masak bapaknya insinyur ibunya dokter anaknya sama pembantu? Atau kalau memang dia mau kerja ya monggo. Biar saya yang di rumah, bersih-bersih rumah, ngasuh anak, masak, gak papa. Jangan semuanya egois mau menangnya sendiri. Harus bagi tugas.”

                “Wah, boleh juga logikanya hahaha. Nah, yang kedua apa Pak?”

                “Ah ya, yang kedua, saya tidak mau yang kalau tidur ngorok. Saya ini sangat menghormati tidur, bayangin kerja di pertambangan gini, di lapangan, capek. Kalau malamnya tidak nyenyak, performa saya akan turun besoknya. Kalau sehari dua hari oke, kalau seumur hidup? Bisa kacau hidup saya. Kan nikah itu cukup sekali seumur hidup. Memang mau nikah buat coba-coba doang?”

“Dan yang terakhir, dia harus mengutamakan saya nantinya. Kan di agama kita gitu kan ngomongnya, setelah urusan agama dia harus patuh pada suami?” saya pun manggut-manggut takzim, ngomongin hal ginian dari yang sudah menjalani memang lebih jelas dan tidak bikin menye. Padat, penuh hikmah. Kalau dengan yang sama-sama jomblo suka melantur, itulah kenapa saya malas bahas ginian sebenarnya. Fiqh sholat aja belum khatam dan tidak ada niat untuk memperdalam, eh semangat banget mikir fiqh nikah -_-“

                “Nah, begitu mas. Itu contohnya, dan Alhamdulillah saya dapat tuh. Kalau kita sudah menetapkan kriteria, kita jadi sudah punya pegangan ke depannya. Gampangnya, Mas gak akan buang-buang waktu dan tenaga buat bingungin terlalu banyak sample, karena sample secara sendirinya akan lebih cepat tersaring. Mas tahu apa yang diinginkan, itu namanya visi kan?”

                “Ibaratnya, dalam main bola itu kita tentukan dulu tujuan kita: gawang musuh. Lalu, segala daya upaya bisa lebih focus. Di sini ada dua elemen penting, gawang dan musuh. Karena, kita juga punya gawang, jangan sampai malah masukin bola ke gawang sendiri kan? Hahahaha…”

Mendefinisikan Visi

                Di atas, kita telah melihat manfaat dari memiliki visi: kita tahu usaha apa saja yang efektif untuk mencapai visi itu. Sekarang, saya akan menceritakan pelajaran yang saya dapat dari khotbah Shalat Jum’at di Masjid Salman kemarin (30-01-2015). Untungnya HP saya sekarang ada Ms. Word-nya, jadi bisa mencatat hehehe. (Khutbah adalah majelis ta’lim juga, jadi beberapa ulama berpendapat bolehnya mencatat jika takut lupa)

                Khatib bercerita, bahwa ada seorang mahasiswa yang menjadikan kelulusan dari ITB sebagai tujuan hidupnya, cita-citanya, visinya. Lalu ada pula seseorang yang menjadikan jabatan sebagai cita-citanya. Demikian seterusnya.

                Jika demikian, ketika mahasiswa tersebut lulus, maka tak perlu ada hal lain yang harus dilakukan. Karena cita-citanya telah tercapai. Pun dengan orang yang mencita-citakan jabatan tersebut. Yang perlu mereka lakukan mungkin cukup memberi ijazah atau SK Pengangkatan-nya pigura, lalu dipajang di ruang tamu. Logis bukan?

                Oleh karenanya, satu hal penting yang harus dilakukan ketika membuat tujuan, cita-cita, atau visi, adalah mengevaluasi apakah hal tersebut benar-benar visi ATAU sekedar sarana untuk mencapai visi yang sesungguhnya. Karena ketika kita salah mendefinisikan cita-cita, akan salah pula langkah kita ke depannya. Dalam analogi sepak bola tersebut, apakah tujuan kita memenangkan pertandingan atau menjadi top scorrer akan membedakan tingkah kita, meskipun keduanya bukan cita-cita yang buruk. Atau justru kita hanya bertujuan untuk menendang bola ke depan? 


                Bagi seorang muslim hal ini sangatlah krusial, karena kita memercayai adanya kehidupan setelah kematian. Kehidupan yang abadi. Bayangkan, hidup di dunia ini pendek, namun menentukan hidup kita yang lebih panjang. Dalam bahasa kerennya, inilah critical time kita. Salah mendefinisikan visi, salah pula dalam melangkah. Salah dalam melangkah, salah pula hidup kita di ‘waktu kritis’ kita ini. Salah di ‘waktu kritis’ ini, salah pula kehidupan abadi nanti.
 



*Dan saya sangat miris dengan orang-orang yang KATANYA menjadikan demokrasi sekedar sarana perjuangan, namun kini seolah menjadikannya tujuan perjuangan. Lalu mencerca mereka yang memang memilih tidak ikut-ikutan karena takut tidak memiliki hujjah akan keputusannya menceburkan diri dalam syubhat tersebut. Para qiyadah dan kader generasi awal sebenarnya paham hal itu, tapi yang generasi akhir-akhir ini kayaknya kurang belajar dengan para seniornya. Tapi akhi, meski aku bukan ‘ikhwan’, kalian tetap ikhwanku…

                Jadi monggo, mumpung masih bisa melakukan RE-visi, kita lihat kembali visi kita. Apakah itu benar-benar visi sejati atau sekedar sarana mencapai visi sejati tersebut? Apakah itu sekedar berhenti di urusan duniawi, atau melangkah jauh sampai di urusan ukhrowi? Hanya diri yang telah memahami ilmu yang bisa menjawab hal tersebut dengan baik dan benar.

NB: Buat yang menjadikan nikah sebagai tujuan hidup, pikir lagi deh. Hidup kok desperate banget to Mas Bro, mbok energi dan waktu yang ada dipakai untuk berkarya bagi umat. Nanti kalau sudah waktunya, di saat kualitas diri telah dinilai cukup oleh Allah, pasti akan tiba kok masanya. Kan berkarya dalam lingkup luas itu lebih menempa diri daripada focus pada nikahnya. Setidaknya, kalau gagal nikahnya kita sudah punya karya buat sarana ke surga. Kalau focus ke nikahnya doang, terus gagal, ya desperate hahaha. Nikah gak jadi, karya gak ada, sia-sia.  Kan nikah harusya jadi sarana buat ke surga saja. Begitu kata salah satu teman saya yang sudah pengalaman.

0 komentar:

Posting Komentar