Sabtu, 03 Januari 2015

Posted by Heri I. Wibowo | File under : , ,



            Menikahlah wahai engkau yang masih berkutat dengan rumitnya pendidikan. Yang bahkan untuk sekedar mengatur waktu kapan belajar, bermain, dan membantu orang tua belum bisa. Apalagi ikut serta menyukseskan dakwah. Karena percayalah, bertambahnya satu tanggung jawab tidak akan terlalu berpengaruh signifikan pada ritme hidupmu yang sudah menantang tersebut. Atau siapa tahu, dengan bertambahnya satu urusan besar maka hidup akan makin tertata. Tidakkah engkau tertantang untuk mencobanya, kawan?

            Jangan takut menikah meski engkau belum berpenghasilan. Yang bahkan sekedar untuk uang jajan dan jalan-jalan masih mengharap belas kasih ayah tercinta. Yang bahkan sekedar makan saja masih harus ‘disuapi’ mama. Tak apa kawan, itu bukanlah halangan. Karena yang penting kan dalam menikah itu ada cinta dan sayang. Biarkan kesulitan yang akan datang membuat kau dan istrimu lebih dewasa.


            Lagipula, kenapa harus takut menikah jika ada orang tua yang siap mem-back up dirimu? Orang tua yang siap sedia membantu pengeluaran kalian yang tanpa pemasukan. Pun jika orang tua tak mau atau tak mampu menjadi sponsor cintamu, carilah istri yang orang tuanya kaya. “Orang tua tak ada, masih ada mertua”, begitu istilahnya. Saat beras kosong, gas habis, air dan listrik menunggak, serta SPP anak tak terbayar, larilah pada orang tua maupun mertua. Percayalah, mereka tak akan menyia-nyiakan engkau. Biar kata masih CABOT (Cinta Atas Biaya Orang Tua), peduli amat. Memangnya gengsi bisa dimakan?

            Menikahlah engkau pemuda yang masih menomor satukan diri dan hobi. Tak perlu peduli dengan arti skala prioritas dan pengorbanan kesenangan diri. Tak apa, karena istrimu pasti mengerti. Bukankah jika ia mencintaimu dengan sungguh-sungguh, ia akan memahami kesenanganmu? Ia akan senantiasa mendahulukan kebahagiaanmu. Meski di rumah beras habis, ia akan rela uangmu engkau tabung demi membeli Tas Keril Deuter dan persiapan pendakian Gunung Kerinci. Walau pun SPP anak menunggak, ia akan sabar saja dengan kegemaranmu meng-upgrade spek ‘super komputer’-mu. Atau bahkan rela naik angkot yang panas karena uangmu yang ratusan juta lebih kau dahulukan untuk membeli Ducati Monster alih-alih satu unit Avanza. Malah, jika istrimu sungguh wanita yang ‘shalihah’, ia tak akan malu untuk meminta pada orang tuanya. Betul kan, kawan?

            Dan bersegeralah menikah engkau yang takut didahului orang lain. Apalagi jika orang lain tersebut adalah kawanmu sendiri. Jangan ragu datang ke rumahnya dan menyatakan kesanggupan. Karena menikah merupakan suatu perlombaan, dan sungguh memalukan jika kau kalah. Tidakkah selama ini kau selalu berkompetisi baik dalam hal akademik, game online, maupun pertandingan antar himpunan? Tidakkah kau gengsi kalah dalam urusan yang besar ini? Dan siapa yang menjamin, jika masih ada gadis lain yang lebih baik dari dirinya? Aih, tidakkah kau ingat lirik lagu jaman SMA dulu,”…Because a girl like you is impossible to find…”? Daripada menyesal karena tak mencoba, lebih baik menyesal karena telah mencoba bukan, kawan?

            Realisasikanlah niat sucimu untuk menikah meski belum siap, karena kau HANYA takut terjerumus zina. Inilah niat tersuci dalam menikah, SEMATA-MATA menghindari zina dan menyalurkan NAFSU di tempat yang halal. Karena menundukkan pandangan terlalu mainstream, menjaga syura agar tak ikhtilath sangat tidak modern dan inklusif, dan puasa hanya untuk mereka yang kekurangan uang bulanan. Menikahlah engkau pemuda, namun berhati-hatilah dengan memiliki anak. Karena anak adalah RESIKO PERNIKAHAN. Tundalah memiliki anak, kawanku…

            Jangan ragu untuk menikah jika engkau selalu galau dan kesepian. Tanpa visi hidup yang jelas, bahkan sekedar to do list setelah bangun pagi esok hari saja belum ada. Jadikanlah istrimu seorang baby sitter yang akan selalu menjagamu, seorang ustadzah yang akan menghilangkan galaumu, seorang badut yang akan mencerahkan harimu, dan belahan jiwa yang akan menggenapkan jiwamu yang kosong. Karena istri adalah manusia serba bisa yang akan menyempurnakan hidupmu. Tak perlu engkau stabil dalam emosi dan dewasa saat menikah, biar istrimu saja yang demikian.

            Jadi, menikahlah wahai kalian pemuda yang belum siap. Tak ada masalah dengan hal ini.

Note: Tulisan di atas relatif benar jika Anda memahami apa itu SARKASME :)

Inspirasi menulis dari sini

0 komentar:

Posting Komentar